Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Perjanjian Kerjasama Dengan Puzulla Diperbarui


__ADS_3

Pintu ruangan itu terbuka, membuat Kenan memfokuskan perhatiannya pada seorang pria yang duduk di kursi kerjanya daripada mengingat segala kenangannya tentang ruang kerjanya dulu. Pria yang semula duduk itu kemudian bangkit berdiri ketika Ivy menyapanya dengan panggilan Tuan Erhan.


Oh, jadi pria ini yang bernama Erhan Romzan. Apanya yang lebih muda dariku? Dia bahkan sepertiga abad lebih tua dariku! Bagian mana darinya yang terlihat lebih gagah dariku? Tampan? Hahahaha... Sayang, jika kau menilaiku dengan angka sembilan. Maka si Erhan ini mungkin hanya lima.


Pria yang bernama Erhan itu menanyakan kepada Ivy, tentang laki-laki yang bersamanya saat ini. Ia tidak mengetahui siapa Kenan sebenarnya.


“Tuan Erhan, dia adalah Kenan Fallay. Pemilik sekaligus CEO Perusahaan Falea. Meskipun aku juga pemilik Falea, tapi saya lebih tertarik untuk membuat desain rancangan. Untuk masalah bisnis, Tuan Erhan bisa membicarakannya dengannya,” jelas Ivy ketika mereka bertiga akan duduk di atas sofa yang berbeda.


“Senang bertemu dan berkenalan dengan Anda, Tuan Kenan. Aku Erhan Romzan.” Pria dengan setelan jas birunya itu mengulurkan tangannya kepada Kenan.


Kedua pria itu pun saling berjabat tangan. “Senang bertemu dan berkenalan dengan Anda juga, Tuan Erhan.”


Setelah Erhan mempersilahkan kedua tamunya untuk duduk, Ivy langsung memberikan hasil rancangan keduanya kepada CEO tersebut. Putri Victor itu membuat empat buah desain dengan dua model pakaian yang berbeda.


"Kami memberikan alternatif pilihan warna dan detail yang berbeda untuk masing-masing desain,” jelas Kenan setelah ia melihat Erhan sedang memperhatikan satu per satu desain yang dibuat oleh Ivy.


“Ya… ya…, aku mengerti. Kurasa dua desain ini lebih menarik dan bisa diterima oleh pasar,” ucap Erhan yang pandangannya masih menatap kertas gambar tersebut.


“Menurutku keempat desain itu sangat menarik, Tuan Erhan. Puzulla bisa memberikan berbagai alternatif kepada customer-nya. Anda pasti tahu bahwa selera wanita itu sangat beragam, tidak seperti kita kaum pria.” Kenan berusaha menjual semua desain Ivy kepada Erhan.


“Wanita tidak menyukai jika ada orang lain yang memakai pakaian yang sama dengannya. Apalagi jika mereka saling bertemu di tempat yang sama. Benarkan, Ivy?” Kenan melirik kekasihnya yang duduk di sampingnya.


Ivy hanya menganggukkan kepalanya. Dalam hatinya ia setengah memuji kehebatan Kenan dalam melobi, tapi setengahnya lagi dia merutuki pria itu. Kenapa juga membawa namanya?


“Kenapa Anda tidak mengambil semuanya?” lanjut Kenan. Putra Harun itu masih melihat sedikit keraguan di wajah Erhan.


Erhan meletakkan keempat desain itu di atas meja kemudian menyeruput minuman hangat yang telah disediakan oleh sekretarisnya. “Jika Puzulla hanya mengambil dua, apa kau akan menjual sisanya ke perusahaan lain?”


Kenan mencondongkan tubuhnya. “Bukankah sudah tertulis di dalam kontrak, bahwa Puzulla tidak akan membatasi penjualan desain rancangan kami. Falea bebas menjualnya pada pihak manapun, Tuan Erhan.”


Erhan mengernyitkan keningnya dan menatap Kenan yang duduk di sofa yang berbeda dengannya. Di atas sofa tunggalnya itu ia berkata dalam hatinya.


Pria ini sangat cerdas. Dia sangat berbeda dengan Ivy Eleanor. Dia bahkan mengerti isi perjanjian yang tidak aku sebutkan kepada Ivy beberapa waktu yang lalu. Aku memang sengaja tidak memberitahu wanita itu. Ini adalah kelemahan Puzulla, yang tidak mempunyai desainer sendiri. Ehm... seandainya saja Ivy Eleanor mau menjadi desainer khusus Puzulla.


“Baiklah, aku akan mengambil semuanya. Tapi untuk soal pembayaran, aku akan membayar dua rancangan,” cetus Erhan.


