
Semalam Ivy tidak bisa tidur dengan nyenyak karena memikirkan perkataan Kenan tentang operasi Deniz. Wanita itu juga menunggu Kenan.
Aku sudah memberitahu alamat rumah Ferit, kenapa kau tidak datang membebaskanku?
Ivy melihat jam dinding berbentuk lingkaran yang tergantung di salah satu dinding dekat ranjang. Jarum jam itu menunjukkan pukul satu siang. Wanita itu mengarahkan pandangannya ke arah pintu. Sebentar lagi adalah jam makan siangnya, ia berharap pelayan itu membawa ponselnya siang ini.
Beberapa menit kemudian, pintu kamar itu pun terbuka. Seperti biasanya, pelayan wanita itu masuk ke dalam kamar dengan membawa nampan coklatnya berisi sepiring makanan untuk Ivy.
"Apa sekarang kau membawa ponselmu?" tanya Ivy saat pelayan itu akan menyuapinya.
"Ya. Apa nona ingin menghubungi keluarga nona lagi?" Pelayan itu memberikan segelas minuman kepada Ivy.
Setelah Ivy selesai menghabiskan makanan dan minumannya, pelayan itu memberikan ponselnya kepada calon istri tuannya. Putri Victor itu menekan beberapa nomor ponsel Kenan. Nada sambung itu terdengar berulangkali, tetapi pria itu tidak mengangkat ponselnya.
Siang ini Kenan sedang berada di dermaga untuk memperbaiki sebuah kapal besar yang rusak. Pria itu mendengar ponselnya berbunyi. Ia melihat nomor yang sama seperti nomor semalam yang digunakan oleh Ivy, akan teteapi tangannya tidak bergerak untuk mengambil ponsel tersebut.
Jangan menghubungiku, Ivy. Tunggu aku... malam ini aku akan membawamu pergi. Aku tidak ingin berjanji padamu, tapi aku berjanji pada diriku sendiri.
Sebanyak sepuluh kali panggilan telah dilakukan oleh Ivy, tetapi Kenan tidak juga menjawab panggilannya. Akhirnya ia mengembalikan ponsel itu kepada sang pelayan.
"Apa tidak ada yang menjawab teleponnya, Nona?" tanya pelayan itu setelah ia membersihkan kamar mandi di dalam kamar majikannya. Dari ruangan basah itu, ia tidak mendengar suara Ivy.
"Ini ponselmu, terimakasih," jawab Ivy. Suaranya terdengar lirih. Ia tak yakin Kenan masih peduli pada dirinya atau tidak.
Pelayan itu segera mengambil ponselnya dari tangan Ivy setelah Ferit mendadak muncul dari balik pintu. Hari belum gelap, tetapi pria itu sudah pulang dari kantornya. Bukan hanya pelayan itu yang terkejut. Raut wajah Ivy tak kalah tegang mendengar suara Ferit yang memanggil namanya. Tanpa menunggu perintah Ferit, pelayan itu segera keluar dari kamar.
"Kau terkejut aku pulang secepat ini?" tanya Ferit yang melepas jas dan dasinya di depan Ivy. Ia menggulung lengan kemeja putihnya ke atas dan duduk di atas ranjang menghadap Ivy. Manik mata hijau itu hanya menatap wajah berkumis dan bercambang yang ada di depannya. Ia tidak ingin menebak apapun.
"Malam ini aku akan membawamu ke suatu tempat yang indah," bisik Ferit di telinga Ivy. Piikiran Ivy mulai melayang tak karuan. Ia menggigit bibir bawahnya dan tangannya sedikit gemetar
Melihat kegugupan yang menjalar di tubuh Ivy membuat Ferit tertawa terbaha-bahak. "Sedikit waktu lagi kau akan benar-benar menjadi milikku, sayang."
"Nanti malam kita akan kemana?" Ivy mulai mengeluarkan suaranya. Rasa tidak tenang menyelimuti hatinya.
"Kau akan tahu nanti sayang. Aku lelah, temani aku tidur," ucap Ferit yang akan mendaratkan ciumannya ke bibir Ivy, tetapi wanita itu memalingkan wajahnya menolak ciuman Ferit.
