Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Pemakaman Victor Eleanor


__ADS_3

Cahaya bulan sudah mulai terangkat ke atas ketika Ivy keluar dari rumah dengan tergesa-gesa. Ia melewati dua buah pilar kokoh yang ada di depan pintu rumahnya.


Tanpa ia sadari Kenan membuntutinya dari belakang dan menghentikan langkahnya, "Naik ke mobilku! Aku akan mengantarmu!"


"Tidak. Aku tidak akan melibatkanmu dalam masalahku lagi. Kau pergilah!" seru Ivy yang berusaha mencari jalan di samping Kenan.


Tanpa sadar, Kenan memegang tangan kanan Ivy dan menarik wanita itu. Ivy segera membalikkan badannya menghadap ke arah Kenan. Dua pasang manik mata itu terpaku pada dua buah tangan yang saling bertautan. Kenan segera melepaskan pegangan tangannya dari tangan Ivy.


"Terlambat! Kau sudah melibatkanku sejak pertemuan kita pertama!" seru Kenan sambil mengangkat kedua tangannya.


Kenan segera membukakan pintu mobilnya untuk Ivy. Tanpa berpikir lagi, wanita itu segera duduk di samping kursi kemudi. Ivy memang tidak punya pilihan, ia harus secepatnya sampai di pabrik.


Selama dalam perjalanan hati Ivy semakin gelisah, ia merapatkan jari-jari tangannya di atas pangkuannya. Sesekali ia menggigit bibir bawahnya. Mobil jenis SUV itu melaju dengan kencang menuju pabrik milik Victor.p


"Ayah...," gumam Ivy pelan hampir tidak terdengar. Manik matanya menatap awas setiap jalan yang ia lalui. Ia berharap mobil yang dinaikinya itu bisa terbang dengan cepat. Ia ingin segera mengetahui keadaan ayahnya.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Kenan yang belum mengerti situasi yang sedang terjadi.


"Aku tidak tahu. Tadi polisi menghubungiku, kata mereka pabrik ayahku terbakar dan mereka tidak bisa menghubungi ayahku," jawab Ivy sambil menyandarkan kepalanya di punggung kursi.


Dari kejauhan cahaya merah kekuningan yang berasal dari kobaran api itu sudah terlihat. Ivy semakin panik melihat kebakaran yang terjadi.


"Ivy, tenangkan dirimu. Mungkin ayahmu sudah pulang ke rumah," hibur Kenan yang melihat wanita di sampingnya itu mencoba menghubungi ponsel ayahnya berulangkali.


"Bagaimana aku bisa tenang? Aku tidak tahu dimana ayahku! Apa ayahku selamat atau tidak? Dari tadi ponselnya mati!" omel Ivy dengan tegang.


"Tenangkan dirimu! Jika kau panik, kau tidak bisa berpikir. Sebentar lagi kita akan sampai!" seru Kenan sambil mengubah persneling mobilnya.


Ivy berusaha menenangkan dirinya dengan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jika ternyata ayahnya meninggal karena kebakaran itu.


Di tempat kejadian, terdengar suara sirine dari mobil pemadam kebakaran yang keluar masuk untuk mencoba menghentikan amukan si jago merah. Polisi memberikan garis batas berwarna kuning di sekitar bangunan tersebut agar orang-orang tidak masuk ke lokasi kebakaran. Beberapa orang tengah sibuk berkerumun untuk menyaksikan kejadian tersebut.


Ivy segera keluar dari mobil dan berlari ke arah kerumunan orang-orang itu. Manik matanya sedang mencari sosok ayahnya.


"Ivy," panggil Sophia dan Cansu yang juga berada di antara kerumunan.


"Dimana ayah?" tanya Ivy sambil memegangi lengan Sophia. "Katakan dimana ayahku?" teriaknya lagi ketika ibu tirinya itu tidak menjawab pertanyaannya.


"Mereka belum menemukan ayahmu," jawab Sophia yang berusaha mencegah Ivy untuk tidak masuk ke lokasi kebakaran. Tetapi terlambat, Ivy segera berlari mendekati garis pembatas itu.


"Biarkan aku masuk! Aku mau mencari ayahku!" seru Ivy kepada petugas polisi yang berjaga-jaga di sana.


Akhirnya petugas polisi itu memberikan Ivy ijin untuk masuk setelah melihat wajah wanita itu yang berlinang air mata. Kenan yang kehilangan Ivy segera mencari wanita itu di tengah kerumunan. Tetapi ia tidak berhasil menemukan putri Victor tersebut.


"Ayah...!" teriak Ivy di depan bangunan yang hangus terbakar. Ia masih berharap ayahnya masih hidup, meskipun kemungkinannya itu sangat kecil.


