
Sekitar pukul 19.00 waktu Istanbul, langit di kota ini masih terlihat terang benderang. Kenan baru saja keluar dari Rumah Sakit Istanbul, tempat Deniz di rawat.
Putra Harun itu memilih mencari Ivy sendiri tanpa bantuan Mehmet. Ia melajukan mobil SUV nya ke arah pusat bisnis di Istanbul. Menyusuri setiap gedung-gedung tinggi dengan aneka bentuk arsitektur yang mewah. Mobil silver itu bergerak lambat ketika melewati gedung bertingkat dengan bangunannya yang berbentuk Piramida. Kenan memasukkan mobilnya di halaman depan gedung tersebut.
Langkah sepatu ketsnya hampir tidak terdengar, ketika Kenan masuk ke dalam lobi. Manik mata abu-abu gelapnya menatap tajam sebuah rangkaian huruf kapital yang membentuk kata KOZAN dengan tubuhnya yang berwarna hitam.
"Dimana ruangan Ferit Kozan?" tanya Kenan kepada seorang resepsionis wanita.
"Apa Anda sudah membuat janji?" Resepsionis itu menjawab pertanyaan Kenan dengan pertanyaan juga, membuat pria itu mendengus kesal.
"Jika kau tidak memberitahuku, aku akan menghancurkan ruangan ini!" ancam Kenan di depan sang resepsionis.
Resepsionis itu memundurkan langkahnya menjauhi Kenan, ia segera mengambil pesawat telepon yang ada di mejanya dan menekan angka nol dan satu di sana.
"Tuan, ada yang ingin mencari Tuan Ferit." Bibir wanita dengan lipstik merahnya itu menempel di lubang suara.
"Baik, Tuan." Wanita itu menganggukkan kepalanya kemudian meletakkan pesawat teleponnya kembali.
Petugas resepsionis itu mengalihkan pandangannya kembali kepada Kenan. Wanita itu memberitahu putra Harun bahwa ruangan Tuan Ferit ada di lantai lima.
Tanpa mengucapkan terimakasih, Kenan melangkahkan kakinya menuju lift yang ada di belakang lobi. Tabung kaca itu membawa Kenan naik ke lantai lima.
Pria berkumis tipis itu mengayunkan langkahnya menuju ke sebuah pintu yang terlihat kokoh dan tertutup. Ia tidak melihat sekretaris Ferit atau karyawan lain di sana.
Kenan memutar pegangan pintu berwarna kuning berbentuk vertikal dan langsung mendorong daun pintu tersebut hingga membentur dinding yang ada di belakangnya. Ia melangkah masuk ke dalam ruangan berlantai granit dengan corak abu-abunya.
Tampak di depannya ia melihat sebuah sandaran kursi tinggi berwarna coklat muda. Kursi kerja itu menghadap lemari buku yang menempel di dinding. Kenan memperhatikan sebuah kepala berambut cepak yang sedang duduk di kursi tersebut. Sosok itu memunggunginya. Nalurinya mengatakan bahwa pria itu bukan Ferit.
"Selamat datang ke permainanku, Tuan Kenan," kata seorang pria yang duduk di kursi tersebut. Pria berambut cepak itu memutar kursinya dan menatap Kenan dari tempat duduknya.
"Kau!" pekik Kenan. Ternyata tebakannya benar.
"Dimana Ferit?" Raut wajah Kenan merah padam menahan amarahnya karena orang yang ia cari tidak ada.
"Kau sudah berani masuk ke sarangku, tentu aku harus menyambut tamu kehormatanku." Hasan bangkit berdiri dengan senyumannya.
Pria dengan hidungnya yang melengkung itu mengeluarkan siulannya. Beberapa detik kemudian, masuklah empat orang ke dalam. Pandangan Kenan mengitari dua orang laki-laki yang tadi ia temui di rumah sakit dan dua orang lainnya.
"Beri sambutan untuk tamu kehormatan kita" sindir Hasan sambil menjentikkan kedua jarinya kepada keempat anak buahnya itu.
Hasan menyandarkan tubuhnya di depan meja kerja, menyilangkan kaki dan tangannya untuk menonton pertunjukan gratis yang ada di ruangan Ferit.
Kenan mengusap batang hidungnya kemudian ia membuka dan menutup telapak tangannya yang terulur ke depan berulangkali. Seakan ia memberikan kode untuk mempersilakan keempat pria itu maju bersama-sama.
Keempat anak buah Hasan maju serentak mengeroyok Kenan. Mereka melayangkan pukulannya bersama-sama, tetapi Kenan menundukkan tubuhnya, membuat pukulan itu luput dan mengenai teman mereka yang ada di depan.
