
Ivy yang tidak tahu siapa pemberi bunga dan coklat untuknya, segera membawa pulang kedua benda itu. Ia bermaksud menanyakan kepada Kenan setelah tiba di rumah.
Tapi langkah kakinya terhenti ketika ia sudah sampai di ambang batas pintu ruangannya. Ia teringat keadaan Kenan sudah membaik tadi pagi, kemungkinan pria itu kembali ke rumahnya lebih besar.
Ivy memutuskan untuk menghubungi ponsel pria itu. Suara nada sambung terdengar beberapa kali.
"Kenan?" tanya Ivy setelah ia mendengar suara seseorang yang ingin ia dengar.
"Ya. Ada apa?"
"Ehm... aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu." Ivy tampak ragu-ragu untuk mengatakan hal itu.
"Katakan saja, aku tidak suka basa basi. Apa kau ingin aku jemput?"
"Bukan... bukan soal itu. Kenan, apakah hari ini kau mengirimiku bunga dan coklat?" tanya Ivy dengan raut wajahnya yang memerah.
Kenan terdiam sejenak untuk beberapa detik.
"Halo... Kenan?" Ivy menyandarkan dirinya di dinding luar ruang kerjanya.
"Bukan aku."
"Oh. Baiklah kalau begitu," kata Ivy dengan raut wajahnya yang kecewa. Ia berharap kedua benda itu adalah pemberian Kenan, tapi ternyata dirinya salah.
"Ivy, kau masih di sana?" Kenan tidak mendengar suara wanita itu, kemudian hanya terdengar tut... tut... tut
*****
Hari sudah mulai gelap. Cahaya lampu gedung dan lampu jalan mulai menerangi kegelapan di sekitar. Ivy dan beberapa karyawan yang lain menuruni beberapa anak tangga gedung perusahaan Sarte. Buket bunga yang ia bawa, membuat perhatian semua orang tertuju kepadanya. Kasak kusuk mulai terdengar di telinga Ivy.
Dari arah pintu masuk, sorotan lampu mobil menyapu dinding gedung. Sebuah mobil mewah keluaran Eropa berwarna hitam memasuki halaman depan dan berhenti tepat di samping Ivy.
Sang pengemudi membuka kaca mobilnya perlahan sampai Ivy dapat melihat jelas wajah berkumis dan bercambang itu. Manik matanya membulat setelah ia melihat siapa gerangan yang ada di dalam mobil. Seketika itu juga, Ivy memundurkan kakinya hingga terjepit di sudut anak tangga.
"Apa kau sudah menerima pemberianku?" tanya Ferit dengan senyumannya yang menawan. "Aku datang untuk mengantarmu pulang."
Ivy menggelengkan kepalanya dengan cepat, ternyata dugaannya benar. Ia langsung berjalan menjauhi mobil Ferit. Laki-laki itu segera memarkirkan mobilnya di halaman depan perusahaan Sarte kemudian keluar dari mobil dan mengejar Ivy.
Di bawah sinar lampu yang tergantung di tiang, Ivy berdiri sesaat. Ia berharap ada bus yang lewat malam ini untuk membawanya pergi dari sini. Dari sudut matanya, ia melihat Ferit sudah keluar dari gedung dan berjalan ke arahnya.
Beberapa mobil tampak melintas di dekatnya, dua orang wanita di seberang asyik mengobrol tanpa melihat kepadanya. Beberapa karyawan hanya sibuk membicarakan orang lain, tanpa berniat untuk menolongnya. Ivy membalikkan badannya dan segera angkat kaki dari tempat itu. Ia mendekap tasnya di depan dadanya.
"Ivy...!" panggil Ferit yang melihat Ivy sudah lari beberapa meter jauhnya. Pria itu segera mengejar wanitanya.
__ADS_1
Deretan tanaman merambat, beberapa tiang papan iklan baliho, dan deretan gedung perkantoran telah Ivy lewati. Sesekali ia menoleh ke belakang, Ferit semakin mendekat ke arahnya. Ia tidak tahu harus ke arah mana. Ia hanya mengikuti jalur trotoar yang telah berbelok ke kiri.
