Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Seseorang Di Masa Lalu Kembali Muncul


__ADS_3

Alarm ponsel Ivy berbunyi tepat di pukul tujuh pagi. Kelopak matanya masih terasa berat untuk terbuka. Tangannya menekan tombol ponselnya secara sembarangan dan kembali menaikkan selimutnya hingga sebatas leher. Baru beberapa jam ia menikmati mimpi indahnya di atas sofa, kini suara alarm itu kembali memanggilnya.


“Ivy…," panggil Kenan dengan suaranya yang parau. Tubuh berotot itu menggeliat di atas ranjang.


Suara alarm itu juga mengejutkan dirinya. Manik mata abu-abu gelap itu tampak malu-malu untuk menunjukkan dirinya. Perlahan-lahan ia melihat sosok wanita berambut coklat gelap itu masih menikmati tidurnya di atas sofa.


Apa telinganya sudah rusak? Bunyi alarm sekeras ini tidak membuatnya bangun!


Kenan segera turun dari tempat tidurnya dan melangkah untuk mengambil ponsel Ivy yang tergeletak di bawah sofa. Pria itu hanya menggelengkan kepalanya sesaat, kemudian ia mematikan alarm tersebut dan melihat Ivy yang masih tertidur pulas. Diletakkannya ponsel itu di atas meja yang berada di samping sofa.


Dengan kondisi mata yang masih terlelap, bibir tipis itu tersenyum tipis dan memeluk selimut tebal yang menghangatkan tubuh rampingnya.


“Melihat wajahmu seperti ini, kau bagaikan seorang malaikat bagiku. Justru aku adalah pria paling beruntung yang berhasil mendapatkan cinta dari seorang wanita sepertimu,” gumam Kenan seraya membelai rambut panjang Ivy yang masih menikmati tidurnya.


Tubuh Ivy menggeliat membuat Kenan menghentikan gumaman dan belaiannya. Tanpa sadar wanita itu menarik salah satu tangan Kenan dan menjepitnya di antara wajahnya dan bantal. Perlahan-lahan dengan menggunakan tangannya yang lain, Kenan mengusap wajah oval kekasihnya untuk membangunkannya, namun wanita itu tak kunjung membuka kelopak matanya.


“Ivy…,” bisik Kenan tepat di daun telinga kekasihnya. “Bangun, Sayang.”


Bisikan suara parau itu membuat manik mata hijau itu lambat laun tersembul keluar. Bulu mata yang lentik itu berbaris satu per satu membingkai kelopak mata Ivy.


“Kau sudah bangun. Pukul berapa sekarang?” tanya Ivy dengan suaranya yang masih melemah. Ia menutup mulutnya untuk menguap.


“Hampir setengah delapan,” jawab Kenan.


“Apa?” sontak Ivy langsung berteriak dan terduduk di atas sofa dengan tangannya mencari-cari ponselnya. “Kenapa alarmku tidak berbunyi? Hei, dimana ponselku?”


Dengan spontan Kenan memundurkan tubuhnya menjauhi Ivy. Teriakan dan pertanyaan wanita itu mengejutkannya sekaligus membuatnya kesal.


Dia benar-benar tidak mendengar jeritan ponselnya yang memekakkan telinga. Gendang telingaku saja hampir pecah karena ulahnya.


“Nih, ponselmu. Alarm itu sudah berbunyi berulang kali,” ucap Kenan dengan raut wajahnya yang kesal saat memberikan ponsel itu kepada Ivy. Kemudian pria itu berlalu ke kamar mandi meninggalkan Ivy yang masih menatap ponsel hitamnya.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi mereka di hotel sekitar pukul setengah sepuluh pagi, Kenan dan Ivy meninggalkan hotel menuju Bandara Charles de Gaulle, Paris. Perjalanan panjang akan mereka lalui kembali selama beberapa jam.


Tepat pukul sepuluh pagi mereka tiba di bandara. Taksi yang berwarna biru itu berhenti di depan pintu lantai tiga gedung penerbangan tersebut.


