
Mendekati pukul 10.45 waktu Paris, Kenan mengajak Ivy untuk pergi menuju pintu gate dua puluh. Puluhan penumpang lain yang akan melakukan penerbangan menuju Istanbul juga mengikuti langkah mereka. Sebuah eskalator dengan permukaannya yang datar, membantu mereka mencapai pintu gerbang yang ada di bagian utara bandara.
Dengan jarak sekitar sepuluh meter, mereka melihat sebuah papan informasi berwarna biru yang tergantung di atas langit-langit. Papan informasi itu menunjukkan nomor pintu gate yang tersedia, mulai dari gate dua puluh hingga gate dua puluh delapan.
Seorang petugas bandara berdiri di dekat sebuah mesin elektronik yang menjadi batas antara ruang tunggu pesawat dan ruangan yang ada di luar. Ketika Kenan dan Ivy telah menginjakkan kakinya di depan pintu gate dua puluh, mereka langsung memberikan paspor dan tiket penerbangan mereka kepada petugas. Petugas berseragam itu meminta mereka Ivy memasukkan tas tangannya ke dalam mesin pendeteksi.
“Tuan, mohon lepas kacamata hitam Anda!" pinta sang Petugas kepada Kenan, karena petugas itu akan mencocokkan wajah Kenan dengan foto paspor dan tiket penerbangannya. Pria itu pun melepas kacamata hitamnya.
Setelah pemeriksaan selesai, sepasang kekasih itu pun berjalan melewati dinding kaca yang tembus pandang. Dari tempat mereka berdiri, tampak badan pesawat yang besar dengan tulisan Turkish Airlines sedang menanti mereka. Tanpa perlu menunggu lama, akhirnya mereka benar-benar diijinkan masuk ke dalam pesawat.
Hati Kenan tampak ragu ketika ia memasuki badan pesawat. Putra Harun itu melihat Yafet Aksal sedang mencari tempat duduknya di barisan tengah. Namun, ia tidak melihat Hazal bersama dengan pria itu.
“Ada apa? Kenapa kau berhenti? Kita belum menemukan tempat duduk kita.” Ivy mencoba mendorong sedikit tubuh kekasihnya agar bergerak ke depan, karena beberapa penumpang lain yang ada di belakang sedang menunggu mereka.
Kenan langsung mengenakan kembali kacamata hitamnya dan melangkahkan kakinya untuk mencari nomor kursinya. Setelah berjalan lima langkah, ia melihat Yafet Aksal sudah duduk di kursinya. Rupanya suami Hazal juga tidak mengenali dirinya. Tak ada sapaan apalagi tatapan mata di antara kedua pria yang pernah berselisih.
Kekasih Ivy itu baru menyadari kalau tempat duduknya tepat berada di belakang kursi Yafet. Ia melewati pria yang sedang duduk membaca surat kabarnya. Dengan sedikit membuang wajahnya, Kenan memilih untuk duduk di dekat jendela dan membiarkan Ivy untuk duduk di tepi jalan. Tepat berada di belakang kursi Yafet.
“Ternyata temanmu duduk di depan kita,” ujar Ivy yang akan menyentuh pundak Yafet. Ia bermaksud ingin menyapa pria itu, tetapi dengan cepat Kenan menarik tangannya. Mencegahnya agar tidak membuat Yafet Aksal menoleh ke belakang.
“Ivy!” geram Kenan dengan pelan sambil menggelengkan kepalanya kepada wanita itu. Seolah-olah ia ingin mengatakan jangan ganggu dia.
“Aku akan menceritakan kepadamu setelah kita sampai di rumah,” bisik Kenan yang di sambut dengan sebuah anggukan kepala Ivy.
Putri Victor itu pun memilih untuk menutup mulutnya setelah ia melihat raut wajah Kenan yang mulai berubah, penuh dengan keseriusan dan kemarahan. Meskipun di dalam pikirannya berkecamuk berbagai pertanyaan tentang siapa pria itu dan kenapa Kenan menghindarinya. Diam dan menunggu penjelasan pria itu lebih baik daripada terus merongrongnya dengan berbagai pertanyaan.
