Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Ivy Mengetahui Surat Penawaran Dari Perusahaan Puzulla


__ADS_3

Sophia memandangi mobil Ferit yang perlahan-lahan meninggalkan kafe. Ia pun masuk ke dalam mobilnya sendiri yang berwarna merah, memundurkan kendaraan roda empat tersebut kemudian bergerak menuju jalan raya. Hatinya terlalu gembira sampai tidak menyadari ada sebuah mobil yang mengikutinya dari belakang. Mobil Van berwarna abu-abu milik anak buah


Hasan.


Sementara itu di tempat lain, Hasan sedang membuntuti Cansu yang sedang makan siang bersama dengan Mehmet di Istanbul Cafe.


Pria berhidung bengkok itu mengusap wajahnya begitu ia melihat Cansu dan Mehmet keluar dari kafe sambil bergandengan tangan. Ia tertawa menyeringai, melihat Mehmet mencium pipi Cansu dan mereka berdua masuk ke dalam mobil Jeep menuju tempat kerja Cansu.


Oh… jadi pemilik sasana tinju itu adalah kekasih putri Sophia. Dunia sungguh sempit, pria gundul!


Anak buah Ferit itu teringat kejadian perkelahian antara dirinya dan Mehmet di sasana tinju. Karena ulah Mehmet dan anak buahnya yang telah membebaskan Ivy, membuat dirinya menjadi sasaran kemarahan Ferit.


Untuk hari ini, pengintaian Hasan dan anak buahnya berhenti di depan rumah Sophia saat menjelang malam. Ibu dan anak itu masuk ke


dalam rumah secara bergantian.


Cansu yang baru saja pulang dari kantornya langsung menjatuhkan dirinya di sofa. Dari ruang tengah itu ia memperhatikan sikap ibunya yang tidak seperti biasanya. Hari ini ibunya terus mengembangkan senyumnya.


“Cansu, bagaimana menurutmu penampilan Ibu?" tanya Sophia yang baru saja keluar dari kamarnya dengan mengenakan sebuah setelan blazer dan sepasang sepatu pantofel bertumit tinggi layaknya seorang wanita karir yang bekerja di perkantoran.


Putri Sophia itu mengernyitkan dahinya melihat pakaian yang dikenakan oleh ibunya dan beberapa setel pakaian formal lainnya yang di ada di tangan ibunya. Pakaian-pakaian itu terlihat masih baru. Masih terpasang label harga dan merk-nya.


“Kau jangan diam saja! Katakan apa Ibu masih pantas untuk pergi ke kantor?” desak Sophia.


“Ya… ya….” Cansu menganggukkan kepalanya, karena ia tidak tahu harus mengatakan apa. Ia melihat ibunya sudah terlalu tua untuk bekerja di kantor dan apa benar ibunya benar-benar mendapatkan pekerjaan.


“Perusahaan mana yang mau menerima Ibu sebagai karyawannya?” tanya Cansu. Wanita muda itu bangkit berdiri dan menghampiri ibunya. Hingga ia bisa melihat jelas detail pakaian yang dikenakan oleh ibunya.


Sophia mengernyitkan dahinya tampak sedang berpikir untuk memberikan jawaban kepada putrinya.


Cansu tidak boleh tahu bahwa aku telah menukar informasi pernikahan Ivy dengan saham Perusahaan Kozan. Biarkan saja seperti ini, karena aku masih bisa mendapatkan sesuatu yang lebih banyak lagi dari Ferit jika aku terus memberikan informasi tentang Ivy.


“Hanya perusahaan kecil, kau tidak akan tahu,” kilah Sophia.


Wanita muda itu memegang kedua lengan ibunya, menatapnya kemudian berkata, ”Ibu tidak berbuat sesuatu yang jahat bukan?”