Pandangan matanya mulai berkunang-kunang, kepalanya berputar, Ivy menyandarkan tangan kanannya di sebuah pohon. Tenggorokannya seakan tercekik oleh sesuatu dari dalam. Rasa mual berontak dari dalam perutnya. Dalam keadaan tubuhnya yang lemah, Ivy jatuh di bawah pohon.
"Ivy!" teriak Kenan dan Ferit dari arah yang berlawanan. Pria dengan ikat rambut itu segera berlari mendekati Ivy.
Kenan yang baru saja tiba, segera menghentikan mobilnya di dekat pohon tempat Ivy terjatuh. Putra Harun itu segera mengangkat tubuh Ivy dan memasukkannya ke dalam mobil.
"Ivy!" seru Ferit yang melihat Kenan memasukkan calon pengantinnya itu ke dalam mobilnya.
Kenan segera menghampiri Ferit dan mendorong tubuh kekar itu ke belakang. Wajah Kenan mulai menunjukkan kegarangannya.
"Jangan pernah mengganggu hidup Ivy!" ancam Kanan sambil menunjuk kepalan tangannya ke wajah Ferit.
Tak terima dengan ancaman Kenan, pria berikat rambut itu mencengkeram kaos Kenan dan menjatuhkan tubuh putra Harun itu ke atas kap mobil.
Tangan berotot besar itu mencekik leher Kenan, manik mata Ferit mulai melotot menahan amarahnya. "Kau yang seharusnya menyingkir dari kehidupan calon istriku, montir sialan!"
Ferit melayangkan pukulannya ke wajah Kenan, tetapi dengan cepat Kenan menangkis pukulan itu. Putra Harun itu menendang perut dan ************ Ferit membuat pria itu mundur dan jatuh di jalan raya beraspal. Beberapa pasang mata hanya bisa melihat kejadian itu dalam diam.
Suara mobil sirine terdengar dari arah gedung Sarte dan berbelok ke tempat kejadian. Kenan segera masuk ke dalam mobilnya dan membawa Ivy pergi dari tempat itu.
Dengan wajahnya yang merah padam dan rahangnya yang mengeras, Ferit menatap bengis mobil SUV yang telah pergi meninggalkannya. Pria itu segera berjalan kembali ke gedung Sarte. Ia menendang setiap kerikil dan kaleng minuman bekas yang ada di depan kakinya.
*****
Mobil SUV itu melintas membelah lalu lintas kota Istanbul yang padat merayap malam ini. Kendaraan roda empat itu bergerak ke arah utara menuju distrik Fener, rumah Nur.
Dari balik kemudinya, Kenan melihat keadaan Ivy yang masih terbaring di kursi belakang. Ia berusaha mencari celah kosong di antara beberapa kendaraan yang ada di depannya.
"Oh shit!" umpat Kenan sambil memukul setirnya, ketika sebuah mobil berwarna merah tiba-tiba memotong jalannya. Ia menyembunyikan klaksonnya beberapa kali, mengumpat dan menyembunyikan klaksonnya kembali. Akan tetapi pengemudi mobil merah itu tetap pada pendiriannya tidak memberikan jalannya kepada Kenan.
Waktu perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh sekitar sepuluh sampai lima belas menit, terpaksa molor. Tiga puluh lima menit kemudian, mobil SUV itu memasuki kawasan Fener dan tiba di rumah Nur.
"Apa yang terjadi?" tanya Nur yang melihat Kenan masuk ke dalam rumah sambil mengangkat tubuh Ivy dan membaringkannya di atas ranjang.
"Kau apakan kakakku?" tanya Deniz yang berlari masuk ke dalam kamar mengikuti langkah Kenan.
"Ternyata kau pria jahat!" teriak Deniz yang melihat Ivy menutup kelopak matanya. Bocah berumur sepuluh tahun itu memukuli lengan Kenan berulang kali.
