Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Rasa Percaya Diri Yang Terkikis


__ADS_3

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya Cansu kepada Mehmet ketika mereka melihat pria berhidung bengkok itu masih berada di depan rumahnya. “Pria itu sepertinya sedang mencari Ivy.”


Mehmet meminta Cansu untuk menunggu beberapa waktu lagi. Pria berkepala gundul itu tidak ingin Hasan mengenali dirinya. Hampir lima menit mereka menunggu di dalam mobil dengan tatapan mata fokus memperhatikan dua orang yang sedang berbicara dengan raut wajahnya yang serius.


Hembusan napas Cansu sedikit melayangkan beberapa helai rambut depannya tatkala ia melihat orang kepercayaan Ferit yang bernama Hasan itu akhirnya pergi. Dilihatnya ibunya melangkah masuk ke dalam. Kedua orang itu tidak menyadari kehadiran mobil Mehmet yang terparkir di samping rumah.


“Oke…, ayo kita turun dan bicara dengan ibumu tentang hubungan kita,” ajak Mehmet yang langsung membuka pintu mobilnya dan menapakkan dirinya di atas jalan raya.


Namun Cansu bergeming di atas tempat duduknya. Ia mengatupkan kedua telapak tangannya dan menyembunyikannya di antara kedua kakinya.


“Ada apa? Apa yang kau pikirkan?” Pria tanpa rambut itu melihat kekasihnya sedang menatap ke depan. Entah apa yang dilihatnya, sementara mobil Hasan sudah beberapa menit yang lalu meninggalkan rumahnya.


Mehmet akhirnya kembali masuk ke dalam mobil, saat Cansu berpaling menatapnya. Tangan wanita itu menyentuh sisi pinggir tempat duduk kekasihnya. Dari raut wajahnya, Mehmet dapat melihat ada sesuatu yang mengganjal di hati wanita berambut hitam tersebut.


“Mehmet, sebaiknya...." Ucapan itu berhenti begitu saja.


“Kau tak ingin aku berbicara dengan ibumu?” Pria itu hanya bisa menaikkan salah satu alisnya.


Tatapan kedua pasang mata itu bertemu dalam satu garis lurus. Sebuah gelengan kepala yang Mehmet lihat sebagai jawaban atas pertanyaannya.


“Lantas ada apa? Apa kau tak yakin, kalau aku serius denganmu?”


Dua buah genangan air terlihat dari sepasang mata birunya begitu ia mendengar pertanyaan Mehmet. Dia sangat yakin, kalau pria di sampingnya itu serius menjalin hubungan dengannya dan sangat mencintainya. Hanya saja…


“Aku… aku tidak ingin... kau mendengar perkataan yang menyakitkan… dari ibuku.” Akhirnya perkataan itu keluar dari mulut Cansu.


Sesuatu yang selalu ia takuti, dikala ia membawa seorang pria datang untuk menemui ibunya. Selalu saja semuanya salah dimata wanita paruh baya itu.


“Aku… belum siap.”


Pria berkulit gelap itu hanya mengusap wajahnya. Untuk beberapa detik, ia menatap wajah kekasihnya. Ia berusaha menutupi awan gelap yang menggantung di wajahnya dan menggantinya dengan sebuah senyuman. Sebuah senyuman yang sangat dipaksakan.


“Baiklah, jika itu mau mu.”


“Maafkan aku.” Hanya dua kata itu yang bisa Cansu ucapkan.


Ia menggenggam erat tali berwarna hitam yang menghubungkan kedua ujung tasnya dan menatap Mehmet dengan raut wajah penuh penyesalan.


“Masuklah ke rumah. Aku akan kembali ke kafe.” Mehmet mengalihkan pandangannya menatap jalan raya dengan teksturnya yang bergelombang.


Dari kejauhan sebuah mobil dari arah yang berlawanan melaju melewati kendaraan roda empatnya, menerbangkan beberapa kumpulan daun-daun kering kuning kecoklatan. Beberapa daun itu seakan berteriak ketika mereka jatuh menimpa kap mesin mobil Mehmet.


Perlahan-lahan sosok Cansu menghilang dari hadapannya ketika pria itu melajukan mobilnya yang berwarna hijau tentara. Ia memegang


keningnya dengan salah satu tangannya sementara tangan yang lain ia letakkan di atas kemudi. Langit yang semula berwarna merah kekuningan itu seakan ikut larut dalam kesedihannya, lambat-lambat sang angkasa kini beralih menjadi sosok yang kelam dan misterius.


Beberapa barisan pohon dengan tubuhnya yang terlilit dengan cahaya kecil nan warna-warni menemani perjalanan Mehmet menuju Istanbul Cafe. Tak ada alunan musik dan suara yang lain di dalam mobil. Hening. Seperti itulah

__ADS_1


perasaannya saat ini. Terkadang ia mengusap kepalanya yang plontos.


