Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Hubungan Darah


__ADS_3

“Ivy....”


“Cansu…”


Panggilan itu membuat kedua putri Eleanor itu mengarahkan pandangannya ke seberang jalan. Mereka melihat seorang pria muda dengan tatanan rambutnya yang klimis dan setelan pakaian formalnya yang berwarna biru menghampiri mereka.


“Sedang apa kalian ada di sini? Bagaimana kabar kalian?” tanya pria itu sambil menatap Ivy dan Cansu yang baru saja keluar dari halaman Gedung Pengadilan.


“Apa yang kalian lakukan di pengadilan? Apa kalian sedang ada masalah?” Pria itu masih terus bertanya.


“Tidak. Tunggu-tunggu…, sepertinya wajahmu tidak asing.” Ivy mengamat-amati wajah putih bersih tanpa satu helai bulu tipis yang tumbuh sana. Hidung mancung dan bibirnya yang tipis seperti milik wanita. Rambut hitamnya yang legam dan sisiran modelnya yang ditarik ke belakang khas tahun tujuh puluhan.


“Sepertinya aku juga pernah melihatnya di rumah kita yang lama. Siapa kau?” tanya Cansu.


Pria itu tersenyum menatap dua wanita cantik yang ada di depannya. “Aku Murat—agen asuransi yang menangani asuransi almarhum Tuan Victor. Apa kalian masih mengingatku? Setelah aku memberikan uang asuransi kepada Nyonya Sophia, aku tidak sempat menanyakan alamat rumah baru kalian.”


“U…uang asuransi ayah?” tanya Ivy sambil mengangkat kedua pundaknya ke atas, “ayahku tak pernah menceritakan hal itu kepadaku.”


“Sama, ibuku juga tidak pernah mengatakan apa-apa tentang asuransi.” Cansu tampak mengernyitkan dahinya.


Murat tampak terkejut mendengar kedua putri Eleanor itu yang tidak mengetahui tentang asuransi milik almarhum ayah mereka. Pria muda itu pun menceritakan kembali perihal Tuan Victor Eleanor yang mengasuransikan perusahaan dan jiwanya sewaktu masih hidup. Pemilik perusahaan Eleanor itu menunjuk Ivy sebagai ahli warisnya jika dirinya meninggal dunia. Beberapa hari setelah kliennya meninggal, Murat memberikan klaim asuransi itu kepada Nyonya Sophia.


“Apa Nyonya Sophia tidak memberitahumu? Atau memberikan hasil uang asuransi itu padamu, Ivy?”


“Tidak.”


“Aneh. Waktu itu Nyonya Sophia memberikan surat kuasa yang ada tandatangan mu. Di surat itu tertulis, bahwa kau memberikan kuasa kepada Nyonya Sophia untuk mengambil pencairan dana uang asuransi milik ayahmu.” Penjelasan Murat itu semakin membuat bingung Ivy dan Cansu.


“Memangnya berapa banyak uang asuransi ayahku?” Ivy bertanya sambil mencoba mengingat kejadian beberapa waktu yang lalu setelah ayahnya meninggal. Ibu tirinya itu memang pernah meminta tandatangannya, tapi sepertinya bukan untuk masalah asuransi.


“Sangat banyak, bahkan bisa membeli sebuah rumah di kawasan Bosphorus.” Murat menjelaskan dengan merentangkan kedua tangannya, seakan ia ingin memberitahu kedua wanita itu bahwa dengan uang itu mereka bisa membeli sebuah rumah yang sangat besar dan mewah.


“Ru… rumah?”

__ADS_1


Kepala Cansu seakan dihantam dengan sebuah benda logam yang sangat berat begitu ia mengetahui nilai asuransi milik ayah tirinya. Pertanyaan seputar asal usul rumah barunya terjawab sudah. Istri Mehmet itu langsung menarik tangan Ivy untuk masuk ke dalam taksi, ia membawa saudara tirinya itu untuk pergi ke rumah barunya.


Aku yakin, pasti ibu menggunakan uang asuransi milik ayah Victor untuk membeli rumah baru itu.


“Tunggu, Cansu!” Murat berusaha mengejar kedua putri Eleanor itu. Pria itu menahan tangan Cansu untuk tidak menutup pintu taksi mereka.


