
Setelah keluar dari kantor polisi, Cansu memilih untuk kembali pulang ke apartemennya daripada melanjutkan pekerjaannya di kafe. Langkah kakinya menyusuri setiap lantai granit yang ada di lobi apartemen hingga di lantai tempat tinggalnya. Ditekannya sebuah tombol bel yang ada di atas kepalanya.
“Cansu? Tumben kau sudah pulang.” Nur terkejut melihat putri Sophia yang sudah berdiri di depannya. Biasanya wanita muda itu akan pulang saat hari sudah gelap.
“Aku harus mencari sesuatu,” jawab Cansu yang langsung menerobos masuk dan tanpa mengganti alas kakinya, ia bergegas menuju kamarnya.
Ia membuka laci mejanya satu per satu dan lemari pakaiannya, tetapi ponsel Mehmet tidak tampak dalam pandangannya. Dilemparnya begitu saja bantal dan selimutnya ke sembarang arah, ia mengangkat kasurnya, tetap saja alat komunikasi itu tidak ada.
“Dimana ponsel itu?” gumamnya sambil mengusap pangkal hidungnya yang basah karena keringat.
“Seingat ku, aku menyimpannya di kamar ini. Bukan di rumahku yang lama.” Cansu berjalan mondar-mandir di depan ranjangnya.
Ia mengeluarkan semua pakaiannya dan pakaian Mehmet, dilihatnya lemari itu dalam keadaan kosong. Apartemennya tidak sebesar milik Ivy dan hanya terdiri dari satu kamar tidur, tidak mungkin barang itu mendadak lenyap.
“Apa yang kau cari? Mungkin aku bisa membantumu,” ujar Nur yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
Tanpa membalikkan badannya, Cansu menanyakan ponsel Mehmet kepada Nur, tangannya masih sibuk membongkar isi perabotannya. “Apa kau melihatnya? Ponsel tipis berwarna hitam dengan layarnya yang besar. Aku menyimpannya di dalam kamar.”
“Apa di ponsel itu ada foto pernikahanmu?” Pertanyaan Nur langsung membuat Cansu menghentikan aktivitasnya.
“Iya, dimana ponsel itu?”
“Tadi Deniz membawanya keluar, ia ingin memakai ponsel itu untuk mengerjakan tugas sekolahnya di kolam renang.”
“Apa?” Cansu langsung membalikkan badannya menatap wanita gemuk yang sedang menggenggam erat telapak tangannya sendiri.
Tanpa menunggu penjelasan lagi dari Nur, Cansu mengambil tas tangannya dan keluar begitu saja meninggalkan Nur seorang diri. Dirinya dan Ivy tidak menyalahkan Nur atas tertangkapnya Mehmet dan Kenan. Ia tahu wanita gembul itu hanya mencoba membantu menemukan Ivy yang diculik kala itu. Namun hari ini, ia bersikap dingin dan cuek karena ia sedang mengejar waktu untuk menemukan ponsel tersebut.
Setelah berada di lantai dua, Cansu menebarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Sebuah kolam renang berbentuk persegi panjang dengan atapnya yang terbuka ada di depan matanya. Ia mencari sosok bocah laki-laki berambut coklat di sekitar tempat duduk yang mengelilingi keempat sisi kolam tersebut.
Dari kejauhan Cansu sudah memanggil adik tirinya yang sedang duduk di dekat kolam renang. Bocah itu langsung meletakkan ponsel hitam dari genggamannya begitu kakak tirinya itu sudah berada di depannya. Raut wajah kecil itu memelas ketika melihat Cansu akan memarahinya.
"Maaf… maafkan aku, Cansu,” ucap Deniz dengan suaranya bergetar, “a…aku ingin mengatakannya…padamu, ta… tapi tadi pagi… kau sudah pergi.”
Cansu hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam, ingin sekali ia marah, tetapi begitu melihat air mata itu telah menggenang di sudut mata Deniz, membuatnya mengurungkan niatnya. Lagipula bocah itu sudah minta maaf padanya.
“Baiklah, kali ini aku tidak akan memarahi mu. Aku perlu ponsel itu sekarang. Apa kau sudah selesai mengerjakan tugas sekolahmu?” tanya Cansu setelah ia mendudukkan dirinya di samping Deniz.
__ADS_1
“Aku baru saja selesai mengerjakannya.” Deniz memberikan ponsel Mehmet kepada Cansu.