“Sepertinya cuaca sedang bagus hari ini,” ucap Kenan yang mengenakan kacamata hitamnya untuk menghindari tatapan sinar matahaari.


“Bagus di sini, belum tentu bagus di Istanbul,” sanggah Ivy yang membantu Kenan mengeluarkan koper mereka dari bagasi taksi.

__ADS_1


Mereka berjalan bersama-sama menyusuri lantai tiga. Melewati setiap toko-toko yang menjual oleh-oleh khas Perancis.


“Apa kau tak ingin membeli sesuatu untuk Deniz dan Nur?” Kenan sedang mengamati sebuah kaos dengan gambar Menara Eiffel dengan ukuran anak-anak dan dewasa.


Ivy masih ragu untuk menjawab antara Ya atau Tidak. Wanita itu diam-diam mengamati label kertas yang menempel di ujung kaos. Rupanya Kenan menyadari apa yang diperhatikan oleh kekasihnya.


“Kau masih memperhitungkan biaya pengeluaran kita?” tanya Kenan dengan salah satu tangannya memeluk lengan Ivy.


Putri Victor itu mengangguk pelan dan menggigit bibir bawahnya. “Belilah, jika kau memang ingin membelinya. Ini juga uang mu.”


“Bukan masalah uangnya, tapi mereka pasti akan senang jika kita membawakan oleh-oleh untuk mereka. Kita tidak harus membelikan barang-barang yang mahal,” ucap Kenan dengan senyumnya yang menawan. Ia berusaha untuk mengubah pandangan Ivy tentang pengeluaran.


"Uang bisa dicari, Sayang. Tapi… saat melihat orang-orang di sekitarmu yang tersenyum bahagia, bukankah itu jauh lebih menyenangkan?"


Ivy tertegun setelah mendengarkan perkataan kekasihnya. Dalam hatinya berpikir, sejak kapan pria ini menjadi bijak?


“Baiklah.” Ivy menyetujui perkataan Kenan. Wanita itu melemparkan senyum manisnya dan deretan giginya yang rata.


Ia membantu pria itu untuk memilih pakaian untuk Deniz dan Nur. Namun hatinya sedikit tergoda untuk memilih pakaian untuk Kenan. Sebuah kemeja body fit warna biru dongker lengan pendek sepanjang siku.


“Aku ingin memberikannya kejutan. Sepertinya ini bagus dan cocok untuknya,” gumam Ivy yang menempelkan kemeja itu dengan punggung Kenan yang tampak dari kejauhan. Pria itu sedang melihat barang-barang yang lain.


Seorang pelayan toko menghampiri Ivy dan mengatakan kepada wanita itu bahwa ada diskon khusus untuk pembelian pakaian.


“Beli dua gratis satu?” tanya Ivy dengan manik matanya yang berbinar mengulangi perkataan sang pelayan. “Tipe baju apapun?”


“Betul, Nona.” Pelayan toko dengan sigap menerima baju-baju yang telah dipilih Ivy dan langsung membawanya ke meja kasir.


Ivy mengedarkan pandangannya ke sekeliling toko, ia melihat Kenan yang masih memunggunginya. Pria itu sedang berada di deretan sepatu pria. Ia segera membayar tagihannya dengan uang pemberian Kenan. Setelah semua pakaian itu terbungkus menjadi satu, wanita itu menghampiri kekasihnya.


“Aku sudah selesai. Ayo kita ke lantai lima.” Ivy berkata setelah mereka bertemu dan memasukkan paper bag berwarna merah marun ke dalam tas koper.


Kini koper berwarna hitam itu berpindah ke tangan Kenan. Tangan kanannya menyeret pegangan koper sementara tangan kirinya menggandeng tangan Ivy. Terkadang wanita itu menggelanyut mesra pada lengannya.


Mereka pun berjalan memasuki ruang bagasi yang ada di lantai lima. Beberapa orang tengah berbaris di setiap loket.


