Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Malam Penyerbuan


__ADS_3

Sebuah pepatah menyebutkan kalau cinta bisa datang dan pergi, tetapi persahabatan selalu tinggal. Itulah pepatah yang terjadi pada Kenan saat ini. Ya, pria itu lebih memilih persahabatannya dengan Mehmet, dibandingkan malam pertamanya dengan Ivy.


“Kau tak keberatan, jika aku pergi?” tanya Kenan kepada Ivy setelah pria itu mengganti jas dan kemeja pengantinnya dengan pakaian kasual biasa.


Sejujurnya hati Ivy keberatan, wanita mana yang membiarkan suaminya pergi di malam pertamanya. Ia pun terdiam tidak memberikan jawabannya untuk beberapa saat. Mengigit bibir bawahnya adalah hal yang sering ia lakukan untuk berpikir.


Putra Harun itu melingkarkan tangannya di pinggang ramping istrinya yang masih berbalutkan gaun pengantin lengkap. Ia menempelkan keningnya pada kening Ivy. Menatap manik mata hijau untuk beberapa detik lamanya.


Ivy pun mengalungkan kedua lengannya di belakang leher suaminya. Manik mata hijau itu mulai mengumpulkan bening-bening kacanya. “Pergilah, bantu Mehmet untuk memberikan keadilan buat Cansu.”


“Kau tidak ikhlas,” goda Kenan dengan senyumannya yang menawan.


Ivy membalas senyuman suaminya


dengan sebuah tawa kecilnya. “Tidak… aku ikhlas. Pergilah. Aku akan menunggumu. Berjanjilah untuk pulang dengan selamat.”


Kenan mendorong pinggang Ivy untuk semakin


menempel pada tubuhnya, bahkan tidak ada celah yang membuat semut berhasil melewatinya. “Aku janji. Aku akan pulang dengan selamat. Untuk membayar hutangku padamu.”


Ivy tergelak mendengar perkataan suaminya. “Kau menyebut malam pertama kita adalah hutang? Baiklah, jika kau pulang, kau harus membayarnya dua kali lipat.”


“Kau sanggup menerimanya?” Kali ini ganti Kenan yang menggoda istrinya dengan tatapannya yang mesum. Manik mata hijau itu hanya bergerak-gerak, mulai menyadari ada yang salah dengan ucapannya.


Sambil berbisik di telinga Ivy, ia melanjutkan perkataannya, “Bukan hanya dua, tapi aku bisa membayar hutangku hingga sepuluh kali lipat.”


“Kenan!” seru Ivy yang bergidik ngeri begitu ia mendengar bisikan suaminya. Membayangkan


akan menjadi seperti apa dirinya, jika harus melayani pria itu di atas ranjang, hingga sepuluh ronde.


Ia pun mendorong sedikit dada suaminya sambil tertawa, tetapi pria itu sudah menyiapkan ancang-ancangnya dengan cara semakin menarik tubuh Ivy ke dalam dekapannya. Membuat kedua bibir itu saling menempel kemudian menyatu dalam sebuah hasrat yang tidak bisa mereka salurkan malam ini.


“Baiklah, aku pergi dulu. Aku mencintaimu,” ucap Kenan setelah ia melepaskan ciuman bibirnya dan  sebelum ia mencium kening Ivy.


“Aku juga mencintaimu,” balas Ivy yang masih memejamkan kelopak matanya saat merasakan bibir coklat itu menyentuh keningnya dengan lembut.


Ivy pun mengantar Kenan hingga di depan pintu ruang apartemennya. Suaminya itu tidak memberinya ijin untuk mengantarnya hingga ke lobi apartemen. Tepat saat mereka membuka pintu, anak buah Mehmet baru saja tiba. Tiga orang berpakaian rompi kulit yang memperlihatkan lengan mereka yang berotot dan bertato mendatangi Kenan dan Ivy.


“Mehmet menyuruh kami untuk datang ke sini,” kata salah satu dari kelima orang yang bertampang sangar itu kepada Kenan.


“Kalian berjaga-jaga di luar. Jaga istri dan keluargaku! Jangan biarkan seorang pun


masuk ke dalam apartemenku!” perintah Kenan kepada semua anak buah Mehmet.


“Siap, bos!” seru kelima orang itu dengan serempak.


Sepasang suami istri itu pun berpisah setelah Kenan meminta Ivy untuk menutup dan mengunci pintu apartemen. Sepasang sepatu kets berwarna hitam itu kemudian melangkah memasuki mobil SUV-nya yang berada di lantai basement gedung tersebut.


......................


