
Hari ini, tidak seperti biasanya di musim semi yang sudah mendekati puncaknya. Pagi ini semilir angin menyelusup masuk ke tubuh Ivy yang hanya memakai setelan rok selutut berwarna merah dengan kaos tipis berwarna krem.
Bocah laki-laki itu juga tampak kedinginan. Telapak tangannya terasa sangat dingin di genggaman tangan Ivy. Perlahan-lahan mereka berdua berjalan meninggalkan gedung sekolah yang ada di daerah Fener. Ivy mengambil cuti pertamanya untuk menemani Deniz.
Ivy bermaksud mendaftarkan Deniz ke sekolah umum. Ia tidak sanggup membayar guru privat untuk home schooling adiknya, meskipun itu sebenarnya adalah cara belajar yang terbaik bagi Deniz. Dengan susah payah Ivy membujuk anak itu agar mau ke sekolah kembali. Perdebatan demi perdebatan terjadi sebelum mereka berangkat.
"Kak, aku ingin makan Balik Ekmek. Aku sudah lama tidak makan sandwich ikan makarel itu," rengek Deniz yang menarik tangan Ivy.
Ivy yang sudah lama meninggalkan kota Istanbul, tidak tahu dimana penjual sandwich ikan itu. Ia pun memutuskan untuk menghubungi Nur. Wanita gemuk itu memberikan arahan kepada Ivy, tetapi tidak bisa mengantar Ivy ke tempat itu.
"Oke-oke. Aku akan mencari bus warna hijau kemudian aku akan naik term." jawab Ivy sambil memegang ponselnya.
Setelah ia menutup alat telekomunikasinya, dilihatnya Deniz yang duduk di trotoar sambil melipat kedua tangannya. Kedua bibirnya tampak bergetar. Putri Victor itu mendekati bocah itu dan mengambil tempat di sampingnya.
"Deniz, bagaimana kalau kita makan Balik Ekmek nya besok saja? Cuaca hari ini sangat dingin. Tempatnya juga sangat jauh," ucap Ivy yang memegang punggung tangan Deniz.
"Aku mau sekarang! Aku sudah lapar!" Deniz menepis tangan Ivy. Wajahnya mendadak cemberut layaknya seorang anak kecil berusia lima tahun.
Sejak ia tinggal di rumah sakit, dirinya hanya makan makanan yang telah disediakan oleh dapur rumah sakit. Ia tidak bisa menikmati makanan kesukaannya. Semuanya terasa hambar di lidah kecilnya.
"Baiklah. Tapi buang wajah cemberutmu," kata Ivy sambil mengusap puncak kepala adiknya. Deniz sudah mau menuruti kemauannya untuk kembali sekolah, sekarang gilirannya untuk menyenangkan hati anak kecil ini.
Dengan penuh keraguan, Ivy mencari nama Kenan di kontak ponselnya. Ia menatap deretan angka-angka yang tertera di layar ponselnya, kemudian ia berubah pikiran. Ditekannya tombol merah untuk membersihkan layarnya, seketika deretan nomor ponsel Kenan terhapus dari layar berbentuk persegi panjang itu.
Apa aku harus meminta bantuannya?
Setelah permainan Truth or Dare itu, mereka tidak pernah bertemu lagi. Esok harinya sebelum ia bangun, Kenan telah pergi kembali ke rumahnya tanpa berbicara kepadanya. Kalimat terakhir yang ia dengar dari bibir coklat itu hanyalah hubungan pertemanan yang diinginkan pria itu.
Pandangan Ivy beralih ke arah Deniz. Bocah itu sedang menggambar sesuatu di aspal jalan raya dengan menggunakan ranting pohon yang jatuh di dekatnya.
__ADS_1
Dengan memupuk sedikit keberanian dan keberuntungannya, Ivy kembali mencari nama Kenan di kontak ponselnya. Jempolnya menekan tombol hijau yang ada di layar. Sebuah nada sambung terdengar di telinga Ivy.
"Halo...." sapa Ivy dengan suara datarnya. Ia menggigit bibir bawahnya, tidak tahu bagaimana reaksi Kenan setelah pria itu menerima panggilannya.
"Ivy?" Kenan saat ini sedang berada di dalam mobil Mehmet setelah mereka pulang dari kantor Cansu.
"Apa kau sibuk sekarang?" Ivy memainkan ujung pakaiannya.
"Tidak. Aku sedang bersama Mehmet. Ada apa?"
Pria berkulit gelap itu langsung menoleh kearah Kenan ketika mendengar namanya disebut.
"Apa kau bisa menolongku sekarang? Deniz ingin makan Balik Ekmek. Aku tidak tahu dimana tempatnya."