Saat Kenan menundukkan tubuhnya, ia memukul tempurung lutut kedua orang yang di sampingnya.
__ADS_1
Keempat orang itu terjatuh karena terkena pukulan temannya sendiri. Kenan mengangkat tubuh anak buah Hasan yang paling kecil dan melemparkannya ke tiga anak buah Hasan yang lain.
Sebelum keempat orang itu bangkit berdiri, Kenan mengambil salah satu kursi tunggal yang ada di depan meja. Ia melemparkan kursi itu kepada kedua orang anak buah Hasan yang baru saja bangkit berdiri. Kaki kursi yang terbuat dari besi itu memukul dada mereka.
Melihat anak buahnya kalah, Hasan segera turun tangan. Ia melayangkan pukulan kidalnya ke wajah Kenan hingga membuat batang hidung pria itu mengeluarkan darah segar.
Kenan terhuyung-huyung mendekati meja kerja, kemudian Hasan melilitkan dasinya ke leher Kenan. Menarik batang leher pria itu dari belakang hingga kepala Kenan menyentuh meja. Tangan Kenan mencoba membuka lilitan dasi bermotif garis vertikal yang mencekik lehernya.
Hasan melayangkan pukulannya ke dada Kenan, tetapi dengan cepat putra Harun itu memegang tangan kiri Hasan. Tangan Kenan yang lain memegang tangan kanan Hasan yang sedang melilitkan dasinya ke lehernya.
Pria berambut cepak itu mengangkat tubuh Kenan dengan menarik dasi panjangnya, membuat napas Kenan semakin tercekik.
Putra Harun itu melihat ada sebuah gunting di dalam kotak yang ada di atas meja, tetapi karena kedua tangannya sedang memegang semua tangan Hasan. Akhirnya ia naik ke atas meja dan membenturkan dahinya ke dahi Hasan.
Pandangan mereka berdua mendadak kabur karena benturan dua kepala yang keras. Kedua hidung dan kening mereka mengeluarkan darah. Dalam keadaan pandangan matanya yang buram, Kenan berusaha mengambil gunting yang ada di atas meja dan memotong dasi Hasan.
Sebelum orang kepercayaan Ferit itu berdiri tegak, Kenan melemparkan kursi tunggal yang masih berdiri kokoh itu ke tubuh Hasan. Tubuh pria berambut cepak itu jatuh ke meja kerja dan merobohkan laptop serta beberapa peralatan tulis yang lain.
Dengan wajah garangnya, Kenan maju mendekati anak buah Hasan, tetapi keempat orang itu ketakutan dan membiarkan Kenan pergi dari ruangan itu.
Kenan segera berlari menuju lift dan keluar dari gedung Kozan. Ia menyeka kening dan hidungnya yang berdarah. Dalam keadaan setengah pusing, ia membawa mobilnya ke Rumah Sakit Istanbul untuk melihat keadaan Deniz.
*****
"Biarkan dia pergi!" teriak Hasan kepada anak buahnya. Dari jendela besar yang ada di ruangan itu, ia melihat Kenan sudah masuk ke dalam mobilnya. Napasnya yang memburu perlahan-lahan kembali normal.
"Baik. Aku akan segera ke sana." Hasan segera menutup ponselnya dan membawa berkas yang diminta Ferit.
Hasan membuang dasinya yang telah putus kemudian menggulung lengan kemejanya ke atas. Ia membasuh wajahnya di toilet untuk menghilangkan noda darah yang ada di kening dan hidungnya.
"Ternyata kau lebih hebat dari yang kukira," gumam Hasan yang berbicara sendiri di depan cermin.
Setelah rasa pusing di kepalanya hilang, Hasan melajukan mobilnya menuju ke rumah tuannya. Dalam pikirannya, pasti Ferit sedang bersenang-senang dengan calon istrinya itu.
Langit di kota Istanbul sudah mulai gelap, matahari sudah masuk ke dalam peraduannya. Semu warna merahnya lambat lain mulai memudar di telan gelapnya malam.
Sekitar pukul 20.30 waktu Istanbul, Hasan tiba di rumah Ferit. Pria itu langsung masuk menuju ke ruang kerja tuannya yang ada di lantai bawah.
Pintu kayu itu terbuka, ternyata Ferit sudah menunggunya. Tuannya itu sedang menuang botol anggurnya ke dalam sebuah gelas kaca. Hasan berdeham.
"Kau sudah datang," ucap Ferit kemudian ia menuang botol anggur ke gelas kaca yang lain.
"Temani aku minum," lanjut Ferit yang memberikan gelas minumannya kepada Hasan. Pria bertangan kidal itu menerima pemberian tuannya.