"Apa seperti ini rasanya jika aku memberikan seluruh hatiku untuk seorang wanita? Mengapa cinta harus dinilai dari sesuatu yang terlihat? Omong kosong untuk semua itu!" batinnya yang sedang bergemuruh.


Mobil Jeep itu berhenti di depan Istanbul Cafe dengan suara remnya yang berderit. Hentakan suara pintu mobil itu bahkan hampir menyaingi irama musik yang mengalun di dalam kafenya.


Selama satu tahun ini ia berusaha membangun kehidupannya sendiri, tanpa bayang-bayang Kenan dan keluarga Fallay. Ia berusaha membuat dirinya sama dengan orang Turki pada umumnya. Bertahan hidup di atas tanah yang bukan tempat kelahirannya. Namun semuanya terasa sia-sia, ketika kau berhadapan dengan orang yang menilai masa lalu mu, siapa dirimu dan darimana kau berasal.


“Sekarang kau ada dimana?” tanya Mehmet yang berbicara dengan seseorang di ponselnya.


“Dimana lagi jika bukan di apartemen.” Terdengar suara pria lain yang ada di ujung ponselnya.


“Aku akan tiba sepuluh menit lagi," kata Mehmet.


Setelah menutup panggilan ponselnya, ia melangkahkan kakinya menuju ke meja bartender. Peracik minuman itu tidak bisa menolak permintaan sang pemilik kafe, disaat pria gundul itu meminta lima botol minuman. Kelima botol berbentuk kotak dengan cairannya yang berwarna coklat langsung tersedia di atas meja. Bartender itu memberikan sebuah tas yang terbuat dari karton tebal kepada Mehmet untuk menyimpan botol minuman tersebut.


Sekitar pukul sepuluh malam, terdengar suara bunyi bel di dalam ruang apartemen sekaligus kantor Falea. Setelah mencukur bulu-bulu yang menghiasi wajahnya, Kenan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu depan.


“Siapa yang datang malam ini?” tanya Ivy yang melihat Kenan keluar dari kamar. Pria itu berjalan dengan terburu-buru tanpa menoleh ke arah Ivy.


“Apa ada klien yang datang malam ini?” Ivy bertanya sekali lagi ketika ia meletakkan piring bersihnya ke dalam lemari, karena itulah yang ia inginkan saat ini.


Dari balik daun pintu lemari yang terbuka, ia hanya bisa melihat punggung tegap Kenan yang berdiri di depan ambang pintu. Tidak terlalu jelas siapa tamunya yang datang malam ini.


Rupanya putra Harun itu tidak mendengar pertanyaan Ivy, pria itu langsung membuka pintu apartemennya. Dilihatnya Mehmet sudah berdiri di depan dengan raut wajah yang tampak kacau dan sebuah tas karton di tangannya.


Ia bisa melihat isi tas tersebut saat Mehmet berjalan melewatinya begitu saja. Pria berambut hitam itu hanya bisa tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya saat menutup pintu apartemennya kembali.


Mehmet langsung menjatuhkan dirinya di atas sofa panjang yang memang hanya satu-satunya tempat duduk di ruangan itu. Ia meletakkan kepalanya pada bibir sofa yang terbuat dari bulu sintetis berwarna abu-abu. Sedetik kemudian kedua kelopak matanya sudah tertutup rapat. Hanya itu yang diinginkannya saat ini.


Putra Harun itu mendudukkan dirinya di samping Mehmet. Ia membuka sebuah botol minuman dan memberikannya kepada temannya yang terlihat bagaikan seorang pria yang sedang putus harapan. Kemudian ia membuka botol yang lain untuk dirinya sendiri. Kedua pria itu minum dalam diam, tak ada satupun dari mereka yang memulai pembicaraannya.


“Apa ini tentang wanita?” tebak Kenan yang sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya.


Setengah botol sudah diteguknynya malam ini, tetapi pria berkulit gelap itu tidak juga membuka suaranya.


Mehmet meletakkan botol minumannya yang telah habis tak bersisa. Manik matanya menatap layar televisi yang telah padam. Melalui layar datar tersebut, pria itu bisa melihat pantulan wajahnya sendiri. Ia hanya menjawab pertanyaan Kenan dengan suara yang tertahan di dadanya.


“Kau ingin minum lagi?” tanya Kenan yang telah bersiap untuk membuka botol yang ketiga.


“Berikan aku satu lagi.”


Tutup botol itu terlepas dari tubuhnya dan kepulan asap alkohol terlihat membumbung tinggi dari puncak lehernya. Pria berkepala plontos itu langsung menyambar botol minuman tersebut dari tangan Kenan, diteguknya hingga hanya menyisakan seperempatnya.


“Apa sebelum ayahmu meninggal, dia pernah mengatakan siapa dan di mana keluargaku tinggal?” Pertanyaan Mehmet membuat Kenan mengernyitkan dahinya.


"Kenapa tiba-tiba dia menanyakan hal itu?" batin Kenan.

