Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Pergi Meninggalkan


__ADS_3

Di sebuah rumah modern minimalis di daerah Istanbul barat. Tampak seorang wanita berambut merah sedang berbaring di atas sofa panjangnya dengan beberapa irisan mentimun yang menutupi wajahnya.


Sophia masih memikirkan bagaimana gaun Ivy yang sudah ia rusak bisa terlihat baru kembali. Bukan hanya itu, teman-temannya malah membeli gaun rancangan anak tirinya tersebut. Pujian demi pujian mereka lontarkan hingga membuat telinganya sakit.


Sejak dulu, anak itu selalu jadi pusat perhatian. Semakin aku memikirkannya, malah semakin membuat kepalaku hampir pecah.


"Ibu, aku pergi dulu!" seru Cansu yang baru saja turun dari kamarnya.


Sophia mendadak terbangun dari sofa, alhasil satu persatu irisan timun yang ada di wajahnya jatuh ke bawah.


"Mau kemana kau?" Sophia menatap penampilan Cansu yang tidak seperti biasanya. Putrinya itu memakai terusan sweater putih sepanjang lutut.


"Aku mau ke rumah sakit menjenguk Deniz. Sekaligus aku akan memeriksakan sum-sum tulang belakangku," jawab Cansu yang sudah berdiri di belakang sofa tempat ibunya duduk.


"Memeriksa sum-sum tulang belakang? Untuk apa? Apa kau sakit?" Sophia melepaskan semua masker timunnya dan langsung berdiri di depan putrinya.


"Aku sehat-sehat saja, Ibu. Jika hasil tes medisku cocok, aku akan mendonorkan sum-sum tulang belakangku untuk Deniz." Cansu segera membalikkan badannya ke arah pintu.


"Apa? Kenapa harus kau? Kenapa bukan Ivy?" Sophia menarik tangan Cansu agar menghentikan langkahnya.


"Sum-sum tulang belakang Ivy tidak cocok. Aku harus pergi, Ibu!" Cansu berusaha menarik tangannya dari genggaman tangan Sophia.


"Tidak, Cansu! Ibu tidak akan membiarkanmu pergi! Apalagi sampai mendonorkan sum-sum tulang belakangmu untuk Deniz!" Genggaman tangan Sophia semakin erat, membuat wajah Cansu meringis kesakitan.


"Ibu, Deniz sekarang sedang membutuhkan pertolongan. Kalau perlu bukan hanya aku, tapi ibu juga harus melakukan tes medis." Perkataan Cansu membuat mata wanita paruh baya itu melotot.


"Apa kau bilang? Jika bocah itu mati, itu bukan kesalahan ibu, tapi memang sudah takdirnya dia berkumpul dengan orangtuanya!" pekik Sophia sambil mengangkat salah satu jari telunjuknya ke samping.


"Ibu...," ucap Cansu sambil menggelengkan kepalanya. Ia tak menyangka ibunya bisa mengatakan hal seperti itu. "Cukup, Ibu! Aku sudah tidak punya banyak waktu. Mehmet sudah menunggu ku di luar."


Di saat genggaman tangan Sophia mulai kendur, Cansu segera menghentakkan tangannya. Wanita bermata biru itu langsung lari meninggalkan ibunya.


"Cansu!" teriak Sophia yang berjalan hingga ke ambang pintu. Ia melihat putrinya sudah masuk ke dalam mobil Jeep dan pergi meninggalkannya sendiri.


Kumpulan awan gelap tampak bergerak perlahan-lahan menutupi sinar mentari. Langit sudah mulai terlihat mendung ketika mobil Jeep itu melaju menuju Rumah Sakit Istanbul.


"Aku baru saja membuat pastry keju kesukaanmu," kata Mehmet yang memulai pembicaraannya.


"Wah, kau membuatnya sebelum datang menjemputku?" tanya Cansu setengah tak percaya bahwa pria seperti Mehmet mau berlumuran dengan adonan-adonan tepung dan telur.


Mehmet menaikkan kedua alisnya saat pria itu menatap Cansu. "Itu di belakang ada kotak berwarna coklat."


Cansu mengambil kotak roti yang terbuat dari karton dengan nama Istanbul Cafe. di bagian tutupnya. Manik mata birunya melihat betapa cantiknya kue buatan Mehmet. Aromanya masih tercium dan kue ini masih terasa hangat. Benar-benar menggoda lidah Cansu untuk mencicipinya.


