Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Bocornya Jadwal Pernikahan Kenan dan Ivy


__ADS_3

“Apa yang kau katakan barusan, hah? Ivy akan menikah?” Ferit tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Sophia. Ia tidak percaya bahwa calon istrinya itu akan menikah dengan pria lain. “Kau jangan bercanda!”


“Jika aku bercanda, aku tidak akan menghubungimu!”


Sambungan ponsel itu pun terputus.


“Sophia! Hei, Sophia!” teriak Ferit dengan geram.


Belum sempat Ferit meletakkan ponselnya, suara dentingan piano berbunyi satu kali. Pria itu membuka ponselnya kembali dan membaca sebuah pesan singkat yang dikirim oleh Sophia.


Hubungi aku, jika kau sudah menyiapkan berkas pengalihan sahamnya.


“Dasar wanita tua tidak tahu diri!” teriak Ferit yang langsung membuang ponselnya di atas ranjang. Amarah pria itu kembali memuncak hingga raut wajahnya memerah.


“Kau pikir dirimu siapa, bisa memerintah seorang Ferit Kozan!”


Kali ini papan target sasaran yang tergantung di salah satu dinding kamarnya menjadi pelampiasan kemarahannya. Dengan keras ia membenturkan kepalan tangannya pada benda diam tak bergerak itu. Papan yang terbuat dari lembaran kayu berbentuk lingkaran itu terbelah tak beraturan menjadi beberapa bagian dan jatuh di lantai.


Dengan napasnya yang memburu seperti seekor harimau yang sedang mengejar mangsanya dan manik matanya yang menyala menahan kegeramannya, ia menghubungi Hasan.


Nada sambung yang berlangsung lama itu membuatnya semakin naik pitam. Kini bukan rasa kantuk yang ia rasakan saat ini, malahan ia ingin menelan hidup-hidup anak buahnya itu.


“Halo.” Terdengar suara Hasan yang sedang menggeliat di atas tempat tidurnya kemudian ia menguap tepat di depan ponselnya.


“Oh, jadi ini pekerjaanmu setiap hari! Dasar tak berguna!” pekik Ferit dengan sarkas.


“Tu…Tuan Ferit? Anda… sudah pulang?”


“Kau pikir aku sedang berbulan madu di Paris, hah! Cepat ke rumahku sekarang! Jika dalam sepuluh menit kau tidak datang, aku akan menendang mu keluar!” teriak Ferit di dalam kamarnya.


Hasan langsung menyibak selimut yang membungkus dirinya bak seekor kepompong. Pria itu hanya berani mengumpat dan mengutuk Ferit di dalam hatinya. Ia langsung mengambil mantel panjang berwarna coklat yang tergantung di belakang pintu kamar. Secepat kilat ia mengendarai kendaraannya menuju rumah Ferit.


Lewat tengah malam, Hasan telah tiba di depan rumah mewah di kawasan Istanbul Barat. Ia melihat sosok pria berambut panjang itu berdiri di balkon kamarnya. Manik mata tajam berwarna coklat itu laksana mata seekor burung hantu yang siap menerkamnya kapan saja.


Dengan tergesa-gesa Hasan masuk ke dalam rumah. Suara langkah kakinya menderap menaiki satu per satu anak tangga yang akan membawanya menuju kamar Ferit.


“Ckck... ckck… ckck… Setakut itukah dirimu padaku, Hasan?” Ferit menggelengkan kepalanya setelah pria berhidung bengkok itu masuk ke dalam kamarnya. Dimasukkannya kedua tangannya ke dalam saku celana training berwarna biru dongker.


Hasan terus memperhatikan Ferit yang masih berdecak dan menggelengkan kepalanya.


Apa yang ada di dalam pikirannya? Aku sudah kehilangan jam tidur malam ku hanya untuk datang ke sini. Tidak bisakah dia menunggu besok?


Dua detik kemudian Hasan baru menyadari bahwa dirinya belum mengganti pakaian tidurnya. Kini celana bokser hitam dan kaos oblong berwarna putih itu masih melekat di tubuhnya, bersembunyi di balik mantel panjangnya.


“Apa kau sudah mendapatkan kabar tentang Ivy?” tanya Ferit. Kedua tangannya itu tidak pernah keluar dari dalam saku celana saat dirinya berjalan mendekati Hasan.