“Sayang, tiket kita ada di dalam koper!” seru Ivy dengan wajahnya yang panik setelah tas koper mereka masuk ke dalam bagasi pesawat.


Kenan mengacak-ngacak rambut Ivy dengan lembut. Pria itu tertawa melihat raut wajah kekasihnya. Bagaimana tidak? Wajah oval itu terlihat seperti permen marsmellow jika terlihat panik. Ingin rasanya dia mencubit pipi Ivy.

__ADS_1


“Ini apa?” Kenan mengeluarkan dua lembar tiket penerbangan mereka dari dalam dompetnya dan mengibarkannya tepat di depan wajah Ivy.


“Oh syukurlah.” Ivy langsung menghembuskan napasnya. Bayangan untuk tinggal di Kota Paris lagi langsung menghilang seketika.


“Kau ini selalu saja panik!” seru Kenan di saat mereka akan masuk ke dalam ruang tunggu bandara.


“Tapi kau suka kan dengan kepanikanku?” goda Ivy dengan kerlingan di kedua matanya.


Wajah Kenan langsung memerah. Ia memang tidak tahan melihat kerlingan mata Ivy yang langsung membuat hatinya luluh. Dilingkarkannya lengan kirinya pada bahu Ivy dan diciumnya rambut coklat gelap tersebut.


Perkataan kekasihnya itu memang benar. Dalam pelukannya ia menggiring Ivy untuk mencari tempat duduk di ruang tunggu.


Seiring mereka berjalan, tiba-tiba Kenan menghentikan langkahnya. Membuat Ivy juga melakukan hal yang sama. Manik mata abu-abu gelap itu melihat sosok seseorang yang dikenalnya di masa lalu berada di tempat yang sama dengan mereka saat ini.


“Yafet Aksal?" gumam Kenan dengan pelan ketika melihat pemilik Hotel Aksal itu berada tidak jauh darinya.


Meskipun ia hanya melihat tubuh dan wajah bagian samping suami Hazal, tetapi ia masih mengenali pria yang pernah menjadi rivalnya dulu.


Tak salah lagi, pria itu memang dia. Dunia memang sempit....


“Siapa itu Yafet Aksal?” celetuk Ivy yang mencoba menyamakan garis pandangnya dengan Kenan.


Putri Victor itu melihat seorang pria berambut hitam dengan mantel panjangnya berwarna abu-abu sedang berdiri di dekat jendela dan berbicara dengan pria lain yang usianya lebih tua.


“Bukan siapa-siapa. Hanya teman lama,” jawab Kenan singkat. Ia langsung mengajak Ivy untuk mencari tempat duduk yang berada jauh dari tempat Yafet berdiri.


“Kenapa kau tidak menyapanya?” Ivy langsung mendudukkan dirinya di samping Kenan.


Putra Harun itu mengenakan kacamata hitamnya kembali setelah benda penghalang sinar matahari itu ia lepas ketika mereka berada di dalam toko baju.


“Sepertinya dia sangat sibuk. Aku tak ingin mengganggunya. Sudahlah, lebih baik kita duduk di sini dan menunggu pintu gate dibuka,” ucap Kenan yang menyembunyikan wajahnya di balik kacamata hitamnya.


Ivy terdiam dan tidak melanjutkan pertanyaannya. Tetapi tidak dengan Kenan, hati pria itu justru menyimpan begitu banyak pertanyaan.


Apa Hazal juga ada di sini?


Ekor mata Kenan tak henti-hentinya memperhatikan Yafet Aksal yang berjalan dan mencari tempat duduk di ruang tunggu tersebut. Putra Harun itu mengedarkan pandangannya untuk mencari sosok mantan istrinya diantara puluhan orang yang ada di ruangan itu.


...****************...

__ADS_1


Semoga kalian menyukai cerita ku ini. Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian setelah membaca bab ini. Terimakasih


__ADS_2