Dua orang petugas pemadam kebakaran keluar sambil membawa satu kantong plastik besar. Ivy segera menghampiri mereka.


"Berhenti!" seru Ivy. "Bo... boleh aku... lihat si...siapa yang ada di dalam?"

__ADS_1


Petugas itu menurunkan kantong plastik berwarna hitam itu ke tanah. Mereka membuka penutup kantong plastik tersebut. Ivy segera memperlebar bukaan kantong plastik itu untuk melihat jelas wajah siapa yang ada di sana. Seorang laki-laki dengan wajahnya yang telah menghitam.


Ivy menutup mulutnya karena merasakan perutnya yang mual ketika melihat jenazah tersebut. Petugas semakin memperlebar bukaan kantong tersebut, manik mata Ivy terkunci pada sebuah cincin emas yang masih melingkar di jari tangan mayat tersebut.


"Ayah...!" jerit Ivy dengan histeris membuat semua orang terkejut dan melihat ke arahnya. Termasuk Sophia, Cansu dan Kenan yang berdiri di tempat yang berbeda.


Ivy terduduk di tanah dengan deraian air matanya yang mengalir deras. Sebuah palu besar seakan sudah menghantam kepalanya, ketika ia melihat wajah orang yang selama ini menyayanginya.


"Jangan bawa ayahku...!" teriak Ivy kepada petugas yang memasukkan jasad ayahnya ke dalam mobil ambulans. Raungan sirine itu kembali berbunyi.


"Ayah...!" jerit Ivy sambil mengejar mobil berwarna putih yang meninggalkan lokasi kejadian. Kecepatan larinya tidak secepat laju kendaraan itu, ia jatuh tersungkur di aspal jalan raya.


"Ayah...!" teriak Ivy sambil mengulurkan salah satu tangannya ke depan, seakan ia ingin menggapai ayahnya. Pandangan matanya telah tertutup oleh butiran air matanya.


Tanpa sadar Kenan yang melihat kejadian itu ikut meneteskan air matanya. Kejadian yang dialami Ivy mengingatkannya pada kematian ibunya, meskipun dengan cara yang berbeda. Perasaan kehilangan itu kembali melingkupi hati Kenan.


*****


Keesokan harinya Ferit Kozan sedang duduk di salah satu kursi di pinggir kolam renang pribadinya. Ia sedang membaca surat kabar hari ini.


"Berita bisnis... berita olahraga," gumam Ferit sambil membolak-balikkan kertas berwarna abu-abu itu.


"Dan berita...," gumaman Ferit terhenti ketika manik mata coklatnya tertuju pada sebuah berita utama pagi ini.


"Berita kebakaran pabrik perusahaan Eleanor. Victor Eleanor ditemukan meninggal di tempat kejadian kebakaran." Begitu bunyi tulisan yang dibaca oleh Ferit.


Laki-laki berusia tiga puluh tahun itu segera melempar surat kabar itu ke atas meja. "Rupanya Victor sudah meninggal, Ivy pasti sudah mendengar kabar ini."


Mentari pagi masih belum terlalu terik, ketika beberapa orang berpakaian serba hitam ikut mengantar kepergian almarhum Victor Eleanor. Ivy, Sophia, Cansu dan Nur hanya bisa berdiri mematung begitu peti mati itu masuk ke liang lahat dan tertutup dengan tumpukan tanah.


Setelah selesai mendoakan kepergian almarhum, mereka menabur dan meletakkan karangan bunga di atas pusara Victor.


"Apa aku terlambat?" tanya seorang laki-laki tinggi yang membuka kacamata hitamnya. Laki-laki itu berdiri di samping Ivy dan meletakkan karangan bunganya di atas pusara Victor.


Tepat seperti dugaan ku, kali ini kita bertemu lagi Ivy....


Sophia dan Cansu terkejut melihat siapa yang datang ke pemakaman. Tetapi Ivy tidak menggubris suara orang itu, manik matanya masih menatap pusara ayahnya.


"Aku ikut berdukacita atas meninggalnya ayahmu. Aku baru membaca beritanya di surat kabar pagi ini," ucap Ferit sambil mengulurkan tangannya ke arah Ivy.


"Terimakasih," sahut Ivy yang hanya sekilas membalas uluran tangan Ferit.


"Aku tak menyangka kalau ayahmu meninggal secepat ini. Ia belum menyaksikan pernikahan kita," ucap Ferit sambil tersenyum. Pria itu masih berdiri di samping Ivy. Tapi wanita itu hanya terdiam mendengar perkataan pria itu.


