
Setelah berhasil menyalip dua mobil yang ada di depannya. Kini Kenan berada tepat di belakang mobil sedan berwarna hitam. Namun di sebuah jalan raya yang luas dengan bangunan gedung pencakar langit yang berwarna-warni, mobil sedan hitam itu tiba-tiba berbelok dan berjalan mundur. Ferit mengeluarkan moncong pistolnya dan mengarahkannya pada mobil SUV milik Kenan. Putra Harun itu juga mengarahkan senjata apinya ke arah mobil sedan yang ada di depannya.
Selisih beberapa detik, Kenan memilih membanting setir kemudinya ke kiri, menghindari tembakan peluru Ferit. Alhasil peluru itu melenceng dan mengenai mobil anak buah Mehmet yang berada di belakang mobil Kenan. Mobil itu meledak berserta dengan pengemudi yang ada di dalamnya. Sementara mobil SUV itu menabrak sebuah restoran cepat saji.
Kenan langsung menutupi wajahnya dengan kedua lengannya untuk menghindari pecahan kaca yang beterbangan di depannya. Serpihan kaca jendela mobil dan kaca jendela restoran itu semburat di dalam mobil dan di lantai. Bantal pelindung yang ada di setir kemudi itu langsung menggembung melindungi kepala Kenan, ketika mobilnya menabrak sebuah pilar beton yang ada di tengah ruangan. Mobil itu langsung berhenti di depan pilar dengan tubuh bagian depannya yang rusak parah akibat hantaman keras tersebut. Perkataan Ivy yang memintanya pulang dengan selamat terngiang-ngiang di kepala Kenan.
“Aku harus segera keluar dari sini,” gumamnya sambil memegang kepalanya yang terasa pusing.
Putra Harun itu membuka pintu mobilnya perlahan-lahan dan segera keluar dari kendaraannya. Dilihatnya cairan bahan bakarnya menetes membasahi lantai restoran. Ia berusaha menyeret kedua kakinya untuk mencapai pintu keluar, dan ledakan besar itu langsung terjadi tepat ketika Kenan menapakkan kakinya di depan bangunan tersebut. Tubuhnya terasa terlempar di tengah jalan raya, ketika suara dentuman yang keras itu terjadi.
Wajahnya terasa panas begitu melihat kobaran api membumbung tinggi di depan matanya. Hembusan napasnya terdengar berat, bersyukur dirinya masih selamat meskipun kehilangan mobilnya. Beberapa mobil berhenti di sekitarnya untuk melihat apa yang telah terjadi.
Ferit yang melihat ledakan itu terjadi dari langsung tertawa menyeringai. Ia memutar mobilnya ke arah yang berlawanan.
“Hei, berhenti!” teriak Kenan yang melihat mobil Ferit ingin meninggalkan tempat kejadian. Suami Ivy itu berusaha untuk mengejar mobil tersebut, tetapi langkahnya jauh tertinggal dari laju kendaraan itu.
Pengemudi mobil sedan hitam itu hanya melambaikan tangannya dari kaca jendela dan meninggalkan kekacauan yang baru saja terjadi. Dilihatnya dari pantulan kaca spionnya bahwa sudah tidak ada lagi kendaraan lain yang mengikutinya, pria berambut panjang itu mengambil ponselnya yang lain. Dari balik kemudinya, ia mencoba menghubungi anak buahnya yang berada di rumah sakit. Namun, ia terlambat satu langkah, pihak rumah sakit telah menghubungi polisi dan berhasil menangkap anak buah Ferit yang menyandera Cansu.
“Halo, disini Kapten Polisi.”
“Sial! Kenapa bisa ada polisi?” Ferit langsung menutup ponselnya begitu ia mendengar suara sang Kapten dari ujung ponselnya. Ia langsung mengemudikan mobilnya dengan kencang, menghilang di gelapnya cahaya malam.
Ketika di pertengahan jalan, Mehmet berubah pikiran. Pria gundul itu memilih untuk menolong Cansu dan membelokkan mobilnya menuju rumah sakit. Ia langsung berlari ke kamar kekasihnya. Ia melihat dua orang anak buahnya sedang di periksa oleh petugas polisi dan tiga orang lainnya yang sepertinya anak buah Ferit di gelandang beberapa orang petugas.