Pria berambut cepak yang masih berdiri di ambang pintu itu sedikit demi sedikit memundurkan langkahnya, menyadari bahwa sebuah ancaman ada di depannya saat ini.

__ADS_1


“Belum, Tuan,” jawab Hasan yang langsung membuat wajahnya melayang terkena pukulan Ferit. Sebuah rona merah keunguan langsung terlukis di wajah kirinya.


Ditariknya pemilik kaos putih itu dan dilemparkannya tubuh ramping itu ke sofa. Namun seonggok tubuh itu tidak jatuh tepat di atas sofa melainkan di bagian tepinya kemudian jatuh ke lantai, membuat Ferit dengan mudah menendang lutut dan perutnya.


“Ternyata yang aku pelihara selama ini adalah keledai dungu!” Ferit mencengkeram kaos Hasan dan membuatnya bangkit berdiri.


“Selama satu bulan aku memberimu waktu untuk mencari Ivy, tapi kau sia-siakan kesabaran ku! Karena kelambanan mu, Ivy ku akan menikah dengan pria lain!” teriak Ferit yang melayangkan kembali pukulan tangannya kepada Hasan.


Genap sudah rona merah keunguan itu menghiasi wajah pria berhidung bengkok itu.


“Me…menikah? Montir sialan itu sudah tewas, dengan… siapa... Nona Ivy… akan menikah? Berita itu… pasti bohong, Tuan.”


Ferit tertawa terbahak-bahak mendengar nada suara Hasan yang terbata-bata, antara suara kemarahan dan suara tawanya yang menggelegar tak jauh berbeda.


“Montir sialan itu masih hidup! Montir itu bahkan berani bertarung denganku memperebutkan tender proyek Mandellion! Dan kau pikir, aku sedang mendongeng untukmu, hah?”


Di tengah wajahnya yang babak belur dan tubuhnya yang jatuh tersungkur, Hasan berusaha bangkit berdiri dengan memegang kaki meja.


“Lalu apa yang harus aku lakukan? Menculik Nona Ivy? Menggagalkan pernikahan mereka? Atau membunuh montir sialan itu?”


Manik mata coklat itu langsung memelototinya. Suara intimidasi yang mencemoohkan dirinya itu kembali terdengar.


“Kau itu bodoh atau apa? Sekali dungu tetap dungu!” pekik Ferit yang menunjuk pelipisnya sendiri di hadapan Hasan.


“Cari tahu dimana perusahaan Falea berada! Perusahaan kecil itu pasti ada di sebuah ruko atau apartemen, mereka takkan sanggup membuat gedung tinggi layaknya Perusahaan Kozan!” perintah Ferit.


“Baik, Tuan.”


“Aku akan mengikuti mereka."


Dua hari kemudian, Sophia memasuki sebuah kafe yang terletak di pinggiran kota Istanbul. Ia meletakkan mantel panjangnya pada sandaran kursi. Ditariknya salah satu kursi dari empat buah kursi yang mengitari meja kayu dengan serat alaminya yang masih terlihat.


Seorang pelayan kafe dengan seragamnya yang berwarna merah marun, menghampirinya dan memberikan sebuah buku menu kepada Sophia. Wanita paruh baya itu membuka halaman demi halaman.


“Kau sajikan saja secangkir Salep untukku, aku masih menunggu seseorang,” kata Sophia kepada pelayan kafe.


“Baik, Nyonya.” Pelayan kafe mengambil kembali buku menu yang ada di atas meja kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur yang terletak di belakang kafe.


Sambil menunggu pesanan minumannya datang, Sophia mengambil ponselnya dan hendak menghubungi Ferit. Namun pria itu tidak mengangkat ponselnya.


Jangan-jangan dia mempermainkan ku!


Sophia tampak gugup dan gelisah. Ia terus mengamati jalan raya yang ada di depan dan jam tangannya bergantian. Jari tangan kirinya terus menerus mengetuk meja, sampai seorang pelayan kafe datang dan menghentikan aktifitasnya itu.


“Ini Salep untukmu, Nyonya.” Pelayan kafe itu meletakkan sebuah cangkir keramik dengan alas piring kecilnya di meja. Aroma bunga anggrek, susu dan kayu manis yang berasal dari secangkir Salep itu menggelitik hidung Sophia.


"Terimakasih." Wanita paruh baya itu tersenyum simpul dengan menganggukkan kepalanya kepada pelayan kafe yang masih terlihat sangat muda.