“Baiklah, aku pergi dulu. Nanti malam aku akan membawakan mu sepotong cake tiramisu dari kafe,” ucap Cansu setelah ia berhasil menemukan sebuah nama yang dicarinya. Manik mata hijau yang mirip seperti milik Ivy itu melihat Cansu telah jauh meninggalkannya.
Cansu berjalan menaiki lift yang akan membawanya ke lantai lima. Di lantai itu terdapat sebuah jembatan layang yang menghubungkannya dengan gedung apartemen Ivy. Sepatu bertumit tinggi itu mengeluarkan suaranya setiap kali ia melangkah. Entah sudah berapa banyak langkah yang telah ia lewati untuk mencapai gedung apartemen yang ada di seberang. Hingga akhirnya ia sudah menjejakkan alas kakinya di lantai tujuh—tempat tinggal Ivy.
“Apa Ivy sudah pulang?” Cansu bertanya kepada seorang wanita yang ia kira adalah pekerja Falea.
“Ya. Nyonya Ivy baru saja pulang, sepertinya dia ada di dalam kamar mandi.” Wanita itu mempersilahkan Cansu untuk masuk ke dalam.
Bunyi raungan dinamo mesin jahit menyambut kedatangan Cansu. Mesin itu saling bersahut-sahutan di setiap meja. Berhenti untuk beberapa detik kemudian suara itu terdengar kembali. Para wanita sibuk memasang kancing dan menempelkan manik-manik kecil pada sebuah gaun yang panjangnya hingga menyentuh lantai. Mereka tidak terlalu memperhatikan Cansu, karena tuntutan pekerjaan mereka yang harus selesai sesuai dengan waktu yang ditentukan oleh Ivy.
“Cansu? Ada apa kau kemari?” Tiba-tiba suara yang terdengar lirih itu mengejutkannya.
Wajah pucat dengan manik mata yang berkaca-kaca membuat Cansu ikut prihatin dengan keadaan Ivy. Wanita hamil itu langsung menyeka cairan yang membasahi bibir tipisnya dengan selembar tisu, kemudian menguncir semua rambut panjangnya ke belakang.
Pasti rasa mualnya baru saja kambuh
“Ayo kemarilah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Cansu menggandeng tangan Ivy dan membawa saudara tirinya itu masuk ke ruang kerja. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam.
Istri Mehmet itu mengajak Ivy untuk duduk di atas sofa. Tempat duduk panjang nan empuk yang biasanya diletakkan di ruang tamu, kini harus mengungsi masuk ke ruang kerja Ivy, karena apartemen ini sudah tidak cukup jika para pekerja sudah mulai berdatangan. Di sofa itulah putri Sophia menceritakan pesan Mehmet dan memberikan ponsel itu kepada Ivy.
“Menghubungi Hazal?” Ivy tak percaya dengan ide yang diberikan oleh Mehmet, baginya ini adalah ide terkonyol yang ia dengar. Meminta pertolongan seorang jaksa. “A…aku tidak bisa, Cansu!”
Manik mata biru itu tersentak setelah mendengar penolakan Ivy. “Kenapa kau tidak bisa? Ini satu-satunya cara untuk menolong suami kita. Jika saja Mehmet mengijinkan aku untuk menghubungi jaksa wanita itu, aku sudah melakukannya sejak tadi.”
“Karena kau tidak tahu siapa jaksa wanita itu! Dia adalah mantan istri Kenan!”
Hampir saja ponsel hitam itu terlepas dari genggaman tangan Cansu. “A…apa? Jadi sebelum Kenan menikah denganmu… dia sudah pernah menikah?”
“Ya, pernikahan mereka tidak lebih dari satu jam. Ceritanya sangat panjang!” seru Ivy dengan sedikit teriakannya. Ia langsung mengambil ponsel tersebut dari tangan Cansu dan memasukkan kembali ke dalam tas saudaranya.
“Tu… tunggu Ivy. Aku tahu mungkin kau… kau cemburu tapi…, tolong pikirkan nasib Mehmet dan Kenan,” ucap Cansu yang menghentikan ucapannya untuk beberapa saat, ia ingin melihat reaksi Ivy, “jika kau tidak ingin memikirkan nasib kedua laki-laki itu, pikirkan nasib anak ini.”
