Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Kenan dan Deniz


__ADS_3

Rumah Sakit Istanbul


Ivy mengusap air matanya dan menghembuskan napasnya kuat-kuat ketika ia akan masuk ke dalam kamar Deniz. Kamar itu terdiri dari empat ranjang ukuran single yang saling berhadapan. Di setiap ranjang sudah terisi oleh pasien anak-anak. Mereka berusia sekitar lima sampai dua belas tahun dengan berbagai macam penyakit kanker yang mereka derita.


Manik mata hijau itu menatap dari kejauhan seorang anak kecil yang sedang duduk di atas ranjang putih. Sebuah buku bacaan anak-anak berada di genggaman tangannya.


Ivy melangkahkan kakinya menuju ranjang Deniz.


"Hai, jagoan kecil." Deniz langsung mengangkat wajahnya begitu ia mendengar suara Ivy.


"Kakak...." Senyum Deniz mengembang, ia langsung menutup buku bacaannya dan bergegas turun dari ranjang dan menghampiri kakak perempuannya.


Kedua saudara kandung itu saling berpelukan melampiaskan kerinduan mereka. Ivy memeluk tubuh kecil itu dengan erat. Meskipun saat ini Deniz berusia sepuluh tahun, tapi pertumbuhan tubuhnya sangat jauh berbeda dengan anak lain seusianya.


Dengan wajahnya yang kecil, kelopak mata yang cekung, bibir yang terlihat pucat dan tubuh yang kekurangan daging. Itulah kondisi Deniz saat ini.


"Dimana ayah, ibu dan kak Cansu?" tanya Deniz yang tidak melihat anggota keluarganya yang lain.


Ivy membungkukkan badannya, sehingga membuat dirinya sejajar dengan tinggi adiknya. "Apa kau tidak merindukanku?"


"Aku sangat merindukanmu. Tapi biasanya kalian menjengukku bersama-sama. Beberapa hari ini aku mencoba menghubungi ayah, tapi aku tidak berhasil," oceh Deniz yang di sambut dengan senyuman getir yang keluar dari bibir tipis Ivy.


Ivy mengusap kepala adiknya dan berkata, "Ayah ada perjalanan bisnis keluar negeri. Beberapa hari lagi ayah akan pulang."


Manik mata Deniz bersinar ketika ia mendengar perkataan Ivy. Membayangkan bahwa ayahnya akan datang menjenguknya dan membawakannya mainan, buku bacaan dan coklat kesukaannya.


"Permisi, apa Anda keluarga Deniz Eleanor?" tanya seorang suster yang tiba-tiba menghampiri Ivy dan Deniz.


Ivy bangkit berdiri dan menjawab perkataan suster tersebut, " Ya, saya kakaknya."


"Dokter ingin bicara dengan Anda, Nona Eleanor."


"Kau tunggu di sini dulu ya," kata Ivy kepada Deniz. Ia segera mengikuti langkah kaki suster tersebut.


Mereka keluar dari kamar Deniz dan berjalan menuju lorong rumah sakit di lantai yang sama. Sampailah mereka di depan sebuah pintu yang bertuliskan Dr. Husein, Spesialis Hematologi.


Ivy melihat seorang dokter senior dengan rambut putihnya sedang duduk di kursinya, sebuah kacamata baca menggantung di daun telinganya yang lebar. Manik matanya sedang membaca beberapa data kesehatan pasien yang ada di atas meja.


"Dokter, ini Nona Eleanor. Kakak Deniz," kata suster yang masuk bersama dengan Ivy.


Dokter Husein mengangkat wajahnya ke arah Ivy dan melepas kacamatanya. Ivy memperkenalkan dirinya.


"Bagaimana kondisi Deniz saat ini, Dok?" tanya Ivy setelah ia duduk di kursinya yang berhadapan dengan Dokter Husein.


"Kondisi Deniz saat ini masih stabil. Beberapa minggu ini, sel kankernya masih bertahan di stadium dua. Tapi, ada hal yang harus saya bicarakan denganmu, Ivy." Dokter Husein mengambil pesawat teleponnya dan menghubungi seseorang.


Seorang pegawai rumah sakit masuk ke ruangan Dokter Husein. Rupanya wanita itu adalah salah satu karyawan bagian administrasi.