“Apa kau pikir Ibu ini seorang kriminal? Kau sungguh keterlaluan, Cansu!” teriak Sophia yang langsung menepis kedua lengan putrinya. Ia langsung mengemasi beberapa setel pakaian barunya dan masuk ke dalam kamar.


Kedua bahu Cansu mendadak terangkat dan manik mata biru itu langsung terpejam begitu mendengar suara pintu kamar yang dibanting oleh Sophia.


Aku harap ini tidak ada hubungannya dengan Ivy….


Siang hari di Apartemen Falea


Acara pernikahan kedua putri Eleanor kurang satu minggu lagi. Siang malam Ivy berusaha menyelesaikan gaun pengantin miliknya dan milik Cansu. Kini kedua gaun itu membungkus dua patung manekin berwarna hitam. Bagian bawah gaun itu menyapu lantai ruang kerjanya sepanjang dua meter. Sebuah jarum jahit menelisik masuk ke dalam pori-pori kain berwarna putih, menempelkan manik-manik kecil yang menyerupai batu berkilau di bagian pinggang gaun berpotongan A-line.


“Auw…,” teriak Ivy dengan pelan. Ia langsung menjauhkan jari telunjuknya dari gaun pengantin tersebut.


“Kau tak apa?” Kenan yang sejak tadi duduk menghadap laptopnya langsung datang menghampiri kekasihnya.

__ADS_1


Sebuah cairan merah mengalir keluar membasahi jari telunjuk Ivy. Dengan cepat Kenan mengambil selembar tisu dan kain pembungkus luka yang ada di mejanya. Ia meletakkan tangan Ivy di atas pangkuannya.


“Ini hanya luka kecil. Aku sudah terbiasa,” ucap Ivy yang melihat kepanikan di wajah Kenan.


“Apanya yang biasa? Yang namanya luka kecil itu juga harus diobati. Jika tidak segera diobati, ini akan jadi infeksi.” Pria itu membersihkan darah yang keluar dari jari telunjuk Ivy, kemudian menutup luka akibat tusukan jarum itu dengan selembar kain pembungkus luka.


Ivy hanya bisa menghembuskan napasnya dalam-dalam melihat perbuatan Kenan yang sedikit berlebihan. Tidak biasanya pria itu se-panik ini, justru dirinya yang selalu panik hampir di setiap keadaan. Ia menatap wajah calon suaminya itu lekat-lekat.


“Jangan paksakan dirimu. Jika kau capek, istirahatlah. Aku tidak ingin kau sakit hanya untuk menyelesaikan gaun ini,” ucap Kenan. Dengan kedua telapak tangannya ia membingkai wajah oval Ivy.


Ivy mengambil salah satu tangan Kenan dan mencium jari jemari tangan bertekstur kasar itu.


“Terimakasih, Sayang. Aku akan istirahat jika aku merasa lelah. Anggap saja ini pesanan klien dan aku harus menyelesaikannya tepat waktu.”


“Kau ini, selalu saja keras kepala.” Kenan mengusap puncak kepala Ivy dan membawanya ke dalam dekapannya.


Dari balik dada bidang itu, Ivy sedikit tertawa kemudian berkata, “Tapi kau menyukai Ivy yang bawel, Ivy yang panik, Ivy yang keras kepala, Ivy yang cengeng, Ivy yang….”


“Sebutkan saja terus satu persatu,” ucap Kenan yang juga tertawa mendengar perkataan kekasihnya. Kenyataannya ia memang menyukai semua hal yang Ivy sebutkan tadi.


"Terimakasih, Sayang. Kau begitu sabar menghadapi ku," ujar Kenan sambil mengusap punggung wanita itu dengan lembut dan diletakkannya kepalanya di atas kepala calon pengantin wanitanya.


Sepasang kekasih ini tinggal menunggu beberapa hari lagi untuk meresmikan hubungan mereka menjadi pasangan suami istri.


Untuk beberapa menit mereka saling berpelukan dan menautkan jari jemari mereka. Kemudian Ivy melepaskan dirinya dari dekapan Kenan. Ia beranjak dari tempatnya dan melihat sekeliling gaun dengan model A-line yang ada di depannya.


“Oh syukurlah, darahku tidak mengotori gaun milik Cansu,” gumam Ivy.


Ivy memeriksa gaun miliknya yang ada di depan Kenan, manik matanya tidak melihat noda merah itu menghiasai gaun pengantinnya, kemudian ia menggelengkan kepalanya kepada pria itu.


“Aku akan melanjutkan pekerjaanku lagi.” Ivy mulai bersiap memasukkan jarumnya kembali.


Kenan hanya menggelengkan kepalanya melihat Ivy yang bersikeras mengerjakan gaun pengantinnya kembali. “Istirahatlah jika kau lelah. Aku akan keluar.”


Setelah Kenan meninggalkan ruang kerjanya, Ivy masih berkutat dengan pekerjaannya menempel satu per satu manik-manik yang akan menghiasi gaun pengantin Cansu.


Hari menjelang sore, ketika manik-manik milik Cansu telah terpasang semua sedangkan gaunnya sendiri masih terlihat polos. Ivy merenggangkan otot lengannya dan pinggangnya yang mulai terasa kaku. Sebuah senyuman terukir dari bibir tipisnya.


Jerih lelahku terbayar lunas, melihat gaun ini telah selesai. Cansu pasti akan terlihat sangat cantik saat memakai gaun ini. Kau dan aku dibesarkan bersama, dan sebentar lagi kita akan melepaskan kegadisan kita juga bersama-sama.


“Apa kau masih ingat janji masa kecil kita dulu, Cansu?” Ivy berbicara dengan patung manekin yang memakai gaun pengantin Cansu.


“Ketika ketua kelas kita mengirimiku surat cinta dan ternyata kau juga mencintai anak laki-laki itu. Waktu itu kau langsung memintaku untuk berjanji tidak mencintai pria yang sama denganmu.” Ivy tertawa kecil mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu.


“Kini setelah kita dewasa, kau dan aku menemukan cinta kita masing-masing. Semoga kau dan aku bahagia dengan lelaki pilihan kita sendiri. Aku hanya bisa mendoakanmu, saudariku." Ivy mengusap cairan bening yang menggantung di sudut matanya.


Selepas membersihkan ruang kerjanya, Ivy mengayunkan langkahnya menuju pintu. Namun suara dering ponselnya menyurutkan langkahnya. Ia membalikkan badannya dan mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja kerjanya.


“Nomor asing. Nomor siapa ini?” gumam Ivy menatap beberapa deret angka pada layar ponselnya. Sekelebat pikirannya memberikan sebuah nama yaitu Ferit.

__ADS_1


Ponsel itu terus menerus berbunyi. Dengan sedikit keraguan, Ivy menggeser tombol hijau pada layar. Hatinya sedikit lega karena yang ia dengar adalah suara seorang wanita.


“Selamat sore. Apa saya bisa berbicara dengan Ivy Eleanor dari Perusahaan Falea?”


“Ya, saya Ivy Eleanor. Anda siapa?” tanya Ivy yang membalas percakapan wanita itu dengan bahasanya yang formal.


“Saya Pinar dari Perusahaan Puzulla.”


“Puzulla?” Ivy mengernyitkan keningnya sepertinya dirinya pernah mendengar nama perusahaan itu.


“Puzulla adalah perusahaan yang bergerak di bidang tekstil dan fashion. Beberapa waktu yang lalu, Anda mengirimkan contoh rancangan desain pakaian kepada kami.”


“Oh ya… ya, saya ingat sekarang. Lalu bagaimana hasilnya? Apa kalian menerima rancangan ku?” Ivy berjalan mendekati meja kerjanya.


“Apa Anda belum menerima surat pemberitahuan dan email dari kami? Puzulla sangat tertarik dan menerima rancangan desain Anda. Kami berniat melakukan kerjasama dengan Perusahaan Falea.”


