Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Anggap Saja Aku Seorang Pengecut


__ADS_3

Cansu berjalan menyusuri jalanan di sekitar Menara Galata. Ia melewati barisan meja kursi dengan ukiran kayunya yang berwarna coklat. Kedua perabot itu berjejer rapi di setiap beranda kafe dengan bentuk dan pola yang sama.


Putri Sophia itu mengamati satu per satu nama kafe yang tertulis di atas kaca jendela atau di papan panjang. Sepasang sepatu high heels berwarna hitam berhenti di depan sebuah kafe dengan cahaya lampu kuning yang membentuk huruf Istanbul Cafe.


Seberkas cahaya lampu gantung menyapa Cansu ketika ia memasuki kafe dengan nuansa klasik modern. Ia melihat sekitarnya banyak orang yang duduk berpasangan, saling bercumbu dengan mesra, saling menyuapi, saling mengobrol dan tertawa.


Kenapa aku memilih datang ke sini sendirian? Seharusnya aku mengajak Ivy.


Ia merutuki dirinya sendiri, tapi dirinya sudah terlanjur datang ke tempat ini. Pergi bukanlah pilihan yang terbaik karena ia telah menerima undangan Mehmet.


"Tapi dimana pria itu?" gumamnya ketika ia menyapukan pandangannya ke arah meja kasir, bartender, dan meja pengunjung. Pria berkepala plontos itu tidak menampakkan batang hidungnya.


"Apa kau sedang mencari ku?" Suara serak dari seorang pria mengejutkan Cansu.


Mehmet menepuk pelan pundak Cansu, membuat wanita itu mengangkat sedikit bahunya kemudian membalikkan badannya.


"Ya. Ehm... tidak," ucap Cansu dengan gugup tetapi ia tetap memberikan senyuman manisnya.


"Kau baru pulang kerja?" tanya Mehmet yang berjalan mendahului Cansu, di dengarnya suara gumaman wanita itu.


Mehmet menggiringnya untuk duduk di dekat meja piano besar berwarna putih. Seorang pianis bayaran Mehmet memainkan musik romantis khas Turki.


Manik mata biru itu mengelilingi ruangan itu sejauh ia dapat memandang. Lampu gantung dengan intensitas cahayanya yang redup, penggunaan warna hangat di setiap perabot dan dinding, deretan gelas anggur yang tergantung cantik di dalam sebuah rak gantung, meja bartender dengan deretan botol minuman impor dengan bentuk dan ukuran yang berbeda. Ditambah lagi tempat duduk yang membuatnya nyaman saat ini.


"Kau suka?" tanya Mehmet. Ia mengikuti ekor mata biru yang sedang memandangi interior kafenya.


"Suka apa? Ruangan ini atau musik piano itu?" Cansu mengernyitkan dahinya ke arah Mehmet, kemudian beralih ke arah pianis muda dengan jari-jarinya yang lincah menyentuh bilah-bilah papan monokrom.


Mehmet menaikkan salah satu alisnya dan berkata, "Semuanya."


"Tempatmu sangat menarik, jujur aku sangat menyukainya," jawab Cansu dengan sedikit mengangkat dagunya.


Seorang pelayan wanita dengan cepolan rambutnya yang rapi mendatangi meja mereka. Putri Sophia itu mengarahkan wajahnya ke arah pramusaji.


"Pilihlah yang kau suka, anggap ini perkenalan dariku." Mehmet mencondongkan tubuhnya untuk melihat halaman demi halaman yang pada buku menu yang dibuka oleh Cansu. Ia meminta pelayan wanita itu menunggu pesanan tamunya.


Cansu memilih satu makanan penutup dan jus buah. Ia mengembalikan buku menu itu ke seorang wanita yang memakai seragam bertuliskan nama tempat wanita itu bekerja.

__ADS_1


"Secangkir white coffee hangat untukku," sahut Mehmet.


"Kau hanya memilih makanan penutup?" tanya Mehmet sambil menggaruk ujung alisnya ketika dilihatnya karyawannya meletakkan sepiring kecil berbentuk lingkaran di atas meja. Padahal jika Cansu memesan semua menu makanan di sini, ia tidak akan keberatan mentraktir wanita itu.


"Aku tidak terbiasa makan berat di malam hari." Cansu mengambil satu suapan kecil dan memasukkan kue keju bercita rasa manis itu ke dalam mulutnya.


"Ini enak," gumam Cansu dengan mulutnya yang masih mengecap. Ia mengambil suapan kedua, lelehan keju itu mengulur sangat panjang ketika di tarik oleh Cansu.


Mehmet mengamati ekspresi wajah dan bibir Cansu ketika mengunyah, menjilat dan menggigit makanannya. Tak perlu ikut menikmati kudapan Cansu, melihat wanita itu saja sudah membuatnya merasakan kenikmatan dalam dirinya.


"Aku bisa membuatkannya untukmu."


"Benarkah? Kau bisa memasak?" Hampir saja Cansu tersedak ketika ia berbicara sambil mengunyah kuenya. Ia terbatuk-batuk dengan mengibaskan salah satu telapak tangannya ke depan wajah. Dengan spontan, Mehmet segera berdiri menghampirinya, memberikan minuman untuknya dan menepuk-nepuk punggungnya dengan pelan.


"Sudah lebih baik?" Mehmet kembali ke tempat duduknya.


Cansu hanya memberikan jawabannya dengan anggukan kepala. "Terimakasih."


