Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Kebebasan


__ADS_3

Tiga bulan kemudian....


Cansu dan Ivy berjalan memasuki pintu gerbang tinggi dengan kawat berduri yang melilit di bagian atasnya. Pintu besi itu adalah pintu gerbang penjara terbesar yang ada di Kota Istanbul. Dengan sepasang kakinya yang terbungkus stoking berwarna hitam, Ivy melangkah menyusuri halaman depan. Cansu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 10.00 pagi.


"Sepertinya kita tidak terlambat,” gumam Cansu yang sedikit tergesa-gesa menapaki beberapa anak tangga kemudian dibukanya gagang pintu berwarna kuning keemasan yang berada tepat di depan dadanya. Diikuti oleh Ivy yang berjalan di belakangnya.


Di balik pintu tinggi itu terdapat sebuah ruangan besar dengan dindingnya yang terbuat dari lapisan kayu dan serat-seratnya yang dibiarkan terekspos. Bau aroma kayu pinus itu menusuk indera penciuman mereka. Beberapa orang yang mengenakan seragam berwarna coklat tampak berlalu lalang di ruangan itu. Tampak juga beberapa narapidana yang baru saja selesai diadili dan dipindahkan ke penjara khusus ini.


Bukan pemandangan mengerikan yang tampak di ruangan itu, tetapi yang mengerikan justru saat melihat tatapan mata narapidana yang masih terlihat beringas saat kedua tangan mereka terborgol dan di paksa masuk oleh petugas. Narapidana yang kebanyakan adalah para kaum pria itu melihat Ivy dan Cansu bagaikan sebuah hidangan makanan pagi yang lezat yang tersedia di dalam penjara. Jauh dari keluarga dan rasa frustrasi menghadapi hukuman, membuat mereka perlu sebuah pelampiasan.


“Ayo kita ke sana.” Ivy mengajak Cansu untuk mendekati meja panjang yang berada di sebelah kanan ruangan. Ia juga bergidik ngeri melihat tatapan-tatapan mata yang penuh dengan rasa lapar.


Di meja panjang itu, Ivy dan Cansu mengurus surat-surat administrasi milik suami mereka. Menandatangani semua formulir yang diberikan oleh petugas. Setelah semuanya lengkap, petugas penjara itu pun masuk melalui pintu kecil yang ada di belakangnya. Membuat keduanya harus menunggu untuk beberapa menit. Sepuluh menit berlalu, dua puluh menit berlalu hingga tiga puluh menit, namun yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.


“Mereka jadi keluar hari ini’kan?” tanya Cansu yang menyandarkan dirinya di tepi meja panjang tersebut.


“Kata Hazal begitu, kemarin malam dia memberitahuku agar menjemput Kenan di penjara.” Ivy terus mengarahkan


pandangannya pada pintu yang ada di belakang meja, berharap bahwa pintu itu akan segera terbuka.


Cansu membalikkan badannya mengikuti pandangan Ivy yang masih saja menatap pintu kayu tersebut. “Ivy, bagaimana setelah nanti Kenan bebas, mereka semakin sering bertemu? Aku dengar dari Mehmet masa lalu mereka cukup rumit dan sulit untuk dilupakan.”


Manik mata hijau itu menatap manik mata biru milik Cansu. “Awalnya kau yang memaksaku untuk menghubungi Hazal dan sekarang kau malah membuatku cemas. Aku juga tidak tahu. Tapi setelah persidangan selesai, Hazal tak pernah mengunjungi Kenan. Itu yang Kenan ceritakan padaku.”


Suara kenop pintu yang diputar membuat kedua wanita itu mengarahkan pandangannya kembali pada pintu kayu tesebut. Keluarlah seorang petugas yang tadi melayani mereka dan dua orang pria lain yang ada di belakangnya. Dua orang pria itu sedang menjinjing tas mereka.


“Selamat, kalian telah bebas,” ucap sang Petugas kepada Kenan dan Mehmet. Tiga orang itu saling berjabat tangan dengan senyum mereka yang sumringah. Keduanya tak menyangka hari kebebasan itu akhirnya tiba.

__ADS_1


“Mereka telah menunggu kalian.” Tunjuk petugas itu kepada Ivy dan Cansu yang berdiri di depan meja.


Dua pelukan itu langsung terjadi di bawah lampu gantung yang mengayun pelan. Pelukan yang sudah lama tidak bisa mereka lakukan, karena dinding kaca yang membatasi setiap sentuhan mereka. Dua pasang suami istri itu saling menitikkan air mata dan mengusap punggung pasangannya.


“Akhirnya kau… keluar dari sini.” Suara Ivy terdengar terisak di balik punggung Kenan, diusapnya rambut hitam tebal milik suaminya itu. Jari tangannya tiba-tiba menyentuh kalung benang merah yang melingkar di leher Kenan, tetapi ia tidak mengambil dan melihat bandul kayu yang tersembunyi di balik pakaian suaminya.


Sejak kapan Kenan memakai kalung seperti ini?


