Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Kedua Perusahaan Itu Akhirnya Bertemu Di Kota Paris


__ADS_3

Di salah satu gedung perkantoran yang terletak di pusat Kota Paris. Dengan bangunannya yang berbentuk limas trapesium dan tubuhnya yang berlapis kaca seluruhnya. Suara bunyi bel terdengar satu kali, menandakan bahwa pintu lift akan segera terbuka di lantai lima. Dua orang pria dengan pakaian perlente dan seorang wanita dengan pakaian musim dingin yang bergaya modis berada di dalam lift yang telah terbuka.


Ketiga orang itu pun berjalan seiringan di atas hamparan lantai granit yang berpola. Melewati berbagai lukisan abstrak yang tergantung di sepanjang dinding koridor. Mereka pun berjalan sambil membicarakan tentang pertemuan bisnis yang akan segera berlangsung.


“Apa semua perusahaan yang kita undang sudah datang?” tanya seorang pria dengan perawakannya yang sedikit lebih kurus dibanding kedua rekannya yang lain. Sepertinya pria itu adalah pemimpin mereka.


“Sudah ada empat perusahaan yang hadir dari lima perusahaan yang kita undang, Tuan.” jawab seorang wanita yang berjalan di tengah-tengah rekan prianya. Sementara di tangannya terselip sebuah berkas yang berisi nama-nama perusahaan yang lolos tahap seleksi.


Salah satu dari mereka membuka pintu kayu yang ada di tengah-tengah koridor. Sebuah ruang rapat dengan mejanya yang berbentuk persegi panjang. Di samping kanan kiri meja tersebut, berdiri deretan kursi kantor berwarna hitam.


Ketiga orang itu berjalan beriringan dan mengambil tempat duduk yang ada di bagian depan. Tiga pasang mata itu menatap satu persatu empat orang yang sejak tadi menunggu kedatangan mereka.


“Selamat datang di Perusahaan Mandellion. Sepuluh menit lagi kita akan memulai acara ini. Masih ada satu perusahaan Turki yang belum datang,” tutur seorang wanita yang merupakan salah satu manajer di perusahaan tersebut.


“Perusahaan Turki yang lain?” Ferit langsung beranjak dari tempat duduknya dan mengernyitkan dahinya kepada perwakilan Perusahaan Mandellion. “Kupikir hanya aku, satu-satunya Perusahaan Kozan yang berasal dari Turki.”


“Tidak, Tuan Kozan! Ada Perusahaan Fallea yang juga lolos seleksi tender ini,” jawab sang Manajer.


“Fallea?” Ferit memicingkan kedua kelopak matanya seakan ia telah mendengar sebuah nama yang aneh.


Dia mengambil minumannya dan meneguknya sedikit kemudian dijatuhkannya kembali dirinya ke kursi hitam. “Well…, kita lihat saja apa perwakilan mereka akan datang.”


Sementara itu waktu sepuluh menit terus berjalan tanpa seorang pun yang bisa menghentikannya. Sebuah taksi berhenti di depan Perusahaan Mandellion. Kenan dan Ivy melayangkan pandangannya menatap bangunan tinggi dengan tubuhnya yang berlapis kaca.


“Apa kau yakin ini tempatnya?” tanya Kenan kepada kekasihnya ketika mereka masih berada di dalam taksi.


“Kau akan percaya setelah masuk ke dalam,” jawab Ivy dengan senyuman manisnya. Wanita itu langsung membuka pintu kendaraan umum tersebut dan melangkah keluar.


Kenan hanya mengamati tingkah laku wanita itu dengan gelengan kepalanya dan langsung mengambil koper mereka yang ada di bagasi belakang.


Dasar wanita…! Kau hanya tinggal menjawab Ya atau Tidak. Apa susahnya? Jika bukan ini tempatnya, sia-sia kita menghabiskan waktu datang ke sini.


“Apa yang kau tunggu? Waktu kita tinggal lima menit lagi!” teriak Ivy yang melihat Kenan masih berada di bawah, sementara dirinya sudah menaiki tangga lobi.


Dasar laki-laki…! Apa ego mu terlalu tinggi untuk mempercayaiku? Awas saja jika kita sampai terlambat! Berapa banyak Euro yang sudah kita buang sia-sia untuk pergi ke tempat ini? Tiket pesawat, biaya hotel, biaya makan…. Oh!

__ADS_1


Putri Victor itu langsung berlari memasuki lobi gedung tanpa menunggu Kenan. Wanita berambut coklat gelap itu menebarkan pandangannya untuk mencari pintu lift di antara beberapa dinding yang berwarna coklat kayu.


Sementara Kenan dengan langkahnya yang melebar berusaha mengejar Ivy. Pria itu mencari kekasihnya diantara beberapa orang yang berlalu lalang di dalam ruangan yang  berbentuk lingkaran. Manik matanya menangkap deretan beberapa huruf yang membentuk kata MANDELLION dengan tubuhnya yang berwarna keemasan. Nama perusahaan itu tergantung pada dinding lobi. Ia tersenyum kecut tidak mempercayai perkataan Ivy, kini di mana wanita itu berada?


Pintu lift baru saja tertutup, setelah Kenan menginjakkan kakinya di depan pintu berbahan aluminium tersebut. Ia menekan tombol lift berulang kali agar pintu itu terbuka. Raut wajahnya mulai terlihat kesal.


“Ayolah! Jangan buat aku menunggu!” serunya sambil memegang pegangan tas kopernya yang  terbuat dari besi. Manik matanya menatap tanda panah yang bergerak ke bawah, turun perlahan-lahan.