“Dua orang ini tidak bersalah, Pak,” kata Mehmet kepada Kapten polisi. “Mereka orang-orang ku yang aku perintahkan untuk menjaga pasien.”
“Kami hanya meminta keterangan mereka,” jawab sang Kapten.
“Oke, silahkan. Dimana Cansu?”
“Wanita itu ada di dalam.”
Kapten Polisi itu mengarahkan telunjuknya pada daun pintu. Mehmet mengarahkan pandangannya kepada seorang wanita yang terduduk di atas ranjang dan seorang wanita polisi yang menemaninya.
“Mehmet….” Cansu langsung menghambur ke pelukan kekasihnya dengan deraian air mata, begitu ia melihat pria gundul itu masuk ke dalam kamarnya.
Rasa takut akibat penculikan dan pemerkosaan itu belum reda, kini rasa takut itu semakin bertambah setelah anak buah Ferit menyekapnya dan melihat polisi ada di dalam kamarnya.
“Ada aku… aku di sini, semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah.” Mehmet mengusap punggung Cansu naik turun, ia bisa merasakan tubuh ramping itu bergetar hebat.
“Aku ingin pulang.”
Perkataan Cansu langsung membuat Mehmet menegakkan kepalanya. Pria itu termenung untuk beberapa saat, tak kunjung memberikan jawaban atas permintaan kekasihnya. Baru beberapa jam yang lalu ketika berada di sasana tinju, Kenan memberitahu kabar tertangkapnya Sophia.
“Aku akan menemanimu malam ini. Besok kita akan pulang,” ujar Mehmet. Hanya perkataan itu yang bisa keluar dari bibir mulutnya. Menunda kepulangan Cansu untuk satu malam, entah malam berikutnya alasan apalagi yang akan ia gunakan.
......................
__ADS_1
Sang rembulan telah memasuki waktu dini harinya. Semburan air yang berasal dari mobil petugas pemadam kebakaran berhasil memadamkan amukan sang jago api. Kenan memilih menyingkir dari kumpulan orang-orang yang sedang melihat kebakaran yang terjadi. Ia berjalan tertatih-tatih di atas trotoar sambil menghubungi Mehmet.
“Dimana kau?” tanya Kenan setelah sambungan ponselnya terhubung dengan ponsel Mehmet.
“Aku ada di rumah sakit. Tadi polisi kemari, mereka berhasil menangkap anak buah si keparat itu. Bagaimana dengan tangkapan kita?”
“Dia berhasil kabur. Mobilmu dan satu mobil anak buah mu terbakar.”
“Setelah pagi, aku akan mencari keberadaannya. Asal si keparat itu masih berada di Istanbul, aku pasti akan menemukannya. Pulanglah. Nanti aku akan menghubungimu.”
Sepasang sepatu kets itu kembali berjalan menyusuri trotoar demi trotoar. Dilihatnya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, hampir mendekati pukul dua dini hari. Perjalanannya ke apartemennya masih jauh. Kenan berusaha mencari kendaraan umum untuk pulang, tetapi tak satu pun taksi atau pun metro yang muncul pada waktu jam tidur manusia normal.
Dari kejauhan dilihatnya sebuah mobil box tanpa penutup yang akan melintas di depannya. Kenan mengayunkan ibu jarinya untuk menghentikan mobil tersebut.
“Ada apa?” tanya sang sopir ketika mobil yang dikemudikannya berhenti di samping Kenan.
“Boleh aku menumpang mobilmu?” Kenan mendekatkan dirinya hingga menempel pada kaca spion.
“Naiklah!” Sopir mobil box itu menggerakkan kepalanya ke belakang.
Tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Kenan segera melompat ke dalam box terbuka. Pria itu terduduk di atas kain terpal yang menutupi dasar box. Terkadang ia menatap pada gelapnya langit yang bertaburan banyak bintang di angkasa. Kumpulan awan hitam menutupi sinar sang rembulan. Hembusan napasnya bercampur dengan udara musim semi.
Mobil box itu berbelok ke kiri, Kenan langsung melihat arah jalannya. Kemana sopir kendaraan ini membawanya pergi, mendekati apartemennya atau malah menjauhinya. Ternyata mobil box itu melaju searah dengan jalur pulangnya.
