
Sambil mengangkat gaun pengantinnya, Ivy berlari mengikuti roda brankar yang menggelinding di atas lantai rumah sakit. Ranjang bergerak itu masuk ke dalam sebuah ruangan yang bertuliskan Emergency Room. Seorang perawat meminta Ivy untuk menunggu di luar.
Sepatu pantofel putih bertumit tinggi itu sudah berjalan puluhan kali di depan ruangan yang tertutup. Kejadian di Istanbul Café membuat Ivy mulai berpikir, kenapa ibu tirinya berniat ingin membunuhnya.
Sebesar itukah dia membenciku? Aku sudah merelakan diriku jauh dari ayah dengan memilih untuk kuliah di Paris, agar ayah bisa dengan bebas mencurahkan kasih sayangnya kepada Cansu. Aku juga membiarkan ayah meletakkan foto mendiang ibuku di dalam gudang, agar wanita itu bisa menjadi istri ayahku sepenuhnya. Aku juga tidak menuntut hak asuhnya atas Deniz, meskipun anak itu masih di bawah umur. Apa yang membuat wanita itu ingin membunuhku?
Gerakan bibir Ivy yang komat-kamit tanpa suara itu mendadak berhenti ketika ia melihat seorang pria yang memakai setelan jas berwarna abu-abu. Pria itu baru saja keluar dari ruangan yang ada di samping tempat pelayan kafe di rawat.
“Itu’kan Mehmet? Apa yang dia lakukan di sini?” Ivy bertanya pada dirinya sendiri kemudian dihampirinya pria gundul tersebut yang tertunduk dengan raut wajahnya yang lesu.
“Ivy?” Mehmet juga sama terkejutnya ketika melihat wanita itu di rumah sakit dengan mengenakan pakaian pengantin. Ia teringat pada kejadian setahun yang lalu, ketika terjadi penembakan di acara pernikahan Kenan.
“Apa terjadi sesuatu dengan Kenan?”
"Bukan. Bukan Kenan, tapi pelayan kafe mu,” jawab Ivy yang langsung menceritakan kejadian yang terjadi di Istanbul Café—tentang penusukan yang dilakukan oleh Sophia.
"Kenapa ibunya Cansu ingin membunuhmu?”
“Aku juga tidak tahu,” jawab Ivy sambil mengangkat kedua bahunya. “Lalu, kau sendiri? Kenapa kau ada di rumah sakit? Kami menunggumu dan Cansu di kafe.”
Mehmet melihat sebuah cincin emas yang melingkar di jari manis Ivy. Cincin yang di beli Kenan tiga hari yang lalu, bersama dengannya. Sedangkan cincin yang seharusnya ia sematkan di jari Cansu, masih tersimpan di dalam kotak yang ada di saku jasnya.
“Cansu bunuh diri.”
Satu jawaban Mehmet yang langsung membuat Ivy tersentak. “Bu… bunuh diri? Bagaimana bisa itu terjadi?”
Manik matanya menatap nanar wajah berkulit gelap yang berdiri di depannya. Ia hendak membuka pintu yang ada di belakang Mehmet, tetapi pria itu mencegah Ivy untuk masuk ke dalam.
“Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dokter masih menanganinya. Kita tunggu saja di luar.” Dengan gerakan tangannya Mehmet meminta Ivy duduk di depan ruangan Cansu.
Kedua orang itu tampak seperti orang bodoh yang berusaha menerka-menerka apa yang sebenarnya terjadi pada hari ini. Pikiran dan hati mereka berkecamuk berharap agar kedua wanita yang tengah berjuang melawan maut itu bisa kembali berkumpul bersama dengan mereka.
Di tengah koridor, mereka hanya duduk berdua menatap pintu ruangan yang tertutup oleh kelambu. Menunggu ketidakpastian dari petugas medis yang akan keluar dari balik pintu kaca. Kemudian Ivy mengalihkan pandangannya kepada lantai keramik putih dalam diam. Entah sudah berapa kali wanita muda itu menghitung kotak persegi yang menempel di bawah sepatunya.
Tidak ada angin atau pun hujan di sana, tiba-tiba Mehmet berkata, “Selamat atas pernikahanmu dengan Kenan.”
Ucapan selamat itu terdengar lirih dan menyayat di telinga Ivy. Ia mengerti, seharusnya hari ini pria itu juga menikah. Hari ini adalah tanggal pernikahan yang dipilih Mehmet dan Cansu, sementara dirinya dan Kenan hanya mengikuti jadwal mereka. Namun, bukannya sang pemilik hari yang menikah, melainkan dirinya.
