Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Pabrik Terbakar


__ADS_3

Ivy yang mengira Kenan sedang tertidur, mendadak terkejut ketika kepala laki-laki itu terangkat ke atas. Manik mata abu-abu gelap itu menyorot tajam bagaikan mata seekor serigala yang mengepung mangsanya. Ditambah lagi sinar lampu gantung yang menyinari ruangan itu tambah membuat manik mata Kenan terlihat menyala.


Serta merta Ivy memundurkan langkahnya ke belakang beberapa langkah. Ia masih memegang nampan kayunya.


"Mau apa kau kemari, hah? Ingin menertawakanku?" Aura dingin yang di pancarkan oleh Kenan menyelimuti ruangan yang hanya berukuran lima belas meter persegi.


"A...aku hanya ingin... memberikan obat untukmu." Ivy semakin mempererat pegangannya pada pinggiran nampan, ketika Kenan bangkit berdiri dan berjalan mendekatinya.


Raut wajah Kenan semakin mengeras ketika ia melihat sebuah piring kaca berisi makanan, botol minuman plastik, dan kotak obat yang ada di atas nampan.


Tangan Kenan segera menepis alas nampan yang ada di tangan Ivy. Membuat benda kayu itu terlepas dari tangan wanita itu. Bunyi pecahan piring kaca dan suara kotak obat yang jatuh terdengar di penjuru ruangan. Makanan yang telah disiapkan Ivy dan obat-obatan itu berserakan di lantai.


"Oh...," ucap Ivy yang terperangah tak percaya dengan apa yang sudah dilakukan Kenan.


Bau amis yang berasal dari makanan yang dibawa Ivy itu segera menusuk hidung mereka. Potongan ikan makarel tercecer di lantai bersama dengan bumbu saos tomatnya.


"Aku hanya ingin menolongmu!" seru Ivy yang melihat kekacauan yang ada di dekat kakinya.


Kenan mencengkeram lengan Ivy dengan kasar dan berteriak dengan keras, "Aku tidak butuh pertolonganmu!"


Pria itu menendang botol minuman yang ada di dekat kaki kanannya. Ivy hanya bisa menggigit bibir bawahnya sambil memejamkan mata. Putri Victor itu tahu bahwa ia telah melakukan kesalahan. Ia telah membalas air susu dengan air tuba.


Dalam kegelapan di balik manik matanya yang tersembunyi Ivy berkata, "Maaf... maafkan aku, karena telah memfitnahmu di hadapan ayah ku."


Kenan melihat cairan bening itu mengalir dari kelopak mata yang tertutup. Ia segera melepaskan cengkraman tangannya dari lengan Ivy. Wanita itu segera membuka kembali kelopak matanya. Ia segera mengusap kedua pipinya yang basah.


"Aku hanya berpikir jika Ferit mendengar kalau calon pengantinnya tidak suci lagi, maka ia akan mundur dari pernikahan ini. Maafkan aku yang egois, aku hanya ingin menyelamatkan diriku dari pernikahan yang tidak aku inginkan," ucap Ivy dengan matanya yang memerah.


Ivy menghapus kembali air matanya, "Aku akan mengatakan kepada ayahku yang sebenarnya."


Kenan hanya terdiam mendengar perkataan Ivy dan melihat manik mata hijau itu memerah di hadapannya.


"Aku...." Kenan tidak dapat melanjutkan perkataannya, karena wanita berambut coklat gelap itu telah lari keluar meninggalkannya sendiri di dalam gudang.


Ivy berlari memasuki rumahnya dengan linangan air mata. Di balik pintu dapur, ia menyeka cairan bening yang membasahi wajahnya. Kemudian ia mencari ayahnya di setiap sudut rumah, tetapi orang yang ia cari tidak ada.


Dimana ayah? Ini hampir mendekati jam makan malam.


Perasaannya gelisah ketika ia tidak berhasil menemukan ayahnya. Ivy segera mengambil ponselnya yang ada di saku celananya, dan menghubungi Victor. Tetapi hanya terdengar nada sibuk dari seberang.

