Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Pemilik Perusahaan Puzulla Adalah....


__ADS_3

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Ivy untuk menyusun kembali sobekan-sobekan kertas itu. Setelah semua telah tersusun pada tempatnya, ia merekatkan potongan-potongan kertas itu dengan selotip. Kini surat itu telah terbentuk dengan sempurna, meskipun dengan tambalannya di mana-mana.


Manik mata coklat itu terbuka lebar begitu ia membaca kalimat demi kalimat yang tertulis di sana.


Ternyata benar Puzulla menerima rancangan desainku. Tapi ke…kenapa surat ini di sobek? Siapa yang tega melakukannya?


Ivy keluar dari ruang kerjanya sambil membawa surat dari Puzulla. Ia menebarkan pandangannya mencari sosok Kenan. Ia tidak sabar ingin memberitahu kabar gembira ini kepada kekasihnya.


Ia mencari laki-laki itu di dalam kamarnya, namun wanita berambut coklat gelap itu hanya melihat Deniz yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya.


“Apa kau melihat Kenan?” tanya Ivy kepada adiknya itu.


Deniz mendongakkan kepalanya. Dilihatnya kakaknya yang berdiri di ambang pintu. “Dia ada di dapur bersama Nur.”


Ivy langsung bergegas menuju ruang multifungsi yang dimaksud Deniz. Sebenarnya di apartemennya tidak memiliki ruang dapur khusus. Kegiatan masak memasak itu dilakukan di belakang meja makan. Hanya ada dua buah kompor listrik, tempat pencucian piring dan sebuah alat penghisap asap yang di letakkan di atas kompor.


Langkah Ivy semakin mendekati ruangan tersebut, sayup-sayup ia mendengar suara Kenan dan Nur yang sedang membicarakan sesuatu. Tubuh ramping itu langsung bersembunyi di belakang dinding yang terbuat dari kaca es, ketika ia mendengar pertanyaan Kenan. Dinding kaca itu tidak tembus pandang, baik Ivy maupun Kenan tidak bisa saling melihat.


“Nur, aku ingin bertanya sesuatu kepadamu,” ucap Kenan yang berdiri di dekat tempat cuci piring.


“Kau ingin bertanya tentang apa?” Nur menjawab pertanyaan dengan pertanyaannya juga. Kini ia mengambil selembar kain bermotif garis-garis untuk mengeringkan peralatan makan yang telah selesai dibersihkan.


“Kejadian ini sudah lama. Aku hanya ingin memastikan saja. Apa minggu lalu, setelah aku dan Ivy pulang dari Paris, kau yang membuang sampah di ruang kerja?” tanya Kenan dengan hati-hati, tetapi pertanyaannya itu masih sanggup didengar oleh Ivy.


“Sampah? Apa kau membuang sesuatu yang penting?” tanya Nur tanpa melihat wajah Kenan. Wanita gembul itu sibuk memasukkan peralatan makannya ke dalam lemari.


“Tidak… itu tidak penting. Hanya sebuah surat saja yang aku sobek, tapi keesokan harinya aku melihat tempat sampah itu telah kosong. Mungkin kau….”


Nur langsung memotong perkataan Kenan. “Kau menuduhku kalau aku yang mengambil kertas mu?”


Kenan menunjukkan kedua telapak tangannya kepada Nur. Dengan gestur tubuhnya, ia mencoba membuat Nur untuk tidak salah mengerti.


“Bukan, maksudku menuduh mu. Aku malah berharap kau yang membuang kertas itu.”


Nur langsung mengernyitkan dahinya setelah mendengar perkataan Kenan.


“Sayangnya bukan aku yang membuangnya. Setiap pagi Ivy yang membersihkan apartemen ini dan membuang semua sampah. Aku hanya memasak dan mencuci pakaian kalian semua.”


“I…Ivy?” Manik mata abu-abu gelap itu seakan hendak keluar ketika mendengar perkataan Nur.


Seketika itu juga wajah Kenan mendadak pucat pasi begitu ia melihat anggukan kepala Nur.


Kenan memejamkan kedua manik matanya dan memijit pangkal hidungnya. Membayangkan reaksi Ivy apabila kekasihnya itu menemukan surat dari Puzulla.


“Ya Tuhan, semoga Ivy tidak pernah menemukan surat itu. Aku sudah menghapus semua email dari Puzulla. Dimana aku harus mencari sobekan surat itu? Seharusnya aku membakarnya di luar,” gumam Kenan yang menyandarkan tangannya di dinding kaca es.


Tanpa sepengetahuan Kenan, Ivy mendengar percakapan dan gumamannya. Wanita muda itu langsung meremat surat kiriman dari Puzulla yang akan ia tunjukkan kepada Kenan. Cairan bening itu perlahan merembes keluar dari sudut matanya.