“Aku harap Cansu segera sembuh. Kalian bisa melanjutkan pernikahan kalian yang tertunda.” Ivy mencoba menghibur Mehmet.
Pria gundul itu hanya menundukkan kepalanya. Dalam hatinya kini bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi.
Selama ini tidak ada rahasia apapun di antara kita, Cansu. Ada apa ini? Kenapa kau bertindak nekat seperti ini?
Suasana hening itu berubah seiring dengan terbukanya dua pintu kaca yang ada di deretan tempat duduk mereka. Keduanya pun mendekati dua orang perawat yang keluar dari dua ruangan yang berbeda. Ivy memilih untuk melihat kondisi pelayan kafe terlebih dahulu, sedangkan Mehmet langsung masuk ke dalam ruangan Cansu.
Di dalam ruangan yang serba putih, Ivy melihat wanita yang berselimutkan kain bermotif garis-garis terbaring lemah. Sebuah tusukan jarum infus yang menempel pada punggung tangannya. Perlahan-lahan kelopak mata yang tertutup itu kemudian terbuka saat mendengar suara langkah yang menghampirinya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Ivy setelah dirinya berada di samping ranjang besi tersebut.
Pelayan kafe itu hanya memandanginya tanpa ekspresi. Bibirnya tampak pucat, karena banyaknya darah yang keluar dari tubuhnya.
“Bisakah Anda menghubungi keluargaku?” Wanita itu mengarahkan pandangannya kepada Ivy.
“Ya… aku akan menghubungi keluargamu. Katakan saja berapa nomor ponselnya?”
Setelah pelayan kafe itu mengatakan beberapa digit angka, Ivy langsung menghubungi keluarga wanita itu dan memintanya untuk segera datang ke rumah sakit.
“Terimakasih, Nyonya,” ucap pelayan wanita itu dengan suaranya yang pelan.
“Seharusnya aku yang minta maaf padamu. Karena aku, kau yang menjadi korban.”
“Semuanya sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa, Nyonya. Seharusnya... hari ini bukan waktuku untuk bekerja, tapi aku minta manajer kafe untuk mengganti jadwalku.” Pelayan wanita itu menghela napasnya dengan panjang.
“Istirahatlah, semoga kau cepat sembuh. Untuk masalah biaya rumah sakit, kau jangan khawatir, aku yang akan membayarnya. Aku permisi dulu, karena aku harus melihat keadaan saudaraku yang ada di kamar sebelah,” pamit Ivy.
......................
Manik mata biru itu bergerak mengelilingi ruangan yang berukuran 3x5 meter. Ruangan yang hanya berisi ranjang besinya, sebuah meja kecil dan sebuah kursi. Ia melihat kelambu yang berwarna putih berkibar di bagian ujungnya terkena tiupan angin dan selang infus yang menempel di punggung tangannya. Rasa nyeri kini berpindah tempat, ia merasakan rasa sakit itu pada lehernya yang luka.
“Aku… masih hidup?” gumam Cansu yang mencubit tangannya sendiri dan ia merasakan rasa sakit itu.
Seketika pandangannya langsung tertuju kepada pintu kamarnya yang baru saja terbuka. Dua orang sosok manusia yang tidak ingin ia temui saat ini. Terlebih lagi untuk wanita yang memakai baju pengantin.
Perkataan Ferit kembali terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
Yang aku inginkan adalah Ivy, bukan kau! Kenapa justru kau yang ada di sini?
“Pergi, kalian semua! Aku tidak ingin melihat kalian!” teriak Cansu dengan histeris, ketika Mehmet dan Ivy telah berada di samping ranjangnya.
__ADS_1
“Cansu, tenanglah….” Ivy dan Mehmet berucap bersamaan.
Putri Sophia itu langsung menangkis tangan Ivy, ketika saudara tirinya itu berniat akan memegang lengannya.
“Pergi kataku! Pergi!” teriak Cansu dengan matanya yang melotot memerah menahan kesedihannya.
“Terlebih kau! Aku membencimu!” tuding Cansu kepada Ivy, matanya menyorot penuh kebencian kepada saudara tirinya. “Seharusnya kau yang berada di hotel itu, bukan aku!”
Dua orang perawat menerobos masuk ke dalam kamar Cansu begitu mereka mendengar teriakan wanita itu. Mereka meminta Mehmet dan Ivy untuk keluar. Salah satu dari perawat tersebut memberikan suntikan obat penenang kepada Cansu.
Perlahan-lahan Ivy dan Mehmet meninggalkan kamar dan melihat Cansu yang kembali tertidur setelah mendapat suntikan.