Nur segera menarik tangan Deniz agar menjauhi Kenan. "Tidak Deniz. Kenan bukan pria jahat."
"Tapi kenapa Ivy tidak membuka matanya? Apa yang kau lakukan pada kakakku?" teriak Deniz dengan isak tangisnya. Anak itu naik ke ranjang, mendudukkan dirinya di sisi kiri Ivy.
__ADS_1
Nur yang melihat Kenan duduk di sisi kanan Ivy segera bertanya pada lelaki itu. Kenan menceritakan apa yang dilihatnya ketika ia hampir sampai di tempat Ivy bekerja.
"Ya Tuhan..., untung saja ada kau. Jika tidak, laki-laki itu pasti akan membawa Ivy entah kemana." Nur mengelus dadanya.
"Jangan... jangan..." Terdengar suara lirih yang keluar dari mulut Ivy. Kedua matanya masih terpejam. Keringat dingin mengalir dari keningnya.
Kenan menggenggam telapak tangan Ivy. Ia menyeka peluh yang ada di kening wanita itu dengan tangannya. Menatap wajah oval itu dengan lembut, entah apa yang tengah menggelitik perasaannya saat ini.
"Kau sudah ada di rumah. Bukalah matamu," ucap Kenan sambil menempelkan punggung Ivy di salah satu pipinya.
Nur memberikan botol minyak angin kepada Kenan. "Oleskan minyak ini pada lubang hidungnya, agar ia bangun."
Bau aroma herbal itu sampai ke syaraf Ivy, wanita itu mulai mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Bulu mata itu mulai berdiri tegak pelan-pelan dan mulai bergoyang. Ivy memegang kepalanya yang masih terasa pusing.
Ketika dilihat Kenan bahwa Ivy sudah mulai sadar, pria itu segera melepaskan tangannya dari tangan Ivy. Ia hanya duduk di samping wanita itu.
"Dimana aku?" Ivy menghembuskan napasnya dan mencoba mengingat kejadian setelah ia pulang dari kantor.
"Kau ada di rumah," ucap Kenan dengan datar. Manik mata Ivy menatap satu persatu orang-orang yang ada di sekelilingnya saat ini.
Ivy memegangi perutnya yang berbunyi dengan keras. Membuat semua orang tertawa mendengar bunyi pemberontakan cacing-cacing yang ada di perut Ivy.
"Apa kau melupakan makan siangmu?" tanya Nur yang kembali masuk ke kamar sambil membawa sepiring makanan.
Ivy memejamkan kembali matanya. "Sepertinya begitu."
Kenan membantu Ivy untuk menyandarkan tubuhnya di dinding dan memberikan piring makan itu kepada Ivy.
Deniz dan Nur meninggalkan Ivy dan Kenan yang masih ada di kamar. Putra Harun itu memperhatikan tingkah laku Ivy yang sedang makan dengan lahap.
"Apa kau juga lapar? Kenapa kau memandangiku seperti itu?" Entah sudah berapa suapan yang masuk ke dalam mulut Ivy.
"Sudah kukatakan padamu jika kau mengalami kesulitan, kau bisa minta tolong padaku! Kenapa kau sangat keras kepala?" Kenan menatap wajah Ivy dengan dingin.
Ivy hanya membalas perkataan Kenan dengan senyuman manisnya. "Buang wajah dinginmu itu!"
Kenan mengernyitkan keningnya. Kali ini bukan hanya wajahnya yang dingin tapi tatapan matanya juga sedingin es.
"Kau mau tahu alasannya?" Ivy memiringkan kepalanya agar Kenan menebak pertanyaannya. Manik mata hijaunya mulai membulat menunjukkan ekspresi wajahnya.
"Aku tidak ingin alasan!" seru Kenan yang segera bangkit berdiri dan keluar meninggalkan Ivy dengan mulutnya yang terbuka lebar.
* BERSAMBUNG *
__ADS_1
Jangan lupa setelah baca chapter ini kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