Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Hari Pertama Aku Bekerja


__ADS_3

Hari pertama Ivy bekerja di perusahaan tekstil multinasional, Sarte. Ia bekerja sebagai perancang busana sesuai dengan studinya di Paris. Ini adalah impiannya sejak kecil. Sama seperti Deniz, ia juga mencintai dunia menggambar.


Coretan demi coretan memenuhi kertas gambarnya. Berulangkali ia meremas kertas berwarna putih dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di samping mejanya. Tugasnya hari ini adalah merancang busana wanita untuk musim panas. Ivy hanya punya waktu dua minggu untuk mewujudkan desainnya menjadi sebuah pakaian. Dua pekan mendatang perusahaan Sarte akan melangsungkan pagelaran busananya di sebuah hotel mewah di Istanbul.


Ivy meletakkan pensilnya di atas meja kerjanya yang besar yang terbuat dari kayu berwarna coklat muda. Manik matanya mengamati sekeliling ruangan yang masih kelihatan asing baginya. Ia memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat di atas kursi putar berwarna hitam, kini meja kerjanya berada di belakangnya.


Sebuah lemari kaca dengan tinggi sekitar dua meter ada di hadapannya. Di dalam lemari kaca itu terdapat beberapa contoh pakaian hasil rancangan desainer sebelumnya. Tiga buah patung manekin polos berdiri tegak di samping lemari kaca tersebut. Ia membalikkan badannya kembali ke posisi semula.


Sementara di depan meja kerjanya ada sebuah meja panjang yang digunakan untuk memotong kain, sebuah mesin jahit listrik dan sebuah meteran kain yang tergantung di kepala mesin jahit. Semua peralatan-peralatan itu tidak asing lagu buat Ivy, sejak kecil ayahnya sudah mengenalkan semua itu kepadanya.


Seandainya saja perusahaan ayahnya tidak terbakar dan ayahnya tidak meninggal, ia akan membantu perusahaan Eleanor untuk keluar dari keterpurukannya. Hal itu yang terlintas dalam benaknya saat ini.


Sepintas raut wajah ayahnya itu berganti dengan wajah Kenan. Pria yang saat ini dekat dengannya. Tubuhnya masih merasakan kehangatan pelukan pria itu semalam. Suara Kenan yang terkadang lembut, tapi kadang juga menakutkan membuat jantung Ivy berdegup kencang.


Apa aku salah mengartikan kebaikan dan perhatiannya kepada ku?


Ivy menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya ke udara. Ia mengusap kedua lengannya yang terlipat.


"Mungkin orang yang berarti buat Kenan adalah wanita yang bernama Hazal," gumam Ivy pelan sambil menatap mesin jahit listrik yang ada di depannya.


Ia teringat Kenan dan Mehmet pernah membicarakan seorang wanita yang bernama Hazal sewaktu dirinya menginap di rumah pria itu.


Wanita itu menggelengkan kepalanya mencoba menghilangkan wajah Kenan dari pikirannya. Ia kembali membuat sketsa-sketsa desainnya. Deadline kerjanya tidak panjang. Hanya dua minggu.


Waktu terus berjalan, tangan Ivy masih terus bergerak di atas kertas. Putri Victor itu bekerja keras di hari pertamanya, ia bahkan lupa dengan jam makan siangnya.


"Akhirnya selesai!" seru Ivy yang mengangkat kertas putih itu di hadapannya dan menghempaskan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya yang berbentuk oval. Manik matanya menatap empat buah desain pakaian musim panas dengan model yang berbeda. Ivy memberikan warna pastel untuk rancangannya.


(Hasil Desain Ivy. Sumber etsi.com)



Langkah sepatu high heels nya terdengar di lantai yang terbuat dari marmer ketika ia keluar dari pintu lift. Kini ia berada di ruang bahan yang ada di lantai tiga perusahaan Sarte.


Di dalam ruang bahan itu Ivy melihat begitu banyak gulungan kain dengan corak yang beraneka ragam mulai dari produk lokal hingga produk luar negeri. Perusahaan Sarte tidak memproduksi sendiri bahan bakunya. Mereka lebih sering mengimpor atau membeli pada perusahaan lain yang ada di Turki.