Putri Victor itu berdiri tertegun, begitu melihat pintu itu tertutup kembali. Seumur hidupnya, tak pernah sekalipun Cansu membentaknya atau mengusirnya keluar. Meskipun ibu tirinya selalu memusuhinya, tetapi Cansu malah lebih sering membela dirinya. Ia hanya pernah membentak Cansu, ketika ibu tirinya itu mengusirnya dari rumah.
Ada apa denganmu, Cansu? Kenapa kau tiba-tiba membenciku?
Sementara Mehmet berusaha mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Pria itu menanyakan keberadaan dokter yang menangani Cansu kepada dua orang perawat yang baru saja keluar dari kamar kekasihnya.
“Selaput dara wanita itu telah robek dan banyak terdapat luka lebam karena gigitan dan sentuhan bibir seseorang. Jika dia berniat bunuh diri, besar kemungkinan bahwa wanita itu telah mengalami kasus pemerkosaan,” jelas Dokter Akmal, ketika Mehmet meminta penjelasan kepadanya.
“Pemerkosaan?” Mehmet mengerutkan keningnya. Perkataan Cansu tentang hotel menguatkan dugaan pria itu, bahwa ada hubungan antara penjelasan dokter dengan apa yang telah terjadi dengan kekasihnya.
Dua hari yang lalu, aku masih bertemu dengannya. Sikapnya masih seperti biasanya, malahan dia sangat ceria. Apa kejadian itu terjadi kemarin?
Perkataan tetangga Cansu tentang tidak adanya acara Malam Henna, semakin menguatkan dugaan Mehmet bahwa kejadian pemerkosaan itu terjadi kemarin.
Dokter Akmal memberikan hasil pemeriksaannya kepada Mehmet. “Sayang kami tidak bisa mendapatkan visumnya, karena pasien telah membersihkan dirinya sebelum melakukan percobaan bunuh diri.”
Pria berkepala gundul itu mengepalkan telapak tangannya dan mengatupkan kedua rahangnya setelah mendengar penjelasan dari dokter. Kini hati dan kepalanya mulai terasa panas. Ia mulai mencari tahu, siapa pria biadab yang telah membuat Cansu seperti ini.
......................
Sophia berjalan terseok-terseok di jalan raya menuju rumahnya. Riasan di wajahnya sudah mulai luntur karena buliran keringat yang membasahi kepala hingga ujung kakinya. Rambut merahnya yang semula tergelung rapi berubah semrawut tak karuan, bagaikan dedauanan yang sudah lama tidak dipangkas oleh tukang kebun.
Sedikit lagi, aku akan sampai rumah. Aku akan mengemasi barang-barangku dan segera pergi dari Istanbul.
Baru saja langkahnya bertambah lima langkah, alangkah terkejutnya wanita bergaun kuning gading tersebut. Ia melihat Kenan dan tiga orang petugas polisi berpakaian preman tengah berdiri di depan rumahnya. Dengan cepat ia memilih untuk bersembunyi di belakang mobil box milik tetangganya.
Sial! Kenapa mereka berada di depan rumahku? Jika begini terus, aku tidak bisa mengambil barang-barangku!
Sophia menunggu beberapa menit, tetapi keempat pria itu tak kunjung pergi meninggalkan rumahnya. Dari belakang mobil box, ia melihat beberapa dari mereka masuk ke dalam rumah dengan melangkahi pagar yang hanya setinggi lututnya. Sedangkan dua orang petugas yang lain, berbicara dengan tetangganya.
Wanita paruh baya itu pun berjalan kembali sambil bersembunyi di antara pepohonan dan kendaraan-kendaraan roda empat yang parkir di dekat rumahnya.
Setelah sampai di ujung jalan, ia mencegat taksi yang melintas di depannya. Di setiap perjalanannya wanita serakah ini mulai memutar otaknya untuk mencari tempat perlindungan. Ia teringat bahwa dirinya masih memiliki saham di salah satu perusahaan di Istanbul.
Taksi berwarna kuning itu berhenti tepat di depan gedung perkantoran yang tinggi yang ada di pusat Kota Istanbul—gedung Perusahaan Kozan.
Dengan sedikit mendongakkan kepalanya, Sophia berjalan memasuki gedung tersebut.
“Permisi, Nyonya. Anda mencari siapa?” tanya petugas keamanan yang melihat penampilan Sophia yang acak acakan.
“Aku salah satu pemilik saham di sini! Aku ingin bertemu dengan Ferit Kozan!” seru Sophia dengan ketus.
