
Sementara itu di kantor Puzulla, Ivy berjalan menyusuri koridor yang ada di lantai empat seperti yang dikatakan oleh petugas resepsionis yang ada di lantai bawah.
Diketuknya satu-satunya pintu ruangan yang ada di lantai itu. Terdengar suara seseorang yang menyuruhnya untuk masuk.
“Selamat pagi, Nona. Saya Ivy Eleanor dari Perusahaan Falea. Saya ingin bertemu dengan Huri,” sapa Ivy kepada seorang wanita muda berambut hitam yang sedang sibuk di balik laptopnya.
Wanita muda itu mengangkat wajahnya kemudian membetulkan letak kacamata minusnya. Dari balik mejanya ia melihat seorang wanita muda seusia dirinya yang mengenakan mini dress hitam dan sepasang sepatu bot selutut berwarna senada. Ia tersenyum kepada Ivy dan berjalan mendekatinya.
“Selamat pagi juga, Nona Ivy. Kurasa umur kita hampir sama. Aku tidak akan berbicara formal lagi kepadamu. Namaku Huri. Kemarin aku yang menghubungimu.” Kedua wanita muda itu pun saling berjabat tangan.
“Maaf, kalian telah menunggu lama jawaban dari perusahaan ku. Aku baru kemarin menemukan surat penawaran yang kalian berikan.” Ivy juga tak segan untuk berbicara non formal kepada wanita yang baru saja ditemuinya.
“Oh itu tidak masalah. Karena hari ini kau sudah datang, aku akan mengajakmu menemui CEO kami. Aku sudah menyiapkan surat kontraknya.” Huri mengambil salah satu berkas yang ada di mejanya dan mengajak Ivy pergi ke lantai delapan.
“CEO Puzulla?” tanya Ivy sambil mengernyitkan dahinya ketika mereka baru saja keluar dari ruangan Huri.
“Ya. Kalian berdua yang akan menandatangani surat kontrak ini, bukan aku,” jawab Huri yang mengajak Ivy untuk masuk ke dalam lift.
“Apa CEO kalian bernama Hazal Aksal?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Ivy. Ia melihat Huri menekan tombol angka delapan di dinding lift.
Huri menggelengkan kepalanya. “CEO kami seorang pria. Nyonya Hazal Aksal adalah pemilik perusahaan ini, tetapi beliau hanya datang ke kantor ini sewaktu ada rapat pemegang saham saja. Nyonya Hazal lebih banyak berada di Kantor Kejaksaan. Apa kau mengenalnya?”
“Ti... tidak. Aku hanya tahu namanya saja,” elak Ivy.
Hatinya sedikit lebih tenang, karena ia tidak harus bertemu dengan mantan istri Kenan di tempat ini.
Kini mereka telah sampai di lantai delapan kemudian berjalan melewati koridor dengan dindingnya yang terbuat dari kaca. Mereka berjalan lurus hingga bertemu dengan ruangan berbentuk lingkaran dengan sofa yang melingkar berwarna merah tepat berada di bawah lampu gantung ruangan itu.
Pada salah satu bagian dinding kayu itu, ada sebuah pintu, dengan dua daun pintunya yang sama besar. Di depan pintu besar tersebut, mereka melihat sebuah meja dan kursi yang telah di huni oleh seorang wanita.
__ADS_1
“Apa Tuan Erhan ada di dalam?” tanya Huri kepada sekretaris sang CEO.
“Masuklah.”
Huri mengetuk pintu besar yang ada di depannya sedangkan Ivy hanya mengamati gerak-gerik Huri dan sekretaris sang CEO yang masih berkutat dengan buku catatannya dan laptopnya.
“Masuk!" Terdengar suara seseorang yang ada di dalam ruangan.
Huri membuka salah satu daun pintu dan mempersilahkan Ivy untuk masuk ke dalam. Dua pasang sepatu bertumit tinggi itu dengan nyaring mengetuk lantai ruangan.
Manik mata Ivy mengamati sekelilingnya. Ruangan besar yang dengan dinding kaca yang besar dan lebar, berada tepat di depan meja sang CEO. Melalui jendela besar ini, penghuninya bisa melihat pemandangan langit yang indah yang tampak di depan matanya dan pemandangan lalu lintas kota yang ada di bawah kakinya.
Dulu ruangan ini pasti ruang kerja Kenan. Desain interiornya seperti kesukaan Kenan. Dinding kaca besar dan lebar, membuatnya bisa bebas menikmati langit yang luas membentang.
“Ivy, perkenalkan ini Tuan Erhan Romzan. CEO Puzulla.” Suara Huri membuyarkan seluruh lamunan Ivy.
“Saya Ivy Eleanor dari perusahaan Falea. Senang bertemu dengan Anda, Tuan Erhan.”