Selama perjalanan di udara, Kenan memilih untuk mengenakan penutup matanya dan berpura-pura untuk tidur.
Seharusnya masalah ini sudah berakhir sejak setahun yang lalu, tapi apa mereka juga menganggap masalah ini telah berakhir? Ayahku sudah mendapatkan hukumannya, sedangkan aku…. Aku hidup dalam pelarian dan keputusasaan ku hingga akhirnya aku bertemu dengan Ivy yang menarik ku keluar dari hidup tanpa asa.
Waktu tiga jam dua puluh lima menit itu bagaikan perjalanan dua puluh empat jam bagi Kenan. Ivy membangunkan kekasihnya, ketika seorang pramugari memberikannya dua meal box untuk makan siang. Dalam hitungan menit, mereka langsung melahap masakan daging asap dengan saos BBQ, pasta dan salad sayuran itu hingga tak bersisa.
Sekitar pukul tiga sore waktu Istanbul, pesawat yang mereka tumpangi mendarat di bandara Istanbul International Airport. Satu persatu penumpang berdiri dan mengambil barang bawaannya yang mereka letakkan di kabin pesawat.
Pria yang bernama Yafet Aksal itu berdiri dan menoleh ke belakang. Ia melihat seorang wanita muda berambut coklat gelap sedang berusaha melepas sabuk pengamannya dan seorang pria yang sedang tertidur dengan penutup matanya yang terbuat dari kain hitam. Kemudian pria itu berjalan meninggalkan tempat duduknya menuju pintu keluar pesawat. Tanpa menyadari kehadiran Kenan.
“Kenan,” bisik Ivy yang mengguncang sedikit pundak kekasihnya, setelah dilihatnya Yafet telah keluar. “Kita sudah ada di Istanbul.”
“Aku tahu,” sahut Kenan yang langsung melepas penutup matanya dan berdiri, karena sejak tadi dirinya memang tidak tertidur. Ia hanya memejamkan matanya setelah menikmati makan siang yang kurang membuatnya kenyang.
Putra Harun itu mengedarkan pandangannya ke sekeliling pesawat, pria yang sejak tadi dihindarinya itu sudah tidak tampak batang hidungnya. Kursi penumpang di depan dan di belakangnya sudah terlihat kosong tanpa penghuni. Di dekat pintu keluar berdiri dua orang pramugari dan seorang co-pilot yang menunggu mereka.
“Ayo kita keluar dari sini, sebelum pramugari itu menegur kita,” ajak Ivy yang berjalan mendahului Kenan.
“Baguslah, jika dia sudah pergi,” gumam Kenan sambil menyimpan kacamata hitamnya ke dalam saku mantelnya. Melepas penyamarannya yang sejak tadi ia lakukan. Dengan langkahnya yang melebar, ia menyusul Ivy yang telah menuruni tangga pesawat.
__ADS_1
Kumpulan awan dengan warna monokromnya menyambut kedatangan mereka di Kota Istanbul. Kedua tubuh bermantel hitam itu melangkahkan kaki mereka menuju tempat pemberhentian kendaraan umum.
Sebuah taksi berwarna kuning membawa mereka menuju gedung apartemen yang berada di sebelah barat Kota Istanbul. Keadaan lalu lintas di kotanya dengan di Paris hampir tidak jauh berbeda. Kemacetan ada dimana-mana dan beberapa tubuh besi bergerak itu saling menerobos untuk mencapai tujuan mereka.
Bel pintu apartemen Falea berbunyi, membuat Nur menghentikan aktivitasnya di dapur. Ia melihat layar monitor yang ada di sudut ruangan untuk mencari tahu siapa gerangan tamu yang datang.
Beberapa hari sebelum kedua orang muda itu pergi ke Paris, Kenan telah memasang kamera pengintai untuk menjaga Nur dan Deniz dari kedatangan orang-orang yang tidak mereka kenal, khususnya Ferit dan anak buahnya.