“Pemilik saham?” Raut wajah petugas keamanan itu berkerut menatap Sophia, antara setengah percaya dan ketidak percayaannya. Ia melihat penampilan wanita itu yang lebih mirip orang gila daripada seorang wanita berkelas.
“Apa yang kau lihat?” Sophia bertanya dengan suaranya yang galak. “Dimana ruangan Ferit?”
“Maaf, Nyonya, Lebih baik Anda keluar dari sini!” cegah petugas keamanan sambil menodongkan tongkat besinya kepada Sophia.
“Jika kau tidak mengijinkan ku masuk, maka aku akan minta Ferit untuk memecat mu!” ancam Sophia dengan meninggikan suaranya.
Mendengar ancaman Sophia, petugas keamanan itu pun langsung memberitahu ruangan atasannya. Wanita paruh baya itu langsung tersenyum sinis begitu ia melihat petugas itu menyerah.
Dengan mengangkat wajahnya ke atas dan berjalan bak seorang nyonya besar, Sophia mendatangi Ferit. Ketukan tumit sepatu pantofelnya terdengar mengiringi langkahnya hingga menuju lantai delapan.
"Maafkan saya, Tuan Ferit. Nyonya ini memaksa untuk masuk,” kata sekretaris Ferit dengan raut wajahnya yang ketakutan.
Tuannya telah memberi pesan kepadanya untuk tidak mengijinkan siapapun masuk ke dalam ruangannya, karena emosi pria itu telah mencapai puncaknya.
Dari tempat duduknya, Ferit mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang berani masuk ke dalam sarangnya. Ia meletakkan buku contoh kain yang semula ada di tangannya.
Manik matanya kini langsung menyorot tajam begitu ia melihat Sophia berdiri di belakang sekretarisnya. Wanita paruh baya itu telah membangunkan seekor harimau tidur.
“Keluarlah!” perintah Ferit kepada sekretarisnya. Wanita muda itu pergi meninggalkan keduanya di dalam ruangan.
Setelah Hasan, kali ini kau mencari gara-gara denganku! Karena persengkokolan kalian, membuatku kehilangan Ivy!
“Untuk apa kau datang kemari?” Ferit bangkit berdiri dan berjalan mendekati Sophia.
__ADS_1
“Aku meminta bagian saham ku,” jawab Sophia.
Suara tawa Ferit yang menggelegar membuat Sophia memundurkan satu langkahnya ke belakang. “Saham? Saham yang mana?”
“Kau jangan pura-pura lupa! Aku sudah menandatangani surat perjanjiannya di kafe!” seru Sophia.
“Oh iya, aku baru ingat.” Ferit tersenyum tipis sambil menggaruk salah satu alisnya.
Bibir merah itu langsung mengembang bak kelopak bunga yang baru saja mekar. Sophia mulai memajukan kembali langkahnya ke tempatnya semula kemudian berkata, “Karena kau sudah mengingatnya, aku minta bagian ku.”
“Bagian mu ya? Oke, aku akan memberikannya.” Ferit membalikkan badannya kemudian mengambil sebuah dokumen dari lemari besinya. Ia membuka halaman yang berisi tanda tangan Sophia.
“Aku rasa kau yang telah pikun, Nyonya Eleanor yang terhormat!” seru Ferit yang langsung melempar dokumen itu ke wajah Sophia. Pria itu telah mengeluarkan kartu AS nya kepada wanita serakah tersebut.
Wajah Sophia yang semula sumringah berubah menjadi merah padam menahan amarahnya. Ferit telah menguranginya dan memperdaya dirinya.
Pada waktu itu Sophia memang telah menandatangani dua halaman sekaligus, yang ia pikir adalah salinan surat perjanjiannya. Ternyata pada halaman kedua, surat itu berisi pembatalan saham yang telah diberikan Ferit kepadanya.
“Sa… saham itu… tidak ada?” tanya Sophia dengan terbata-bata. Ia menatap Ferit dan dokumen yang ada di tangannya secara bergantian. “Dimana saham ku?”
Ferit memberikan tepuk tangan untuk dirinya sendiri. “Tidak ada saham untukmu! Jangankan sepuluh persen, satu persen pun tidak akan pernah aku berikan!”
“Kau benar-benar penjahat, Ferit!” teriak Sophia yang memukul wajah pria itu dengan dokumen yang ada di tangannya.
Pria berambut coklat itu tertawa dengan keras seakan mengejek kebodohan Sophia. Tangan kekarnya memegang dan mengangkat tangan Sophia yang akan memukulinya kembali, kemudian ia mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah wanita paruh baya itu.