"Kau desainer baru?" terdengar suara wanita yang berada di belakang Ivy.


Ivy membalikkan badannya dan tersenyum pada seorang wanita muda. "Ya. Aku baru hari ini bekerja."


"Namaku Kara. Aku penanggung jawab ruangan ini," ucap wanita itu sambil mengulurkan tangannya ke arah Ivy. Sebuah senyum hangat terlukis dari bibir merahnya yang dipulas dengan lipstik.

__ADS_1


"Namaku Ivy. Senang berkenalan denganmu, Kara." Ivy membalas uluran tangan wanita itu.


Penampilan Kara sangat fashionable dengan pakaian kerjanya berupa celana panjang model skinny di bawah pinggang dan atasan putih dengan ukuran yang lebih besar dari badannya yang ramping.


"Kain apa yang kau cari, Ivy?" Kara mendekati putri Victor untuk melihat sketsa yang dibuat oleh desainer baru perusahaan Sarte.


"Aku mencari bahan yang ringan dengan warna pastel," jawab Ivy dengan jemarinya mengitari deretan-deretan kain yang berbaris rapi di depannya.


Kara membalikkan badannya, mengambil sebuah album tebal yang berisi contoh-contoh potongan kain yang di maksud Ivy.


"Kurasa ini cocok untuk desain mu," ucap Kara sambil menunjukkan empat sampai lima potong kain sesuai dengan permintaan Ivy. "Apa kau akan ikut pagelaran busana musim ini?"


"Kata Khan seperti itu. Aku hanya punya waktu dua minggu untuk menyelesaikan semuanya," cerita Ivy. Tangannya meraba contoh kain tersebut, kreasinya mulai bermain di dalam pikirannya.


"Aku ambil yang ini," ucap Ivy. Telunjuknya memilih sebuah kain warna merah muda dan putih.


"Kau harus menunjukkan semua ini kepada Khan, baru kau beritahu aku kain mana yang telah pria itu setujui. Aku akan mengirimnya ke lantai lima," kata Kara yang menyerahkan album itu kepada Ivy.


Ivy menerima pemberian Kara. "Baiklah, aku akan segera mengabari mu."


Wanita berambut coklat gelap itu segera keluar dari ruangan Kara dan naik ke lantai tempatnya bekerja.


Kara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah laku Ivy, "Dia sangat ekspresif."


"Oh... ternyata kau, Ivy! Mengagetkanku saja," sahut Khan sambil menepuk dadanya seperti nenek-nenek yang menderita penyakit jantung.


Pria gemulai itu sedang memasang manik-manik pada gaun pengantin yang ada di patung manekin berwarna hitam.


"Khan, aku ingin menyerahkan rancangan musim panas ku," ujar Ivy yang menyerahkan sebuah map dan sebuah album milik Kara.


"Letakkan saja di atas meja." Tangannya masih sibuk memasang beberapa batu kristal di gaun panjang tersebut.


Ivy melakukan seperti perintah Khan. Dari belakang pria itu, Ivy mengamati gaun indah tersebut. Siapapun yang memakai gaun itu pasti akan terlihat sangat cantik.


"Bagaimana menurutmu?" tanya Khan yang masih berkutat dengan pekerjaannya. Ia tahu Ivy belum meninggalkan ruangannya.


"Gaun yang sangat cantik. Siapa yang akan memakainya?" tanya Ivy. Ia menyentuh bagian rok gaun itu, bahannya sangat lembut. Kualitas nomor satu yang dimiliki oleh perusahaan ini.


"Menantu keluarga Sarte. Mereka akan melangsungkan pernikahannya minggu depan," jawab Khan. "Daripada kau bengong di sana, ayo bantu aku!"


Ivy segera menghampiri Khan. Wanita itu membantunya menjahit lipatan bawah gaun. Ia melihat bagaimana pria itu dengan cermat dan teliti memasang batu-batu kecil yang berkilau di atas gaun itu.