__ADS_1


Kenan mencoba mengingat kisah masa lalunya. Masa dimana dirinya dan Mehmet bertemu di sebuah panti asuhan. Waktu itu ia kabur dari rumahnya ketika ibunya baru saja meninggal dunia. Ia merasa kesepian dan tanpa teman. Langkah kaki kecilnya membawanya ke sebuah panti asuhan sederhana yang dihuni oleh anak-anak korban konflik perang di perbatasan Turki dengan negara lain.


Kenan kecil berdiri di depan pagar panti yang hanya setinggi kepalanya saat itu. Ia melihat seorang bocah berkulit gelap sedang dikeroyok oleh beberapa anak lain di tengah lapangan. Putra Harun itu langsung berlari mendekati anak-anak nakal tersebut dan memukul mereka yang mengganggu bocah berkulit gelap tersebut.


“Jangan ganggu dia! Pergi kalian!” teriaknya kala itu kepada tiga orang anak laki-laki yang mengganggu Mehmet. Ia mengacungkan sebuah balok kayu sepanjang lengan kecilnya kepada mereka. Ketiga anak nakal itupun pergi meninggalkan Kenan dan Mehmet.


“Siapa namamu? Kenapa kau menolongku?” tanya Mehmet yang memperhatikan wajah Kenan. Seorang bocah berkulit putih yang kira-kira berusia sama dengannya, sepuluh tahun. Anak itu mengulurkan tangannya untuk membuatnya bangkit berdiri.


“Kenan. Kau?”


“Mehmet.”


Kenan memperhatikan wajah dan postur tubuh Mehmet. Putra Harun itu berpikir nama anak itu seperti nama orang Turki, tetapi jika dilihat anak itu tidak seperti dirinya dan anak-anak Turki yang lain.


“Boleh aku tinggal disini?” tanya Kenan yang menatap bangunan panti asuhan yang ada di belakang Mehmet.


“Ini bukan rumahku, tapi sejak bayi aku tinggal disini. Ikut aku,” ajak Mehmet.


Kedua bocah itu memasuki sebuah ruangan yang ada di lantai bawah untuk menemui Kepala Panti Asuhan. Kenan terpaksa berbohong dengan mengatakan bahwa dirinya sudah tidak memiliki orang tua, agar wanita itu mengijinkannya tinggal di sana. Putra Harun itu tinggal di panti asuhan tersebut hampir satu minggu.


Hingga suatu hari, Harun menemukannya berada di panti asuhan tersebut. Kenan mengajukan syarat kepada ayahnya, bahwa dirinya akan pulang kembali rumah asalkan ayahnya mengijinkan Mehmet untuk tinggal bersama dengan mereka.


Sejak itulah awal mula Mehmet mengenal keluarga Fallay. Satu kebaikan yang diperbuat oleh Harun seumur hidupnya adalah membiayai seluruh kehidupan Mehmet hingga pria itu menyelesaikan studinya di luar negeri bersama dengan Kenan. Dua bocah laki-laki dengan karakter dan latar belakang yang berbeda itu menjalin persahabatan hingga mereka dewasa.


“Yang aku tahu keluargamu bukan berasal dari Turki. Siapa keluarga kandungmu dan di mana mereka, ayahku tidak pernah mengatakannya.” Kenan memalingkan wajahnya menatap botol minuman kosong yang ada di depannya.


Sebuah hembusan napas terdengar berat keluar dari hidung Mehmet. Kejadian itu sudah tiga puluh tahun yang lalu, tidak ada seorangpun yang mencarinya hingga saat ini. Entah dia hidup atau mati, tak ada yang peduli.


“Apa ibunya Cansu menanyakan hal itu kepadamu?” tanya Kenan dengan sedikit tawanya.


Putra Harun itu membayangkan bagaimana menjengkelkannya wajah Sophia ketika wanita paruh baya itu menatap dirinya sewaktu mereka bertemu di rumah Ivy.


“Aku belum bertemu dengannya. Cansu belum siap memperkenalkanku dengan ibunya.” Mehmet kembali meneguk minumannya.


“Kau tidak percaya diri?”


Hanya sebuah gumaman yang terdengar dari mulut Mehmet yang terkatup rapat.


“Siapa yang berani menolak Mehmet, hah?” tanya Kenan dengan tawanya. Ia menepuk pundak sahabatnya untuk memberikan pria itu semangat.


“Yang kau kencani adalah Cansu, bukan ibunya! Dia menerimamu, kalian saling mencintai. Masalah selesai!”


“Kau memiliki apa yang diinginkan oleh pria Turki. Kau bahkan lebih hebat dariku.” tambah Kenan.


“Jika Sophia menolak mu, katakan padaku. Aku akan membantumu. JIka kau kesepian di apartemen, tinggallah di sini malam ini,” ucap Kenan yang dibalas dengan sebuah senyuman yang terlukis dari wajah Mehmet.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2