Putra Harun itu menyandarkan punggungnya kembali dan tersenyum sinis.


“Apa pantas perusahaan sebesar Puzulla hanya membayar dua rancangan dari empat rancangan? Itu sama saja menyuruh desainer ku kerja bakti untuk perusahaan Anda!”


Ivy hanya duduk diam memperhatikan dua laki-laki ini saling bernegosiasi.


“Berapa yang kau mau?” tanya Erhan sambil menyilangkan salah satu kakinya.

__ADS_1


“EMPAT kali lipat dari pembayaran Anda yang pertama,” ucap Kenan dengan penekanan.


“Apa?” Erhan langsung bangkit berdiri. “Kau jangan bercanda, Tuan Kenan!”


Kenan menatap Erhan dari tempat duduknya. Pria tampan itu tersenyum tipis kemudian meminta Ivy untuk mengeluarkan surat perjanjian mereka.


“Aku tidak bercanda, Tuan Erhan,” Kenan berkata setelah ia beranjak dari sofanya.


“Di dalam surat perjanjian ini, Anda tidak menjelaskan berapa Lira yang akan diberikan oleh Puzulla untuk membeli rancangan desain kami!” seru Kenan yang menjatuhkan berkas perjanjian itu di atas meja.


Erhan terdiam mendengar perkataan Kenan.


“Karena itu, aku berhak minta pembayaran empat kali lipat dari pembayaran yang pertama. Beberapa waktu yang lalu, kami memberikan satu rancangan. Kali ini kami memberikan empat rancangan. Itu tidak akan membuat perusahaan sebesar ini bangkrut!” tandas Kenan yang membuat Erhan seakan mati kutu di tangan putra Harun tersebut.


“Aku akan mengubah surat perjanjiannya!” seru Erhan dengan lantang.


“Aku akan menarik kembali rancangan desainnya.” Kenan menimpali perkataan Erhan dengan tenang. Ia mengambil empat lembar desain Ivy dan mendaratkan tubuhnya di samping kekasihnya.


Erhan pun kembali ke tempat duduknya. “Sebenarnya apa mau mu, Tuan Kenan? Kau tidak ingin aku mengubah surat perjanjiannya? Tapi kau mengambil kembali rancangan itu.”


“Sederhana saja, Tuan Erhan. Jika Anda ingin mengubah perjanjiannya, Anda bisa mengubahnya besok atau hari ini. Kami bisa menunggu. Tapi selesaikan pembayarannya sekarang!” gertak Kenan.


CEO Puzulla itu hanya menggelengkan kepalanya dan berdecak setelah mendengar perkataan Kenan. “Apa harga itu sudah pasti? Tidak bisakah kau menurunkannya sedikit?”


Kenan memalingkan wajahnya kepada Ivy. Ia ingin mendengar pendapat desainer sekaligus kekasihnya. Wanita itu memberikan jawabannya melalui pegangan tangannya yang dibalas dengan pegangan tangan Kenan. Erhan yang melihat hal itu, langsung menilai bahwa kedua orang itu bukan hanya sekedar rekan kerja.


Erhan mengusap dagunya di depan Kenan kemudian berkata dalam hatinya, “Dia benar-benar membuatku tak berdaya.”


Pria berusia tiga puluh lima tahun dengan rambutnya yang bergelombang itu langsung menghubungi bagian keuangannya untuk menerbitkan cek pembayaran untuk Perusahaan Falea. Ia menyebut nominal tertentu dalam Lira.


“Aku akan menyuruh bagian Legal Officer kami untuk mengubah surat perjanjiannya hari ini,” ujar Erhan yang langsung menghubungi bagian karyawannya yang mengurus hukum dan hubungan Puzulla dengan pihak luar.


Kenan menaikkan sudut bibirnya. “Silahkan. Dengan senang hati kami akan menunggu.”


Beberapa menit kemudian, seorang wanita dan seorang pria masuk ke dalam ruangan Erhan dengan membawa berkas yang diminta oleh CEO Puzulla tersebut.


Dua orang yang baru saja memasuki ruangan itu terkejut melihat kehadiran Kenan di tempat ini, karena mereka masih mengenali mantan atasannya dulu.


Banyak kabar yang mengatakan bahwa putra Harun itu sudah meninggal di hari pernikahannya setahun yang lalu. Namun Kenan memberikan kode agar mereka tetap diam. Putra Harun itu juga masih mengenali mereka, Elif dan Omer.