__ADS_1


Kenapa kau melakukan semua ini, Kenan? Kenapa kau membohongiku dan menyembunyikan sesuatu dariku? Kau menganggap surat penawaran ini tidak penting? Ini penting untukku dan untuk Falea! Seharusnya ini juga penting untukmu!


Dengan hatinya yang hancur, Ivy berlari dan mengunci dirinya di dalam kamar. Cairan bening itu bagaikan anak sungai yang mengalir deras membasahi wajahnya. Kedua bahunya tampak bergetar ketika ia memeluk erat bantal miliknya. Kini surat itu kembali menjadi selembar kertas lusuh di tangannya.


Ia berpikir masih ada harapan, ketika dirinya menunjukkan surat penawaran itu kepada Kenan. Laki-laki itu pasti akan senang dan bahagia melihat hasil kerja keras yang telah mereka lakukan telah membuahkan hasil. Tapi ternyata ia salah besar, semuanya hilang lenyap. Harapannya pergi mengikuti aliran air yang keluar dari sudut matanya. Nyatanya Kenan yang telah menghancurkan semua harapan itu.


Suara ketukan pintu membuat Ivy mengusap air matanya dan menyembunyikan surat itu di bawah bantal. Ia menarik selimut merah mudanya sebatas leher dan memejamkan matanya.


“Ivy…,” panggil Kenan di balik pintu. Namun wanita muda itu tidak menyahut panggilannya.


Pintu kamar pun terbuka, Kenan melihat Ivy yang berbaring dengan memunggunginya. Langkah kaki itu berjalan melebar mendekati ranjang yang telah terisi tubuh yang terbungkus bak kepompong.


Tangan Kenan seakan ragu untuk membelai rambut Ivy, hatinya berkecamuk tak karuan saat ini.


Jika aku menanyakan tentang sobekan kertas itu, Ivy pasti akan bertanya balik. Sobekan kertas apa itu? Jawaban apa yang harus aku katakan? Ya Tuhan…, apa yang harus aku lakukan? Apa sebaiknya aku menganggap bahwa kertas itu tidak pernah ada. Ya... aku tidak akan mengungkit tentang kertas itu.


Kenan memilih untuk duduk di samping Ivy, ia mengulurkan tangannya untuk membelai rambut panjang kekasihnya. Rambut panjang yang sedikit berombak di bagian ujungnya itu terasa bagaikan kain sutera yang mengisi sela-sela jemarinya. Tubuh ramping itu tak bergerak sedikitpun dari posisinya.


“Apa kau sakit, Sayang?” tanya Kenan yang melembutkan suaranya di dekat telinga Ivy. Telapak tangannya tak berhenti mengusap kening dan rambut kekasihnya.


Tak ada jawaban dari lawan bicaranya, ia seperti berbicara dengan dirinya sendiri saat ini. Kenan menghembuskan napasnya dalam-dalam kemudian mencondongkan tubuhnya untuk melihat wajah Ivy. Dilihatnya kelopak mata itu telah tertutup menyembunyikan sinar hijaunya.


“Ternyata kau sudah tidur. Baiklah, aku tidak akan mengganggumu. Selamat tidur, Sayang. Aku mencintaimu.” bisik Kenan kemudian mencium pelipis Ivy dengan penekanan bibirnya. Hatinya seakan berat meninggalkan kamar itu. Ia ingin bicara, tapi entah harus dimulai darimana.


Ivy yang sejak tadi hanya pura-pura tidur, merasakan bulu-bulu tipis nan pendek itu menggelitik kulitnya, tetapi hatinya yang sakit mengalahkan kerinduannya untuk membalas perkataan dan perlakuan pria itu.


Benarkah kau mencintaiku, Kenan? Tapi kenapa kau membohongiku? Kenapa kau menyembunyikan sesuatu dariku di saat kita akan menikah?


Maafkan  aku, Sayang….


Hanya tiga kata itu yang muncul dari dalam hatinya mengiringi tertutupnya pintu kayu yang memisahkan dirinya dengan Ivy.


Kenan meletakkan kedua tangannya di belakang lehernya sendiri, mengangkat wajahnya ke atas dan memejamkan kedua kelopak matanya di bawah langit-langit. Berjalan mondar-mandir di depan kamar Ivy hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Ivy keesokan harinya.


“Dimana kakakku?” tanya Deniz ketika bocah itu hanya melihat Kenan dan Nur duduk di kursi makan. “Apa dia sudah makan?”


“Kakakmu sudah tidur,” jawab Kenan sambil menyendok makanannya dan memasukkannya ke dalam mulut.


“Tidak biasanya. Biasanya dia selalu tidur malam.” Deniz menatap langit yang ada di depannya yang masih berwarna kemerahan.


“Mungkin dia kecapekan karena membuat dua gaun pengantin sekaligus,” sahut Nur yang melihat Deniz masih belum menyantap makanannya.


