Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Kisah Cinta Si Hitam dan Si Putih


__ADS_3

Cansu tengah menikmati sepiring Pilav buatannya sendiri. Dia menyendok nasi Turkinya sambil memandangi cincin pemberian Mehmet. Ia mengingat pertemuan pertama mereka di tempatnya bekerja. Pria itu selalu ringan tangan dan menampakkan wajah cerianya setiap kali mereka bertemu. Mungkin itu jugalah yang membuat dirinya jatuh cinta kepada pria gundul itu. Mehmet selalu mempunyai waktu untuknya dan selalu mendengarkan setiap curahan hatinya.


Wanita berambut hitam itu mengambil ponselnya. Ia memotret cincin yang sudah melingkar di jari tangannya kemudian mencari nama Ivy di layar ponselnya.


“Cansu.” Suara ibunya membuatnya batal mengirim foto cincin itu kepada Ivy. Ia langsung menutup layar ponselnya dan menghabiskan sisa makanannya.


“Apa masih ada Pilav buatanmu?” tanya Sophia yang langsung mengambil piring kosong di depannya. Cansu langsung menuang nasi gurih itu ke piring ibunya.


“O…o...,” ucap Sophia yang langsung memperhatikan sesuatu yang berkilau di jari tangan Cansu. Putrinya itu segera tersadar dan langsung menyembunyikan tangannya di bawah meja makan.


Selera makan Sophia langsung berubah, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu segera menghampiri putrinya. “Sejak kapan kau memakai cincin mahal itu? Apa gajimu cukup untuk membeli perhiasan itu?”


Cansu merutuki dirinya sendiri, seharusnya ia menyimpan cincin itu di kamar. Bukan malah memakainya, tetapi semuanya terlambat. Kini ibunya telah melihat perhiasan mahal ini, dan mungkin ibunya akan segera mengetahui hubungannya dengan Mehmet.


“Kenapa kau diam saja? Apa ini pemberian seseorang?” desak Sophia yang tidak kehilangan akal untuk memaksa putrinya itu bicara.


“Ini bukan apa-apa, Bu. Ini hanya cincin biasa,” elak Cansu, tetapi Sophia langsung menarik tangan kanannya membuat ibunya dengan mudah melihat cincin tersebut.


Mulut Sophia terbuka lebar. Pandangan matanya menatap cincin dan wajah Cansu secara bergantian. “Ini bukan imitasi. Ini asli!”


Sejak menjadi istri Victor, ia sudah bisa membedakan perhiasan asli dan perhiasan palsu. Selama sepuluh tahun menjadi nyonya Eleanor, hampir setiap bulan ayah Ivy selalu membelikannya perhiasan mahal dan barang-barang mewah lainnya.


Cansu langsung menarik tangannya dari genggaman tangan Sophia. Ia menundukkan wajahnya dan menggenggam erat jari tangannya sendiri.


“Katakan pada Ibu, siapa yang memberikan cincin ini kepadamu?” Sophia mengangkat dagu Cansu agar menatap manik matanya. Pikirannya mengatakan pasti pemuda itu pemilik perusahaan tempat putrinya bekerja atau pemuda kaya yang lain.


“Cincin ini… cincin… pemberian… Mehmet,” jawab Cansu dengan nada suaranya yang bergetar. Bola matanya bergerak-gerak seakan ia menunggu reaksi ibunya.


“Meh… Mehmet?” Mata Sophia tampak melotot setengah tak percaya. “Pria hitam dan gundul itu?”

__ADS_1


Wanita muda itu hanya bisa memejamkan kelopak matanya di saat ibunya mendengus dengan kesal. Ia hanya menjawab lirih pertanyaan ibunya, “Aku mencintainya, Ibu. Kami saling mencintai.”


“Cinta?” Tawa Sophia langsung meledak begitu ia mendengar perkataan putrinya.


“Bukankah Ibu ingin aku mencari pria kaya? Mehmet mampu membelikan cincin mahal ini untukku!” Cansu mengangkat telapak tangannya dihadapan Sophia. “Apa kurangnya dia?”


Sophia memegang keningnya yang mulai berdenyut-denyut. Ia menatap wajah cantik putrinya.


Tidak bisakah dia memilih pria yang lebih tampan dari si hitam itu?


“Dia sangat berbeda dengan kita!” seru Sophia yang mencoba menahan langkah putrinya.


Dengan berani Cansu menghempaskan tangan ibunya kemudian berkata, “Cukup, Ibu! Selama bertahun-tahun, aku selalu membiarkan Ibu untuk mendikte setiap kehidupanku! Kali ini aku yang akan menentukan jalan hidupku sendiri!”


