
Senja telah lewat ketika Kenan dan Ivy meninggalkan perusahaan Kozan. Lampu sorot mobil SUV itu bersinar terang membelah kegelapan malam, barisan mobil berusaha menyalip untuk mencari celah agar bisa sampai ke tempat tujuan. Di dalam mobil, Ivy memperhatikan pemilik guratan wajah tegas yang duduk di sampingnya. Dari sudut matanya, Kenan dapat melihat tatapan Ivy yang sejak tadi memperhatikannya.
"Sebenarnya kita akan ke mana?" Ivy mengalihkan pandangannya, kini ia melihat keadaan jalan raya yang ada di depannya.
"Nanti kau akan tahu," jawab Kenan yang sedang memperhatikan kaca spionnya, tidak ada kendaraan lain yang ada di belakangnya. Segera ia memutar kemudinya dan membelokkan mobilnya ke kanan.
Dalam cahaya lampu jalan, Ivy memperhatikan sebuah senyum simpul tergambar dari wajah pria itu.
Sebenarnya apa yang akan dia lakukan?
Ivy menopang keningnya dengan tangannya yang ia letakkan di pintu jendela. Manik mata hijau itu sedang menikmati pepohonan yang berbaris rapi di sepanjang jalan dengan lampu hiasnya yang menjuntai ke bawah.
Kenan menurunkan kecepatan kendaraannya, dan menepikan mobilnya di depan kafe milik Mehmet, Istanbul Cafe.
"Kau tunggu disini!" seru Kenan yang segera keluar dari mobil dan masuk ke dalam.
Alas sepatunya menderap diatas lantai kayu yang bertekstur. Sebuah meja panjang berwarna coklat menjadi tempat tujuan Kenan, ia membaca papan nama yang bertuliskan KASIYER. (Bahasa Indonesia KASIR)
Dari dalam mobil, Ivy memperhatikan apa yang dilakukan oleh Kenan di kafe itu.
"Apa Mehmet ada di dalam?" tanya Kenan kepada seorang gadis muda yang bertugas menjaga meja pembayaran.
"Tuan Mehmet tidak datang malam ini," jawab gadis dengan pulasan make-up nya yang tebal.
Kenan menarik salah satu kursi kosong yang ada di dekat kasir. Dia menghubungi sahabatnya yang selalu bisa diandalkan setiap saat.
"Kau dimana?" tanya Kenan setelah panggilan ponselnya tersambung.
"Aku ada di apartemen, ada apa? Dari nada bicaramu sepertinya telah terjadi sesuatu." Mehmet sedang berada di dapur untuk membuat pasta.
Kenan menyebutkan sejumlah uang kepada Mehmet.
"Untuk apa uang sebanyak itu?" Kali ini giliran suara Mehmet yang terdengar khawatir.
"Katakan saja, ada atau tidak? Aku akan menceritakannya nanti jika kita bertemu." Kenan mengetukkan kedua jarinya ke atas meja.
"Baiklah. Aku akan mengirimkan uangnya ke rekeningmu." Mehmet bersiap mengambil pena dan kertas kecil untuk menulis nomor rekening bank Kenan.
"Berikan aku uang tunainya malam ini. Kita akan bertemu di Sultanahmet Square." Kenan langsung menutup ponselnya kemudian ia berjalan menuju mobilnya.
Pria itu masih melihat Ivy yang duduk di sampingnya. Tanpa menjelaskan sesuatu, Kenan mengemudikan mobilnya menuju taman yang terletak diantara Blue Mosque (Masjid Biru) dan Hagia Sophia (Museum bersejarah di Istanbul, Turki)
Lima belas menit kemudian, mobil SUV itu berhenti di tempat tongkrongan warga kota Istanbul. Ivy keluar dari mobil, dilihatnya banyak tempat duduk yang berbaris rapi di sekitar Sultanahmet Square. Ia memilih untuk duduk di depan air mancur yang berwarna-warni, tapi hatinya saat ini tidak ingin menikmati pemandangan indah itu.
"Tunggulah di sini!" Sekali lagi Kenan menyuruh Ivy untuk menunggu. Sementara pria itu berjalan sedikit menjauhi Ivy, sekitar dua kursi panjang jaraknya.
"Apa dia tidak tahu, bahwa aku tidak punya banyak waktu untuk bersantai saat ini?" gumam Ivy dengan wajahnya yang kesal.