__ADS_1
"Tak apa kau menolakku sekarang. Aku bisa mendapatkanmu setelah lewat malam ini," lanjut Ferit. Ia kemudian melepaskan kemejanya di depan Ivy dan menjatuhkan dirinya di atas ranjang.
Detik demi detik berlalu begitu cepat. Sang fajar sudah mulai masuk ke rumahnya, kini berganti dengan sang rembulan berwajah bulat cantik nan rupawan. Sinar rembulan itu terlihat sangat indah ketika ia akan mendekati Menara Galata.
Atas perintah Ferit, pelayan wanita itu membantu Ivy untuk bersiap-siap. Wajah oval wanita itu kini telah tersapu dengan berbagai jenis tata rias. Bulu matanya yang panjang terangkat dengan lentik. Bibir tipis itu kini berubah menjadi merah menggoda. Pipi itu kini bersemu merona. Rambut coklat gelapnya terurai lurus sebatas lengannya.
Dengan memakai gaun hitam pemberian Ferit, Ivy berjalan menuruni satu per satu anak tangga. Kaki jenjang itu terlihat indah di mata Ferit. Pria itu menelan salivanya melihat penampilan Ivy yang terlihat menggoda.
"Kau sangat cantik, sayang," puji Ferit ketika Ivy sudah berdiri di depannya, tetapi semua pujian itu hanya omong kosong belaka bagi Ivy.
"Kita akan kemana?" tanya Ivy ketika tangannya di gandeng oleh laki-laki itu.
"Kau akan tahu setelah kita sampai," jawab Ferit yang membuka pintu mobilnya untuk Ivy. Wanita itu melangkahkan kakinya dan duduk di samping kemudi.
Ferit segera melajukan mobil mewahnya menuju tempat pertandingan tinju. Samar-samar Ivy mulai mengenali jalan yang telah ia lalui, membawanya ke suatu tempat yang pernah ia tuju beberapa waktu yang lalu. Dalam cahaya mobil yang kelam, wanita itu mengarahkan pandangannya ke wajah Ferit yang tampak tegang.
Tepat seperti dugaan Ivy, mobil mewah itu berhenti di depan pintu berpalang kayu dengan empat orang pria penjaga. Pria dengan sekujur lengannya yang dirajah oleh berbagai gambar binatang.
Tempat ini....
"Kenapa kau membawaku ke tempat pertandingan tinju ini?" tanya Ivy yang belum juga keluar, meskipun Ferit telah membuka pintu mobil untuknya.
Baru saja mereka hendak melangkah menuju pintu, Hasan datang dengan beberap orang anak buahnya. Berjuta pertanyaan ada di benak Ivy. Untuk apa Ferit membawa tas koper dengan ukuran yang cukup besar? Apa dia ke sini hanya untuk menonton? Apa dia sedang bertanding? Siapa lawannya? Kenapa dia mengajakku?
Ferit, Ivy, Hasan dan anak buahnya masuk ke dalam dengan melewati berbapagi pemeriksaan. Setelah semuanya aman, beberapa orang itu diperbolehkan masuk. Baru beberapa langkah mereka masuk ke dalam, Mehmet telah menyambut mereka.
"Kau bawa taruhannya?" tanya Mehmet sambil menaikkan salah satu alisnya di depan wajah Ferit. "Tidak ada taruhan... tidak ada pertandingan!"
Ferit tertawa terbahak-bahak. "Kau meremehkanku?"
Pria berambut panjang itu membuka tas koper besar yang tadi ia bawa. Ia memperlihatkan ratusan lemar uang pecahan 100 USD di hadapan Mehmet. "Semuanya 500.000 USD. Sesuai kesepakatan. Dalam USD bukan Lira!"
Mehmet mengambil beberapa gepok uang yang ada di dalam tas koper itu, memeriksanya dan mencium aromanya. "Oke. Semuanya asli."
Kesepakatan pun terjadi, tas koper itu kini berpindah ke tangan Mehmet. Pria gelap itu melihat Ivy ada di belakang Ferit, tetapi ia pura-pura tidak mengenali wanita itu.
