Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Reuni DL dan GMYH - Akhir Dari Sebuah Kenangan


__ADS_3

“Kenan….” Hazal menangkap wajah pria itu dengan kedua telapak tangannya. Dua pasang bola mata itu saling terbuka dengan kening mereka yang masih menempel satu sama lain. Cairan bening itu masih meninggalkan jejaknya di wajah masing-masing.


“Hazal, pernahkah kau mencintaiku?” Kenan memegang punggung tangan Hazal yang masih menangkap wajahnya.


Isak tangis itu terdengar dari dalam diri Hazal seiring dengan matanya yang kembali terpejam. “Kenapa… kenapa kau tanyakan itu? Aku tidak punya jawaban untuk pertanyaan mu.”


“Selalu saja kau mengatakan hal itu. Aku tahu pasti ada jawabannya.” Kali ini Kenan yang menangkap wajah tirus Hazal dan menempelkan keningnya kembali ke kening mantan istrinya.


“Jawabanku takkan mengubah apapun, Kenan,” bisik Hazal dengan isak tangisnya.


“Ku mohon jawab pertanyaan ku, aku tahu… itu tidak akan mengubah segalanya, tapi… setidaknya… itu sedikit membuatku lega,” bisik Kenan sambil terbata-bata dan mengusap hidung Hazal dengan hidungnya.


Hazal menganggukkan kepalanya dengan pelan dan melipat bibirnya ke dalam. Ia tak bisa menahan tangisannya kali ini. “Aku… pernah mencintaimu, Kenan. Ketika kau tidak jadi menembak ku di Swiss, di saat itulah aku baru menyadari, bahwa… kau berbeda dari… ayahmu. Di hari pernikahan kita, aku sudah memutuskan ingin hidup dan membangun impian bersama denganmu.”


Air mata itu meleleh bagaikan anak sungai yang meluap dari pelupuk mata Kenan. Perkataan itu memang tidak bisa mengulang masa lalu mereka atau membawa masa lalu ke masa sekarang.


“Maafkan aku…, seandainya saja kau bukan anak Harun Fallay,” bisik Hazal yang melepaskan tangannya dari wajah Kenan.


“Seandainya saja kau bukan anak Erkan Danner,” balas Kenan dengan suaranya yang sangat pelan.


"Dan seandainya saja kau datang menemui ku sebelum aku menikah dengan Yafet.”


“Apa kita akan bersama selamanya?”


Hazal menganggukkan kepalanya kemudian berkata, “Kita akan menjadi suami istri selamanya.”


Deraian air mata itu menyeruak membanjiri wajah mereka. Dalam rengkuhan tubuh Kenan, Hazal menangis sejadi-jadinya. Begitu juga dengan Kenan, mereka saling menangisi takdir kejam yang telah memisahkan mereka.


Seandainya demi seandainya yang tidak akan pernah habis dan tidak akan pernah berujung pada sebuah akhir dari kenyataan yang indah. Seandainya yang hanya menunjukkan betapa penyesalan itu selalu datang terlambat. Terlebih lagi Kenan, betapa sangat menyesalnya pria itu karena telah melepaskan Hazal. Karena egonya yang tinggi, ia memilih untuk tidak menemui Hazal setelah dirinya lolos dari maut.


Tak ada penyesalan yang datangnya di awal. Namun, tak ada kata terlambat untuk memperbaiki kesalahan. Tidak ada kata menyerah untuk memperbaiki semuanya. Rasa penyesalan itu ada, agar kita bisa belajar dari kesalahan masa lalu dan memperbaikinya di masa yang akan datang.


Malam hampir larut, Kenan baru melepaskan pelukannya. Lebih dari dua jam mereka berada di dalam gazebo itu. Ia mengusap seluruh wajah Hazal yang basah karena air mata dan dimasukkannya anak rambut yang berwarna coklat itu di balik telinga mantan istrinya.


“Hazal, apa kau bisa meninggalkan Yafet?”


Deg!


“Pertanyaan macam apa itu, Kenan? Kita sudah—“


Kenan mengangkat wajahnya ke atas sambil memejamkan kelopak matanya kembali yang masih basah. “Aku tahu… jawab saja pertanyaan ku. Apa kau bisa meninggalkan Yafet?


Pertanyaan itu membuat Hazal menyentuh tepi jaket yang dikenakan Kenan. Jari tangan itu meluncur ke bawah hingga berhasil mendapatkan tangan pria itu. “Bagaimana denganmu, apa kau bisa meninggalkan Ivy?”