Putri Sophia itu langsung pergi meninggalkan ibunya yang masih terbengong mendengar perkataannya. Ia ingin menjadi seperti Ivy, yang berani mengambil sikap untuk menolak kehendak ibunya. Dirinya juga punya kebebasan untuk memilih dengan siapa ia akan menikah, karena ia yang akan menjalani kehidupannya bukan ibunya.


Beberapa menit kemudian, Mehmet yang sedang mengendarai mobilnya melintas di daerah rumah Cansu. Namun ia mengurungkan niatnya, saat ia melihat seorang wanita yang mirip dengan kekasihnya itu sedang duduk di kursi taman. Ia menghentikan mobilnya dan berjalan mendekati wanita tersebut. Semakin lama ia semakin yakin bahwa wanita itu adalah Cansu.


“Apa yang membuatmu menangis, Nona Cantik?” tanya Mehmet yang sudah berdiri di depan kursi Cansu. Ia melihat wanitanya sedang menundukkan kepalanya dengan wajahnya yang memerah.


“Mehmet?” Cansu langsung mengenali suara pria tersebut. Ia langsung memeluk kekasihnya itu dengan erat dan menumpahkan segala kerisauan hatinya di pundak pria itu.


“Ada apa?” bisik Mehmet dengan lembut. Ia mengusap punggung Cansu dengan perlahan. Diusapnya lelehan air mata yang telah membasahi wajah cantik kekasihnya. Ia menuntun wanita itu untuk kembali duduk di kursi taman.


“Apa telah terjadi sesuatu di rumah?” tanya Mehmet yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Cansu. Ia melihat cincin pemberiannya masih melingkar di jari manis kekasihnya.


“Apa ini soal ibumu?” tebak Mehmet sambil memegang tangan Cansu.


“Ibuku sudah tahu tentang hubungan kita.” Cansu hanya bisa memejamkan kelopak matanya setelah mengatakan hal itu.

__ADS_1


Begitu juga dengan Mehmet, pria itu menghembuskan napasnya dalam-dalam. Cepat atau lambat ia harus berhadapan dengan induk semang kekasihnya.


Ini bukan pertama kalinya dirinya menjalin hubungan dengan wanita, tetapi Cansu berbeda dengan wanita yang sering ia temui di kelab malam bersama Kenan. Kali ini ia ingin menjalani hubungan yang seriu dengan saudara tiri Ivy.


“Ayo, kita ke rumahmu sekarang. Aku akan bicara dengan ibumu.” Mehmet berdiri dan membuka telapak tangannya.


Cansu bangkit berdiri dan meletakkan telapak tangannya di atas telapak tangan Mehmet. “Apa yang akan kau katakan?”


“Tentu saja aku akan mengatakan bahwa aku mencintai putrinya!” Ada penegasan dan keseriusan dari nada suara pria gundul itu. Manik matanya menatap dalam wajah Cansu.


Manik mata biru itu menatap Mehmet dengan tatapan nanar. Ia mengerti bagaimana pria itu ingin menjalin hubungan yang serius dengannya, tetapi ia tidak ingin Mehmet mendengar perkataan atau penilaian buruk yang keluar dari mulut ibunya.


Belum sempat ia berbicara, Mehmet langsung menarik tangannya untuk keluar dari taman. Ia pun hanya mengikuti kemauan pria itu untuk masuk ke dalam mobil.


Tidak lebih dari dua menit, perjalanan dari taman menuju ke rumah Cansu. Mobil Jeep itu berhenti di belakang mobil sedan yang parkir tepat di depan rumahnya.


“Tunggu, Cansu!” seru Mehmet yang langsung menarik tangan kekasihnya itu.


Cansu pun membatalkan keinginannya untuk membuka pintu mobil. Mehmet menunjukkan pemandangan yang ada di depan mata mereka.


“Ibu? Siapa pria itu…?” Cansu mengernyitkan dahinya melihat Sophia sedang berbincang dengan seorang pria berambut cepak yang tidak ia ketahui namanya.


“Pria itu adalah anak buah Ferit Kozan. Aku pernah bertemu dengannya pada malam pertarungan antara Ferit dan Kenan. Kalau tidak salah namanya… Hasan,” jelas Mehmet yang terus memperhatikan gerak-gerik pria berhidung bengkok itu.


“Mau apa dia ke rumahku? Ada hubungan apa dia dengan ibuku?”


Mehmet segera membuka kaca jendela mobilnya untuk memberikan jawaban kepada Cansu. Samar-samar mereka mendengar nama Ivy disebut oleh kedua orang itu.


* Bersambung *

__ADS_1


__ADS_2