__ADS_1


Sepeninggal sang pelayan, masuklah sebuah mobil mewah berwarna hitam ke dalam halaman kafe.


Kedua sudut bibir berwarna merah itu terangkat ke atas setelah Ferit membuka pintu kaca yang menjadi pemisah antara ruang dalam dan ruang terbuka yang ada di luar.


Manik mata Sophia bak sebuah kamera berjalan yang sedang mencari sebuah dokumen atau berkas yang ia incar selama ini. Wanita berambut merah itu langsung menyeruput minuman hangatnya begitu Ferit berjalan mendekati mejanya dengan mengempit sebuah map pada tangan kirinya.


“Ini’kan yang kau minta, Nyonya Sophia Eleanor!” sindir Ferit seraya melempar sebuah map kertas berwarna hijau di depan istri almarhum Victor Eleanor.


“Duduklah dulu, Ferit. Aku akan memesankan minuman hangat untukmu.” Sophia menunjuk kursi yang ada di depannya dengan telapak tangannya yang terbuka.


“Aku tidak punya waktu untuk minum bersama denganmu,” sanggah Ferit sambil menarik kursi kayu dengan sebuah bantalan bulat pada bagian dudukannya. Dengan sedikit memiringkan posisi tubuhnya, ia duduk menghadap Sophia.


“Ferit… Ferit…, aku tahu kau itu sebenarnya pria baik. Itulah sebabnya, dulu aku mendukungmu sewaktu almarhum suamiku menjodohkan dirimu dengan Ivy,” ucap Sophia.


“Dulu? Lalu sekarang?” Pria itu menaikkan salah satu alisnya dan menatap tajam Sophia.


“Tentu saja aku masih mendukungmu. Putri tiri ku itu yang bodoh! Meninggalkanmu di altar pernikahan demi seorang montir kapal,” tutur Sophia. Bibir merah itu terlihat mengerucut bak seorang gadis muda yang sedang merajuk.


Ferit mengepalkan telapak tangannya di atas meja, begitu ia mendengar perkataan Sophia. Wanita paruh baya itu telah mengingatkan kelakuan Ivy yang mempermalukan dirinya.


Dasar wanita ular! Kau pikir aku pria tua bangka yang tertarik mendengar pujian mu!


“Dimana acara pernikahannya dan kapan?” tanya Ferit dengan sorot matanya yang menatap tangan Sophia yang telah membuka map hijau tersebut.


Mulut Sophia menganga setelah ia membaca tulisan yang tertera pada kertas dokumen itu. Pada dokumen tersebut dijelaskan bahwa Ferit telah mengalihkan sepuluh persen sahamnya yang ada di Perusahaan Kozan kepada dirinya.


Kini masa tua ku tidak akan kekurangan. Sepuluh persen saham Istanbul Café dan sepuluh persen saham Perusahaan Kozan.


“Aku akan mengatakannya. Ivy dan Cansu akan menikah di tempat dan tanggal yang sama. Mereka akan menikah di Istanbul Café. Acaranya minggu depan pukul sepuluh pagi,” jawab Sophia yang langsung membubuhkan tanda tangannya.


Ferit bangkit berdiri dan melipat kertas dokumen yang ada di bagian atas menjadi setengah halaman.


“Tanda tangani juga bagian ini, untuk salinannya.”


Dengan cepat Sophia kembali menorehkan tanda tangannya di halaman kedua dokumen pengalihan saham tersebut.


“Oke, kita impas. Aku pergi dulu,” ucap Ferit yang langsung mengambil map hijau tersebut dan bangkit berdiri.


“Kapan aku bisa mendapatkan sertifikat kepemilikan saham ku?” Sophia juga beranjak dari kursinya.


“Kau tunggu saja, aku akan mengabari mu.”


Sebuah senyum mengembang dari bibir coklat Ferit. Pria itu berjalan menuju pintu kafe sambil melambaikan map yang ada di tangannya ke arah Sophia.


Dari dalam mobilnya, Ferit menatap Sophia yang baru saja keluar dari kafe. Ia melempar map hijau itu di samping kursi kemudinya dan mengeluarkan mobilnya dari halaman kafe.


Tunggu saja kabar dariku sampai dunia kiamat, Sophia....

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Semoga kalian menyukai cerita ku. Terimakasih.


__ADS_2