“Ini cek yang Tuan minta.” Manajer itu memberikan selembar cek yang sudah diisi dengan ketikan huruf dan angka kepada Erhan, tetapi manik matanya mencuri pandang menatap wajah Kenan. Ia masih tidak percaya, bahwa pria yang ada di dalan ruangan ini adalah Kenan Fallay.


Erhan langsung menandatanganinya, membubuhkan stempel Puzulla di atas tanda tangannya kemudian memberikan kertas berharga itu kepada Kenan.

__ADS_1


“Pembayaran sudah aku terima. Ini rancangan desainnya. Sekali lagi aku ucapkan terimakasih untuk Anda, Tuan Erhan,” ucap Kenan.


“Omer, mana dokumen yang aku minta!” seru Erhan kepada karyawannya yang lain.


Pria yang bernama Omer itu memberikan beberapa lembar kertas yang diminta oleh Erhan. Reaksinya juga sama seperti teman kerjanya yang masih belum mempercayai kehadiran Kenan.


Sang CEO pun membacanya lebuh dulu kemudian memberikannya kepada Kenan.


“Apa kau sudah sepakat?” tanya Erhan, ketika ia melihat pemilik sekaligus CEO Falea itu sedang membaca surat perjanjiannya yang baru dengan raut wajah yang serius.


“Oke… jumlah pembayaran sudah ditetapkan dan akan berubah sesuai dengan pasar. Puzulla juga membebaskan Falea untuk menjual rancangannya yang lain kepada pihak lain. Surat perjanjian yang lama, tidak berlaku lagi. Aku setuju!” seru Kenan yang langsung menandatangani surat dua rangkap tersebut dan membubuhkan stempel Falea.


Disaksikan oleh kedua karyawannya, Erhan juga menandatangani surat perjanjiannya yang baru dan membubuhkan stempel Puzulla.


Saat Omer membubuhkan parafnya pada masing-masing lembaran, ia melihat tanda tangan Kenan. Tanda tangan itu masih sama seperti yang dulu.


Ternyata benar, pria ini adalah Kenan Fallay. Anak almarhum Tuan Harun Fallay. Dia masih hidup.


“Semua urusan sudah selesai, kami akan undur diri, Tuan Erhan. Senang bekerjasama dengan Anda,” ucap Kenan setelah ia menerima salinan surat perjanjiannya.


Pria itu bangkit berdiri kemudian di susul oleh Ivy. Ketiganya pun saling berjabat tangan.


“Elif… Omer…, antarkan Tuan Kenan dan Nona Ivy ke lantai bawah!” Erhan memerintah kedua manajernya.


Kedua manajer Puzulla itu diam mematung begitu Erhan menyebutkan nama Kenan di dekat telinga mereka.


“Elif! Omer!” teriak Erhan yang membuat semua orang terkejut. “Apa kalian tidak mendengarkan ku?”


“Tak usah repot-repot, Tuan Erhan. Kami akan turun sendiri,” ucap Kenan.


Putra Harun itu mengajak Ivy untuk keluar dari ruangan Erhan dan turun menuju lantai basement tempat parkir mobil mereka.


Sementara itu, Elif dan Omer berusaha mengejar sepasang kekasih itu tetapi kedua orang itu telah menghilang dari peredarannya.


“Tuan Kenan ternyata masih hidup, Omer!” seru  Elif kepada teman kerjanya.


“Aku juga tak percaya. Tapi setelah aku melihat tanda tangannya, ternyata dia adalah orang yang sama,” imbuh Omer. Mereka berdua masuk kembali ke gedung Puzulla.


“Jika Tuan Kenan masih hidup, lalu Nyonya Hazal dan Tuan Yafet? Lalu siapa wanita yang bersama Tuan Kenan tadi?” Elif menggaruk kepalanya yang tidak gatal di hadapan Omer.


“Itu bukan urusan kita! Kerjakan saja tugasmu, jangan menggosip!” seru Omer.


“Omer, bagaimana kalau Tuan Kenan akan kembali lagi ke perusahaan ini? Bukankah Tuan Kenan itu lebih baik daripada Tuan Erhan? Tuan Kenan memang dingin dan pemarah tapi soal gaji, dia tidak pernah pelit!”

__ADS_1


Omer langsung menutup mulut temannya. “Pelankan suaramu. Apa kau ingin dipecat? Kembalilah bekerja dan tetaplah diam, jika kau tidak ingin kehilangan jabatan manajermu!”


Elif tersenyum kemudian menggerakkan tangannya seolah ia sedang mengunci mulutnya sendiri. Keduanya pun berpisah setelah pintu lift terbuka.


__ADS_2