"Nona Eleanor, kami berulangkali sudah menghubungi Tuan Eleanor untuk memberitahu tentang masalah biaya pengobatan Deniz. Tapi sampai saat ini, pembayaran itu belum juga di lakukan," kata wanita itu sambil memberikan sebuah kertas tagihan kepada Ivy.

__ADS_1


Ivy melihat beberapa biaya yang dikeluarkan oleh pihak rumah sakit. Mulai dari biaya kemoterapi, obat-obatan, dan biaya kamar. Putri Victor itu menelan salivanya ketika manik matanya menatap deretan angka tersebut.


"Kumohon berikan sedikit waktu lagi. Aku akan membayar semua tagihan ini. Ayahku baru saja meninggal dan kami sedang mengalami kesulitan keuangan," mohon Ivy kepada dua orang yang ada di depannya. Ia akan melakukan berbagai cara agar Deniz tetap dirawat.


"Kami turut berdukacita, Nona. Tapi pembayaran ini sudah sangat terlambat. Kami terpaksa harus mengeluarkan Deniz dari sini," kata wanita itu.


"Jangan!" seru Ivy yang langsung berdiri dari kursinya. "Aku... aku akan membayarnya hari ini. Tapi kumohon jangan keluarkan Deniz sebelum aku kembali."


Ivy segera keluar dari ruangan dokter Husein. Ia berlari menuju ke ruangan Deniz. Saat ini adiknya sedang bermain dengan teman sekamarnya. Senyuman terindah yang Ivy lihat dari bibir Deniz, ia begitu menikmati hidupnya di sini.


"Anak-anak itu saling menyemangati tanpa kita sadari. Setiap dari mereka yang berhasil sembuh, berarti harapan mereka semakin bertambah." Suara Dokter Husein mengagetkan Ivy.


"Saat ini kami hanya berusaha menambah poin pengharapan untuk anak-anak ini. Ketika ada salah satu dari mereka yang meninggal dunia, membuat poin pengharapan mereka berkurang."


Ivy memperhatikan Deniz ketika Dokter Husein memberikan penjelasannya. Perbandingan satu banding sepuluh antara kesembuhan dan meninggal dunia.


"Apa mereka akan sembuh?" tanya Ivy dengan ucapannya yang tiba-tiba meluncur dari mulutnya.


"Hanya Tuhan yang tahu. Sebagus dan semahal apapun obat yang diberikan, itu tidak akan berpengaruh pada mereka." Perkataan dokter itu membuat Ivy memundurkan langkahnya.


Pikirannya berputar memikirkan Deniz, bagaimana jika adiknya itu juga pergi meninggalkannya, seperti ayah dan ibunya.


Setelah mengatakan hal itu, dokter Husein segera pergi meninggalkan Ivy yang masih berdiri di depan jendela kamar Deniz.


Aku tidak punya banyak waktu, aku harus segera mencari cara untuk membayar tagihan rumah sakit.


Ivy membuka kopernya, diambilnya kotak perhiasannya dan buku tabungannya. Ia memasukkan kedua benda itu ke dalam tas kecilnya. Ia menitipkan tas koper itu kepada salah satu suster di sana dan segera pergi.


Langkah kaki Kenan berhenti di depan sebuah ruangan kaca. Terdapat beberapa kamar di sana, mirip seperti sebuah rumah. Ia membuka pintu kaca yang ada di depannya, manik matanya sibuk mencari sosok wanita berambut coklat gelap.


Tapi wanita itu tidak ada di sana. Kenan hanya menjumpai beberapa anak kecil yang sedang melakukan aktivitas ringannya di ruangan itu.


"Siapa yang Anda cari, Tuan?" Seorang suster menghampiri Kenan yang sedang melihat ke dalam ruangan.


"Aku mencari...." Kenan mengusap wajahnya dengan keras, menyadari kebodohannya kenapa ia tidak menanyakan nama adik Ivy kepada Cansu waktu itu.


Kenan menggaruk kepalanya dan membuat suster itu semakin mengernyitkan keningnya. "Jika tidak ada yang Anda cari, silahkan ke...."


"Eleanor!" seru Kenan yang langsung mengingat nama keluarga Ivy. "Itu nama keluarga. Keluarga Eleanor."


Suster itu segera mengerti maksud Kenan. Ia segera membukakan pintu ruang inap tersebut dan membawa Kenan ke kamar nomor lima, paling pojok.