“Berhenti!” seru Kenan sambil mengetuk kaca jendela belakang mobil tersebut.
Dengan hati yang sangat merindukan istrinya, Kenan menaiki lift menuju lantai tujuh, tempat tinggal barunya. Cahaya terang itu menyambut kedatangannya ketika pria itu baru saja masuk ke dalam ruang apartemennya. Dilihatnya Ivy yang telah memakai pakaian tidurnya tertidur di atas sofa dengan layar televisi yang masih menyala dan ponsel yang berada di dekatnya.
“Ternyata kau benar-benar menunggu ku pulang, Sayang,” gumamnya seraya mencium kening wanita yang baru saja dinikahinya beberapa jam yang lalu. Ia pun mendudukkan dirinya di samping Ivy.
“Kenapa kau tidak tidur di kamarku?” Kenan mengusap anak rambut berwarna coklat yang membingkai wajah oval istrinya. Diusapnya pipi yang bersemu kemerahan itu dengan lembut, membuat pemilik wajah itu menggeliat.
Kenan memasukkan salah satu lengannya di belakang leher Ivy dan lengan yang lain di belakang lipatan lututnya, menggendongnya ala bridal style. Kelopak mata Ivy sedikit terbuka ketika suaminya telah membaringkannya di atas ranjang. Samar-samar ia melihat wajah suaminya yang telah berada di atasnya.
“Kenan? Kau sudah pulang?” Ivy menyentuh wajah tegas berbentuk persegi dengan pandangannya yang masih sayu dan mengantuk.
Pria berkumis tipis itu hanya membalas pertanyaan istrinya dengan senyumannya yang menawan. Berbeda dengan Ivy, begitu ia melihat wajah istrinya, rasa kantuknya seakan terbang entah kemana.
“Aku akan menyiapkan pakaian tidurmu.” Ivy hendak menjauhkan tubuh Kenan dari atas tubuhnya, tapi pria itu malah membuatnya semakin menempel dengan ranjangnya.
Manik mata hijau itu bergerak-gerak seakan sepasang bola mata itu ingin mencari tahu, apa yang akan dilakukan suaminya selanjutnya. Dua pasang mata itu saling berpandangan dengan jarak yang sangat dekat. Kedua hidung mancung hampir menempel satu sama lain. Ivy berusaha mengalihkan kegugupannya dengan bertanya, “Apa kalian berhasil menangkap Ferit?”
“Hssttt….” Kenan menutup bibir Ivy dengan jari telunjuknya. Ia tidak ingin malam yang indah ini diisi dengan nama
si perusak itu.
“Aku tidak ingin membicarakannya,” bisik Kenan dengan ucapannya yang nyaris tanpa suara.
__ADS_1
“Aku ingin membayar hutangku malam ini,” desis Kenan tepat di telinga Ivy, membuat pipi wanita itu kembali bersemu merah dan terasa panas menahan rasa malunya.
Pria itu langsung menempelkan bibir coklatnya di cuping telinga istrinya. Menghirup aroma tubuh sang dara lewat lekukan lehernya yang dalam. Manik mata hijau itu menutup dirinya, ketika bulu-bulu tipis milik Kenan mulai menyentuh wajahnya. Aroma mint milik Kenan membuat pikiran Ivy melayang. Bibir coklat itu pun
langsung mendaratkan dirinya di bibir tipis tanpa polesan lipstik.
Sekali rengkuhan, Kenan berhasil mengangkat tubuh istrinya tanpa melepaskan pagutan bibirnya. Pria itu pun membawa Ivy masuk ke dalam kamar mandi. Menurunkan tubuh ramping itu tepat di bawah kepala shower. Percikan air yang berasal dari pancuran shower itu membasahi kedua tubuh yang masih terbungkus dengan selembar kain. Sepasang pengantin baru itu pun bagaikan bermain di bawah derasnya air hujan yang turun dari langit. Kenan langsung menanggalkan pakaiannya.
“Apa kau kedinginan?” tanya Kenan yang mengunci tubuh istrinya dengan kedua tangannya yang menempel di dinding.
