Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Kenyataan Yang Sebenarnya


__ADS_3

Setelah mendapatkan uang klaim asuransi suaminya, Sophia dan Cansu pindah ke rumah barunya. Sebuah rumah yang tidak jauh letaknya dari rumah lamanya.


"Darimana ibu mendapatkan uang untuk membeli rumah sebagus ini?" Cansu masih mengelilingi rumah dua lantai yang sekarang ia tempati. Tidak terlalu besar seperti rumahnya sebelumnya, tetapi cukup mewah jika hanya ditinggali oleh dua orang wanita.


"Tentu saja dari uang tabungan ibu." Sophia tersenyum melihat usahanya mengelabui uang asuransi yang seharusnya jatuh ke tangan Ivy.


"Uang tabungan? Oh yang benar saja ibu!" Cansu mengernyitkan dahinya. Ia tahu benar ibunya bukanlah tipe wanita yang menyisihkan uangnya untuk di tabung. Ibunya juga bukan wanita yang super hemat.


Cansu duduk di atas sofa berwarna hijau tosca dan memeluk bantal kecil yang berumbai. Pikirannya melayang memikirkan keadaan Ivy dan Deniz.


"Apa kau tak suka dengan rumah baru kita, sayang? Sophia mendaratkan tubuhnya di samping putrinya. Ia melihat bibir merah itu sedang mengerucut.


"Apa ibu tidak memikirkan keadaan Ivy dan Deniz? Rumah ini masih cukup untuk kita berempat," ucap Cansu. Ia menatap wajah serius ibunya. Ia sedang membujuk ibunya agar mau menyetujui permintaannya.


Mendengar perkataan putrinya, tentu saja membuat hati Sophia sebal. Wanita cantik berambut merah itu mendengus kesal. Di saat ia ingin putrinya bahagia, gadis itu malah memikirkan nasib orang lain.


"Sudahlah, jangan bahas tentang mereka. Teman prianya yang montir kapal itu pasti membantunya. Ibu hanya ingin kau bahagia. Carilah suaminya yang hebat, berpendidikan dan kaya. Kau jangan seperti Ivy! Menolak Ferit hanya untuk seonggok sampah yang tidak berguna!" Sophia segera bangkit berdiri dan meninggalkan Cansu.


Putri Sophia itu menghela napas panjangnya mendengar perkataan ibunya. "Selalu saja soal uang dan uang," gumamnya.

__ADS_1


Siapa yang akan membiayai sekolahmu? Jika ibu menikah dengan Victor, masa depanmu akan terjamin. Victor akan memberikan nama Eleanor nya kepadamu.


Sepenggal cerita masa lalu yang Cansu ingat waktu itu. Ia melipat kedua bibirnya ke dalam dan menopang dagunya di pinggiran sofa.


"Cansu, ibu akan ke rumah lama. Ada beberapa barang yang masih tertinggal. Ini kunci rumah ini," pamit Sophia yang meletakkan sebuah anak kunci berwarna silver ke atas meja. Wanita berusia lima puluh tahun itu segera menyalakan mesin mobilnya dan meninggalkan rumah.


Cansu mengambil kunci tersebut dan menyimpannya di saku celananya. Ia masuk ke dalam kamarnya yang terletak di lantai atas dan mencari lowongan kerja di surat kabar.


Mobil Sophia berhenti di depan rumah lamanya. Ia mencari kunci rumah lamanya yang ia simpan di laci mobil. "Ah... ini dia!"


Wanita berambut panjang itu mengayunkan langkahnya untuk masuk ke dalam rumah. Manik matanya melihat sekeliling ruangan yang masih tertutup kain putih di mana-mana. Penghuni baru belum menempati rumah ini. Ia segera mengambil sebuah kardus yang berisi barang-barang pribadinya.


"Deniz! Apa yang kau lakukan di sini? Bukankah kau seharusnya ada di rumah sakit?"


Deniz segera berlari ke arah Sophia, anak itu memeluk pinggang ibu tirinya sambil menangis. Mulai sejak bayi, yang dilihat Deniz sebagai ibunya adalah Sophia. Baik buruknya wanita itu, ia selalu menganggap Sophia adalah ibunya. Berbeda dengan Ivy yang sudah mengenal ibu kandungnya waktu itu.


"Ivy membawaku keluar. Ia mengajakku untuk tinggal bersamanya di rumah Nur. Aku tidak ingin tinggal di sana, aku ingin pulang ke rumah," jelas Deniz sambil menatap wajah Sophia. Cairan bening itu sudah berkumpul di manik matanya.


Sophia membungkukkan badannya dan memegang kedua lengan Deniz. "Kau tidak bisa tinggal di sini. Lihatlah semua barang-barang kita sudah tidak ada. Tinggallah bersama dengan kakakmu."

__ADS_1


"Tidak! Aku ingin tinggal bersama ayah, ibu, dan kedua kakakku, seperti dulu!" seru Deniz yang menepis kedua tangan Sophia dengan kasar.


Sophia mengajak Deniz untuk keluar rumah. Ia mengunci pintu rumah itu dan memasukkan kardusnya ke dalam bagasi mobil.


"Deniz, aku tidak tahu apa yang telah di katakan Ivy kepadamu. Tapi ayahmu sudah tidak ada! Rumah ini juga sudah di sita oleh bank. Kita tidak bisa tinggal di rumah ini! Sekarang kembalilah pulang!" seru Sophia yang tidak mengerti perasaan Deniz. Raut wajah anak kecil itu begitu terkejut mendengar rentetan perkataan Sophia.


"Apa maksudmu kalau ayah sudah tidak ada? Ivy bilang kalau ayah sedang pergi keluar negeri," sahut Deniz yang bingung dengan semua yang telah terjadi.


"Ayahmu sudah meninggal!" seru Sophia yang membuat Deniz memundurkan langkahnya menjauhi ibunya. "Semua ini karena kakakmu, Ivy!"


"Tidak! Itu tidak mungkin!" teriak Deniz dengan histeris. Anak itu meraung dengan keras dan mengejar Sophia yang sudah masuk ke dalam mobilnya.


Bocah berusia sepuluh tahun itu tersungkur di tengah jalan, ketika tangannya tidak bisa memegang mobil ibunya. Dengan mata kepalanya sendiri, ibunya pergi meninggalkan dirinya.


"Ibu... jangan pergi. Jangan tinggalkan aku."


* Bersambung *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2