
Setelah kepergian Kenan dari Rumah Sakit Istanbul, Ivy terus menatap ke arah jalan raya. Dari tempatnya berdiri ia melihat mobil SUV itu berputar arah dan terus melaju menuju ke daerah Balat, hingga mobil berwarna silver itu menghilang dari pandangannya.
Telapak tangannya terasa dingin bukan karena angin malam yang berhembus menerpa dirinya. Ia terus menggenggam erat jari tangannya dan menggigit bibir bawahnya berulangkali. Setelah berdiri beberapa detik di depan halaman rumah sakit, ia memutuskan untuk masuk ke dalam.
“Ivy!” panggil seseorang dari arah kiri. Putri Victor itu menoleh mencari sumber suara yang memanggil namanya.
Dari kejauhan ia melihat sosok pria dengan kulit kepalanya yang mengkilap berjalan ke arahnya. Tanpa menunggu kedatangan pria itu, Ivy segera berlari menghampiri pria yang baru saja turun dari mobilnya.
“Mehmet!” Ivy menghentikan langkah pria itu.
Kedatangan Ivy yang tiba-tiba itu sontak membuat pria berkulit gelap itu terkejut. Ia baru saja berjalan beberapa langkah.
“Apa telah terjadi sesuatu dengan Deniz? Aku kesini ingin menjenguk adikmu,” ucap Mehmet.
“Ini bukan tentang Deniz, tapi tentang Kenan. Bisakah kau mengantarku ke rumahnya?” Raut wajah oval itu terlihat sedikit memohon.
“Ayo! Aku akan mengantarmu.” Mereka berdua segera bergegas menuju tempat tinggal Kenan.
Mobil Jeep itu melaju kencang membelah lalu lintas kota Istanbul yang berhiaskan lampu-lampu jalan dengan kemilau warnanya yang beranekaragam. Di dalam mobil, Ivy menceritakan apa yang sedang ia khawatirkan setelah Kenan pergi meninggalkan rumah sakit.
“Mungkin ini hanya perasaanmu saja. Kenan pasti baik-baik saja,” hibur Mehmet yang sekilas melihat wajah Ivy.
Perkataan Mehmet itu seperti angin lalu di telinga wanita itu, ia bahkan tidak bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar. Dimana orang-orang sedang duduk di luar menikmati indahnya rembulan yang menerangi langit Istanbul. Pandangannya terasa kabur melihat sinar cahaya lampu yang melilit di batang pohon.
“Coba kau hubungi dia, mungkin itu bisa membuatmu sedikit lebih tenang.” Mehmet membelokkan mobilnya untuk memasuki daerah Balat.
Nada sambung itu terdengar di ujung ponsel Ivy, tetapi ia tidak mendengar suara Kenan di sana.
“Bagaimana?” tanya Mehmet yang menurunkan kecepatannya.
“Dia tidak menjawab panggilanku.” Ivy masih berusaha menghubungi ponsel putra Harun tersebut.
Lampu sorot mobil berwarna hijau tentara itu membidik sebuah pelat nomor mobil jenis SUV yang Mehmet kenal. Pria gundul itu segera menghentikan mobilnya di belakang mobil berwarna silver yang berhenti di tengah jalan.
“Kau benar, Ivy. Sepertinya ada yang tidak beres.” Mehmet segera melepas sabuk pengamannya dan keluar dari mobil.
Perkataan pria itu sontak membuat jantung Ivy seakan berhenti berdetak. Ia menutup ponselnya dan mengikuti pria itu turun dari mobil.
Kedua orang itu berjalan mengelilingi mobil tersebut, mereka mencoba mengintip keadaan di dalam mobil dari jendela. Mesin mobil masih menyala dan kuncinya masih menempel di bawah kemudi.
“Oh shit!” Mehmet mengeluarkan umpatannya saat ia melihat benda tipis berwarna hitam itu tergeletak di samping ban belakang. “Ivy!”
Ivy yang sejak tadi melihat ke dalam setir kemudi segera berjalan mendekati Mehmet. Kepala berambut gelap itu tampak menggeleng dan bibir tipis itu mendadak terbuka lebar saat ia melihat ponsel Kenan ada di tangan Mehmet.
“Tidak, Mehmet! Ini pasti kesalahan... ini pasti bukan milik Kenan…katamu dia akan baik-baik saja,” ucap Ivy yang mencoba menghubungi ponsel Kenan.
__ADS_1
Ponsel hitam di tangan Mehmet itu bergetar setelah panggilan Ivy tersambung. Manik mata hijau itu meleleh saat melihat layar ponsel itu menyala di kelamnya malam.
Dengan gerakan tangannya Mehmet mengisyaratkan Ivy agar tenang dan tidak panik. Pria berkulit gelap itu membuka layar ponsel milik sahabatnya. Aplikasi terakhir yang dibuka oleh Kenan adalah sebuah aplikasi video.