“Kau menyebutku penjahat? Lalu kau sendiri apa? Seorang malaikat? Kau yang membuat putri kandungmu hancur karena sentuhan ku!” Ferit langsung mendorong Sophia ke belakang, membuat wanita paruh baya itu jatuh tersungkur.
“Jangan minta aku bertanggung jawab! Karena ini semua salahmu!” seru Ferit yang berjongkok dan menjepit kedua pipi Sophia. Tubuh wanita paruh baya itu bergetar dengan hebat.
“Ibu kandung Cansu adalah KAU! Itulah kenapa aku lebih memilih Ivy daripada putrimu! Karena aku tidak ingin wanita rakus sepertimu masuk ke dalam rumahku!” pekik Ferit langsung membuang wajah Sophia ke sembarang arah.
Pemimpin perusahaan Kozan itu langsung meminta petugas keamanannya untuk naik ke ruangannya. Dalam hitungan menit, dua orang petugas dengan tongkat besinya masuk ke dalam ruangan Ferit.
“Seret wanita ini keluar! Jangan pernah sekalipun kalian membiarkan wanita ini masuk kembali ke dalam gedung ini!” perintah Ferit.
“Ferit, kau… tidak bisa melakukan hal ini padaku! Kau tidak bisa mengusirku dari sini! Aku juga ibunya Ivy!” teriak Sophia yang berusaha memegang ujung celana pria itu.
“Apa telingaku sudah rusak? Kau ibunya Ivy? Wanita sepertimu tidak pantas menjadi seorang ibu!” teriak Ferit dengan garang.
“Apa yang kalian tunggu? Cepat bawa keluar wanita ini dari hadapanku!” teriak Ferit kepada petugas keamanannya.
Dua orang petugas keamanan itu langsung memegang kedua lengan Sophia, membantu wanita itu bangkit berdiri dan menyeretnya keluar dari ruangan Ferit.
“Lepaskan... lepaskan aku! Kalian tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Aku pemilik saham perusahaan ini!” teriak Sophia yang malah mengundang perhatian seluruh karyawan di gedung itu. Wanita paruh baya itu terus berteriak histeris hingga keluar dari pintu lobi.
“Tadi Anda mengancamku, kali ini semuanya berbalik padamu, Nyonya,” kata salah satu petugas keamanan tersebut.
Sementara temannya yang lain melempar tubuh Sophia begitu saja di halaman depan gedung kemudian mencemooh wanita paruh baya itu, “Pemilik saham apa, huh!”
Mereka menyiram tubuh Sophia dengan seember air dingin. “Pergi! Jangan pernah kembali lagi!”
Tubuh istri almarhum Victor itu menggigil kedinginan. Rambut dan bajunya basah kuyup. Penampilannya tak ubahnya seekor kucing yang habis tercebur di dalam kubangan air.
“Arrggh…!” teriak Sophia sambil mengcak-ngacak rambutnya sendiri menjadi semakin tak karuan. Riasan matanya pun meluber kemana-mana meninggalkan noda hitam di sekitar area matanya.
“Aku? Aku menghancurkan hidup putriku?” Sophia tertawa terkekeh-kekeh. “Putriku yang mana? Apa aku punya putri?”
Sophia menatap gedung yang menjulang tinggi kemudian tertawa tanpa sebab dan menghentakkan kedua kakinya bergantian pada lantai paving blok. Wanita paruh baya itu bagaikan seorang anak kecil yang sedang merajuk meminta sesuatu.
“Satu persen,” ucap Sophia sambil mengeluarkan jari telunjuknya kemudian tertawa.
“Dua persen.” Ia mengeluarkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan dan kembali tertawa terkekeh.
“Tiga persen.” Dikeluarkannya tiga jarinya dan selalu diiringi dengan tawa.
Ia mulai berhitung dengan jari-jarinya hingga ia berhasil menyebutkan angka sepuluh.
Kemudian wanita paruh baya itu melompat kegirangan seperti seorang anak kecil yang berhasil belajar berhitung kemudian bertepuk tangan dan tertawa.
Ibu kandung Cansu itu berjalan menyusuri trotoar dan selalu memegang kedua lengan setiap wanita muda yang ia temui di jalan raya. Ia selalu menanyakan pertanyaan yang sama berulang-ulang dan menatap mereka dengan tatapan matanya yang kosong kemudian tertawa kembali tanpa sebab.
“Apakah kau putriku?”
“Siapa putriku?”
“Apa kau mau menjadi putriku?”
Semua orang takut karena melihat penampilannya dan berusaha menghindari Sophia. Namun, wanita paruh baya itu semakin agresif dan mengejar mereka.
__ADS_1
...****************...