__ADS_1
"Tunggu! Bagaimana dengan wanitanya?" cegah Mehmet yang melihat Ferit telah membalikkan badannya.
"Dia akan tetap bersama dengan orangku!" seru Ferit dengan nada penekanan. Ia segera menggandeng tangan Ivy untuk menuju ke tempat pertandingan.
Setelah Ferit menghilang dari hadapannya, Mehmet memerintahkan anak buahnya untuk mengawasi gerak-gerik Ivy. "Setelah pertandingan ini selesai, kalian harus membebaskan wanita itu!"
Waktu pertandingan hampir di mulai, Kenan baru saja tiba. Dengan kaos dan sepatu ketsnya yang berwarna hitam, pria itu menenteng tas parasutnya berjalan melewati lorong menuju tempatnya. Disana sudah menunggu Serkan dan Mehmet.
"Apa keparat itu sudah datang?" tanya Kenan setelah ia melepas pakaiannya dan menggantinya dengan celana bokser.
"Dia dan beberapa anak buahnya. Keparat itu juga membawa Ivy," jawab Mehmet yang membantu Kenan untuk menggulung perban di telapak tangan pria itu dan mengikat ssarung tinjunya.
"Aku akan menghabisinya malam ini!" seru Kenan dengan wajahnya yang mulai tegang di sela pemanasan yang dilakukannya bersama Serkan.
"Fokuslah pada lawanmu!" seru Serkan yang memberikan nasihatnya kepada Kenan.
"Benar kata Serkan, masalah Ivy serahkan padaku," ucap Mehmet sambil menepuk pundak Kenan. Pria berkulit gelap itu pun keluar dan mencari cara untuk membebaskan Ivy.
Hingar bingar suara musik yang sejak tadi terdengar di dalam ruangan mulai berhenti. Para penonton kali ini di manjakan dengan pertunjukan yang sangat jarang atau belum pernah ada, dimana mereka tidak perlu menghamburkan uang mereka untuk menonton pertandingan malam ini. Cahaya lampu mulai di padamkan, hanya tersisa lampu gantung yang ada di atas ring tinju.
Namun ada cahaya lain yang masih menyala. Cahaya itu mengarah pada seorang wanita dengan gaun hitamnya yang duduk dalam keadaan terikat kedua tangannya, wanita itu adalah Ivy Eleanor. Di samping kiri Ivy, ada Hasan yang mendapat tugas untuk menjaga wanita itu.
"Para penonton yang terhormat, malam hari ini kita akan menyaksikan suatu pertandingan yang sangat fenomenal di dalam sejarah pertandingan tinju ilegal ini. Kita langsung saja mulai pertandingan malam hari ini. Mari kita panggil juara bertahan bulan lalu, Kenan Fallay!" seru sang pembawa acara.
Tepukan penonton terdengar menggema di ruangan tersebut ketika mereka melihat juara mereka keluar dari sayap kiri dan menaiki ring tinju. Langkah kaki Kenan terhenti ketika ia melihat Ivy ada di depannya. Dengan senyumannya yang tipis, Kenan menatap Ivy.
Ivy... tunggu aku. Aku akan membawamu pulang dan membuatmu bertemu dengan Deniz.
Putri Victor itu terkejut melihat Kenan berdiri di atas ring tinju. Namun tatapan mata Kenan seakan memberikan sinyal kepada Ivy agar wanita itu tetap tenang. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk kepadaku. Ivy membalas tatapan mata Kenan dengan senyum manisnya.
Aku akan menunggumu... Aku yakin kau akan menang malam ini.
Setelah memanggil nama Kenan, kali ini pembawa acara itu memanggil Ferit agar masuk ke dalam ring tinju. Dua buah obor api menyala menyambut kedatangan Ferit. Pria itu mengangkat kedua tangannya seolah malam ini adalah kemenangannya. Dengan raut wajahnya yang garang dan tatapan matanya yang bengis, ia menyambut Kenan. Suara tepukan tangan terdengar saat pria berikat rambut itu menaiki ring tinju.
Suara lonceng pun berbunyi. Pertarungan dimulai!
__ADS_1
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih