
Jeritan suara teko yang telah mendidih membuat sepasang kaki Nur berjalan menuju dapur. Ia mulai menyeduh kopi Turki ke dalam cangkir. Dibukanya tempat kukusan yang terbuat dari aluminium, tangan gemuk itu mulai menyajikan sarapan pagi untuk ketiga orang yang ada di rumahnya. Meskipun dia adalah tuan rumah saat ini, tapi kebiasaannya melayani anak majikannya tidak pernah ia lupakan. Ia senang berkutat di dapur, hanya sekedar membuat camilan untuk Deniz. Wanita gemuk ini sudah menganggap Ivy dan Deniz adalah anak-anaknya.
Wangi aroma minuman hangat dan makanan kukus itu, membangunkan semua penghuni rumah. Ketiga orang itu masih sembunyi di balik selimutnya. Kenan membuka kelopak matanya perlahan-lahan, manik mata abu-abu gelap itu mulai menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang menerangi kamarnya. Ia mengusap wajahnya dan rambut tebalnya.
"Apa semalam kau tidur di sini?" Suara Deniz membuat Kenan menyadari bahwa saat ini dia berada di rumah Nur. Putra Harun itu menoleh dan melihat anak kecil itu sedang duduk di sampingnya dengan memangku kotak puzzle.
"Ya. Kemarin malam kakakmu memintaku menginap di sini." Kenan menegakkan tubuhnya dan bersandar di dinding. "Apa kau menyukai puzzle itu?"
Kenan mencoba mengingat kotak mainan pemberian Ferit. Mainan mobil-mobilan itu lebih mahal dan lebih menarik di bandingkan hanya sebuah puzzle yang terbuat dari kertas karton.
"Apa ini milikmu?" Deniz ragu-ragu untuk membuka kotak puzzle yang ada di tangannya. Manik mata kecilnya itu kemudian menatap wajah Kenan.
Kenan mengacak rambut coklat Deniz, "Itu untukmu. Bukalah! Anggap saja ini hadiah perkenalan kita."
"Sungguh?" Mata hijau itu tampak membesar mendengar perkataan Kenan.
Bibir tipis itu tersenyum lebar, mengingatkan Kenan pada Ivy. Wajah Deniz memang mirip dengan kakaknya, bocah itu seperti duplikat Ivy versi laki-laki.
Deniz segera turun dari ranjangnya dan membawa puzzle itu keluar kamar. Ia menunjukkan kepada Ivy dan Nur yang sedang berada di dapur.
"Deniz, kakak ingin bicara denganmu." Ivy menggandeng tangan adiknya untuk menjauhi ruang memasak.
Ivy membawa Deniz ke kamar Nur yang letaknya di sebelah kamar anak itu. Pelayan keluarga Eleanor itu hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kepergian mereka. Putri Victor itu melewati Kenan yang baru saja keluar dari kamar.
Wanita itu mengambil kotak mainan pemberian Ferit dan menunjukkan kepada adiknya. "Apa kau menyukai mainan ini?"
Untuk beberapa detik, Deniz memandang kotak mainan yang ada di tangan Ivy. Bocah itu teringat pada seorang laki-laki yang semalam datang ke rumah.
"Apa benar pria itu akan menjadi kakakku?" tanya Deniz yang tidak menjawab pertanyaan Ivy.
"Dia mengatakan bahwa dia akan menjadi suamimu dan dia menyuruhku untuk memanggilnya kakak ipar."
Perkataan Deniz membuat Ivy tercengang. Ia menutup kedua bibirnya rapat dan memegang kedua lengan bocah itu. Ia tidak ingin Deniz terpengaruh dengan perkataan Ferit.
"Apa kau menyukai pria itu? Apa menurutmu dia pria yang baik?" tanya Ivy yang mencoba memahami cara berpikir adiknya.
Deniz hanya terdiam. Ada sejuta pertanyaan yang ada di otak kecilnya saat ini. "Apa kau akan menikah dengan pria itu?"
Kembi Ivy terkejut mendengar pertanyaan Deniz. Sejak tadi bukan jawaban yang keluar dari mulut anak itu, hanya pertanyaan dan pernyataan yang ingin meyakinkan hatinya bahwa kakaknya tidak akan meninggalkannya. Bahkan jika kakaknya menikah, dia ingin tetap bersama Ivy.
"Tidak, sayang. Kakak tidak akan menikah dengannya. Kakak hanya akan menikah dengan pria yang bisa menerimamu dan menyayangimu seperti kakak," jawab Ivy yang membuat Deniz tersenyum dan memeluk kakak perempuannya.
Kini bocah itu telah yakin. Jika Ivy menikah, kakaknya pasti tidak akan meninggalkannya.