Hari sudah semakin gelap ketika kendaraan roda empat itu mengisi kekosongan jalan raya. Kenan merasakan kelegaan di hatinya setelah ia berhasil mendapatkan restu dari Ivy untuk pergi menemui Mehmet. Pendaran cahaya lampu jalan itu membuat manik mata abu-abu gelap itu tampak berkilat bak seekor serigala yang siap berburu bersama kumpulannya.


Seperti malam-malam biasanya, gerbang tinggi yang menutup sasana tinju milik Mehmet itu seperti sebuah gudang tua yang tidak berpenghuni. Kebetulan malam ini, tidak ada pertandingan tinju ilegal di sana. Cahaya lampu sorot yang berasal dari kendaraan Kenan, membuat dua orang preman yang berjaga-jaga di depan pintu gerbang itu memindahkan langkahnya ke samping untuk menghidari tatapan cahaya yang menyilaukan pandangan mereka.


“Dimana Mehmet?” tanya Kenan kepada salah satu dari mereka.


“Dia ada di dalam.”


Pintu gerbang itu pun terbuka,  Kenan memasukkan mobilnya kemudian ia melangkah memasuki markas pria berkulit gelap tersebut. Langkah kakinya berhenti ketika dirinya melihat sahabatnya itu berdiri memunggunginya. Sekitar


lima orang berwajah sangar dan berpakaian preman—orang-orang bayaran Mehmet berdiri mengelilingi ruangan. Sebuah ruangan yang hanya diisi dengan sebuah kipas angin pada langit-langit dan sebuah lampu gantung.


Mehmet membalikkan badannya dan berjalan mendekati Kenan. Kedua pria itu pun saling


menempelkan kepalan tangan mereka. “Kau sudah datang rupanya.”


“Apa rencanamu? Apa kau akan melibatkan polisi?” tanya Kenan.


Cahaya lampu gantung itu bergerak seiring dengan tiupan angin yang berasal dari sebuah kipas angin yang ada di dekatnya. Pendaran kekuningan itu menerangi wajah keduanya. Setiap orang yang ada di sana, bisa merasakan kemarahan Mehmet. Seorang pria humoris yang

__ADS_1


menuntut keadilan dengan caranya sendiri.


“Aku akan melakukan dengan caraku sendiri. Malam ini aku akan mendatangi sarang si keparat itu!” kelakar Mehmet dengan rahangnya yang sudah mengeras sebelum Kenan datang. “Aku sudah mencari tahu di mana si keparat itu tinggal. Malam ini kita akan menyerbu rumahnya!”


“Aku akan ikut denganmu. Berikan bagianku juga,” balas Kenan.


Keduanya pun berjalan bersama diiringi dengan lima orang berwajah sangar dan penuh dengan rajahan tato disekujur lengan mereka. Bunyi knalpot keempat kendaraan itu meraung-raung di


depan gedung tua tersebut. Mobil Jeep milik Mehmet memimpin barisan membelah


jalan raya dan langit yang gelap.


Setelah meninggalkan rumah sakit, Mehmet telah mencari tahu keberadaan tempat tinggal Ferit. Selama ini ia berurusan dengan sang pembuat onar itu karena menolong Kenan, tetapi sekarang


pria berambut panjang itu telah berani mengusik dirinya. Maka ia tidak akan pernah melepaskan pria biadab itu.


Mendekati tengah malam, mereka baru saja tiba di rumah Ferit. Sebuah rumah mewah dua lantai dengan pagar hitamnya yang tinggi. Tujuh orang itu pun keluar bersamaan dari mobil mereka. Mereka melihat rumah itu dalam keadaan sepi. Hanya ada sebuah ruangan yang masih


menyala lampunya di lantai atas.


“Keparat itu masih bisa tidur dengan nyenyak setelah apa yang telah dia lakukan pada Cansu,” gumam Mehmet.


“Keluar kau, Ferit Kozan!” teriak Kenan.


Tidak ada jawaban dari dalam kamar tersebut. Tidak ada satu orang pun yang keluar dari dalam rumah untuk menghadapi mereka. Bahkan seekor semut pun tidak berani memunculkan dirinya.


“Jangan sembunyi, kau!” teriak Mehmet yang sudah tidak sabar ingin mencincang pria biadab itu. Pria gundul itu berjalan mondar-mandir dengan kepalan tangannya. “Jika kau pria jantan, turun dan hadapi aku!”


“Sepertinya tidak ada orang di dalam,” ucap Kenan sambil mengusap dagunya yang berbulu.


“Bos, kelambu itu bergerak!” seru salah satu anak buah Mehmet yang sejak tadi berdiri memperhatikan ruangan yang masih menyala.