"Itu dia!" Suster itu menunjukkan jarinya ke arah seorang anak laki-laki dengan rambut coklat gelapnya, seperti Ivy. "Deniz Eleanor."


Kenan melihat sekelilingnya, tidak ada Ivy di sana.


"Apa tadi kakak perempuan Deniz kemari?" tanya Kenan ketika suster itu hendak pergi meninggalkannya.


"Ya. Tadi ada seorang wanita muda menjenguk Deniz, tapi kemudian wanita itu pergi lagi," jawab suster itu kemudian pergi meninggalkan Kenan.

__ADS_1


Kenan berinisiatif untuk masuk ke dalam kamar Deniz. Ia menghampiri Deniz yang sedang menyusun puzzle bersama dengan temannya.


"Halo, apa kau yang bernama Deniz?" tanya Kenan yang duduk di samping lelaki kecil itu.


Deniz hanya berdeham, ia masih sibuk dengan puzzle nya.


"Namaku Kenan, teman kakakmu," ucap Kenan. Tapi Deniz mengacuhkannya dan malah asyik bercanda dengan temannya yang sudah memakai penutup kepalanya akibat efek kemoterapi.


Sikap Deniz yang dingin mengingatkan Kenan pada dirinya sendiri. Sejak kecil ia memang tidak suka beramah tamah dengan orang asing. Baginya orang yang tidak ia kenal itu seperti pengganggu yang ingin merecoki kehidupannya.


Kenan pun memilih untuk duduk diam dan memperhatikan anak itu bermain.


Menit demi menit berlalu, setelah menyelesaikan permainan puzzle nya, Deniz baru menyadari kehadiran Kenan yang sejak tadi duduk di sampingnya.


"Kau siapa? Kenapa kau duduk di dekatku?" tanya Deniz yang memicingkan matanya menatap Kenan.


"Namaku Kenan. Aku teman kakakmu, Ivy." Kenan mengulangi lagi perkenalannya dan mengulurkan tangannya kepada anak laki-laki itu.


Deniz mengacuhkan uluran tangan Kenan, membuat pria itu menarik kembali tangan kanannya dan tersenyum kecut menghadapi tingkah laku makhluk kecil itu.


"Dimana kakakmu?" tanya Kenan ketika Deniz hendak naik ke ranjangnya.


Anak itu hanya mengangkat kedua bahunya, "Setelah ia berbicara dengan dokter, ia tidak kembali lagi."


"Apa kau tahu kapan ayahku akan pulang?"


Kenan segera mengernyitkan dahinya menatap wajah kecil itu. Tanpa mengeluarkan suaranya.


Apakah anak ini belum tahu, kalau ayahnya baru saja meninggal?


"Jika kau tidak bisa menjawab pertanyaanku, pergilah! Aku mau tidur!" seru Deniz yang siap menarik selimutnya.


"Anak ini...," gumam Kenan pelan. Ia memandang kelopak mata Deniz yang sudah tertutup.


Memorinya bergerak mundur di saat usianya sepuluh tahun, ketika ibunya baru saja meninggal.


"Apa kau tahu kapan ibuku akan pulang?" tanya Kenan kecil kepada salah satu pelayannya di rumah.


Pelayannya itu hanya diam saja, sambil menatap dirinya. Sama seperti yang ia lakukan saat ini ketika Deniz bertanya.


"Jika kau tidak bisa menjawab pertanyaanku, pergilah dari sini!" teriak Kenan kecil waktu itu.


Deniz membuka kelopak matanya dan melihat Kenan masih berdiri di sampingnya. "Kubilang pergilah! Aku mau tidur!"


Kenan tersenyum melihat tingkah laku Deniz yang langsung menyembunyikan wajah kecilnya di bawah selimutnya. Pria itu segera melangkah keluar dengan tetap tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Entah apa yang mendorongnya untuk berkenalan dengan anak laki-laki itu.


Dari kaca jendela, Kenan melihat Deniz membuka selimutnya dan duduk di atas ranjang.


"Rupanya kau membohongiku, jagoan kecil," gumam Kenan yang berjalan sambil tertawa kecil melewati koper Ivy yang ada di dekat meja perawat.

__ADS_1


*Bersambung*


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2