Hati Kenan mulai bersorak kegirangan ketika untuk pertama kalinya Ivy meminta tolong kepadanya dengan keinginannya sendiri.
"Aku akan segera ke rumah Nur." Kenan hendak menutup ponselnya.
"Tunggu Kenan! Sekarang kami tidak di rumah. Aku dan Deniz ada di dekat sekolah di daerah Fener. Aku akan mengirimkan lokasinya kepadamu."
Ivy segera menutup ponselnya dan mengirim pesan singkat kepada Kenan. Bunyi pesan masuk terdengar di dalam mobil Mehmet.
"Kurasa aku harus segera pergi, sobat!" seru Kenan.
"Tuan putri sedang memerlukan seorang penunggang kuda," goda Mehmet sambil memainkan matanya.
"Kau jangan bercanda! Kami hanya berteman, dia tidak ingin menjalin hubungan dengan ku," ucap Kenan yang juga mengingat perkataan Ivy sewaktu mereka bermain puzzle.
"Apa kau sudah mengatakan perasaanmu kepada nya?" panci Mehmet yang semakin mempercepat laju mobilnya.
"Belum waktunya." Jawaban Kenan membuat Mehmet menggelengkan kepala plontosnya.
__ADS_1
Mobil berwarna hijau tentara itu berhenti tepat di depan flat berwarna coklat. Kenan segera melompat keluar dan membuka pintu mobil SUV yang terparkir tidak jauh dari mobil Mehmet berhenti.
Dari pantulan kaca jendela mobilnya, ia bisa melihat empat orang pria yang tak dikenal sedang mendatanginya. Kenan membalikkan badannya, dengan cepat ia menangkap salah satu tangan dari seorang pria berperawakan ramping yang akan memukulnya. Putra Harun itu segera melayangkan tinjunya ke arah perut pria itu.
Temannya yang lain mengarahkan tendangannya ke arah Kenan, tetapi putra Harun itu bisa menghindarinya. Kaki pria itu mengenai kap mobil Kenan hingga menimbulkan suara desing. Mehmet yang belum meninggalkan tempat itu, segera turun dari mobilnya dan membantu Kenan.
"Hei! Cari mati kalian ya!" teriak Mehmet yang menepuk genggaman tangannya ke telapak tangannya yang lain.
Keempat pria yang menyerang Kenan itu menoleh ke arah Mehmet. Pria berkulit gelap itu melayangkan tinjunya mengenai rahang bawah salah satu dari mereka. Membuat pria berperawakan tinggi itu terjungkal ke belakang dan tidak bergerak.
Melihat salah satu temannya tidak bergerak, ketiga orang itu segera menyerang Kenan dan Mehmet secara bersama-sama. Baku hantam terjadi di antara mereka.
Kenan menangkap pria berperawakan ramping yang tadi akan memukulnya. Ia menarik tangan pria itu kebelakang dan menempelkannya di atas kap mobilnya.
"Siapa yang menyuruhmu, hah? Kenapa kau menyerangku?" Kenan menekan kepala pria itu hingga menempel di kap mobil yang berdebu.
"Aku tidak akan mengatakannya," ucap pria itu dengan lirih, ia tidak gentar dengan siksaan yang Kenan berikan.
Kenan semakin menarik tangan pria itu ke belakang, hingga pria itu merintih kesakitan. "Jika kau tak ingin kehilangan tanganmu, katakan siapa yang menyuruhmu!"
Pria bertubuh ramping itu berteriak kesakitan. Para tetangga mulai mengintip dari balik jendela tempat tinggal mereka untuk melihat apa yang terjadi.
"Fe... Ferit Kozan," jawab pria itu dengan ekspresi wajahnya yang meringis kesakitan.
Kenan segera melemparkan pria itu ke jalan raya. Raut wajah Kenan berubah menjadi garang. Amarahnya mengalir hingga ke ubun-ubun kepalanya. Ia menghajar pria itu dan kawan-kawannya dengan brutal. Keempat orang itu terkapar, tapi Kenan dan Mehmet membiarkan mereka tetap hidup.
"Aku harus menemui Ivy sekarang!" seru Kenan yang merasa sesuatu telah terjadi pada wanita itu.
"Hei, siapa yang menyuruh mereka?" teriak Mehmet yang melihat Kenan telah meninggalkan dirinya.
Kenan membuka kembali ponselnya untuk melihat lokasi dimana Ivy berada saat ini. Ia memukul kemudinya dengan keras, berharap Ferit tidak menemukan Ivy saat ini.
__ADS_1
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa setelah baca bab ini tinggalkan like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