__ADS_1


Keduanya pun diam membisu dan saling menatap untuk beberapa menit. Tak ada satu pun rangkaian kata yang terucap dari bibir coklat dengan barisan kumis di atasnya. Tangan kanan Hazal mengambil tangan Kenan yang berhiaskan cincin pernikahan. Sebuah cincin polos tanpa hiasan batu permata.


“Aku tahu, kau takkan bisa meninggalkan Ivy. Jika kau berniat meninggalkannya, maka kau akan melepas cincin pernikahanmu sebelum datang menemui ku. Kau juga tidak akan menyelamatkannya di gudang tua itu, dan kau tidak akan memberikan pembelaan mu kepada Hakim.”


“Itu artinya kau juga tidak bisa meninggalkan Yafet?” Kenan menghela napasnya dengan berat.


Hazal menganggukkan kepalanya. “Lupakan aku, Kenan. Jangan memilihku, karena aku tidak pantas untukmu. Ivy jauh lebih baik dariku. Dia memberikan semua cintanya hanya untukmu, tidak sepertiku yang menduakan mu. Dia tidak akan memohon padaku untuk membantumu. Dia melakukan semua ini, karena cintanya padamu, karena keinginannya hidup bersamamu dan Filan.”


“Hazal....”


“Sebelum kita bertemu kembali, pasti kau sudah mengungkapkan perasaanmu kepada Ivy. Ayolah… kembalilah padanya dan cintai dia seperti dulu. Pertemuan kita hanya sesaat.” bisik Hazal dengan lembut.


“Hazal….”


“Berjanjilah padaku… katakan bahwa kau akan melupakanku dan membahagiakan Ivy. Berjanjilah, Kenan….” Suara Hazal itu terdengar seperti rintihan.


Kenan menarik tangan Hazal dan kembali memeluk wanita itu. Tubuh berototnya bergetar saat ini. Ia tak bisa menahan gemuruh di hatinya begitu mendengar permohonan Hazal. Ia mendekap tubuh ramping itu dan mencium lekukan leher Hazal dengan sangat dalam.


“Kenan, jangan ulangi kesalahan orang tua kita. Kau hidup tanpa kasih sayang ayahmu, melihat ayahmu mencintai wanita lain selain ibumu dan melihat ibumu menderita sampai akhir hidupnya. Apa kau ingin membuat Filan mengalami hal yang sama sepertimu?” Hazal berbisik sambil mengusap kepala Kenan yang tertunduk dan menempel di pundaknya.


“A… aku berjanji padamu. Aku akan melupakanmu dan membahagiakan Ivy,” ucap Kenan dengan suaranya yang terisak dan anggukan kepalanya yang berat.


Manik mata coklat itu melihat kalung yang mengikat leher Kenan. Kalung yang terbuat dari benang berwarna merah. Tangan Hazal menyentuh kalung itu, namun Kenan menggelengkan kepalanya seakan pria itu menolak keinginan mantan istrinya. Sekali sentuhan, Hazal berhasil mengeluarkan kalung itu dari balik pakaian Kenan.


“Hazal, jangan… akan ku lepas sendiri.” Kenan berusaha membuka telapak tangan Hazal yang sedang menggenggam benda kayu itu.


“Kau sudah berjanji untuk melupakanku. Bagaimana jika nanti Ivy melihat kalung ini? Bagaimana perasaannya? Wanita mana yang tidak marah melihat suaminya menyimpan nomor ponsel wanita lain dengan cara seperti ini?” teriak Hazal dengan dadanya yang naik turun. Ingin rasanya ia memukul kepala mantan suaminya itu dengan palu.


Tanpa menunggu pembelaan mantan suaminya, Hazal langsung menarik kalung itu hingga terputus dari leher Kenan. Suara ikatan benang yang terputus itu, membuat hati Kenan seakan teriris seiring putusnya kalung buatannya dan kenangan lama itu seakan hancur begitu Hazal membuang kalung beserta bandul kayunya di perairan Bosphorus.


“Sekarang giliranmu yang membuang ini,” ucap Hazal sambil memberikan CD yang berisi video pesan Kenan. Bola mata abu-abu itu menangkap tulisan yang ada di sampul CD tersebut. “For My Lovely Wife, Hazal”


“Kau tak ingin menyimpannya?” Tangan berotot itu memegang tepi kotak CD sementara tangan Hazal memegang bagian tepi yang lain. Masih teringat jelas dalam ingatan Kenan, ketika ia membuat video pesan terakhirnya sebelum hari pernikahannya. Video yang ia rekam sendiri di dalam kamar apartemennya.


“Aku akan menyimpannya jika kau benar-benar meninggal!” seru Hazal sambil memukul dada bidang pria itu, “kumohon, buanglah. Ini untuk kebaikan kita dan keluarga kita.”


