
Sebuah alunan musik berirama pop keluar dari pengeras suara yang terletak di setiap sudut ruang Kafe Istanbul. Berbagai macam obrolan terdengar di setiap meja seakan suara-suara itu saling bersaing untuk masuk ke dalam lubang telinga.
Aroma pastri yang berasal dari sebuah mesin oven dengan ukuran besar menggelitik setiap rongga hidung dan memainkan lidah semua orang yang ada di dapur. Dengan penuh percaya diri, seorang pria yang memakai sarung tangan plastik mengambil seloyang pastri buatannya.
Biji mata hitam itu memperhatikan dengan seksama hasil karyanya. Bukan untuk pertama kalinya, tapi ada rasa kepuasan tersendiri jika ia berhasil menyenangkan lidah pengunjung kafenya.
Sebuah pastri dengan tumpukan lima lapis dan ketebalan setinggi sepuluh sentimeter berada tepat di depannya. Kepulan asap yang berasal dari makanan pembuka itu membelai wajah gelapnya.
Pria itu mengambil satu potong pastri dengan penjepit besi, meletakkannya di atas piring kecil yang sudah tersedia di nampan. Satu sendok keju bubuk bertaburan di atas adonan kue kering berlapis itu.
Seorang wanita yang memakai celemek berwarna putih, memberikan sebuah mangkuk kaca berbentuk oval kepada pemilik kafe. Dengan kreasinya ia mengisi mangkuk kaca itu dengan buah-buahan, satu sekop es krim coklat dan taburan kacang mete.
"Berikan ini ke meja nomor sepuluh!" seru Mehmet kepada salah satu karyawan kafenya.
Setelah berkutat di dapur, pria itu keluar menuju meja kasirnya. Ia mengecek setiap pesanan pengunjung yang ada di map panjang berwarna hitam. Hari belum terlalu malam, tapi kafenya sudah penuh terisi.
Pupil matanya menangkap sosok yang dikenalnya sejak kecil. Seorang pria dengan memakai dalaman kaos putih dan kemeja kotak-kotak di bagian luar itu mendekat ke arahnya. Mehmet segera keluar dari meja kasirnya dan menghampiri Kenan.
Kenan meletakkan sebuah kertas kecil berwarna putih di atas meja pengunjung dan memberikannya kepada Mehmet.
"Apa ini?" tangan pria gundul itu mengambil kertas tipis tersebut.
"Membayar pinjaman. Ini baru sebagian. Aku akan melunasinya." Kenan menyandarkan punggungnya di sandaran kursi kayu. Setelah memperbaiki lima buah kapal, ia baru bisa mencicil sebagian hutangnya kepada Mehmet. Cicilan itu belum mencapai setengahnya.
"Sudah kukatakan, aku bukan rentenir! Kenapa kau memaksakan dirimu sendiri?" Mehmet meremas bukti transaksi itu dan melemparkannya ke tempat sampah kecil yang ada di sudut ruangan.
"Jangan mengasihaniku." Sorot mata Kenan menatap pria tanpa rambut dengan deretan giginya yang putih.
__ADS_1
"Baiklah jika itu mau mu, apa kau kesini hanya untuk menyerahkan kertas itu?" Mendengar pertanyaan Mehmet, membuat Kenan mengembangkan senyumannya.
"Kau cukup mengenalku, sobat! Aku ingin pekerjaan tambahan yang bisa di kerjakan malam hari! Pekerjaan di dermaga tidak selalu ada setiap waktu."
Kenan meletakkan salah satu tangannya di atas meja, sedangkan tangan yang lain ia gunakan untuk meminum wiski tanpa es pemberian Mehmet. Pria itu selalu berbicara langsung ke intinya.
Mehmet memandang raut wajah Kenan. Sebuah kesungguhan ada di guratan wajah itu. Ia mengusap kepalanya yang plontos, antara yakin dan tidak yakin apakah sahabatnya itu mau melakukannya.
"Bisnis bawah tanahku!" bisik Mehmet yang mencondongkan tubuhnya di depan Kenan.
Manik mata abu-abu gelap itu tanpa bersinar. Salah satu alis tebal itu terangkat ke atas. "Kau masih menjalankan bisnis tinju itu?"
Mehmet menganggukkan kepalanya. "Jika kau sangat membutuhkan uang dalam waktu cepat."
"Menarik!" Kenan menaikkan sudut bibirnya. Tinju bukanlah hal yang asing baginya, ia sangat menyukai olahraga itu.
"Tapi ini ilegal. Aku sarankan kau tidak mengambil jalan ini."
