Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Sidang Pertama (Part 3)


__ADS_3

“Apa tidak ada lagi saksi yang Pembela ajukan?” tanya sang Hakim kepada Hazal.


Pengacara wanita itu mengangkat kepalanya menatap sang Hakim yang duduk di singgasananya. “Ada, Yang Mulia.”


“Nyonya Ivy Fallay, silakan Anda memberikan kesaksian.” Hazal bangkit berdiri dan memanggil istri Kenan yang duduk di bangku belakang.


Ivy berjalan menuju kursi saksi yang berada di depan kursi pesakitan para terdakwa. Hanya tersisa Kenan—penghuni kursi tersebut, setelah beberapa menit yang lalu Hakim mengusir Mehmet. Saat Ivy akan menduduki tempat duduknya, ia melihat Kenan masih terus menatap Hazal yang duduk di kursi pembela. Kedatangan Jaksa Onur membuyarkan segala kegundahan hatinya.


“Apa sebelumnya Anda dan korban saling mengenal? Atau sebelumnya kalian pernah terlibat konflik?” tanya Jaksa Onur yang berdiri di depan Ivy.


“Sebelum ayah saya meninggal, ayah saya pernah menjodohkan saya dengan korban. Tetapi saya menolak dan memilih kabur di hari pernikahan, hingga kemudian saya bertemu dengan Kenan. Dialah yang menolong saya selama ini.”


“Kemudian menikahi Anda?” Ivy hanya menganggukkan kepala setelah mendengar pertanyaan Jaksa Onur, “Yang Mulia, berarti terdakwa Kenan Fallay bukan hanya membunuh korban tetapi telah merebut calon pengantinnya. Apa salah jika korban berniat mengambil calon pengantinnya kembali? Tetapi para terdakwa itu membunuhnya dengan


brutal!”


“Keberatan, Yang Mulia!” Hazal langsung berteriak di dalam ruangan itu. Sementara Kenan hanya bisa memukul pagar kayu yang ada di depannya. Beruntung Hakim memberikan kesempatan Hazal untuk berbicara.


“Jaksa Penuntut, sebaiknya pertanyaan Anda tidak melebar kemana-mana!” seru Hazal yang langsung menatap tajam mantan atasannya itu, membuat Ivy hanya bisa menggenggam erat pakaiannya saat melihat kedua orang itu bersitegang di depannya.


“Jaksa Penuntut, sebaiknya pertanyaan Anda fokus pada kejadian pembunuhan itu!” perintah sang Hakim, yang langsung membuat Jaksa Onur dan Hazal saling menjauh.


Jaksa Onur kembali membalikkan badannya menghadap Ivy. Ia mengusap dagunya sebelum meminta Ivy untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya di dalam gudang tua tersebut. Ivy memejamkan kelopak matanya untuk mencoba mengingat kejadian waktu itu. Wanita hamil itu mulai menceritakan kejadian penculikan yang dilakukan anak buah Ferit di depan rumah sakit, kejadian Ferit yang akan menggugurkan kandungannya hingga pria itu yang ingin memperkosanya.


“Kenan dan Mehmet hanya mencoba untuk menolongku. Jika Kenan tidak mendorong Ferit, maka pria itu bisa saja akan melakukan keinginan jahatnya. Jika Mehmet tidak menembak Ferit, pria itu juga bisa membunuhku atau membunuh Kenan,” lanjut Ivy.


“Anda mengatakan bisa saja Ferit akan melakukan keinginan jahatnya dan bisa saja Ferit membunuh terdakwa Kenan. Berarti itu semua hanyalah dugaan Anda saja, Nyonya Fallay!” tandas sang Jaksa yang membuat manik mata hijau itu terpejam dengan cairan beningnya yang mengalir keluar.


“Jaksa Penuntut! Jaga bicara Anda! Jangan memberi tekanan pada saksi ku, dia sedang mengandung!” seru Hazal yang langsung berdiri di belakang kursi Ivy. Pengacara itu lupa meminta ijin kepada Hakim untuk menyanggah perkataan lawannya.