Ivy hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum manis. Buliran-buliran air yang mengalir dan membasahi bulu-bulu tipis itu, membuat wajah suaminya terlihat semakin seksi. Ia pun menyentuh alis, hidung, kumis, bibir coklat hingga bulu dada Kenan dengan ujung jari telunjuknya. Ujung jari itu menari-nari di atas dada bidang Kenan, sementara manik mata hijau itu menatap manik mata abu-abu gelap itu dengan penuh cinta.
Apa yang dilakukan Ivy itu semakin membuat hasrat Kenan naik. Pria itu pun langsung menanggalkan pakaian tidur Ivy. Bibir coklat itu langsung menjelajahi tubuh ramping yang ada di depannya. Desahan yang keluar dari mulut Ivy, semakin membuat Kenan menekan bibirnya di kulit putih nan mulus itu. Pria itu selalu meninggalkan jejaknya di setiap lekukan yang ada. Ivy kembali mendesah, sentuhan Kenan semakin membuatnya melayang entah kemana. Busa sabun hampir memenuhi setiap jengkal kulit mereka.
Entah sudah berapa lama mereka bermain di dalam kamar mandi, Kenan kembali menggendong Ivy dan merebahkannya di atas ranjangnya. Pria itu pun kembali memanasi tubuh Ivy dengan sentuhan bibir dan tangannya. Melihat wajah dan napas Ivy yang sudah mulai berubah, Kenan segera menembus benteng pertahanan istrinya.
Telapak tangan Ivy mencengkeram erat kain seprei yang ada di bawah tubuhnya ketika Kenan berhasil menembus benteng pertahanannya. Suara desahan demi desahan keluar dari kedua bibir pasangan tersebut. Kini butiran peluh yang membasahi tubuh keduanya saat mereka melakukan penyatuan dan membuat Ivy menjadi miliknya seutuhnya. Tubuh berotot itu pun ambruk di samping tubuh Ivy, setelah pria itu berhasil mengeluarkan seluruh hasratnya.
Keesokan harinya, sepasang suami istri yang masih terlelap itu dikejutkan oleh suara dering ponsel Kenan yang berbunyi. Kenan mengayunkan tangan kanannya ke meja kecil yang ada di samping tempat tidurnya. Karena matanya yang masih terpejam, alhasil ayunan tangan itu malah membuat ponsel itu jatuh ke lantai. Membuat ponsel itu terlepas dari baterainya.
“Siapa?” tanya Ivy dengan matanya yang juga masih terpejam.
“Aku tidak tahu. Tidurlah,” ucap Kenan dengan suaraya yang parau. Ia langsung menarik tubuh polos Ivy ke dalam dekapannya dan menutupinya dengan selimut.
Mereka yang hanya tertidur sekitar empat jam masih terasa berat untuk membuka kelopak matanya. Kali ini ponsel Ivy yang berdering. Sewaktu Kenan menggendong Ivy masuk ke dalam kamar, pria itu meninggalkan ponsel istrinya begitu saja di sofa ruang tamu.
Ponsel itu terus berdering untuk yang kedua kalinya. Deniz yang baru saja bangun, langsung menghampiri ponsel kakaknya. Dilihatnya layar berbentuk persegi panjang itu, deretan angka yang tidak ada namanya.
“Sepertinya ini bukan nomor Istanbul?” gumam Deniz yang melihat ada sebuah kode tiga digit angka yang ada di depan, yang biasanya digunakan oleh penelepon dari luar negeri.
“Ponsel siapa yang berbunyi?” tanya Nur yang melihat bocah itu memandangi ponsel yang ada di tangannya.
“Ini punya Ivy.” Deniz meletakkan kembali ponsel berwarna hitam itu seiring dengan berhentinya nada dering tersebut, karena ia tidak berani mengangkat ponsel kakaknya.
"Mereka masih tidur. Nanti katakan saja pada kakakmu kalau ada yang mencarinya.” Setelah mengatakan hal itu, Nur pergi meninggalkan Deniz.
......................
“Bagaimana? Apa sudah tersambung?” tanya seorang pria kepada manajernya dengan bahasa Perancis nya.
“Saya sudah menghubungi CEO dan designernya tetapi tidak ada satupun dari mereka yang mengangkat ponselnya,” jawab sang manajer.
“Dua jam lagi, coba hubungi mereka kembali. Jika mereka tidak bisa dihubungi, coret nama perusahaan mereka dari daftar kita.”
“Baik, Tuan.”
...****************...
__ADS_1