Mungkin Ivy sudah berada di atas….


Beberapa detik kemudian, pintu lift itu terbuka. Putra Harun itu langsung masuk ke dalam dan menekan angka lima di samping pintu. Tanpa menunggu lama, tabung itu bergerak ke atas menuju lantai lima. Bel itu berbunyi. Sebuah angka lima terlihat pada dinding bagian atas.


Kenan langsung menyeret koper hitamnya setelah pintu berwarna silver itu terbuka. Sepatu pantofelnya melangkah di atas lantai granit yang berpola, dari kejauhan ia melihat sosok Ivy yang berdiri di depan pintu kayu.


“Apa kita terlambat?” tanya Kenan. Suara pria itu membuat Ivy terkejut. Kedua sudut bibir coklat itu terangkat ke atas saat wanita itu menatap wajahnya.


“Tinggal satu menit lagi."


Dari balik pintu, mereka mendengar suara beberapa orang yang ingin agar pertemuan bisnis ini segera dimulai.


“Ayo kita selesaikan bersama,” jawab Ivy yang menutup telapak tangan Kenan dengan tangannya sendiri.


Pintu ruangan itu terbuka, membuat seluruh pasang mata yang ada di dalam ruangan melihat ke arah seorang pria dan seorang wanita dengan pakaian musim dinginnya. Tampak sebuah tas koper berdiri di samping mereka.


Deg!


Jantung Ferit Kozan seakan berhenti sepersekian detik. Pria itu langsung bangkit dari tempat duduknya saat melihat Kenan terlihat segar bugar berdiri dihadapannya. Begitu juga dengan Kenan dan Ivy yang terkejut melihat orang yang terus mencelakai mereka berada di dalam ruangan yang sama.


“Kau!” seru Kenan dan Ferit bersamaan ketika tatapan mata tajam mereka saling bertemu.


“I…ini tidak mungkin! Montir sialan itu masih hidup!” gumamnya pelan dengan bahasa Turkinya yang hanya dimengerti oleh Kenan dan Ivy.


Raut wajah pemimpin Perusahaan Kozan itu mendadak pucat pasi begitu melihat Kenan menggandeng tangan Ivy masuk ke dalam ruangan. Putra Harun itu berjalan dengan tegap. Ferit langsung mengambil gelas minumannya kembali, meneguk air mineralnya perlahan-lahan dengan tangannya yang sedikit gemetar.


Bagaimana mungkin dia masih hidup setelah Hasan menenggelamkannya di perairan Bosphorus?

__ADS_1


Manik mata abu-abu gelap itu terus membidik wajah Ferit bagaikan sebuah senapan yang akan menembak binatang buruannya. Mengunci tatapan mata coklat yang ada di hadapannya, ketika dirinya dan Ivy mendekati meja rapat. Kenan menggenggam erat tangan kekasihnya yang terasa dingin.


Kau terkejut melihat aku masih hidup? Sekarang yang berdiri di hadapanmu ini bukanlah seorang montir sialan....


“Tuan Kozan, kau bisa duduk kembali ke kursimu.” Manajer wanita itu menjulurkan telapak tangannya yang terbuka kepada pria itu.


Tidak ada pilihan lain bagi Ferit selain menuruti perkataan manajer tersebut, daripada dirinya di diskualifikasi dari pertemuan ini. Manik mata coklat itu menatap kedua tangan Kenan dan Ivy yang saling bertautan. Ia memicingkan matanya sambil mengusap perlahan-lahan dagunya yang berbulu.


Susah payah aku dan Hasan mencarimu di seluruh Istanbul, ternyata kau ada di Paris bersama dengan montir sialan ini!


“Apa kalian dari Perusahaan Falea?” tanya manajer pria dari Perusahaan Mandellion kepada Kenan dan Ivy yang berdiri di belakang kursi rapat.


“Maaf, kami terlambat. Benar, kami dari Perusahaan Falea,” jawab Kenan yang dilanjutkan dengan perkenalan dirinya dan Ivy.


“Sama sekali tidak. Kalian datang tepat waktu. Selamat datang di Perusahaan Mandellion, Tuan Fallay dan Nona Eleanor,” sambut sang manajer kepada kedua orang tersebut.


Wajah Ferit mendadak berubah setelah ia mendengar perkataan sang manajer.


Montir sialan itu adalah pemilik Perusahaan Falea? Tak bisa kupercaya! Bagaimana mungkin dia bisa mendirikan perusahaan secepat ini.


Pria berkacamata itu langsung meminta Kenan dan Ivy untuk duduk di kursi mereka. Tatapan mata putra Harun itu beralih menatap tajam wajah Ferit, dimulai dari ia menarik kursi hingga dirinya duduk tepat di depan pria itu. Sementara itu Ivy memilih duduk di samping Kenan.


“Tenangkan dirimu,” bisik Kenan tepat di telinga Ivy. Ia melihat aura ketegangan itu terpancar dari wajah kekasihnya.


Ivy hanya bisa menatap sebuah gelas kaca yang ada di depannya sambil berharap agar setelah pertemuan ini, Ferit tidak membawanya pergi meninggalkan Kenan.


Manajer wanita dari Perusahaan Mandellion itu bangkit berdiri dari tempat duduknya kemudian berbicara dalam bahasa Inggris yang bisa dipahami oleh semua orang.


“Karena semua perusahaan sudah hadir, kita akan memulai acara hari ini. Mohon semua perwakilan menyiapkan presentasi penawarannya.”


...****************...


Bersambung...


Jangan lupa setelah baca bab ini, jangan lupa kasih like, komentar dan vote kalian ya. Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2