Begitu melihat wanita muda nan cantik yang ada di depannya, membuat pria yang bernama Erhan itu langsung keluar dari mejanya. Pria berusia tiga puluh lima tahun itu melemparkan senyumnya dan mengulurkan tangannya kepada Ivy.
“Silahkan duduk Nona Ivy,” ajak Erhan yang meminta Ivy untuk duduk di sofa yang ada di tengah ruangan.
Putri Victor itu memilih untuk duduk di samping Huri, sedangkan Erhan duduk di sofa tunggal yang ada di dekat Huri.
“Sebelumnya saya mewakili Falea, meminta maaf karena kalian telah menunggu jawaban kami terlalu lama,” kata Ivy dengan sedikit memiringkan posisi tubuhnya menghadap Erhan. Ini adalah permintaan maafnya yang kedua kalinya.
“Huri sudah menjelaskan semuanya. Berhubung Anda sudah berada di sini, baiklah kita mulai dengan kesepakatan kerjasama kita,” ujar Erhan sambil menyilangkan salah satu kakinya.
Dengan cekatan, Huri langsung meletakkan dokumen perjanjian itu di hadapan Ivy. Erhan meminta Ivy untuk membaca setiap detail-detail perjanjian yang tercantum di sana.
__ADS_1
Intinya pihak Puzulla akan membeli setiap rancangan desain dari Falea, dengan harga yang sudah ditentukan oleh Puzulla. Untuk masalah bahan baku, proses produksi dan pemasaran semua menjadi tanggung jawab Puzulla. Pihak Puzulla juga tidak mengikat Falea untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan lain. Kerjasama ini akan berlangsung selama lima tahun.
“Tidak ada pembagian keuntungan di sini. Kami akan membayar putus setiap rancangan yang dikeluarkan oleh Falea. Karena kami sangat tertarik pada hasil rancangan yang Anda kirimkan beberapa waktu yang lalu, maka kami berniat untuk langsung membeli rancangan Anda. Apa Anda bersedia melepas rancangan desain Anda?”
Ivy memikirkan sejenak apa yang telah dikatakan oleh CEO Puzulla itu.
Itu artinya aku tidak punya hak lagi atas rancangan desainku. Mereka akan memproduksi hasil rancanganku dengan menggunakan nama Puzulla. Tetapi ini mungkin lebih baik, karena Falea juga tidak punya modal untuk memproduksi sendiri. Mereka sudah berniat membeli desainku, kemungkinan Falea masih bisa bernapas untuk beberapa bulan lagi.
“Baiklah, aku menerima kesepakatan ini,” jawab Ivy. Huri langsung mengeluarkan penanya dan memberikan dokumen perjanjian itu kepada Ivy.
Putri Victor itu langsung membubuhkan tanda tangan dan stempel Perusahaan Fallea di atas dokumen tersebut, begitu juga dengan Erhan yang menorehkan tanda tangannya dan stempel Perusahaan Puzulla.
“Berikan surat perjanjian ini kepada bagian Legal. Minta mereka mengesahkan surat perjanjiannya!” pinta Erkan kepada Huri.
Wanita muda berkacamata minus itu segera meninggalkan ruangan Erkan sambil membawa dokumen perjanjian tersebut. Tak perlu menunggu lama, dalam waktu sepuluh menit Huri telah membawa kembali dokumen perjanjian itu yang sudah diberi paraf oleh bagian Legal Officer dan memberikan salinan dokumen itu kepada Ivy. Masing-masing perusahaan memegang salinan aslinya, karena mereka membuat perjanjian itu dua rangkap.
“Ini untuk pembayaran desain pertama Falea.” Erhan memberikan selembar cek kepada Ivy.
Manik mata hijau itu membulat seketika melihat jumlah yang tertulis pada selembar cek itu. Ia tak menyangka, perusahaan sebesar Puzulla berani membayar mahal desain rancangannya.
“Selamat atas keberhasilan Anda, Nona Ivy. Kami tunggu rancangan desain Anda selanjutnya.” Erhan bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Ivy.
“Terimakasih atas pembayaran dan kerjasamanya ini, Tuan Erhan. Semoga ke depannya Falea akan memberikan desain terbaiknya untuk Puzulla,” jawab Ivy yang menyambut uluran tangan Erkan.
Selama perjalanan pulang, hati Ivy sangat gembira. Ingin rasanya ia menangis dan tertawa untuk merayakan kebahagiannya ini bersama dengan Kenan.
Namun tiba-tiba ia menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Perasaan bahagia itu berubah menjadi ketakutan di dalam hatinya, ia takut untuk pulang dan menghadapi kemarahan Kenan.
Saat ini dia pasti sudah bangun dan marah karena aku pergi tanpa memberitahunya. Aku juga kecewa padamu, Kenan. Kenapa kau membohongiku....
__ADS_1