“Bagaimana kabarmu dan Filan?” tanya Kenan sambil membingkai wajah Ivy dengan kedua tangannya. Pria itu tidak mengetahui bahwa Ivy mulai mencurigai kalung bandul yang ia buat untuk mengukir nomor ponsel Hazal.


Ivy hanya menganggukkan kepalanya dan menjawab, “Filan ada di rumah Cansu bersama dengan Nur dan Deniz. Mulai kemarin Cansu telah kembali ke rumahnya.”


“Oh ya…, waktu itu kau pernah menceritakan tentang rumah yang dibeli Sophia dari uang asuransi almarhum ayahmu,” balas Kenan yang melemparkan senyumnya, namun pandangannya seperti sedang mencari sosok lain yang ada di belakang Ivy. Tetapi raut wajah itu mendadak berubah ketika ia tidak berhasil menemukan sosok tersebut.


“Siapa yang kau cari? Apa kau mencari Hazal?” tanya Ivy dengan nada suaranya yang rendah. Manik mata itu menatap wajah suaminya yang tengah menggaruk hidung mancungnya.


“Ya.”


Deg!


“Ivy… Ivy… tunggu!” Langkah panjang itu berlari menuruni anak tangga yang membawanya menuju halaman depan. Sementara di ruangan itu, Cansu dan Mehmet tampak terkejut melihat pasangan suami istri itu saling berlarian dan mengejar.


“Apa lagi, Kenan?” teriak Ivy dengan suaranya yang cukup keras hingga membuat dirinya menjadi pusat perhatian di halaman itu.


“Dengarkan penjelasan ku!” Perkataan itu sangat penuh dengan penekanan.


“Penjelasan katamu? Penjelasan apa, hah? Aku tahu, sejak kalian bertemu, kalian seperti ingin mengulang kembali masa lalu kalian. Selama ini aku menutup mata dan hatiku, agar aku bisa melihatmu bebas dan bisa melahirkan Filan dengan baik. Tapi… hari ini aku benar-benar kecewa padamu!” seru Ivy yang berusaha melepaskan tangan Kenan yang tengah memegang lengannya.

__ADS_1


“Aku pikir setelah kita menikah dan wanita itu juga menikah, kalian sudah menutup buku masa lalu itu. Ternyata aku… salah! Teruslah mengharapkannya!”


“Ivy… dengarkan aku! Kau… kau salah paham,” jelas Kenan yang masih enggan untuk melepaskan tangannya dari lengan Ivy.


“Salah paham? Apa kali ini kau akan gunakan alasan untuk menjaga perasaanku?” Cairan bening itu mulai menggenangi manik mata Ivy, ia menangis sambil tertawa kecil bersamaan. Merutuki betapa bodoh dirinya selama ini. Mencintai pria yang tidak bisa menentukan sikapnya.


“Sekarang kau jawab pertanyaan ku. Siapa yang kau cintai?”


Deg!


Pertanyaan itu akhirnya meluncur dari bibir tipis Ivy. Pertanyaan yang tidak bisa Kenan jawab sampai detik ini. Pria itu hanya mengatupkan kedua bibirnya sambil manik matanya yang terus bergerak-gerak menatap wajah istrinya.


“Kau tak bisa menjawabnya?” Ivy sudah mulai terlihat kesal. Sebuah kerutan tampak di dahinya dan sebuah rona memerah terlihat pada manik matanya.


“Aku akan membuatnya menjadi lebih simpel. Bagaimana jika aku dan Hazal tenggelam bersama di dalam sungai, siapa yang akan kau pilih untuk kau selamatkan?”


“Aku akan menyelamatkanmu,” jawab Kenan sambil memejamkan matanya di depan Ivy. Dia berharap jawabannya itu bisa menenangkan istrinya.


“Kau akan menyelamatkanku?” Ivy setengah tak percaya mendengar perkataan Kenan.


Putra Harun itu menganggukkan kepalanya dan langsung memeluk tubuh istrinya. Ia mendekap erat wanita yang telah memberinya keturunan. Namun, di dalam hatinya dia melanjutkan perkataannya.


Setelah aku menyelamatkanmu, aku akan tenggelam bersama Hazal.


Kebohongan macam apa yang telah ia katakan. Tidak, dia tidak berbohong, itulah perasaan yang ada di dalam hatinya saat ini. Pria itu tidak bisa memutuskan seperti halnya ia sedang berbisnis, karena cinta bukanlah sebuah hubungan bisnis begitu juga sebaliknya, bisnis bukanlah cinta.


“Aku mencarinya, karena… karena aku ingin mengucapkan terima kasih padanya,” kata Kenan di saat ia masih memeluk Ivy.

__ADS_1


Pria macam apa aku ini? Jelas-jelas aku yang meminta Ivy untuk menikah denganku, tetapi kenapa hatiku tidak bisa melepas Hazal sepenuhnya. Sejak aku bertemu dengannya kembali, perasaan itu juga kembali muncul.


...****************...


__ADS_2