__ADS_1


“Pembela Hazal, sebaiknya Anda berpikir menggunakan logika bukan dengan perasaan. Perkataan ku hanyalah kesimpulan dari penjelasan saksi, yang semuanya hanyalah bersifat dugaan! Padahal kenyataannya kedua terdakwa itu telah bekerjasama menghabisi korban!” seru Jaksa Onur yang langsung membuat Kenan naik pitam, ingin sekali ia membelah kepala pria paruh baya itu untuk mengeluarkan isi kepalanya.


Jaksa Onur memberikan bukti peluru yang bersarang di tubuh Ferit dan beberapa peluru yang bersarang di tubuh mayat lain kepada sang Hakim. Peluru itu berasal dari pistol yang telah di pegang oleh Kenan dan Mehmet, terdapat sidik jari dua pria itu di sana.


“Pihak Pembela, jika Anda ingin Pengadilan mempercayai keterangan Nyonya Fallay, sebaiknya berikan bukti yang menguatkan perkataan saksi!” tantang sang Hakim yang menatap tajam wajah Hazal.


Hazal mengambil beberapa berkas yang ada di mejanya dan memberikan kepada Hakim. “Yang Mulia, ini adalah laporan penyelidikan yang saya lakukan dan laporan dari pihak kepolisian. Di tempat kejadian ditemukan banyak peluru, senjata api, senjata tajam, noda darah, dua pasang borgol, pecahan kaca dan dua buah mobil milik terdakwa.”


Hakim melihat foto-foto yang ada di dalam berkas dan setumpuk plastik bening yang berisi barang bukti nyata yang diberikan oleh Hazal.


“Salah satu pecahan kaca ini adalah pecahan bagian tubuh jarum suntik. Yang Mulia bisa melihat bekas pecahan kaca yang ada di dalam plastik, di sana terdapat ukuran berapa mili dosis yang biasa digunakan oleh dokter. Di tempat kejadian, saya juga menemukan sisa cairan obat bius yang tercecer dan sebuah tas yang berisi


peralatan medis,” jelas Hazal yang berdiri membelakangi Ivy.


Hazal juga mengajukan saksi yaitu salah satu dokter kandungan yang membenarkan bahwa alat-alat medis itu biasanya digunakan untuk menggugurkan kandungan. Sebuah laporan yang berisi sampel darah yang menempel di senjata tajam yang digunakan oleh Ferit, terdapat sampel darah Ivy dan darah Kenan. Sidik jari Ferit yang menempel pada tongkat besi yang digunakan untuk menusuk Mehmet, di ujung tongkat itu juga masih menempel darah Mehmet.


“Itu bukti-bukti yang saya miliki yang bisa menjelaskan bahwa korban Ferit Kozan adalah seorang kriminal yang mencoba melenyapkan nyawa seseorang! Kedua terdakwa ini hanya ingin melindungi saksi dari kejahatan yang akan dilakukan oleh korban. Ini hanyalah upaya pembelaan diri yang menyebabkan nyawa seseorang melayang!” Hazal mengatakan pendapatnya sembari berjalan mondar mandir di depan meja sang Hakim.


“Sidik jari dan butiran peluru ini yang akan berbicara, Jaksa Penuntut!” Hazal memberikan foto sebelas mayat yang ditemukan di gudang, termasuk mayat dokter yang akan menggugurkan kandungan Ivy.


“Sebelas mayat itu bukan dibunuh oleh terdakwa semuanya, tetapi ada juga akibat perkelahian dan penembakan yang bukan berasal dari pistol terdakwa, melainkan dari pistol yang dipegang oleh korban. Jika Jaksa Penuntut meminta saya berpikir secara logika, dimana letak logika Anda apabila seseorang menghubungi Anda dan mengatakan akan membawa istri Anda keluar dari Istanbul?” Hazal menatap tajam Jaksa Onur yang duduk di meja penuntut.


“Secara naluri, Anda pasti akan datang ke tempat orang tersebut dan berusaha membebaskan istri Anda, bukan? Kecuali kalau Jaksa Penuntut tidak mencintai istrinya dan membiarkan pria lain membawanya pergi!” serang Hazal yang mencondongkan tubuhnya di meja sang Jaksa.


“Pembela Hazal!” teriak Jaksa Onur yang menggebrak mejanya sendiri.