“Akhirnya mereka datang,” gumam Nur sambil tersenyum di depan layar datar dengan ukurannya yang kecil. Melalui layar tipis itu, ia bisa melihat wajah Kenan dan Ivy yang sudah berdiri di depan pintu.
"Deniz, kakakmu pulang!" teriak Nur memanggil bocah laki-laki yang sedang berada di dalam kamarnya.
Tepat saat pintu kayu itu terbuka, Deniz berlari dan langsung memeluk Ivy dan Kenan bersamaan. Padahal tangan kecilnya tak sanggup membawa kedua orang dewasa itu ke dalam dekapannya. Anak laki-laki itu hanya membuat dirinya menempel di antara tubuh kedua kakaknya.
“Ini untukmu, bocah tampan,” ucap Ivy yang memberikan sebuah kaos yang masih terbungkus rapi di dalam kantong plastiknya kepada Deniz.
“Wow!” Manik mata Deniz terbelalak begitu dilihatnya sebuah gambar Menara Eiffel yang ada di kaos berwarna putih tersebut. Ia mengeluarkan baju pemberian Ivy dan menempelkan benda yang terbuat dari kain tersebut ke tubuhnya. Bocah itu akan berlari masuk ke kamarnya.
“Deniz!” cegah Ivy. Sepasang kaki yang terbungkus dengan celana jeans itu mendadak berhenti.
“Jangan lupa katakan terimakasih kepada kakak tuamu ini, karena dia yang membelinya!” pinta Ivy kepada adiknya.
“Tapi kau yang memilihnya,” sahut Kenan dengan tatapannya tertuju pada Ivy, namun tangannya mengacak-ngacak rambut coklat Deniz. Bocah itu tampak malu-malu mengucapkan terimakasihnya kepada Kenan.
Manik mata wanita itu tampak berkaca-kaca setelah menerima pemberian Ivy. “Kalian pulang dengan selamat, itu sudah membuatku senang.”
Ivy menepuk pelan pundak wanita paruh baya yang berdiri di depannya.“Kau pantas mendapatkannya, Nur. Kau telah mengurus kami semua di sini.”
“Kalian sudah makan? Aku baru saja membuat roti kismis dan baklava.”
“Baklava?” Mulut Ivy terbuka lebar mendengar makanan Turki yang dibungkus dengan adonan roti tipis yang dilengkapi dengan kacang walnut dan disiram dengan madu. Ia merasa perutnya belum terlalu lapar, tetapi membayangkan makanan kesukaannya itu membuat lambungnya meronta.
Sebuah senyuman Nur dan anggukan kepala wanita itu, membuat Ivy melangkahkan kedua kakinya secepat kilat menuju meja makan. Ia langsung mencuci tangannya dan duduk di kursi makan sambil menikmati potongan baklava miliknya.
“Pergilah ke meja makan, sebelum kakakku menghabiskan baklava milikmu!” seru Deniz yang menyenggol siku Kenan yang setinggi telinganya.
“Memangnya kakakmu bisa makan sebanyak apa?” tanya Kenan dengan sikap santainya setelah ia mengganti sepatu pantofelnya dengan sandal rumah.
“Lihat saja sendiri,” jawab Deniz dengan tawanya yang cekikikan seraya menggiring tangan Kenan untuk mendekati meja makan.
Ternyata apa yang dikatakan anak laki-laki itu memang benar. Dalam lima menit, kudapan itu telah habis dan berpindah ke dalam mulut Ivy. Kenan tertegun menatap piring kosong yang ada di depannya.
“Betulkan, apa yang kubilang?” goda Deniz yang melihat kekasih kakaknya itu mengusap perutnya.
“Kakakku itu Ratu baklava. Jika dia memarahimu, kau bisa menyogoknya dengan sepiring baklava.”