Mereka berdua meneguk gelas minumannya sampai habis. Ferit menuangkannya kembali dan mereka minum untuk yang kedua kalinya.
"Montir itu menghajarmu?" Ketika Ferit melihat bekas luka di dahi Hasan.
__ADS_1
Hasan hanya menurunkan sudut bibirnya membuat Ferit tertawa keras. "Jika begitu, dia harus berhadapan denganku!"
"Ternyata dia cukup tangguh. Dia berhasil mengalahkan keempat anak buahku. Aku dengar, baru-baru ini montir kapal itu menjadi juara di pertandingan tinju ilegal," cerita Hasan.
"Oh ya?" Ferit menaikkan salah satu alisnya kemudian tertawa mendengar cerita Hasan.
"Sang juara," gumam Ferit yang mencibir Kenan. Manik matanya menyala tajam kemudian dilemparkannya gelas kaca yang ada di tangannya itu ke lemari besi yang ada di depan.
Prang...!
Lemparan gelas kaca itu membuat Hasan yang ada di samping Ferit terkejut. Pria itu mengenal watak Ferit, pasti ada sesuatu yang telah membuat tuannya itu marah.
Kurasa ia tidak mendapatkan kesenangannya hari ini.
Hasan mengalihkan pikiran Ferit untuk membahas masalah pekerjaan. Kedua pria itupun segera duduk di atas sofa panjang. Hasan memberikan berkas yang ia bawa, dan mereka mulai membicarakan tentang kontrak kerjasama dengan perusahaan lain.
Sementara itu, di lantai dua rumah Ferit. Ivy yang sejak tadi duduk di belakang pintu kamar calon suaminya itu, perlahan-lahan berusaha untuk bangkit berdiri.
Ia melihat wajahnya terlukis di sebuah lukisan besar yang tergantung di atas dipan ranjang. Diambilnya lukisan itu dari tempatnya, ia ingin melemparkan lukisan itu ke bawah. Akan tetapi mendadak rasa takut akan amarah Ferit menjalari tubuhnya.
Dia pria gila. Jika aku merusak lukisan ini, dia akan punya alasan untuk menyentuhku dan tidak akan pernah membebaskanku dari sini.
Ivy mengembalikan kembali lukisan besar itu ke tempatnya semula. Ia mencari cara untuk keluar dari rumah Ferit. Dilihatnya sekelilingnya, tidak ada pesawat telepon ataupun ponsel di sana. Sementara tas dan ponselnya tertinggal di kamar Deniz.
Manik matanya melihat lemari baju yang tingginya menyentuh plafon kamar. Ivy mencoba membuka lemari berwarna abu-abu muda itu, ternyata lemari itu tidak terkunci.
Dicarinya sesuatu yang panjang di dalam sana, tetapi ia tidak menemukan benda itu. Beberapa tumpukan seprei terlihat dari sudut matanya. Diambilnya beberapa seprei itu dari tumpukannya.
Putri Victor itu melilitkan ujung seprei yang satu dengan ujung seprei yang lain membentuk sebuah tali yang panjang. Ia mempererat setiap ikatannya agar mampu menahan berat tubuhnya.
Wanita berambut cokelat gelap itu berjalan ke balkon kamar, dilihatnya tinggi lantai yang ia pijak hingga ke bawah, sekitar tiga meter jaraknya.
Ivy kembali merangkai kain seprei-seprei itu. "Kurasa ini sudah cukup," gumam Ivy.
Dibawanya kain seprei yang sudah terikat membentuk sebuah tali panjang. Ia mengulurkan kain itu ke bawah, tapi ternyata kain itu masih kurang panjang untuk membawanya ke dasar.
Wanita berwajah oval itu mengikat ujung kain seprei yang ada di tangannya ke jeruji pagar balkon. Ia masuk kembali ke kamar dan melepas kain seprei yang terpasang di ranjang Ferit. Dibawanya kain itu keluar dan dililitkannya dengan kain panjangnya yang sudah membentuk tali.
Hasan yang duduk menghadap jendela ruang kerja, melihat ada sebuah kain panjang yang bergerak-gerak. Terkadang kain itu naik ke atas dan kadang turun ke bawah.
"Oh...O..., Tuan Ferit sepertinya...." Hasan tak melanjutkan perkataannya, biar Ferit yang menyimpulkannya sendiri.
Ferit menoleh ke belakang dan melihat kain seprei yang ada di luar jendela. Ruang kerjanya itu berada tepat di bawah lantai kamarnya. Ia bisa mengira darimana datangnya kain panjang itu.
"Ivy!" pekik Ferit dengan geram. Pria itu langsung keluar meninggalkan ruang kerjanya.
* BERSAMBUNG *
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