“Berikan saja nomor ponselmu, jika kami perlu sesuatu kami akan menghubungimu!” pinta Cansu dari atas tempat duduknya. Dengan cepat Murat langsung mengambil sebuah kartu nama yang ada di dalam saku kemejanya dan memberikannya kepada wanita itu.


Kendaraan kuning roda empat itu berhenti di depan sebuah rumah yang ada di daerah Istanbul Barat. Rumah baru Cansu dan ibunya setelah mereka berdua di usir oleh pihak bank. Gembok rumah itu terlepas dari pengaitnya begitu anak kunci yang ada di tangan Cansu masuk ke dalam lubang kecil tersebut.


“Cansu, kenapa kau mengajakku ke sini?” Ivy mengikuti saudara tirinya itu masuk ke dalam rumah.


Ivy melihat rumah baru ibu tirinya yang tidak pernah ia masuki. Rumah itu memang tidak sebesar rumah ayahnya dulu, tetapi cukup besar jika hanya dihuni oleh dua orang wanita. Perabot serba minimalis tanpa ukiran masih tertata rapi pada tempatnya. Lantai keramik masih terlihat mengkilap dan tirai jendela yang masih terlihat jelas warnanya. Tidak ada sarang laba-laba dalam sudut rumah itu, karena seminggu dua kali Cansu selalu datang untuk membersihkan rumah ibunya.


“Ayo ikut aku naik ke atas!” ajak Cansu yang sudah menapakkan kedua kakinya lebih dulu, di belakangnya Ivy menaiki anak tangga itu satu persatu dengan mata yang masih melihat keadaan sekelilingnya.


Daun pintu yang terbuat dari kayu jati berwarna coklat kemerahan itu terbuka lebar. Cansu melangkahkan kakinya masuk ke kamar ibunya. Suara langkah sepatu Ivy terdengar memasuki kamar dan berhenti tepat di belakang Cansu.


“Cansu, katakan padaku, sebenarnya ada apa? Apa yang kau cari?” tanya Ivy yang melihat saudara tirinya itu sedang sibuk mengeluarkan semua isi laci dan lemari yang ada di dalam kamar ini.


Tanpa diminta bantuannya, Ivy langsung memilah-milah kertas dan dokumen yang berserakan di atas kain seprei bercorak bunga tersebut. Tiap beberapa detik, Cansu selalu menumpahkan semuanya di atas kain tersebut. Membuat semakin banyak gunung kecil yang terbuat dari lembaran-lembaran kertas. Saat Cansu memuntahkan isi lacinya yang terakhir, selembar kertas kecil melayang dan jatuh tepat di bawah kakinya. Ia pun memungut kertas berbentuk persegi panjang dengan warna kekuningan yang keluar dari sebuah berkas.


“I… ini banyak sekali jumlahnya.” Manik mata biru itu terbelalak begitu melihat deretan angka-angka yang tertulis di sebuah slip bank.


Ibu... teganya kau melakukan ini kepada Ivy!


Ivy langsung meletakkan kertas-kertas itu dan mengambil kertas yang ada di tangan saudara tirinya. Manik mata hijau itu melihat tanggal transaksi terjadi beberapa heri setelah kematian ayahnya dan terdapat tanda tangan Sophia Eleanor. Diambilnya berkas terakhir—dimana kertas kuning tadi tersimpan. Sebuah bukti transaksi pembelian rumah dan surat kepemilikan rumah yang tanggalnya hanya selisih satu hari setelah asuransi tersebut di cairkan.


“I…ibumu mengambil… semua ini?” tanya Ivy. Wajahnya seakan tak mempercayai apa yang baru saja ia temukan. “Kau mengetahuinya?”


“Ivy, dengarkan aku. Aku—“


“Sekarang aku ingat, ibumu menipuku dengan sepiring baklava agar aku memberikan tanda tanganku! Kemudian mengusirku dan menelantarkan Deniz dengan alasan dia tidak mampu membiayai hidupku dan Deniz! Nyatanya apa, Cansu!” Ivy langsung melempar berkas itu ke lantai dan hendak angkat kaki dari rumah itu.

__ADS_1


“Ivy, tunggu….” Cansu menahan tangan Ivy yang hendak menuruni tangga, “kumohon… dengarkan aku kali ini.”