Jawaban Ivy itu membuat Kenan yang sejak tadi mendengar percakapan mereka tersenyum penuh harap. Rasa percaya dirinya mulai bangkit, karena Ivy terang-terangan menolak Ferit.
"Kau belum menjawab pertanyaan kakak. Apa kau menyukai mainan ini?" tanya Ivy yang menunjukkan kotak mainan pemberian Ferit.
"Aku lebih suka mainan ini." Deniz menunjukkan puzzle pemberian Kenan. "Boleh aku bermain dengannya?"
"Boleh saja. Asal dia tidak sibuk." Ivy mengusap lembut rambut coklat tipis milik Deniz. Anak itu segera berlari mencari Kenan.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban Deniz, Ivy tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Ia mencari sebuah karung bekas di dapur. Diambilnya karung bekas beras yang telah tersusun rapi di dalam kardus. Nur, wanita itu yang selalu membuat kondisi rumah terlihat rapi.
Aku akan mengumpulkan semua pemberian Ferit. Suatu hari nanti aku akan mengembalikan semua ini tepat di depan matanya.
Ivy memasukkan mainan itu ke dalam karung dan menyimpannya di dalam lemari.
"Kau akan kemana berpakaian serapi itu?" Suara Kenan mengejutkan Ivy yang baru saja selesai memasukkan karung itu ke dalam tempat penyimpanan.
Manik mata abu-abu gelap itu menatap Ivy yang sedang merapikan kancing blazernya. Penampilan Ivy terlihat lebih dewasa dari sebelumnya, setelan blazer dan rok di atas lutut berwarna biru gelap dan sebuah dalaman berenda berwarna putih.
Dia mirip seperti Hazal.
Perkataan itu tiba-tiba muncul di dalam hati Kenan. Pria itu menggelengkan kepalanya dnehan cepat dan memijat keningnya seakan ia ingin menghilangkan bayangan Hazal di dalam pikirannya.
"Ini hari pertama ku bekerja. Aku akan segera berangkat. Bagaimana keadaanmu?" tanya Ivy yang memasang sepatu high heels nya di depan Kenan.
"Sudah mendingan. Mau aku antar?" Kenan menawarkan dirinya. Ia mengeluarkan kunci mobilnya dari dalam sakunya.
"Aku akan naik bus. Kau istirahatlah. Deniz ingin bermain bersamamu. Aku pergi!" seru Ivy yang langsung berjalan melewati Kenan bagaikan angin yang berhembus di wajah pria itu.
Sebuah tangan menghentikan langkah sepatu high heels itu, membuat Ivy menoleh ke belakang. "Apa kau akan naik bus dengan rok sependek itu?"
Ivy mengamati dirinya dari atas hingga ke bawah.
Memangnya ada yang salah dengan penampilanku?
"Tuan Kenan, kurasa kau belum pernah melihat seorang wanita yang bekerja di kantor. Semuanya juga berpakaian seperti ini!" seru Ivy dengan ketus.
"Memangnya siapa dirinya? Bos ku juga bukan! Kekasihku? Apalagi!" gerutu Ivy yang terdengar jelas di telinga Kenan. Wanita itu segera keluar rumah.
Kenan hanya menggaruk batang hidungnya mendengar omelan Ivy. Baru semalam ia melihat wanita itu menangis di dalam pelukannya. Pagi ini, entah wanita itu mendapat kekuatan darimana, suasana hatinya mendadak berubah. Berani mengomelinya.
Putra Harun itu melayangkan pandangannya di sekitar rumah Nur. Ia sudah tidak melihat Ivy. Segera ia menyalakan mesin mobilnya menuju ke jalan utama yang ada di ujung jalan.
"Tidak bisakah kau sekali saja meminta bantuanku?" gumam Kenan. Kepalanya sibuk mencari Ivy di segala arah. Tetapi wanita itu sepertinya menghilang di telan bumi.
"Apa susahnya mengatakan, Kenan... tolong aku," gumamnya di dalam mobil.
Setelah membelokkan mobilnya dan berjalan beberapa meter di jalan utama. Raut wajah tampan itu berubah, sebuah senyuman manis terukir di bawah kumis tipisnya. Ia menepikan mobilnya di samping Ivy dan membuka kaca jendelanya.
"Apa bus jemputanmu tidak lewat pagi ini?" tanya Kenan dengan nadanya yang mengejek.
Di dekat Ivy ada beberapa orang yang juga menunggu kedatangan bus. Mereka bahkan lebih lama dari Ivy.
Wanita itu tersenyum lebar penuh kemenangan kepada Kenan. "Kurasa kau salah. Lihatlah bus ku sudah datang."
