Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Aku Kembali Karena Mu


__ADS_3

Sambil merutuki dirinya sendiri, Kenan mendekap tubuh ramping itu dalam rengkuhannya dan menempelkan wajahnya dengan wajah Ivy. Kulit wajah mereka saling bersentuhan. Pria itu membelai wajah Ivy dengan pipi dan hidungnya. Tatkala pipinya menempel di batang hidung Ivy, manik mata abu-abu gelap itu tersentak.


“Kau masih hidup?” Kenan terkejut begitu mendapati adanya aliran udara yang keluar dari kedua lubang hidung Ivy. Ia mengusap sudut matanya yang semula dibiarkannya basah karena air mata.


Putra Harun itu memeriksa denyut nadi Ivy di leher dan pergelangan tangan wanita itu. Denyut nadi itu masih terasa meskipun lemah. Diletakkannya tubuh ramping itu di atas lantai, sementara ia merapikan ranjang tempat tidur Ivy yang tadinya porak poranda.


Pria itu tidak tahu bagaimana caranya merapikan ruangan, ia hanya bisa meletakkan kasur tersebut ke tempatnya semula tanpa penutup kain sprei. Membiarkan bulu-bulu angsa itu bertebaran dan jatuh di sekitar tubuh Ivy.


Ia mengangkat tubuh ramping itu dan membaringkannya di atas tempat tidur. Menggoyang telapak tangan kekasihnya itu agar segera siuman, namun usahanya sepertinya tidak membuahkan hasil.


“Minyak angin! Ya, dulu Nur pernah memberikan minyak angin ketika Ivy pingsan di jalan,” gumamnya sambil menjentikkan kedua jarinya sendiri.


Kedua tangan itu mencari botol kecil yang disimpan Nur. Semua tempat penyimpanan dibuka. Ternyata botol yang berisi cairan beraroma mint itu ada di dalam lemari pakaian Nur.


Ketika Kenan akan mengambil minyak angin tersebut, dilihatnya map biru yang menyebabkan dirinya dan Ivy bertengkar. Benda plastik itu terselip di pintu lemari, tempat persembunyian Ivy.


“Disaat kau akan kehilangan nyawamu, kau masih menyimpan ini,” gumamnya sambil mengusap rambut depannya hingga ke belakang. Ia mendengus kesal tetapi ia memilih untuk mengambil map biru tersebut dan meletakkan benda itu begitu saja di atas nakas yang sudah kembali berdiri di tempatnya.


Aroma mint yang telah merasuki saluran pernapasan Ivy, membuat wanita itu kembali kepada kesadarannya. Manik mata hijau itu perlahan-lahan muncul ke permukaan. Bulu lentik yang menghiasi kelopak matanya dengan serempak bangkit berdiri. Samar-samar ia melihat sosok pria yang duduk di depannya dan memandanginya tanpa henti.


“Kenan....” Suara Ivy terdengar lirih dan serak. Ia merasakan tangan pria itu mengusap jari jemarinya dan terkadang memainkan cincin yang melingkar di jari manisnya. “Kau… kembali?”


Kenan mendekatkan posisi duduknya sedekat mungkin dengan tubuh Ivy. Membelai rambut coklat itu dengan lembut kemudian turun hingga ke dagu wanita itu. “Aku kembali karena mu.”


"Apa kau tidak ingin melihatku lagi?” lanjut Kenan dengan tatapan matanya yang lembut bagaikan tetesan air yang membasahi batu karang.


Ivy memilih untuk memeluk pria yang dicintainya daripada mengungkapkan jawabannya dengan beberapa kata.


“Aku pikir…, kau akan pergi meninggalkanku. Kau tidak akan kembali lagi karena… karena kau sangat kecewa padaku.”


“Maaf.” Akhirnya kata ajaib itu keluar dari mulut Kenan, meskipun itu terdengar sangat kaku.


Betapa susahnya dirinya mengucapkan satu kata itu. Selama ini ia hanya bisa mengucapkan perkataan itu dalam hatinya.


Ivy mencengkeram kaos putih yang membalut tubuh Kenan dan membuat kaos itu basah karena air matanya. “Maafkan aku. Aku tidak bermaksud….”