"Siapa pria yang di samping Ivy?" tanya Kenan yang berdiri di dekat Nur. Sejak tadi pria itu ikut menghadiri acara pemakaman ayah Ivy, ia melihat bagaimana angkuhnya sikap Ferit dan tatapan mata pria itu memandang Ivy.


"Dia pria yang akan menikah dengan Ivy. Namanya Ferit Kozan," jawab Nur sambil berbisik di telinga Kenan.


Kenan hanya terdiam setelah mendengar penjelasan Nur. Dalam hatinya ia ingin bertanya kenapa Ivy melarikan diri dari pernikahannya waktu itu, tetapi ia merasa situasinya tidak tepat.

__ADS_1


"Ivy, kami pulang dulu. Kau mau ikut kami pulang?" tanya Sophia sambil mengapit lengan Cansu, putri kandungnya.


"Tidak. Aku masih ingin di sini," jawab Ivy dengan wajahnya yang sembab.


"Baiklah." Sophia, Cansu dan Nur segera meninggalkan tempat pemakaman tersebut. Beberapa kerabat juga sudah banyak yang pulang, kini hanya tersisa Ivy, Ferit dan Kenan yang berdiri agak jauh di belakang wanita itu.


Ferit merasa hanya tinggal dirinya dan Ivy di sana. Ia tidak menyadari kehadiran Kenan yang sejak tadi memperhatikannya.


"Setelah hari berkabung mu selesai, aku akan melanjutkan acara pernikahan kita," ucap Ferit sambil memegang tangan kiri Ivy.


Ivy segera melepaskan tangannya dari Ferit. "Sebenarnya apa mau mu? Kenapa kau sangat menginginkan pernikahan ini? Kita tidak saling kenal!"


Ferit mendadak tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Ivy. "Tentu saja aku sangat menginginkan pernikahan ini. Karena aku tidak akan pernah melepaskan pengantin wanitaku."


Manik mata coklat itu menatap tajam wajah oval Ivy. Wanita itu hanya bisa menggenggam telapak tangannya dengan erat.


"Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa mencariku," bisik Ferit di telinga Ivy. "Datanglah ke rumahku, maka kau akan mengenal diriku."


Ivy hanya bisa menelan salivanya setelah mendengar perkataan Ferit. Pria itu segera memakai kacamata hitamnya kembali dan meninggalkan Ivy dengan raut wajahnya yang gamang.


Setelah kepergian Ferit, Kenan segera menghampiri Ivy yang masih berdiri di tempatnya.


"Aku turut berdukacita atas meninggalnya ayahmu," kata Kenan sambil mengulurkan tangannya ke arah Ivy.


"Terimakasih," balas Ivy dengan senyum tipisnya. Dalam pikirannya masih terngiang-ngiang perkataan Ferit. Ia membetulkan letak penutup kepalanya.


"Kau pasti sangat terpukul dengan kejadian yang mendadak ini." Kenan berusaha memberikan rasa empatinya kepada Ivy.


Manik mata hijau itu kembali memerah. "Ya. Aku belum sempat mengatakan hal yang sebenarnya kepada ayah. Bagaimana keadaan orang tuamu? Apa mereka baik-baik saja?"


"Mereka sudah meninggal. Ibuku meninggal ketika aku berumur sepuluh tahun. Ayahku baru saja meninggal setahun yang lalu," jawab Kenan sambil menatap pusara ayah Ivy.


"Maafkan aku. Kurasa nasib kita sama. Sama-sama anak yatim piatu." Ivy membalikkan badannya berjalan menjauhi pusara ayahnya.


"Yatim piatu? Siapa wanita yang tadi bersamamu? Semalam mereka juga berada di lokasi kebakaran." Kenan menyusul langkah Ivy.


"Wanita berambut merah itu ibu tiriku, sedangkan wanita berambut hitam itu adalah saudara tiriku." Mereka mengobrol sambil berjalan, hingga sampai di depan pintu keluar.


"Kenan, terimakasih atas bantuanmu dan maaf aku selalu merepotkanmu," ucap Ivy. Ia melambaikan tangannya untuk menyetop taksi yang sedang melaju ke arahnya.


"Ya." Kenan hanya menjawab singkat. "Aku bisa mengantarmu pulang."


Taksi yang di panggil oleh Ivy sudah berhenti di samping mereka.


Ivy hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Kembalilah ke dermaga, bukankah sekarang waktumu kau bekerja. Pergilah. Sampai jumpa, Kenan."


"Baiklah. Sampai jumpa." Kenan membalas senyuman Ivy. Ia kemudian membantu Ivy membuka pintu belakang taksi berwarna kuning tersebut.


* Bersambung *

__ADS_1


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2