"Tergantung seberapa besar mereka bertaruh untuk jagoan mereka. Apa demi wanita itu kau menjerumuskan dirimu?" Mehmet menggelengkan kepalanya. Ia tidak habis pikir dengan cara Kenan menyelesaikan setiap masalahnya. Pria itu terlalu melankolis jika menyangkut wanita.
"Ini bukan hanya untuknya, tapi untuk diriku sendiri. Apa aku akan menggantungkan masa depanku hanya sebagai montir?" Kenan menatap tajam sahabatnya. Seolah ia hendak mengatakan bagaimana aku bisa menghidupi orang lain, jika untuk menghidupi diriku sendiri saja aku belum mampu.
"Baiklah, jika itu mau mu. Ayo kita ke sana sekarang!" ajak Mehmet yang segera keluar bersama Kenan.
Mobil jenis SUV itu berhenti di depan sebuah bangunan tinggi dengan penerangan minim. Hanya ada dua lampu kecil yang tergantung di tiang setinggi tiga meter. Dua orang penjaga berbadan besar penuh dengan rajahan tato menghiasi setiap lengan mereka. Kedua orang itu sedang berjaga-jaga di depan pintu sasana tinju milik Mehmet. Mereka adalah anak buah Mehmet.
Kedua penjaga itu memberi salam kepada Mehmet dan Kenan. Pria berkulit gelap itu menepuk pundak kedua anak buahnya setelah pintu sasana yang terbuat dari kayu berpalang itu dibuka.
__ADS_1
Sebuah ruang minim cahaya hadir di pelupuk mata mereka. Mereka mengarahkan pandangannya ke arena ring tinju yang berbentuk persegi dengan empat sudut sama besar. Cahaya lampu itu menerangi dua orang laki-laki yang sedang bertanding memperebutkan beberapa lembar kertas yang mereka sebut sebagai alat pembayaran.
"Kau lihat pria besar bertato itu?" Mehmet menunjuk salah satu pemain yang ada di atas ring tinju.
Kenan hanya berdeham, dan menatap pria yang dimaksud oleh temannya.
"Dia juara bertahan bulan ini. Hampir semua lawannya keluar dalam keadaan patah tulang atau cedera ringan. Tidak ada peraturan di tempat ini, kau bisa berjuang hingga mempertaruhkan nyawamu atau menyerah dan berakhir di rumah sakit," jelas Mehmet. Ia tidak bermaksud menakuti Kenan, tapi itulah kenyataannya jika bertanding di arena tinju ilegal.
"Penonton-penonton gila itu akan terus memintamu memukul tanpa henti, sampai uang mereka habis. Ini adalah hiburan mereka. Jika kau menang, semua uang mereka akan menjadi milikmu tapi jika kau kalah tidak ada yang membayar biaya pengobatanmu! Apalagi peti matimu!" seru Mehmet dengan penekanan.
Manik mata Kenan sibuk memperhatikan gerakan juara bertahan itu, tetapi telinganya menangkap setiap perkataan Mehmet. Ia ingin mencari titik kelemahan pria yang mereka sebut sebagai juara itu.
"Kapan aku bisa bertanding melawannya?" Pandangan Kenan tidak lepas dari pria besar bertato yang sedang memukul tengkuk leher lawannya.
"Kapanpun kau siap! Ku sarankan sebaiknya kau pemanasan dulu." Mehmet membuka telapak tangannya di depan Kenan, mereka saling berjabat tangan membentuk sebuah kesepakatan.
Kedua orang pria itu menonton pertandingan tinju hingga selesai. Beberapa orang kaya yang menonton pertandingan itu, menaikkan jumlah angka taruhan mereka. Hanya demi melampiaskan keinginan mereka melihat kebrutalan yang terjadi di atas ring.
"Bagaimana hubunganmu dengan wanita itu?" tiba-tiba Mehmet menyeletuk. Semoga kali ini sahabatnya itu bisa menemukan belahan jiwanya yang benar-benar mencintainya.
"Kami hanya berteman." Kenan menjawab singkat sambil terus memperhatikan kedua petinju yang sedang bertanding.
"Jangan terlalu banyak berkorban, jika wanita itu tidak mempunyai perasaan apapun padamu," ucap Mehmet yang mencoba mengingatkan sahabatnya itu agar tidak mengulangi kesalahannya.
Kenan tertawa mendengar nasihat Mehmet. "Ucapanmu itu seperti nenek-nenek saja. Setidaknya itu lebih baik, daripada ayahku!"
Ekspresi wajah Kenan mendadak berubah menjadi serius ketika ia menyebut ayahnya.
__ADS_1
* BERSAMBUNG *
Happy reading teman-teman semua. Semoga kalian menyukai novel kedua ku ini. Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