"Kau sangat menikmati makananmu." Mehmet menaikkan salah satu alisnya dengan maksud menggoda Cansu. "Jika kau suka, besok aku akan mengirimkan makanan ini ke kantormu."


Wajah pria berkulit gelap itu berseri-seri ketika mendengar perkataan Cansu. Ia mulai membicarakan sesuatu yang santai dengan wanita itu, mulai dari hobi hingga pekerjaan. Percakapan mereka dengan mudah berjalan dengan lancar.


Waktu terasa berjalan sangat cepat. Entah sudah berapa lagu yang dimainkan oleh sang pianis yang sejak tadi duduk sambil memijat mata pianonya. Mehmet mulai menyesal white coffee nya.


"Apa kau ingin ke tempat lain?" tanya Mehmet setelah ia meletakkan gelas minumannya. Ia mengambil beberapa butir kacang hazelnut yang ada di dalam mangkuk kaca. Mengunyahnya dengan nikmat.


Manik mata biru itu menatap wajah Mehmet. Seorang pria dengan manik mata hitamnya yang bulat, hidung mancung, sepasang alis dan kumis yang tipis. Deretan gigi putih bersih yang kontras dengan warna kulitnya yang gelap tapi bersinar. Garis rahangnya yang tidak terlihat tegas. Sesuai dengan selera humornya yang tinggi.


"Aku ingin ke Taskim Square. Bagaimana kalau kita mengajak Ivy dan Kenan?" Cansu menyesap minuman terakhirnya.


"Boleh juga. Aku akan hubungi Kenan, kau hubungi Ivy."


Suara hiruk pikuk di dalam kafe, membuat mereka memilih untuk keluar dari ruangan itu dan berjalan saling membelakangi ke arah yang berbeda. Sayup-sayup terdengar suara panggilan dari balik ponsel mereka.


"Halo, Ivy?" Cansu mendekatkan ponselnya di samping telinganya.


"Ya. Ada apa, Cansu?"

__ADS_1


"Kau dimana? Aku ingin mengajakmu ke Taskim Square malam ini." Cansu membalikkan badannya, ia melihat punggung Mehmet. Pria itu sedang berkacak pinggang sambil memegangi ponselnya.


"Oh, aku baru saja pulang kerja. Aku masih ada di jalan bersama dengan managerku. Maafkan aku."


Raut wajah Cansu tampak sedikit kecewa ketika mendengar penolakan Ivy. "Baiklah, mungkin lain waktu saja."


Mehmet baru saja menyelesaikan percakapan teleponnya dengan Kenan. Ia segera menghampiri Cansu, "Bagaimana apa Ivy bisa malam ini?"


"Dia baru saja pulang dari kantor. Dia masih di jalan," ucap Cansu sambil menggigit bibir bawahnya. Padahal ia ingin keluar bersama dengan Ivy dan kedua lelaki itu, seperti yang pernah mereka lakukan sewaktu mereka masih berada di sekolah tingkat akhir.


"Bagaimana... apa kau ingin pulang atau pergi ke Taskim Square bersamaku?" Mehmet berdiri di samping Cansu. Ia bisa melihat lekukan garis wajah wanita itu.


"Baiklah, kita pergi ke Taskim Square." Cansu mulai terlihat bersemangat kembali, ketika Mehmet dengan senang hati mengantarnya kemanapun dia pergi malam ini.


Di sisi lain, Kenan yang baru saja keluar dari tempat latihan tinjunya bermaksud ingin mengunjungi Ivy. Ia berpisah dengan Serkan ketika ia sudah menemukan mobilnya.


Sudah dua hari sejak mereka pergi ke Eminonu, dirinya dan Ivy tidak saling bertemu. Ia juga tidak pernah menghubungi Ivy melalui ponselnya, karena baginya untuk apa berbicara melalui ponsel jika mereka berada di kota yang sama? Lebih baik bertemu langsung dengan wanita itu, dengan begitu ia bisa menatap wajah Ivy dan menikmati setiap senyumannya.


Mobil SUV berwarna silver itu memasuki daerah Fener. Mobil itu berbelok di belokan ketiga. Dari kejauhan ia melihat ada sebuah mobil lain yang berhenti di depan rumah Nur.


Kenan terus memajukan kendaraannya hingga ia berada di dekat mobil itu. Dari dalam mobil, Kenan melihat Ivy keluar dari mobil berwarna biru metalik.


Pria itu bukan Ferit Kozan. Siapa dia? Apa dia kekasih Ivy?


Manik mata abu-abu gelap itu menatap tajam ke arah pria yang baru saja keluar dari pintu kemudi. Pria itu mengantar Ivy hingga di depan pagar rumah. Telapak tangan Kenan dan jari-jarinya terasa kaku begitu melihat Ivy dan pria itu saling melambaikan tangan, saling tersenyum kemudian tertawa kecil bersama-sama.


Apa yang mereka bicarakan? Mereka sangat akrab!


Kenan mengusap wajahnya dengan gusar. Ia ingin turun dari mobilnya dan menghajar pria itu. Tapi atas alasan apa ia memukul pria itu? Sementara ia melihat Ivy tidak terganggu dengan pria tersebut.


Anggap saja aku pria pengecut yang tidak punya keberanian untuk mengungkapkan perasaan ku kepadamu. Ada begitu banyak alasan yang menghantuiku, Ivy....


Kenan memilih memundurkan mobilnya dan segera pergi dari sana.


* BERSAMBUNG *


Jangan lupa setelah baca kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 agar aku tetap semangat untuk menulis cerita ini. Terimakasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2