Dari kaca spionnya Kenan tersenyum kecut saat melihat Ivy berjalan bersama kumpulan orang-orang itu. Ia memukul kemudinya melihat bus itu berhenti. Tetapi karena banyaknya penumpang yang akan masuk ke dalam, dengan terpaksa sopir bus itu menutup pintunya.
"Buka! Buka pintunya!" teriak Ivy sambil menggedor pintu kendaraan umum itu.
"Aku bisa terlambat!" teriak Ivy yang berusaha mengejar bus berwarna biru yang telah melaju kencang. Bus itu pergi meninggalkan Ivy dan beberapa orang yang tidak terangkut.
__ADS_1
Kenan tertawa terbahak-bahak melihat kejadian itu. Masih dalam tawanya, ia memundurkan mobilnya mendekati Ivy, tetapi tidak menyuruh Ivy untuk masuk ke dalam. Bahkan ia tidak membuka kaca jendela mobilnya. Pria itu memang sengaja melakukannya.
Ivy mengusap beberapa butir keringat yang mulai membasahi keningnya. Ia melihat jam tangannya yang hampir mendekati pukul delapan.
"Oh...." Ivy mendengus kesal. Hanya pria itu yang bisa membantunya saat ini.
Kenan mengetukkan jarinya di bawah jendela mobil, menghitung detik demi detik waktu yang berjalan. Ia yakin bahwa Ivy akan membuka pintu mobilnya. Tak ada pilihan lain. Tidak ada satu transportasi umum yang lewat pagi ini.
Ivy mendekati mobil Kenan kemudian membuka pintu berwarna silver itu. Pria itu memalingkan wajahnya menghadap kaca jendela, ia mencoba menahan tawanya saat ini. Tepat seperti dugaannya. Wanita itu benar-benar keras kepala.
Tanpa berkata satu patah katapun, Ivy segera duduk di samping Kenan dan menutup kembali pintu mobil itu. Ia melihat Kenan yang tidak menginjak pedal gas atau menyentuh persneling mobilnya. Mobil itu tak bergerak.
"Sampai berapa lama aku harus menunggu?" tanya Ivy sambil memicingkan kedua matanya menatap Kenan. Ia mengubah posisi duduknya menghadap samping, dengan begitu ia bisa melihat jelas wajah Kenan.
Pria itu hanya menatap lurus ke depan, "Sampai kau mengatakan minta tolong padaku."
"What?" Hampir saja Ivy melompat dari kursinya dengan mata hijaunya yang melotot. Ia tidak habis pikir kenapa ada pria seperti ini.
"Oke-oke, baiklah. Hanya minta tolong. Aku akan mengatakannya!" seru Ivy dengan gusar.
Dalam hati Kenan, pria itu tertawa terbahak-bahak, satu langkah ia berhasil menundukkan wanita itu.
"Tolong antar aku ke perusahaan Sarte!" seru Ivy dengan raut wajahnya yang ditekuk karena terpaksa.
"Sarte?" tanya Kenan yang langsung melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi menuju perusahaan tekstil multinasional yang memproduksi pakaian wanita kelas atas.
"Apa kau tahu tentang perusahaan Sarte?" tanya Ivy yang memasang sabuk pengamannya di samping kursinya.
Kenan mengangkat kedua bahunya tanpa memberikan jawaban. Dia mengetahui banyak tentang perusahaan itu, karena perusahaan Sarte adalah rekan bisnisnya sewaktu pria itu masih memiliki perusahaan Fallay.
"Kenapa kau tidak mencoba mencari kerja kantoran?" tanya Ivy. "Setidaknya pekerjaan kantor tidak membahayakan nyawamu."
Kenan menghembuskan napasnya dalam-dalam. Melalui sudut matanya ia menatap Ivy sekilas. "Karena aku tidak suka diperintah. Aku juga membutuhkan banyak uang saat ini."
"Untuk?" tanya Ivy. Ia berusaha mengenal pria itu lebih jauh.
"Untuk diriku dan seseorang," ucap Kenan dengan datar.
Ivy hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan berusaha mengalihkan pandangannya ke arah jendela agar pria itu tidak melihat manik matanya yang mulai berkaca-kaca.
Kurasa Kenan mempunyai seseorang yang spesial di hatinya, dan orang itu bukan aku.
Percakapan itu mendadak berhenti. Ivy masih terus melihat ke arah jalan. Mobil SUV itu berbelok dan masuk ke halaman depan gedung perusahaan Sarte.
Ivy segera mengucapkan terimakasihnya kepada Kenan. Wanita itu langsung menutup pintu mobil tanpa menunggu perkataan Kenan. Ia melangkahkan kakinya memasuki lobi perusahaan tersebut.
"Ada apa dengannya?" gumam Kenan. Pria itu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Wanita benar-benar membingungkan.
* BERSAMBUNG *
Setelah baca bab ini jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏
__ADS_1