Ivy menggaruk keningnya setelah mendengar perkataan wanita itu.


“Email? Surat pemberitahuan? Kapan kalian mengirimkan surat itu? Saya belum menerima surat dan email dari Puzulla,” ucap Ivy sambil menarik kursi kerjanya dan mendudukkan dirinya di atas kursi berputar.


“Sekitar satu minggu yang lalu, Nona."


"Oh... lalu apa penawaran Perusahaan Puzulla masih berlaku?" Setelah mengucapkan pertanyaannya Ivy menggigit bibir bawahnya, menyayangkan kenapa email dan surat itu tidak sampai ke tempatnya. Ia berharap Puzulla masih memberikannya kesempatan.


"Sebenarnya kami sedang menunggu keputusan dari Anda, Nona Ivy. Kami memberikan batas waktu sampai besok, apabila Anda tidak bersedia dengan penawaran yang kami berikan, maka kami akan mencari kandidat lain. Bagaimana Nona?”


“Besok saya akan datang ke kantor Puzulla.”


"Baiklah. Anda bisa mencari saya di bagian umum," ucap wanita yang bernama Pinar kepada Ivy.


Percakapan ponsel itu pun terputus. Ivy melangkahkan kakinya mendekati meja Kenan dan menyalakan laptop milik kekasihnya. Mereka hanya mempunyai satu buah laptop yang digunakan untuk menjalankan Perusahaan Falea.


Jari tangannya menari di atas papan keyboard memasukkan kata sandi pada laptop tersebut. Ivy membuka email milik Falea dan mencari nama Puzulla pada kotak masuknya.


Tidak ada nama Puzulla di sini. Tapi wanita itu mengatakan bahwa mereka mengirimkan email minggu lalu.


Ivy membuka laman lain yang bergambar kotak sampah. Ia juga mencari nama Puzulla di sana, tetapi hasilnya nihil. Tidak ada nama itu.


Tidak mungkin wanita itu berbohong. Pasti ada orang di apartemen ini yang telah menghapusnya. Hanya aku dan Kenan yang tahu kata sandi laptop ini. Apa Kenan yang melakukanya? Sepertinya tidak mungkin, dia juga berharap Falea mendapatkan sebuah proyek. Seandainya saja dia yang melakukannya, pasti Kenan tak sengaja menghapusnya.


Ivy menggelengkan kepalanya berusaha meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah ketidaksengajaan. Ia mencoba meruntut semua kejadian yang terjadi sekitar satu minggu yang lalu.


Satu minggu yang lalu, aku dan Kenan baru saja tiba dari Paris. Sore itu… di meja makan, Nur memberitahu ada kiriman surat untuk Falea. Kemudian malam harinya, Kenan mengatakan kepadaku bahwa surat itu hanya berisi penawaran kredit usaha. Tapi… keesokan harinya, aku menemukan sobekan-sobekan kertas…. Ya Tuhan, jangan-jangan yang aku temukan itu adalah....


Ivy langsung membuka laci mejanya dan mengambil plastik hitam yang ada di sana. Ia membuka plastik tersebut dan menuang semua isinya di atas meja. Kali ini ia melihat sobekan kertas itu bagaikan sebuah permainan puzzle yang harus ia susun untuk menemukan jawabannya.


Tidak membutuhkan waktu lama untuk menyusun kembali sobekan-sobekan kertas itu. Setelah semua telah tersusun pada tempatnya, ia merekatkan potongan-potongan kertas itu dengan selotip. Manik mata coklat itu terbuka lebar begitu ia melihat dan membaca setiap kalimat yang tertulis pada kertas yang telah terbentuk dengan sempurna.


Ternyata benar Puzulla menerima rancangan desainku. Tapi kenapa surat ini di robek? siapa yang tega melakukan hal ini?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2