Jari telunjuk Mehmet menekan aplikasi yang bernama galeri. Manik mata hitam itu mencari video terbaru yang dibuat oleh Kenan. Tampilan video itu terlihat gelap selama beberapa detik, kemudian di detik kesepuluh hanya terdengar suara seseorang yang berkata, “Cukup! Ikat dan bawa dia ke dermaga!”
Mereka saling berpandangan setelah mendengar kata "dermaga". Tanpa menunggu perintah dari siapapun, kedua orang itu segera melompat ke dalam mobil. Mehmet segera melajukan kendaraannya menuju pelabuhan yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal Kenan.
Mehmet menaikkan kecepatan mobilnya, ketika dilihatnya keadaan jalan yang ia lalui terlihat sepi. Bayangan sosok Kenan yang terbaring di ranjang rumah sakit setahun yang lalu, melintas di dalam pikirannya.
“Tidak, ini tidak boleh terjadi lagi. Kau tidak boleh mati!” seru Mehmet sambil memukul setir kemudinya.
Ivy hanya bisa menutup dan mengusap wajahnya membayangkan sesuatu yang buruk terjadi pada Kenan. Bayangan kematian ayahnya yang terbakar di pabrik membuatnya sedikit frustasi. Wanita itu menyandarkan kepalanya di sandaran kursinya. Ia tidak dapat lagi membendung air matanya yang telah tumpah membasahi wajahnya.
Saat mobil itu memasuki jalan lurus bebas hambatan, Ivy sontak berteriak dengan keras. “Itu mobil Ferit!”
Kedua mobil itu saling berpapasan, membuat Mehmet sedikit membelokkan setir kemudinya melewati garis marka.
Setelah mereka berpapasan dengan mobil mewah berwarna hitam, mereka melihat mobil sedan dan mobil jenis SUV yang lain melintas di samping mereka. Ketiga mobil itu berjalan beriringan.
“Ya Tuhan, pasti mereka telah melakukan sesuatu kepada Kenan. Kumohon selamatkan dia sebelum terlambat,” gumam Ivy. Entah kepada siapa wanita itu memohon.
Beberapa detik setelah mereka berpapasan dengan ketiga mobil tersebut, kendaraan tinggi itu memasuki halaman dermaga yang terlihat sepi. Hanya tersisa kemilau cahaya bulan yang memantul di perairan serta beberapa titik lampu kecil yang menerangi mereka. Mehmet dan Ivy mencari keberadaan Kenan, tetapi mereka tidak dapat menemukan jejak pria itu.
“Mehmet, disana!” seru Ivy. Tangannya ia arahkan pada cahaya lampu yang bersinar pada perahu motor.
“Ivy, ayo ikut aku!” Mehmet segera mengajak wanita itu untuk naik ke atas kapal boat berwarna putih. Mereka menggunakan kapal yang sama ketika Hasan menenenggelamkan Kenan di perairan Bosphorus.
Mehmet memanggil sembarang orang yang melintas di depannya. Ia meminta orang itu agar membantunya mengemudikan kapat boat yang baru ia naiki. Ternyata orang tersebut adalah seorang nelayan. Nelayan baik hati itu bersedia membantu Mehmet, pria muda itu mengemudikan kapalnya dan berhenti di samping perahu motor.
“Bantu aku, tadi kulihat ada seseorang yang tenggelam di dalam sana,” ucap pengemudi perahu motor yang lebih dulu masuk ke dalam air.
Perkataan pengemudi itu bagaikan sebuah gulungan ombak yang menerjang Ivy. Wanita itu segera berpegangan pada pagar kapal.
Seseorang yang tenggelam? Apa yang dimaksud pria ini adalah Kenan? Kenan tenggelam?
“Apa kalian bisa berenang?” tanya nelayan itu kepada Mehmet dan Ivy.
“Aku bisa. Aku akan membantu mencari orang itu. Sepertinya orang yang tenggelam itu adalah orang yang kami cari,” jawab Mehmet. Ia meminta Ivy untuk menunggunya di atas kapal.
Mehmet melepas kemeja, sepatu dan barang-barang miliknya. Diletakkan barang-barang itu di dalam kapal. Nelayan itu memberikan tabung oksigen kepada Mehmet, tabung yang ia temukan di ruang dalam kapal. Dengan perlengkapan seadanya, Mehmet dan kedua orang itu berenang mencari Kenan.
Deburan air laut terasa menusuk rongga-rongga tulang mereka. Ketiga orang itu semakin dalam masuk ke dalam perairan. Sementara di atas kapal, Ivy mendudukkan dirinya di sebuah kursi kayu. Malam ini ia hanya bisa berdoa pada Tuhan, apapun yang terjadi ia hanya ingin melihat Kenan selamat.