Pria paruh baya itu melotot ke arah lawannya, baru kali ini Hazal melihat ekspresi wajah datar itu berubah menjadi amarah. Sepertinya Hazal berhasil menyerang titik lemah sang Jaksa, karena sebetulnya dirinya juga tidak mengetahui kehidupan pribadi mantan atasannya.


“Hal ini sama dengan yang dilakukan oleh terdakwa, Yang Mulia!” teriak Hazal sambil mengarahkan telunjuknya pada Kenan, tetapi tatapan matanya menyorot tajam kepada sang Hakim.

__ADS_1


“Ini adalah bukti terakhir yang saya miliki. Rekaman pembicaraan terdakwa dan korban di ponsel dan foto saksi—Nyonya Ivy Fallay yang hanya mengenakan pakaian dalam setelah dia di bebaskan oleh pihak polisi,” lanjut Hazal yang memberikan bukti-bukti itu kepada Hakim.


Sang Hakim mengatupkan kedua bibirnya saat melihat foto Ivy yang hampir tanpa busana dan memasang telinganya untuk mendengarkan rekaman pembicaraan yang diambil dari ponsel Kenan.


Pengacara wanita itu berjalan ke tengah ruangan kemudian berkata, “Apa yang dilakukan oleh terdakwa semata-mata adalah upaya untuk menyelamatkan dan membela kehormatan istrinya, Yang Mulia! Jika yang dilakukan terdakwa adalah salah di mata hukum. Saya justru ingin bertanya kepada para pria yang ada di sini, apabila istri kalian dilecehkan atau hendak dibawa kabur oleh pria lain?”


“Sekian pembelaan saya untuk sidang pertama ini, Yang Mulia,” ucap Hazal yang berjalan menuju mejanya.


“Bagaimana, Jaksa Penuntut? Apa ada yang ingin Anda tambahkan?” tanya sang Hakim sambil memegang buku catatan yang ia tulis sebelumnya.


“Tidak ada, Yang Mulia. Semuanya sudah saya sampaikan pada sidang pertama ini,” jawab Jaksa Onur sambil bangkit berdiri.


“Baiklah, sidang kedua akan dilanjutkan minggu depan. Dalam sidang kedua dimohon Pihak Penuntut menyiapkan tuntutannya dan terdakwa menyiapkan pembelaannya. Sekian sidang pertama hari ini,” ucap sang Hakim sambil mengetukkan palunya sebanyak tiga kali. Tanda sidang pertama ini ditutup.


Beberapa orang petugas tampak membuka pagar kayu yang mengurung Kenan. Sepasang kaki itu melangkah turun dan tatapan mata abu-abunya bertemu dengan manik mata coklat yang berdiri di depannya.


“Kenan….” Ivy menghentikan langkahnya untuk mendekati suaminya, ketika dilihatnya pria itu tengah menatap Hazal dan berbicara dengan wanita itu.


Sementara di sudut ruangan, Yafet hanya mengamati ketiga orang itu yang berdiribtudak jauh darinya. Pria itu bagaikan seekor burung elang yang mengepakkan kedua sayapnya di atas mangsanya.


“Hazal, terimakasih karena kau masih mempercayaiku,” ucap Kenan. Jarak di antara mereka hanya berkisar satu langkah orang dewasa.


Wajah tirus itu hanya menampilkan senyumannya kemudian berkata, “Jika aku tidak mempercayaimu, lantas untuk apa aku membelamu? Jangan berterimakasih padaku sekarang, karena tugasku belum selesai.”


Putra Harun itu menundukkan kepalanya kemudian memberikan sebuah senyumannya kepada Hazal. Bukan senyuman tipis dan bukan pula senyuman yang menawan, melainkan senyuman kegetiran. Sepasang kakinya pun menjauhi Hazal seiring dengan beberapa orang petugas yang mengawalnya untuk keluar dari Gedung Pengadilan.


Kenan….


Hazal hanya bisa menatap kepergian mantan suaminya dan memanggil nama itu di dalam hatinya.  Ia juga melihat Ivy yang kini berjalan di samping pria itu.

__ADS_1


“Sudah puas memandanginya?” Suara Yafet membuat Hazal tersadar dari lamunannya. “Ayo kita pulang!”


...****************...


__ADS_2