“Makanlah, aku akan menyimpan makanan ini untuk kakakmu.”


Hari sudah sangat larut ketika Ivy berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat. Ia melihat sekelilingnya yang sudah berubah menjadi gelap. Lampu kamar sudah padam. Hanya terlihat sapuan cahaya rembulan yang masuk membentuk garis lurus menyinari salah satu dinding kamarnya dan suara dengkuran Nur yang mengisi kekosongan malam ini.


“Sudah pukul berapa sekarang? Oh..., ternyata aku benar-benar tertidur,” gumamnya pelan.

__ADS_1


Ivy mendudukkan dirinya di atas ranjang. Mengambil bantalnya dan meletakkannya di atas pangkuannya.


Kedua tangannya tertekuk untuk menopang dagunya. Dalam pikirannya masih mengembara nama Puzulla yang selalu membuatnya bertanya-tanya. Ia memejamkan kembali kelopak matanya untuk beberapa saat mengingat kejadian-kejadian yang ada di belakangnya.


“Mehmet!” serunya tiba-tiba begitu ia mengingat bahwa pria gundul itu pernah mengatakan nama Puzulla kepadanya, tetapi dirinya lupa untuk apa kekasih Cansu itu mengatakan nama perusahaan itu.


Perlahan-lahan Ivy bangkit dari tempat tidurnya. Ia mengalihkan pandangannya menatap wajah Nur yang masih terlentang dengan mulutnya yang terbuka. Diambilnya ponselnya yang ada di atas nakas berbentuk minimalis yang ada di samping pembaringannya. Dengan mengendap-endap ia berjalan menuju kamar mandi yang ada di depannya.


Jari tangannya bergerak lincah menggeser layar ponsel. Dicarinya huruf M pada daftar nama kontak miliknya kemudian digesernya layar itu ke atas untuk mencari nama Mehmet.


Nah ini ketemu. Sekarang sudah pukul dua belas malam, apa Mehmet sudah tidur? Aku akan mencobanya, jika nada sambungnya berhenti, aku tidak akan menghubunginya lagi.


Nada sambung itu berbunyi beberapa kali, ia membasahi bibirnya yang terasa kering sebelum memulai pembicaraannya. Manik matanya berputar mengelilingi sudut kamar mandinya.


“Halo.”


Bibir tipis itu mengembang setelah didengarnya suara seorang pria dari ujung ponselnya.


“Halo, Mehmet,” sapa Ivy. Ia melipat salah satu tangannya di depan dada.


“Ivy?”


“Mehmet, maaf aku menghubungimu tengah malam begini. Aku… aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu.”


“Tak apa, aku juga baru pulang dari kafe. Ada apa?”


Ivy terlihat sedikit ragu-ragu, tetapi akhirnya ia menanyakan kegelisahan hatinya itu kepada Mehmet. “Apa kau pernah mendengar tentang perusahaan yang bernama Puzulla?”


“Puzulla? Perusahaan itu milik Hazal Aksal, sebelumnya perusahaan itu bernama Fallay milik Kenan.”


Penjelasan yang super ringan itu bagaikan sebuah petir yang menyambar hati Ivy. Gemuruh di hatinya kembali terjadi dan ia tidak dapat menahan tetesan air yang tumpah di wajahnya. Hatinya terasa sesak setelah mengetahui alasan kenapa Kenan merobek surat dan menghapus email dari perusahaan itu.


“Ha… Hazal mantan istri Ke…Kenan?”


"Ya, apa kau menangis? Apa Kenan belum menceritakannya kepadamu?”


“Ti… tidak, aku tidak menangis,” ucap Hazal yang berbohong. Ia mengusap kedua kelopak matanya dan mengatur nada bicaranya seperti sedia kala. “Bisakah aku minta tolong padamu?”


“Katakan saja.”


“Jangan katakan pada Kenan kalau… kalau aku… menanyakan tentang Puzulla padamu.” Seberapa pun Ivy berusaha menyembunyikan perasaannya, suaranya yang terisak dan bergetar tak dapat membohongi pendengaran Mehmet.


"Kau jangan khawatir. Istirahatlah. Ini sudah larut malam.”


“Baiklah. Terimakasih, Mehmet.”


Setelah menutup ponselnya, tubuh Ivy merosot di dinding kamar mandi. Dinding keramik itu bagaikan sebuah papan luncur yang menjatuhkan tubuhnya hingga ke lantai dalam posisi duduk. Dalam ruangan kecil itu ia mencurahkan segala kesedihannya.

__ADS_1


Itu sebabnya kau menghindarinya, karena ternyata kau masih belum bisa melupakannya. Kau masih mengingatnya di dalam pikiran dan di hatimu. Lalu dimana posisi ku, Kenan?


...****************...


__ADS_2