Dalam kebimbangan dan sebuah dilema yang besar, Ivy menghela napasnya. Kesepuluh jarinya saling bertautan dan ia menatap Cansu dengan perasaan yang tidak bisa ia katakan.
“I…ini bukan masalah cemburu. Tapi…, aku tidak yakin Kenan akan menyetujui tindakanku,” ucap Ivy sambil memejamkan kelopak matanya, bayangan kejadian pertengkarannya sebelum mereka menikah menari-nari di dalam pikirannya, “dia tidak ingin berhubungan lagi dengan mantan istrinya dan seluruh keluarga Aksal.”
__ADS_1
Suasana hening itu pun terjadi di dalam sana. Cansu tak mengira bahwa meminta bantuan Ivy ternyata lebih sulit dari yang ia bayangkan. Ia hanya berharap suaminya bebas. Dipegangnya tangan Ivy dan ia menurunkan tubuhnya untuk berlutut di hadapan saudaranya.
"Apa yang kau lakukan, Cansu? Bangunlah!” Ivy berusaha menarik tangan Cansu yang kini memegang kedua lututnya, tetapi saudaranya itu menolak untuk bangkit berdiri sebelum ia mengeluarkan isi hatinya.
“Maafkan aku, jika menurutmu aku ini egois. Memang benar aku egois. Tapi aku…, aku hanya ingin Mehmet bebas. Kata Mehmet, hanya jaksa wanita itu satu-satunya harapannya saat ini. Aku mohon padamu hubungi jaksa itu.” Cairan bening itu hampir meleleh keluar dari manik mata biru tersebut.
“Kumohon Ivy… pikirkan anak mu juga. Kumohon….”
Ivy tak tahan mendengar permohonan Cansu dan air mata itu. Manik matanya memandang ke langit-langit ruangannya kemudian beralih ke perutnya.
Apakah benar ini satu-satunya cara untuk menolong mereka? Aku sudah berusaha kesana kemari untuk mencari pengacara, tapi hasilnya nihil. Apa hidup dan masa depan Kenan berada di tangan wanita itu? Jikalau Hazal bersedia membantu, apa Kenan bersedia menerima bantuan darinya? Tapi… jikalau Hazal tidak bersedia, apa yang harus aku lakukan untuk menolongnya? Oh Tuhan… aku benar-benar bingung.
“Bangunlah,” ucap Ivy sambil menghapus air matanya sendiri. “Berikan ponsel itu, aku akan mencoba menghubungi Hazal.”
Di ruangan itu, Ivy mencoba menghubungi Hazal dengan ponselnya sendiri. Dengan bersandar pada sebuah lemari kaca, ia menunggu panggilannya tersambung. Tidak ada jawaban. Ia mencobanya kembali. Setelah panggilan kelima, dirinya baru berhasil mendengar suara wanita itu. Seperti kata Mehmet, tidak mudah seorang penduduk biasa mendekati seorang jaksa.
“Halo.”
“Halo, apa benar… ini nomor Hazal Aksal?” Terdengar suara embusan napas di ujung ponsel tersebut karena Ivy mencoba menghilangkan kegugupannya.
“Ya. Siapa kau?”
“Namaku Ivy Eleanor. Ada yang ingin aku bicarakan dengan mu tentang... Kenan Fallay.” Ivy baru saja mengatakan sebuah kata kunci yang membuatnya bisa menemui Hazal.
Setelah mengatakan nama suaminya, Ivy hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Situasinya saat ini membuatnya seperti berada di meja judi, bertaruh apakah Hazal akan setuju bertemu dengannya atau tidak.
Namun, dari balik ponselnya Ivy mendengar suara benda yang jatuh. Suaranya seperti benda kaca yang jatuh ke lantai dan benda lain dengan suaranya yang lebih pelan dan lebih berat dari yang pertama. Hampir satu menit Ivy menunggu jawaban Hazal.
“Ke…Kenan Fallay?”
“Ya. Bisakah kita bertemu hari ini atau mungkin besok?” tanya Ivy yang sedang memikirkan pasti lawan bicaranya itu terkejut begitu mendengar nama suaminya.
“Baiklah. Temui aku besok jam satu siang, di sebuah coffee shop di daerah Bosphorus.”
“Oke. Aku memakai baju warna hitam, sampai bertemu besok siang.”
...****************...
__ADS_1