“Sssttt….” Kenan mengangkat dagu Ivy dan menutup bibir tipis itu dengan jari telunjuknya.


“Sebenarnya kau ingin membantuku’kan?”


Ivy menganggukkan kepalanya pelan kemudian membalikkan tubuhnya menghadap lemari pakaiannya.


Membuat dirinya dan Kenan duduk berdampingan di atas ranjang. Ekor matanya menangkap map biru yang tergeletak di atas nakas.

__ADS_1


Tangannya ragu untuk mengambil benda plastik tersebut, perlahan-lahan ia memalingkan wajahnya melihat reaksi Kenan.


“Ambillah.” Bibir coklat itu berucap.


Putri Victor itu mengernyitkan keningnya di hadapan Kenan, seakan ia tak percaya dengan apa yang baru saja telah ia dengar.


Dia menyuruhku mengambilnya? Dia tidak merobek atau membakar surat perjanjian itu ketika aku pingsan?


Dengan penuh keraguan, Ivy mengambil map biru tersebut namun manik matanya tak lepas menatap Kenan.


“Lanjutkan saja perjanjian kerjasama itu.” Kenan berkata ketika dilihatnya lembaran kertas itu telah terbuka di atas pangkuan wanita itu.


“Kau serius?” tanya Ivy sambil mendongakkan kepalanya menatap wajah berkumis tipis dengan senyumnya.


Manik mata hijaunya membulat dan tampak bersinar. Bibir tipisnya mengembang bak kelopak bunga mawar yang telah membuka kehidupannya.


Kenan mengusap wajahnya dengan kasar seolah Ivy tak mempercayainya. “Apa aku pernah bercanda jika menyangkut pekerjaan?”


Putri Victor itu tertawa lepas memperlihatkan deretan giginya yang terlihat rata. Dalam beberapa menit, kesedihannya hilang lenyap tak bersisa. Ia langsung memeluk kekasihnya dan menghujani kening, hidung dan kedua pipi Kenan dengan sentuhan bibirnya.


“Yang ini belum.” Kenan menunjuk bibirnya sendiri.


“Tutup matamu,” ucap Ivy dengan kerlingan matanya.


Bukan Ivy namanya, jika ia tidak bisa membuat Kenan tertawa, marah dan menangis secara bersamaan. Wanita itu memungut lipstiknya yang jatuh di lantai. Lipstik warna merah menyala.


“Kenapa lama sekali?” Kenan mulai mengerucutkan bibirnya dan memajukan wajahnya, ia sudah bersiap ingin menyentuh bibir tipis Ivy.


“Tunggu, aku masih mengumpulkan napas ku.” Ivy tengah membuka penutup lipstiknya.


Memasukkan batang lipstik tersebut di dalam mulutnya dan menjepitnya di antara kedua bibirnya. Perlahan-lahan dengan sentuhan yang lembut, ia memulas bibir Kenan dengan lipstik merahnya. Bibirnya sedikit menyentuh bibir Kenan.


“Kenapa rasa bibirmu beda? Seperti berminyak?” tanya Kenan yang langsung membuat Ivy tertawa cekikikan.


Wanita itu langsung menyembunyikan lipstiknya di bawah ranjang dan melihat hasil karyanya di bibir Kenan.


Mendengar suara tawa Ivy, Kenan langsung membuka kedua matanya. Pria itu mengernyitkan dahinya melihat kekasihnya yang masih tertawa lepas tanpa henti. Merasa ada sesuatu yang tidak beres, ia mencari cermin untuk melihat wajahnya.


“Ivy!” teriak Kenan di depan cermin yang tergantung di atas wastafel kamar mandi wanita itu.


Pria itu melihat wajahnya seperti seorang badut yang sedang memainkan permainan bolanya di depan anak-anak. Polesan lipstik itu keluar dari garis bibirnya, bahkan hingga ke kumis tipisnya.


Ivy melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk melihat reaksi Kenan. Dalam setiap langkahnya, ia selalu tertawa tanpa henti. Seakan ia memiliki kesempatan untuk mengerjai laki-laki bertampang dingin itu.