"Tunggu Cansu!" seru Mehmet yang melihat jari tangan wanita itu akan mencubit kue buatannya. Putri Sophia itu menoleh ke arah Mehmet.


"Lebih baik kau makan setelah pemeriksaan medismu selesai."


"Ah... ya. Kau benar." Cansu menutup kembali kotak kue tersebut. Selama di dalam mobil, Ia harus tersiksa karena hanya bisa menghirup aroma kue keju itu tanpa bisa mencicipinya sekarang.

__ADS_1


Mendekati pukul lima sore, mereka tiba di rumah sakit. Di sana sudah ada Kenan, Nur dan Deniz yang menunggu kedatangan mereka.


"Jangan tanya tentang Ivy di depan Deniz. Nanti aku akan memberitahumu," bisik Mehmet yang seolah ia sudah bisa menebak pikiran Cansu. Wanita itu membalas perkataan Mehmet dengan senyumannya.


"Cansu?" tanya Nur yang bangkit berdiri ketika ia melihat kedatangan putri Sophia.


"Dia ingin melakukan pemeriksaan medis," sahut Kenan yang juga bangkit berdiri.


Setelah kepulangannya dari kantor Ferit, putra Harun itu masih menemani Deniz di rumah sakit. Kondisi bocah itu makin menurun ketika ia tidak melihat kakak perempuannya. Kelopak mata kecilnya tertutup sejak kemarin. Kenan dan Nur sengaja tidak memberitahu bocah laki-laki itu.


Cansu mencium kening Deniz dan mengusap rambut tipis itu dengan lembut. Sudah beberapa bulan ini ia tidak bertemu dengan adik kecilnya itu.


"Ayo, Cansu. Dokter sudah menunggumu," ajak Mehmet. Pria gundul itu membawa Cansu ke ruang pemeriksaan.


"Apa Cansu bisa mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk Deniz?" tanya Nur ketika dirinya dan Kenan ada di luar kamar.


"Jika sum-sum mereka cocok," jawab Kenan yang memandang hamparan awan gelap dari jendela rumah sakit. Pikirannya masih memikirkan keberadaan Ivy.


Ivy, dimana kau sekarang? Segeralah pulang, Deniz membutuhkanmu. Aku tidak bisa menggantikan posisi mu di hatinya. Selama kau tidak pulang, dia tidak akan membuka kelopak matanya. Aku juga merindukanmu.


"Semoga saja hasilnya cocok. Kita semua sudah melakukan pemeriksaan, tapi tak satupun yang bisa menjadi pendonor untuk Deniz," kata Nur yang seakan berbicara dengan dinding, karena Kenan tidak menanggapi perkataannya. Pria itu masih memandang awan gelap yang ada di depannya.


"Nur, apa kau tahu rumah Ferit?" tanya Kenan ketika wanita gembul itu akan masuk kembali ke kamar Deniz.


"Aku tidak tahu."


Dari dalam kamar, Ivy mendengar perkataan Ferit yang berbicara dengan seseorang di ponselnya.


"Ivy sudah tidak masuk beberapa hari. Anggap saja dia berhenti bekerja. Sebelumnya sudah aku katakan kepadamu, dia hanya bekerja sementara di perusahaanmu."


"Ayolah, kawan. Desainermu bukan hanya Ivy seorang. Dia bekerja di tempatmu, karena aku yang memintamu untuk menerimanya. Kau bisa mencari desainer yang lain."


"Anggap saja kau memecatnya karena dia sudah lama tidak masuk kerja. Jika kami menikah, aku tidak akan membiarkannya bekerja."


Ivy menelan salivanya setelah ia mendengar perkataan Ferit.


Jadi... perusahaan Sarte menerimaku karena Ferit yang memintanya. Dia mencoba mengatur kehidupanku, sama seperti yang ia lakukan pada ayah.


"Kau ingin aku berhutang budi kepadamu?" Ivy melontarkan pertanyaannya ketika ia mendengar suara langkah kaki Ferit.


Pria itu berdiri menghadap Ivy. "Jadi kau sudah mendengar semuanya?"


"Lebih baik Sarte memecatku, daripada aku bekerja di sana karena jasamu!" seru Ivy sambil mendongakkan kepalanya ke atas.