Wanita itu melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul tujuh malam. Ia duduk sambil melipat kedua tangannya dan memasukkannya ke lipatan siku.
__ADS_1
Detik demi detik itu seakan berjalan sangat lambat. Berkali-kali Ivy menoleh ke tempat Kenan berada. Tetapi pria itu hanya diam berdiri dengan menjulurkan kepalanya seakan hendak menunggu seseorang.
"Seharusnya aku tidak mempercayai perkataannya!" Ivy mendengus kesal. Ia menopang satu kakinya ke kaki yang lain.
Di waktu yang sama, Mehmet datang menghampiri Kenan. Setelah Kenan menutup ponselnya, pria berkulit gelap itu langsung keluar rumah untuk menarik tabungannya dan menemui sahabatnya itu. Dia bahkan lupa mengganti celana pendeknya.
"Kau bawa uangnya?" tanya Kenan. Ia menahan tawanya ketika melihat penampilan Mehmet.
Mehmet memberikan sebuah amplop coklat yang berisi ratusan lembar uang kertas Lira. "Apa uang ini untuknya?" Mehmet mengarahkan pandangannya ke tempat Ivy.
Ivy yang melihat pertemuan Kenan dan Mehmet tampak semakin kesal, "Bisa-bisanya aku ikut bersamanya, dan sekarang ia sedang bergurau dengan temannya!"
"Adiknya sedang membutuhkan biaya kemoterapi," jawab Kenan yang melihat Ivy bangkit berdiri dan berbicara dengan seseorang di ponselnya.
"Adiknya atau kakaknya?" goda Mehmet dengan senyumannya yang khas. Pria bergigi putih itu mengedipkan salah satu matanya.
Kenan hendak menjawab pertanyaan Mehmet, tetapi ia melihat Ivy yang berjalan menjauhinya menuju pintu keluar.
"Oh shitt!" umpat Kenan yang melihat langkah Ivy semakin menjauh darinya.
"Anggap ini sebagai pinjaman, aku akan mengembalikannya!" seru Kenan sambil menepuk lengan Mehmet. Ia segera berlari mengejar Ivy yang sudah menghilang di balik pohon.
"Anggap saja itu uang mahar untuknya!" teriak Mehmet sambil menggelengkan kepalanya dan tertawa melihat tingkah laku Kenan.
Di tengah cahaya lampu yang berbaris rapi di sepanjang taman, Kenan berlari mengejar Ivy. Sayup-sayup terdengar suara orang-orang yang sedang berfoto ria di depan Museum Hagia Sophia.
Teriakan Kenan membuat putri Victor itu menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya. Kenan segera menghampirinya.
"Sudah kukatakan tunggu aku! Kau akan kemana?" Kenan menyembunyikan amplop pemberian Mehmet di belakang bajunya. Ia berjalan mendekati Ivy, tapi wanita itu memundurkan langkahnya.
"Kenapa aku harus menunggumu? Aku harus pergi sekarang! Kondisi Deniz makin menurun dan aku tidak punya banyak waktu untuk melihatmu bergurau dengan temanmu itu!" seru Ivy dengan menaikkan intonasi suaranya.
"Seharusnya aku tidak ikut denganmu, seharusnya aku minta bantuan Ferit, dan seharusnya saat ini aku berada di rumah sakit untuk menemani Deniz!" seru Ivy yang terus memundurkan langkahnya, karena Kenan terus berjalan mendekat ke arahnya.
"Oh... jadi menurutmu hanya Ferit Kozan yang bisa membantumu saat ini?" Kenan menatap tajam manik mata Ivy. Langkahnya terus mengintimidasi Ivy untuk mundur.
"Tentu saja!" Ivy membalas tatapan mata Kenan dan menjawabnya dengan penuh keyakinan.
"Oh... aku tahu sekarang." Kenan mengusap rambutnya dan memalingkan wajahnya ke arah lain.
"Kau pikir aku tidak bisa membantumu, karena aku hanyalah seorang montir!"
Ivy mengepalkan telapak tangannya erat-erat mendengar perkataan pria itu.
"Kau menyesal karena telah meninggalkan tambang emasmu! Setelah kau tahu, bahwa dia adalah pengusaha kaya dan kau ingin memohon untuk kembali kepadanya! Itukan jalan pikiranmu!" seru Kenan yang menuduh Ivy tanpa alasan. Ia memang pria yang suka asal bicara tanpa peduli perasaan orang lain.