__ADS_1


“Jangan dihapus,” ujar Ivy yang masih dengan tawanya.


“Kau suka?” tanya Kenan yang langsung menghampiri Ivy. Ia menaikkan salah satu alisnya dan melemparkan senyumnya yang menawan yang tertutup oleh pulasan lipstik.


“Kau… kau benar-benar lucu, Sayang.” Ivy langsung menggoyang kedua pipi Kenan naik turun, seperti sebuah boneka beruang kemudian ia menarik tangan pria itu keluar dari kamar mandi.


“Kau tahu, Sayang…. Kau benar-benar membuat hatiku tak karuan,” bisik Kenan ketika ia memeluk Ivy dari belakang. Seketika tawa Ivy pun berhenti.


“Benarkah?” Ivy meletakkan kedua tangannya di atas tangan Kenan yang melingkar di perutnya.


“Kau ingin merasakan jantungku yang berdetak sangat kencang ketika memelukmu seperti ini?” bisik Kenan tepat di belakang telinga Ivy dan menempelkan perutnya di tubuh belakang wanita itu.


“Ehem...,” sahut Ivy.


Belum sempat Ivy menyadari pembalasan Kenan. Pria itu langsung menghujani wajah dan lehernya dengan sejuta ciuman. Alhasil wajah dan leher Ivy penuh dengan cap bibir pria itu.


“Auw! Kenan….” Ivy menjerit dalam tawanya dan langsung melepaskan dirinya dari pelukan pria itu. Ia memilih lari keluar dari kamarnya, sementara Kenan mengejarnya dan berusaha menangkapnya.


“Mau kemana kau, Sayang,” ucap Kenan yang ikut tertawa bersama Ivy. Mereka saling mengejar di dalam apartemen yang telah porak poranda.


Namun tawa dan langkah kaki Ivy mendadak terhenti ketika dirinya berada di depan ruang kerjanya.


Dengan langkahnya yang gontai ia memasuki ruangannya. Manik matanya menatap nanar kekacauan yang terjadi di ruangan itu.


Pandangannya jatuh pada dua patung manekin yang tersungkur di dekat sepatu botnya. Patung manekin yang terbungkus dengan gaun pengantinnya dan gaun pengantin Cansu.


“Apa Hasan yang melakukan semua ini?” tanya Ivy sambil menutup mulutnya.


Kenan menghela napasnya setelah ia sampai di ruang kerja. Sama seperti Ivy, manik mata abu-abu itu juga menatap nanar keadaan di ruang kerjanya. Pria itu mengalungkan lengannya di bahu Ivy, karena ia mengetahui pasti wanita itu akan sedih melihat hasil karyanya rusak bagaikan sampah yang terbuang.


“Tanpa baju pengantin pun, aku akan tetap menikahimu,” hibur Kenan.


Ivy menganggukkan kepalanya dan menghembuskan napasnya dalam-dalam. “Aku akan mencoba memperbaikinya dan membersihkan semua kekacauan ini.”


Kenan menarik tangan Ivy agar menjauh dari serpihan-serpihan kaca yang ada di lantai. Ia tidak ingin Ivy repot-repot membersihkan kekacauan yang bukan perbuatan mereka.


“Kita akan pindah dari sini.”


“Pindah? Tapi alamat surat menyurat kita ada di sini.” Ivy mengernyitkan keningnya, ia tidak punya bayangan sedikitpun akan pindah kemana.


“Mereka sudah mengetahui tempat persembunyian kita. Untuk sementara kita akan tinggal di apartemen Mehmet. Hanya malam ini. Aku akan mengurus semuanya. Kau siapkan saja barang-barang Deniz dan Nur, sekarang mereka ada di sana.”


Ivy melakukan seperti yang dikatakan Kenan. Ia memasukkan semua pakaian Deniz, pakaian Nur, pakaiannya dan milik Kenan ke dalam dua koper besar. Tak lupa ia membawa dua baju pengantin dan dua patung manekin serta peralatan menjahitnya. Sore itu juga mereka pindah ke apartemen Mehmet yang ada di gedung seberang.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2