“Dia orang baik, tidak seharusnya dia menderita karena dia ingin menolongku dan Deniz. Kumohon jangan ambil nyawanya. Kumohon selamatkan dia. Kumohon biarkan dia hidup. Aku tidak ingin mengucapkan selamat tinggal kepadanya.” Ucapan itu nyaris tidak terdengar dari mulut Ivy, hanya bibir tipis itu yang bergerak ke atas dan ke bawah.
__ADS_1
Suara deburan air mulai terdengar membuat Ivy segera beranjak dari tempat duduknya. Ia melangkahkan kakinya untuk melihat keadaan di perairan itu.
Ivy menyorotkan lampu senternya ke perairan yang terlihat gelap. Cahaya lampu mercusuar membantunya melihat sebuah tangan yang terangkat ke atas. Melihat tangan itu, seakan secercah harapan timbul di dalam hatinya.
Selang beberapa detik kemudian, muncullah ketiga orang itu ke atas permukaan air. Ivy mencari sosok Kenan diantara mereka, tetapi ia tidak melihat pria itu. Ingin rasanya ia melompat ke dalam air dan berenang mencari Kenan, tetapi apa daya dirinya tidak bisa berenang.
“Lemparkan talinya!” seru nelayan itu kepada Ivy. Wanita itu segera masuk ke dalam kapal mencari tali yang dimaksud pria kurus tersebut.
Manik matanya melihat gulungan tali yang masih tersusun rapi di bawah kursi yang ia duduki beberapa waktu yang lalu. Ia segera mengambil gulungan tali itu dan melemparkannya ke dalam air dan mengikat ujungnya di tiang.
Pengemudi kapal motor itu menangkap ujung tali tersebut, ia segera mengikat tali itu kepada sesuatu yang tidak bisa Ivy lihat. Ia dan nelayan tersebut naik ke atas kapal, sementara mereka meninggalkan Mehmet yang masih mengapung di dalam air.
“Ayo angkat dia!” seru salah satu dari mereka. Mendengar perkataan pengemudi motor itu, membuat Ivy bertanya-tanya.
Dia siapa? Apa yang mereka maksud Kenan?
Kedua orang itu menarik tali yang telah melilit di tubuh seseorang. Mehmet membantu mengangkat orang itu untuk naik ke atas, perlahan-lahan tubuh yang membujur kaku itu telah berpindah tempat ke atas kapal.
“Kenan!” Ivy segera menghampiri pria yang terbaring di atas dek kapal. Rambut dan seluruh tubuhnya basah kuyup.
Manik mata abu-abu gelap itu seakan menutup dirinya malam ini. Ivy tidak dapat melihat manik mata itu berbicara padanya dalam kehangatan dan kelembutan seperti biasanya.
Nelayan itu mengambil pisau lipatnya dan memutus ikatan tali yang melilit tubuh dan tangan Kenan.
“Apa dia selamat? Apa dia masih hidup?” Ivy memandang wajah kedua pria yang berdiri di dekatnya secara bergantian.
“Kenapa kalian diam saja? Katakan padaku….” Ivy jatuh terduduk dengan suaranya yang tercekat di tenggorokannya. Ia menggenggam telapak tangan pria itu, tangan itu terasa dingin dalam genggamannya.
“Segera beri dia napas buatan!” seru Mehmet setelah dirinya naik ke atas kapal. Ketiga orang itu berpandangan. Namun sorot mata Mehmet mengarah kepada Ivy yang terduduk di samping Kenan.
“Kami semua laki-laki, hanya kau yang bisa memberikan napas buatan untuknya,” ucap Mehmet yang berdiri di sisi Kenan yang lain.
“Sebelum dia pergi untuk selama-lamanya," lanjutnya.
Manik mata hijau itu kembali memerah ketika ia mendengar perkataan Mehmet yang terakhir. Ivy menyibakkan rambut panjangnya ke belakang, dengan jari tangannya ia menjepit wajah Kenan dan meletakkan bibirnya di bibir pria itu. Ia memberikan hembusan napasnya untuk kehidupan pria yang telah memasuki ruang hatinya. Sementara Mehmet tengah memompa dada pria itu.
Ia mengangkat wajahnya kembali dan meletakkan bibirnya di atas bibir Kenan. Kedua bibir itu menyatu dan ia menghembuskan napasnya kembali ke rongga mulut pria itu. Kali ini napas buatan Ivy mampu membuat Kenan menggerakkan tangannya, kemudia pria itu sedikit mengangkat kepalanya dan menyemburkan air laut yang telah masuk ke dalam mulutnya.
Ketiga orang pria itu tersenyum melihat pria yang tenggelam itu berhasil selamat, tetapi dua detik kemudian pria itu kembali menjatuhkan kepalanya.
“Kenan!” jerit Ivy di malam yang gelap itu.
Pandangannya terasa gelap dan dunianya terasa berputar melihat putra Harun itu kembali tergeletak dengan kelopak matanya yang terpejam.
* Bersambung *
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