__ADS_1


"Nur, apa kau lihat ayah?" tanya Ivy kepada pelayannya yang sedang berjalan melintas di depannya. Wanita gembul itu sedang membawa vas bunga yang baru saja di ganti airnya.


"Tadi ku dengar dari ibumu, ayahmu sedang ke kantor," jawab Nur.


"Malam-malam begini?" Ivy memicingkan kedua matanya menatap wanita yang suka memakai cepolan rambut.


"Biasanya juga seperti itu, jika ada pekerjaan yang harus di selesaikan." Nur segera pergi meninggalkan Ivy yang berdiri di antara ruang kerja dan ruang keluarga.


Ivy segera kembali ke gudang, ia lupa membersihkan pecahan piring dan makanan yang tumpah. Ia segera mengambil alat kebersihan dan membawanya ke dalam gudang.


Putri Victor itu berpikir Kenan sudah pergi, tetapi perkiraannya salah. Ketika Ivy sampai di gudang, ia melihat laki-laki itu masih duduk di atas lantai semen. Langkah kakinya membuat Kenan mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang datang.


"Maaf, aku belum berbicara dengan ayahku. Saat ini ayahku sedang berada di kantor," ucap Ivy yang mulai membersihkan makanan yang tumpah.


Kenan hanya terdiam memandangi Ivy yang sibuk menyapu dan mengepel.


Seharusnya ia bisa menyuruh pelayannya untuk membersihkan ini semua.


"Tapi sebelum kau pergi, ijinkan aku mengobatimu terlebih dahulu. Anggap saja, ini balasan karena kau telah menolongku dan permintaan maaf dariku." Ivy melanjutkan perkataannya. Tak ada respon dari Kenan, pria itu masih memandangi Ivy dari tempat dia duduk.


Setelah Ivy selesai membersihkan ruang sel itu, ia mendekati Kenan yang duduk menyandarkan tubuhnya di dinding. Ia menatap wajah tampan itu dengan lembut, ia sedang menunggu jawaban Kenan.


Ivy segera mengambil obat antiseptik untuk membersihkan luka Kenan yang berdarah. Membuat wajah mereka berdua saling mendekat. Ivy dapat melihat jelas, bulu-bulu tipis yang menghiasi wajah Kenan, sesaat putri Victor itu menyadari ketampanan wajah Kenan. Pria dengan manik mata yang tajam, tapi sesaat Ivy melihat ada rasa ketakutan, kehilangan, dan kelembutan di sana.


Setelah membersihkan seluruh luka itu, Ivy menempelkan sebuah plester di kening Kenan yang tadi berdarah. Sesaat bibir tipis itu berada dekat dengan manik mata Kenan, membuat pria itu menelan salivanya.


Tangan halus itu segera mengoleskan salep memar di sekitar pipi, dagu dan hidung Kenan. Ketika tangan Ivy menyentuh wajah Kenan, membuat pria itu tersadar dari lamunannya. Untuk pertama kalinya, Ivy melihat Kenan tersenyum kepadanya. Meskipun itu hanya sebuah senyuman tipis.


"Aku akan mengambilkan makanan untukmu, tunggulah di sini," kata Ivy setelah ia selesai membereskan obat-obatannya.


Di waktu yang sama, Victor yang berada di kantor seorang diri sedang menyelesaikan pekerjaannya yang tadi siang sempat tertunda. Di dalam ruang kerjanya itu, ia menghubungi koleganya yang lain. Ia berharap mereka dapat membantu keuangan perusahaannya saat ini.


Ketika sedang sibuk berbicara di telepon, Victor tidak menyadari bahwa ada salah satu mesin jahit listrik yang masih menyala malam itu. Rupanya ada salah satu karyawannya yang lupa mematikan mesin tersebut. Sebuah percikan api keluar dari bagian bawah mesin, makin lama percikan api itu kian membesar dan mengenai kabel mesin jahit.