Tuduhan Kenan membuat Ivy berang, ia menahan tangannya untuk tidak menampar wajah pria itu.
__ADS_1
"Tutup mulutmu, Kenan! Kau belum mengenal diriku! Aku bukan wanita materialistis! Aku hanyalah seorang wanita yang berpikir secara realistis!"
Manik mata hijau itu tampak memerah karena menahan amarahnya, "Aku tidak minta bantuanmu, karena kau juga punya kesulitan sendiri!"
"Bagaimana jika aku bisa membantumu saat ini?" tanya Kenan yang semakin berjalan mendekati Ivy, hingga membuat jarak diantara mereka semakin pendek.
Apa maksud perkataan pria ini? Apa dia ingin mengatakan bahwa dia adalah anak Sultan yang menyamar menjadi orang miskin?
Ivy semakin memundurkan langkahnya hingga tak sengaja kakinya menginjak tepi jalan.
"Auuwww...!" seru Ivy yang terkejut karena paving blok di belakangnya lebih rendah.
Sepasang tangan kekar dengan gesit menangkap tubuh Ivy sebelum wanita itu mencium jalanan berbatu. Tatapan dua pasang mata itu berhenti di garis yang sama dengan jarak yang sangat dekat. Membuat Ivy bisa merasakan hembusan napas Kenan yang membelai wajahnya. Jantung Kenan berdetak kencang ketika bibir tipis Ivy itu hampir menempel di bibirnya.
Ivy segera menegakkan tubuhnya dan mencoba mengatur napasnya yang naik turun.
"Kau tak apa?" tanya Kenan yang menatap wajah Ivy dengan lembut.
Tatapan mata ini membuat Ivy kebingungan. Sesaat manik mata pria itu menyorot tajam, dan beberapa detik kemudian tatapan mata itu berubah menjadi lembut.
"Ya. Aku baik-baik saja. Aku akan ke rumah sakit sekarang!" Ivy membalikkan badannya dan melangkah turun. Ia sudah kehilangan banyak waktu ketika berdebat dengan Kenan.
"Tunggu!" Kenan mencoba menahan kepergian Ivy. "Aku punya sesuatu untuk Deniz!"
Ivy langsung membalikkan badannya menghadap Kenan, ia melihat sebuah amplop coklat di tangan pria itu.
"Apa itu?" tanya Ivy. Manik matanya menatap wajah Kenan dan amplop yang dipegang pria itu secara bergantian.
"Ini untuk biaya kemoterapi Deniz." Kenan mengangkat amplop itu ke depan wajah Ivy. "Aku juga bisa membantumu!"
"Untuk apa kau membantuku? Kau tak punya beban atau alasan untuk membantuku?" Ivy mengangkat kedua bahunya.
"Ini semua untuk Deniz!" seru Kenan sambil memberikan amplop itu kepada Ivy.
Wanita itu tampak ragu-ragu menerima pemberian Kenan. Ivy masih menyembunyikan tangannya di belakang tubuhnya.
Kau benar-benar wanita keras kepala, Ivy!
"Give me your hand!" seru Kenan yang meminta Ivy untuk mengulurkan tangannya.
Ivy teringat perkataan Deniz tempo hari, dengan perkataan yang sama adiknya juga meminta hal itu. Dengan perlahan kakak Deniz itu segera mengulurkan tangannya yang terbuka.
"Kita akan berjuang bersama untuk kesembuhan Deniz," ucap Kenan sambil meletakkan tangannya di atas tangan Ivy. Kedua tangan itu saling berpelukan. Manik mata hijau itu berkaca-kaca setelah mendengar perkataan Kenan.
Kenan memberikan amplop itu kepada Ivy, membuat wanita itu melepaskan tangannya dari pelukan tangan Kenan.
"Bukankah kau ingin ke rumah sakit?" tanya Kenan yang mengulurkan tangannya kembali ke arah Ivy. Dalam tangisannya, wanita itu tersenyum dan tertawa kecil. Entah Ivy harus mengatakan apa kepada pria itu.
Putri Victor itu membalas uluran tangan Kenan. Jari-jemari mereka saling bertautan hingga mereka masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
* Bersambung *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