“Hazal, kau benar-benar akan melupakanku? Dan mengakhiri semuanya malam ini?”


“Iya, Kenan. Ini demi semuanya."


Dengan berat hati, akhirnya Kenan melempar benda plastik itu ke perairan. Manik matanya menatap nanar deburan air yang menyiprat seiring dengan jatuhnya kepingan kotak CD beserta isinya. Kini kenangan, rasa cinta dan rasa rindu itu seakan telah hanyut dan tenggelam di dasar perairan tersebut.


“Sudah berakhir.” Kenan memasukkan kedua tangannya di dalam saku celananya dan mengangkat wajahnya menatap langit yang bertaburan banyak bintang pada malam hari ini.

__ADS_1


“Ya, semuanya sudah berakhir.” Hazal memajukan langkahnya untuk berdiri di samping Kenan.


“Meskipun kau tak mengijjinkanku untuk kembali mencintaimu, ijinkan aku untuk menjadi teman mu.” Kenan mengulurkan tangannya di depan Hazal.


“Dengan senang hati aku akan menerimamu menjadi temanku,” ucap Hazal sambil membalas uluran tangan Kenan dan tawa kecilnya yang membuat belahan dagunya terlihat.


Guratan senyum terukir dari bibir mereka. Memulai hubungan pertemanan yang baru dan memulai segalanya dari awal. Masa lalu ada agar kita bisa mengukir masa depan dengan lembaran kertas yang baru.


“Aku sudah menemanimu dua jam lebih di tempat ini. Berarti kau setuju untuk kembali ke Perusahaan Puzulla dan menerima asetmu kembali?” Manik mata cokat itu menatap wajah samping Kenan.


“Jika aku memintamu untuk menemaniku sampai pagi?” Mata abu-abu itu membalas tatapan Hazal.


“Kenan...!” Manik mata coklat itu melotot dan kedua alis Hazal pun terangkat ke atas.


Suara tawa kecil itu keluar dari mulut Kenan. “Aku hanya bercanda. Aku menerima tawaranmu. Kapan aku bisa kembali lagi ke Perusahaan Fallay maksudku Puzulla?”


“Sebelum Erhan pergi ke Italia. Aku menunggumu besok di Puzulla, karena aku akan mengadakan kembali rapat pemegang saham. Aku akan menyerahkan semua sahamku padamu sekalian aku akan memperkenalkan kepada seluruh pemegang saham dan seluruh karyawan, bahwa kau adalah pemilik dan CEO Puzulla yang baru.”


Kenan menuang botol wiskinya ke dalam dua geals yang ada di tangannya, kemudian ia memberikan salah satu gelas itu untuk Hazal dan untuk diirnya sendiri. “Bersulanglah untukku malam ini.”


“Aku akan menjadi orang pertama yang mengucapkan selamat untukmu. Selamat datang kembali ke Puzulla.” Hazal mengangkat gelasnya tinggi kemudian mereka saling melakukan tos dengan gelas wiski tersebut.


“Terimakasih untuk semuanya,” balas Kenan. Mereka pun meneguk minuman beralkohol itu


bersama-sama.


Setelah meneguk habis minuman mereka, keduanya keluar dari restoran itu bersama-sama. Langkah mereka berhenti di depan pintu restoran. Sebelum mereka berpisah, Kenan mengatakan kepada Hazal. “Ayo kita melangkah ke arah yang berbeda.”


“Mobilku ada di kanan,” ujar Hazal.


“Aku akan berjalan ke kiri,” balas Kenan.


“Jangan menoleh ke belakang!" titah Hazal.


“Oke, aku tidak akan membalikkan badanku hanya untuk melihat punggungmu," sahut Kenan.


Keduanya pun sepakat melangkah dengan arah yang berbeda. Kenan ke kiri untuk mencegat taksi, sedangkan Hazal berjalan ke kanan menuju mobilnya. Namun, saat taksi yang di panggil Kenan berhenti, pria itu menoleh ke belakang dan dirinya hanya melihat punggung Hazal yang ada di depannya.


“Bagiku kau tetaplah wanita bar-barku, singa betinaku dan wanita yang tidak bisa aku miliki. Selamat tinggal, Hazal.”


Langkah kaki Hazal berhenti di samping pintu mobilnya. Wanita itu ternyata juga membalikkan badannya, dan yang ia lihat juga punggung Kenan yang akan membuka pintu taksinya.


“Meskipun kita bukan lagi suami istri, tapi aku akan selalu mengingatmu bahwa kau adalah pria yang pernah mengisi hatiku sedemikian dalam. Selamat tinggal, Kenan.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2