Kenan dan Mehmet pun mengarahkan pandangannya pada jendela yang dimaksud, dan


ternyata benar. Ada pergerakan di sana. Seperti ada seseorang yang sedang mengintip di balik tirai kain tersebut.


“Ambil tongkatmu!” perintah Mehmet yang mengarahkan pandangannya pada ruangan yang


Salah satu dari pemilik wajah sangar itu mengambil sebuah tongkat pemukul bisbol yang terletak di dalam bagasi mobil. Ia memukul tongkat besi itu di telapak tangannya berulang-ulang hingga langkahnya mencapai tempat Mehmet.


Suami Ivy itu mengambil sebuah batu


yang ada di dekat kakinya. Batu sebesar genggaman tangannya. Dibungkusnya batu


berwarna keabuan itu dengan kertas yang berisi tulisan tangannya, kemudian memberikannya kepada Mehmet.


Pria berkulit gelap itu mengayunkan batu dan memukulnya dengan tongkat bisbol. Suara pecahan kaca itu langsung terdengar mengisi kelamnya malam, seiring jatuhnya batu itu di dalam kamar lantai atas. Kelambu berwarna biru langit itu tampak berkibar terkena tiupan angin


malam.


Seseorang yang berada di dalam kamar, memungut batu yang telah terbungkus oleh selembar kertas. Salah satu alisnya terangkat ke atas begitu ia telah selesai membaca surat tersebut.


“Lihatlah, mereka mengancamku dengan sebuah surat?” tanya Ferit dengan suara tawanya yang mengejek.


“Ini semua karena kebodohanmu! Urus mereka!” perintahnya pada Hasan.


Dengan wajahnya yang lebam karena terkena pukulan Ferit, pria berambut cepak itu langsung mengajak seluruh anak buahnya untuk keluar menyambut tamu mereka. Pagar besi itu pun terbuka lebar, Hasan dan lima orang anak buahnya keluar dengan senjata api dan tongkat pemukul di tangannya.


“Serang mereka!” teriak Hasan sambil menembakkan pistolnya ke atas, dengan maksud untuk menakuti Mehmet dan kawan-kawannya. Orang-orangnya langsung menyerbu keluar bak


seekor banteng yang baru saja keluar dari kandangnya.


Namun, pria berhidung bengkok itu salah perkiraan. Mehmet telah mempersiapkan


semuanya, pria berkulit gelap itu menodongnya dengan sebuah pistol hitam setelah dirinya berada tepat di depan pria itu.


“Dimana tuan pengecutmu, hah?” tanya Mehmet. Moncong kedua pistol itu saling berhadap-hadapan. Mereka tinggal menarik pelatuknya dan salah satu atau keduanya pasti akan tertembak.


Hasan mengusap hidungnya yang tidak gatal kemudian berkata, “Lawan aku dulu, sebelum kau melawan tuanku, gundul hitam!”

__ADS_1


 Di belakang Mehmet, Kenan dan orang-orangnya mulai terlibat baku hantam dengan anak buah Hasan. Bunyi pukulan tongkat itu terdengar di area tersebut. Tak sedikit kendaraan roda empat mereka pun menjadi korban pukulan tongkat dari pihak lawan. Mulai dari kaca jendela mobil


yang pecah hingga tubuh kendaraan roda empat itu yang penyok. Jumlah mereka saling berimbang dan belum adannya korban jiwa yang berjatuhan.


Sebuah batu kecil dilempar Kenan tepat mengenai tangan Hasan, membuat pria berambut cepak itu menjatuhkan senjata apinya. Melihat kesempatan berada di pihaknya, Mehmet langsung memukul


bagian bawah pistolnya ke kening Hasan dan membuat pria itu memundurkan langkahnya menjauhi senjata apinya.


“Kurang ajar!” teriak Hasan yang mengusap keningnya yang berdarah.


Secepat kilat Mehmet menendang pistol milik Hasan ke arah sahabatnya bagaikan seorang


pemain sepak bola yang akan memasukkan bolanya di gawang lawan. “Kenan, tangkap!”


Putra Harun itu membalikkan badannya untuk menangkap senjata api tersebut dan langsung menodongkan senjatanya kepada Hasan, ketika pria berhidung bengkok itu akan menyerang


Mehmet. Kini anak buah Ferit itu diam tak berkutik dan menjadi sanderanya.


“Berhenti kalian semua! Atau aku akan menembak kepalanya!” teriak Kenan kepada semua orang.