__ADS_1


"Ivy, coba kau pakai gaun ini!" seru Khan dengan nada melambai setelah ia selesai memasang semua manik-manik.


"Ehh...." Ivy hanya terbengong. "Tapi gaun ini...."


"Aku sudah tahu. Postur tubuh menantu keluarga Sarte seperti dirimu. Daripada aku harus memanggil wanita itu ke sini, lebih baik kau bantu aku," ucap Khan segera melepas gaun pengantin itu dari patung manekinnya dan memberikannya kepada Ivy.


Ivy segera membawa gaun itu ke ke ruang ganti. Ruang ganti itu seperti ruang studio senam. Dengan seluruh dindingnya yang terbuat dari cermin. Di salah satu dindingnya, terdapat sebuah panggung dengan panjang sekitar lima meter, lebar dua meter dan tinggi lima puluh sentimeter. Ivy menarik tirai tebal berwarna abu-abu untuk menutup panggung itu. Di tempat itulah ia mengganti pakaiannya.


"Apa kau sudah selesai, Ivy?" tanya Khan yang masuk ke dalam ruang ganti. Ruangan itu ada di depan ruang kerjanya.


Ivy segera membuka kembali tirai itu. "Bagaimana menurutmu, Khan?"


Khan mengelilingi Ivy sambil memandang gaun pengantin rancangannya yang membalut tubuh indah Ivy. Tubuh Ivy tidak setinggi para model, tapi tubuhnya cukup proporsional dengan tinggi hanya 168 sentimeter dengan berat 50 kilogram.


"Bravo, Ivy!" seru Khan dengan jari tangannya yang membentuk lingkaran. "Oh, kau terlihat sangat cantik, sayang."


Ivy tertawa mendengar suara Khan. "Bagaimana kau tahu, kalau gaun ini sesuai dengan ukuran ku?"


"Khan...." ucap pria itu sambil membusungkan dadanya. Pria lembut itu menyunggingkan senyumnya.


"Mataku terlalu jeli dibandingkan mata pria pada umumnya," ujar Khan sambil menunjuk kedua matanya kemudian menunjuk tubuh Ivy. Secara fisik, Khan memang terlihat seperti pria yang maskulin. Tapi dia lebih lembut dan lebih sensitif daripada wanita.


Ivy kembali tertawa melihat tingkah laku atasannya itu. "Apa aku sudah boleh ganti baju?"


"Silahkan cantik," ucap Khan. "Bawa kembali gaun itu ke ruangan ku."


Khan meninggalkan Ivy dengan langkahnya yang melambai, lantai keramik itu bagaikan catwalk pribadinya.


Setalah mengembalikan gaun pengantin tersebut, Khan memeriksa hasil rancangan Ivy. Pria itu sangat menyukai rancangannya, hanya saja perlu beberapa perbaikan agar hasilnya terlihat sempurna.


Ivy kembali ke ruangannya, ia terlalu bersemangat hari ini sampai ia tidak merasakan perutnya yang sejak tadi berbunyi. Langkah kakinya terhenti di depan meja kerjanya. Manik mata hijaunya menatap sebuah buket bunga lili putih dan sekotak coklat. Tangannya mengambil sebuah kartu kecil berwarna merah yang tertempel di atas kotak coklat.


"Selamat untukmu, sayang. Ini hari pertamamu bekerja. Semoga bunga lili putih dan coklat ini bisa menemanimu hari ini," kata Ivy setelah membaca tulisan di kartu itu.


Ivy mendekap erat bunga lili putih dan mencium wanginya.


Siapa yang mengirim bunga dan coklat ini? Apa orang itu Kenan? Tapi sepertinya tidak mungkin, pria itu tidak tahu bunga kesukaanku. Jangan-jangan sama seperti sebelumnya...


* BERSAMBUNG *


Kira-kira menurut kalian, pantas gak sih Ferit di beri kesempatan oleh Ivy? Salah gak sih kalau Ferit mengejar calon pengantinnya?

__ADS_1


Jangan lupa setelah baca chapter ini kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2