“Apalagi yang harus aku dengar?” Kali ini nada suara Ivy terdengar lebih rendah dari sebelumnya.


Hatinya sudah terlalu lelah untuk menghadapi kejadian hari ini. Mulai dari sikap Kenan yang berubah setelah suaminya itu bertemu kembali dengan Hazal hingga masalah dengan ibu tirinya. Ingin rasanya dia berteriak di dalam rumah itu.


Cansu menggandeng tangan Ivy untuk kembali masuk ke dalam kamar. Sebuah tempat tidur ukuran besar menjadi alas duduk mereka. Manik mata biru itu menatap langit-langit ruangan yang hanya berwarna putih polos kemudian di pegangnya tangan Ivy, sebelum dirinya memulai perkataannya.


“Sebelumnya aku minta maaf atas nama ibuku. Kau tahu’kan kondisi ibuku saat ini? Jangankan meminta maaf, mengenaliku saja ibuku tidak bisa. Mungkin inilah karma yang di dapat ibuku atas kejahatannya.” Cansu menghentikan ucapannya, ia ingin melihat reaksi Ivy. Wanita hamil itu masih bergeming di sampingnya dengan manik matanya yang memerah.


“Setahun yang lalu setelah pihak bank mengusir kita, ibuku langsung mengajakku pindah ke rumah ini. Awalnya aku curiga, darimana ibuku mempunyai uang sebanyak itu untuk membeli sebuah rumah baru, tetapi waktu itu ibuku mengatakan dia membeli rumah ini dari hasil tabungannya. Sejujurnya aku tidak percaya, karena ibuku bukanlah wanita hemat yang suka menabung, tetapi hari ke hari aku melupakan semua itu. Itulah salahku, aku tidak menyelidiki asal usul rumah ini,” jelas Cansu kemudian menghembuskan napasnya dalam-dalam.


Putri Sophia itu memungut kembali berkas yang dilempar Ivy ke lantai. Ia menyatukan semua dokumen dan kertas-kertas penting yang ada di dalamnya. Diambilnya telapak tangan Ivy untuk menerima pemberiannya.


“Setelah aku mengetahui semuanya ini, aku semakin malu padamu karena ibuku. Ibuku ataupun aku, tidak pantas memiliki rumah ini, karena kami bukanlah anggota keluarga atau keturunan Eleanor. Sekarang aku akan mengembalikan semua apa yang telah ibuku ambil darimu. Rumah ini milikmu, Ivy,” lanjut Cansu.


Buliran air mata itu jatuh membasahi permukaan berkas yang ada di telapak tangan Ivy. Manik mata hijau itu


memandangi berkas berwarna merah tersebut untuk beberapa detik lamanya kemudian beralih menatap manik mata biru yang memandangnya dengan penuh harap. Ia menggigit bibir tipisnya dan mengusap wajahnya yang basah.


“Tidak, Cansu.” Ivy mendorong berkas itu kembali ke tangan Cansu.


“Tapi—“


“Hatiku memang sakit, kecewa dan marah karena sikap ibumu. Tapi tak pernah sedikitpun aku ingin memiliki atau menjual rumah ini. Sikap baikmu itulah yang membuatku tidak ingin membalas perbuatan ibumu karena kau sangat berbeda dengannya.” Ivy menghembuskan napasnya dengan sangat berat.


“Ambillah kembali rumah ini, tinggallah di sini bersama dengan Mehmet, setelah pria itu bebas. Jika kalian memiliki anak, apartemen itu sangat kecil untuk kalian bertiga. Aku masih memiliki apartemen Falea,” sambung Ivy yang membuka paksa telapak tangan Cansu, agar saudara tirinya itu menerima berkas tersebut.


“Ivy—“


“Yang namanya keluarga bukan dilihat dari hubungan darah seseorang. Meskipun kita tidak sedarah, tapi kau tetaplah keluargaku, Cansu. Anggap saja ini adalah pemberian ayahku untuk kita berdua dan aku memintamu untuk menjaganya,” ujar Ivy sembari ia memeluk Cansu dengan erat.


“Aku janji padamu… aku akan menjaganya.” Sebuah anggukan kepala itu terlihat dari balik punggung Ivy.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2