Ferit menundukkan tubuhnya sejajar dengan kursi Ivy. Ia menjepit kedua pipi Ivy dengan tangannya, manik matanya menatap tajam wajah berbentuk oval itu.


"Berterima kasihlah kepadaku karena kau bisa diterima di perusahaan besar seperti Sarte. Setelah kita menikah, kau tidak perlu susah payah bekerja. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu dan kebutuhan Deniz!" Ferit membuang wajah cantik itu ke samping.


"Aku dan Deniz tidak membutuhkan seorang pria sepertimu!" seru Ivy dengan tatapan matanya yang dingin.

__ADS_1


"Apa kau lebih membutuhkan montir miskin dan tak berguna itu? Daripada pemilik perusahaan Kozan?" Ferit menekankan suaranya tepat di wajah Ivy. Wajahnya mulai memerah menahan amarahnya. Ivy terdiam tidak menjawab pertanyaan Ferit.


"Jawab pertanyaanku!" teriak Ferit dengan matanya yang melotot menyeramkan.


"Apa kau mencintainya? Apa dia mencintaimu? Apa kalian saling mencintai, hah?" Pria itu mencecar Ivy dengan berbagai pertanyaannya dan menarik rambut Ivy ke belakang kemudian melepaskannya kembali.


Ivy tetap pada pendiriannya untuk tidak menjawab pertanyaan Ferit. Ia takut jika jawabannya akan membuat pria itu semakin murka.


"Kau ingin membelanya? Oke! Aku akan menghabisinya terlebih dahulu, setelah itu kita akan menikah!" ancam Ferit yang langsung pergi meninggalkan Ivy.


Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana caranya aku bisa memberitahu Kenan? Bagaimana caranya aku bisa keluar dari rumah terkutuk ini?


Sementara itu hasil pemeriksaan medis Cansu sudah keluar. Hasilnya sama seperti yang lainnya, tulang sumsum mereka tidak cocok.


"Maafkan, aku. Aku tidak bisa membantu," ujar Cansu kepada Kenan saat mereka berada di kafetaria.


"Tak apa. Kau bersedia menjalani pemeriksaan itu sudah cukup buat Deniz," sahut Kenan tanpa ekspresi wajah.


"Apa kau sudah tahu kemana si brengsek itu membawa Ivy?" tanya Mehmet yang duduk di samping Cansu. Kenan hanya menggelengkan kepalanya.


"Si brengsek siapa yang membawa Ivy pergi?" tanya Cansu yang menatap wajah Mehmet dan Kenan bergantian.


Apa dia....


"Ferit Kozan!" seru Kenan yang menatap tajam cangkir kopinya.


Cansu terkejut mendengar perkataan Kenan. Ia tak menyangka masalah pernikahan itu belum juga selesai. Sejak mereka tidak lagi tinggal seatap, Ivy tidak pernah lagi menghubunginya.


"Apa kau tahu dimana rumah Ferit?" tanya Kenan kepada Kenan. Tak terlintas sebuah senyuman terukir dari bibirnya.


"Aku tidak tahu." Cansu mencoba tersenyum kepada Kenan sebagai seorang teman, tetapi putra Harun itu mengacuhkannya.


Setelah tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya, Kenan pergi meninggalkan Mehmet dan Cansu di kafetaria. Sementara dirinya kembali ke lantai atas.


Dari ujung lorong kamar Deniz, Nur berlari ke arah Kenan. Larinya tidak secepat wanita pada umumnya. Napasnya tersengal-sengal setelah ia sampai di tempat Kenan.


"Ada apa?" Kenan segera membantu Nur untuk mengatur napasnya kembali pelan-pelan.


"Dokter... Dokter."


"Dokter kenapa? Dia mencariku?" tanya Kenan yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Nur.


"Ada...." Belum selesai Nur berbicara, Kenan sudah pergi meninggalkan dirinya. Pria itu lari menuju ke ruang Dokter Husein.


Kenan menuruni beberapa anak tangga. Langkah kakinya melewati lorong-lorong rumah sakit dam beberapa kamar. Hatinya berdegup kencang ketika Nur mengatakan dokter sedang mencarinya. Dalam hatinya hanya ada dua kemungkinan, yaitu kanker Deniz yang semakin parah atau....


* BERSAMBUNG *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2