__ADS_1
Masih ada harapan untuk perutnya, ketika Kenan melihat secuil kudapan manis itu tengah bertengger di sendok Ivy. Dengan satu langkahnya pria itu memeluk pinggang Ivy dan menempelkan wajahnya di wajah kekasihnya. Sebelum Ivy menyadarinya, ia langsung melahap baklava itu dengan sekali suapan
“Kenan….”
Bola mata hijau itu melotot menatap dirinya. Sebelum wanita itu memarahinya, dengan cepat Kenan mendaratkan bibirnya di pipi Ivy.
“Pipimu terasa lebih manis daripada baklava yang kumakan.”
“Kau ini…,” balas Ivy yang mencubit perut kekasihnya. “Duduklah di sini. Ini masih ada roti kismis, kau bisa memakannya.”
Kenan menarik kursi makan yang ada di samping Ivy, sementara Deniz memilih untuk duduk di depan kedua kakaknya. Sambil menikmati adonan tepung yang dibungkus dengan kertas roti, putra Harun itu menanyakan keadaan di rumah selama dirinya dan Ivy pergi.
“Seperti biasa, hanya guru privatku yang datang ke sini. Mehmet dan kak Cansu juga datang,” jawab Deniz.
Bocah itu mengambil sepotong roti yang ada di depannya. Cuaca dingin membuatnya kelaparan hampir setiap jam, sementara waktu makan malam kurang beberapa jam lagi.
“Kemarin aku menerima sebuah surat dari seorang kurir. Aku letakkan di atas meja kerjamu.” Nur ikut menanggapi pertanyaan Kenan. Ia menuang Cai (Teh Turki) ke dalam beberapa gelas berbentuk bunga tulip.
Sebuah kerutan tampak di tengah-tengah kedua alis Kenan.” Amplop? Siapa pengirimnya?”
“Siapa ya?” Nur menarik kursi makannya kemudian mendudukinya. Ia berusaha mengingat kejadian siang hari kemarin. “Pu… pu… Aduh aku lupa. Tapi surat itu untuk Falea.”
Mendengar ada sebuah surat untuk Falea, membuat Kenan dan Ivy saling memandang. Keduanya berharap mendapatkan sebuah kabar baik setelah kekalahan mereka yang terjadi di Paris.
"Nanti aku akan melihatnya." Kenan berkata sambil mengunyah roti dengan isian kismis.
Setelah selesai menikmati roti manisnya, Kenan mendorong sedikit kursi makannya dan bangkit berdiri.
“Nur… Deniz….”
Dua orang yang duduk di depan Ivy itu langsung mendongakkan wajahnya menatap Kenan. Mereka memperhatikan bibir coklat pria itu untuk menunggu perkataan selanjutnya.
“Aku telah melamar Ivy di Paris. Kami akan segera menikah,” tutur Kenan sambil mengajak Ivy untuk bangkit berdiri.
Nur langsung menutup mulutnya yang terbuka lebar. Perasaannya bercampur aduk, antara terkejut mendengar berita itu dan bahagia. Anak asuhnya itu akhirnya menemukan seorang pria yang benar-benar tulus mencintainya dan akan menjaganya. Manik matanya tampak berkaca-kaca setelah ia memeluk Ivy.
“Kapan pernikahan kalian?” Deniz yang sejak tadi duduk dan memperhatikan tingkah laku ketiga orang dewasa itu akhirnya membuka suaranya. Bagi bocah seusianya, ada atau tidak ada pernikahan, Kenan dan Ivy akan tetap tinggal bersamanya di sini.
“Apa kau tak keberatan jika kita menikah minggu depan, Sayang?” tanya Kenan kepada Ivy.
Wanita muda itu menggelengkan kepalanya dan melemparkan senyum manisnya. Ia langsung memeluk Kenan. Pria itu juga tersenyum bahagia dan melakukan tos kepada Nur dan Deniz.
...****************...
Terimakasih sudah membaca cerita ku. Semoga kalian menyukainya.... Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya.
__ADS_1