Putra Harun itu mengalungkan tangan kirinya di leher Hasan dan tangan kanannya yang memegang sebuah pistol diarahkannya pada kepala pria itu. Baku hantam itu langsung berhenti seketika.


“Letakkan tongkat kalian!” teriak Mehmet kepada anak buah Hasan.


“Bodoh! Kenapa kalian menuruti perintahnya?” Hasan memaki anak buahnya setelah dilihatnya orang-orangnya meletakkan tongkat pemukul mereka satu per satu ke aspal jalan raya. Mehmet memerintahkan anak buahnya untuk memunguti tongkat milik lawan mereka.


“Katakan dimana tuanmu!” teriak Kenan kepada Hasan. Ia menempelkan moncong senjata apinya di pelipis Hasan yang berdarah.


“Aku tidak akan mengatakannya!” seru Hasan yang kemudian tertawa menyeringai.


“Katakan! Atau aku akan menembak kepalamu!” teriak Kenan dengan emosi ia semakin menekan


leher Hasan dengan lengannya.


Sebelum Hasan mengeluarkan perkataannya, sebuah alunan musik klasik menyayat hati


terdengar dari dalam rumah. Rupanya Ferit memperbesar volume suara musik yang


sejak tadi ia dengarkan di dalam kamar. Suara musik klasik yang tiba-tiba muncul itu membuat semua orang terdiam. Mereka memasang indera pendengaran dan penglihatan mereka dengan awas.


Suara tepukan tangan yang keras berasal dari seseorang yang berjalan mendekati pagar


balkon. Seiring dengan langkahnya, suara musik itu pun berhenti. Pria yang dicari oleh Kenan dan Mehmet akhirnya menampakkan sosok dirinya. Mehmet langsung berlari hendak memasuki halaman depan rumah.


“Berhenti!” teriak Ferit dari atas, membuat Mehmet menghentikan langkahnya. “Lepaskan anak buahku atau pistol itu akan meledakkan kepala Cansu!”


Ferit melemparkan ponselnya yang langsung di tangkap oleh Mehmet. Sebuah rekaman


video di kamar rumah sakit yang memperlihatkan seorang pria sedang menodongkan senjata apinya pada kepala Cansu. Mereka mengikat mulut wanita muda itu dengan selembar kain.


“Keparat kau! Aku akan membunuhmu!” teriak Mehmet yang melempar ponsel Ferit ke sembarang arah.


Pria gundul itu langsung menyerbu masuk ke dalam rumah. Ia tidak peduli dengan ancaman pria biadab itu. Begitu juga dengan Ferit


yang langsung turun dari kamarnya menuju garasi. Di sisi lain, Kenan melempar tubuh Hasan ke semak-semak dan menembak lengan kiri pria itu. Membiarkannya hidup dalam kesakitan.


Dalam hitungan detik, pintu garasi yang terbuat dari kayu itu luluh lantak terkena terjangan mobil sedan berwarna hitam. Terdengar suara letupan senjata api yang di tembakkan kepada Kenan dari pengemudi mobil tersebut, beruntung peluru itu tidak mengenai Kenan melainkan mengenai tubuh Hasan yang berusaha bangkit berdiri. Timah panas itu menembus perut Hasan, membuat pria berhidung bengkok itu kembali terduduk sambil memegangi perutnya yang berdarah kemudian roboh seketika.


“Kejar mobil itu!” teriak Kenan kepada orang-orangnya. Ia yakin pengemudi mobil itu adalah Ferit.


Mereka pun serempak masuk kembali ke dalam mobil masing-masing begitu juga dengan


Mehmet yang baru saja keluar dari rumah. Ia pun langsung mengemudikan mobil Jeep nya mengikuti mobil yang ada di depannya.


Keempat mobil itu pun mengejar mobil sedan berwarna hitam. Mobil Kenan berada paling


depan. Ia berusaha menyalip kendaraan yang ada di depannya. Sekilas dari pandangan jarak jauhnya, pria itu melihat mobil Ferit selisih dua mobil dari mobilnya.


Setelah berhasil menyalip dua mobil yang ada di depannya. Kini Kenan berada tepat di

__ADS_1


belakang mobil sedan berwarna hitam. Namun di sebuah jalan raya yang luas, mobil sedan hitam itu tiba-tiba menikung dan berjalan mundur. Ferit mengeluarkan moncong pistolnya dan diarahkannya ke mobil SUV milik Kenan. Begitu juga dengan putra Harun, pria itu mengarahkan senjata apinya ke arah mobil sedan yang ada di depannya. Kedua mobil dan kedua senjata api itu saling berhadapan.


...****************...


__ADS_2