Api itu segera membakar mesin jahit berkecepatan tinggi itu. Merembet ke sekitarnya yang dipenuhi dengan gelondongan kain warna-warni dan pakaian yang sudah jadi. Ruang kerja Victor hanya berjarak sekitar dua meter dari pabrik garmennya.


Dari dalam ruang kerjanya, Victor mencium bau asap. Ia segera keluar menuju tempat karyawannya bekerja. Kepulan asap keluar dari bawah pintu, suhu udara di sekitarnya menjadi lebih panas. Ia membuka ruang pabriknya. Pria paruh baya itu tak menyadari, bahwa di dekatnya ada sebuah tabung gas untuk bahan bakar setrika uap.


Begitu pintu pabrik itu di buka, api itu segera menyembur keluar mengenai tubuh Victor. Tubuh paruh baya itu terlempar beberapa meter jauhnya. Tabung gas itu meledak seketika dan memperbesar kobaran api yang meluluhkan lantakkan pabrik dan kantor Victor Eleanor.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, atas laporan warga sekitar, mobil pemadam kebakaran pun berdatangan. Disusul dengan mobil polisi dan mobil ambulans. Bunyi sirine itu meraung-raung di malam hari.


Sementara itu di gudang rumah keluarga Eleanor. Ivy yang melihat Kenan sedang menikmati makanannya, segera tersentak begitu mendengar suara ponselnya. Wanita itu segera mengambil alat komunikasi tersebut dari saku celananya.


"Halo," jawab Ivy ketika ia melihat nomor tidak dikenal menghubunginya.


"Apa anda keluarga Eleanor?" tanya seseorang dari seberang sana.


"Ya, saya Ivy Eleanor, putri Victor Eleanor," jawab Ivy dengan wajahnya yang serius.


Kenan segera menghentikan aktivitas makannya, ia mengalihkan pandangannya ke tempat Ivy berdiri. Ia memperhatikan pembicaraan wanita itu dengan seseorang.


"Nona Ivy, kami dari pihak kepolisian menginformasikan bahwa telah terjadi ledakan di pabrik garmen Eleanor. Pabrik dan perusahaan Eleanor terbakar. Kami tidak berhasil menghubungi Tuan Victor," jelas laki-laki itu dengan suara parau nya.


"Apa? Ayah?" Raut wajah Ivy mendadak pucat pasi begitu mendengar berita itu.


"Nona Ivy? Apa Anda masih di sana?" tanya petugas polisi tersebut.


"Ayahku ada di kantor sekarang!" jerit Ivy dengan keras.


Tubuh wanita itu mendadak tumbang, dengan cepat Kenan segera menangkap tubuh yang hanya bertinggi 168 sentimeter itu. Kenan segera mengambil ponsel Ivy dan menempelkannya di telinganya, tetapi panggilan itu telah terputus.


"Aku harus segera pergi, kau... kau boleh pergi dari sini. Kau bebas!" seru Ivy setelah menegakkkan tubuhnya kembali. Ia terlihat sangat panik, dengan tatapan matanya yang memerah.


"Apa yang terjadi?" tanya Kenan.


Ivy tidak menjawab pertanyaan Kenan, ia hanya mengambil ponselnya dari tangan pria itu dan lari masuk ke dalam rumah untuk mengambil tasnya. Ia segera pergi keluar untuk mencegat taksi.


Tetapi tiba-tiba Kenan menghentikan langkahnya, "Naik ke mobilku. Aku akan mengantarmu!"


"Tidak. Aku tidak akan melibatkanmu dalam masalahku lagi. Kau pergilah!" seru Ivy yang berusaha mencari jalan di samping Kenan.


Tanpa sadar, Kenan memegang tangan kanan Ivy dan menarik wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya.


"Terlambat! Kau sudah melibatkanku sejak pertemuan kita pertama!" seru Kenan yang segera menyalakan mesin mobilnya.


* Bersambung *


Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2