Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Transplantasi


__ADS_3

Empat roda besi itu menggelinding di atas lantai keramik berwarna putih. Tiga orang dewasa berjalan bahkan hampir sedikit berlari hanya untuk mengejar sebuah brankar yang mengangkut tubuh seorang bocah. Sebuah selang putih yang berisi cairan bening menempel pada tubuh kecil dengan sedikit daging. Kelopak matanya hanya berkedip melihat langit-langit putih yang seolah-olah bergerak. Aroma yang sangat ia kenal menyeruak masuk ke lubang hidungnya.


"Kakak...." Hanya ucapan lirih itu yang terdengar dari bibirnya yang pucat ketika tirai hijau itu memisahkannya dari Ivy. Tangan kecilnya tak mampu menggenggam tangan halus itu.


"Deniz...." Satu kata itu yang terucap keluar dari bibir tipisnya. Tubuhnya seakan hidup tanpa tulang. Pijakannya telah runtuh hingga membuatnya terjerembab ke dasar yang paling gelap.


"Ivy!" seru Nur dan Kenan yang langsung menangkap tubuh langsing yang hendak jatuh ke lantai.


Kenan mengangkat tubuh Ivy dan membaringkannya di atas kursi panjang rumah sakit. Ia menyentuh wajah oval yang terlihat pucat. Kulit halus itu terasa dingin di telapak tangannya. Ia menggenggam tangan Ivy dan menempelkannya di pipinya.


"Kau tak sendirian. Deniz pasti akan baik-baik saja," bisik Kenan sambil mengusap kening dan rambut Ivy.


Seorang suster memberikan selembar kapas yang telah diberi beberapa tetes alkohol kepada Kenan. Cairan bening beraroma keras itu merangsang syaraf Ivy dan membuat kelopak matanya mengerjap-ngerjap.


Kenan melepaskan genggaman tangannya dari tangan Ivy. Manik mata hijau itu menatap wajah Kenan dan menyentuh wajah berkumis tipis yang sedang menatapnya dari atas. Ingin rasanya Kenan memegang punggung tangan itu dan menciumnya.


Bulan purnama sudah meninggi di atas langit kota Istanbul, lorong-lorong rumah sakit sudah terlihat sepi. Ivy mendudukkan dirinya dan memberi tempat kepada Kenan untuk duduk di sampingnya.


"Apa Deniz masih di ruang UGD?" tanya Ivy yang menyandarkan kepalanya di dinding.


"Ya. Nur menjaganya. Ia memintaku untuk mengantarmu pulang." Kenan memiringkan tubuhnya agar bisa melihat wajah Ivy.


"Aku akan menunggu di sini. Aku tidak akan meninggalkan Deniz." Ivy melipat kedua tangannya di depan dada. Ia ingin menepati janjinya pada bocah itu. Saat anak itu membuka matanya, ia ingin ada di sampingnya.


"Aku akan menemanimu di sini," sahut Kenan yang di balas dengan tatapan penuh tanda tanya dari pemilik mata hijau tersebut.


"Apa kau tak ingin tidur di kamarmu?" tanya Ivy sambil mengernyitkan dahinya.


"Kau lihat di lorong ini tidak ada siapa-siapa, apa kau berani tidur di sini sendirian? Bagaimana jika ada hantu yang mengganggumu?" goda Kenan dengan wajah datarnya. Selera humornya benar-benar payah.


"Kau pikir aku anak umur lima tahun yang bisa kau takuti?" tantang Ivy.


Ia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk melihat sekelilingnya, ternyata benar tidak ada suster ataupun pengunjung yang melewati lorong ini. Semuanya hanya dinding dan pintu berwarna putih yang berjejer di depannya. Kelambu putih yang tingginya hampir menyentuh lantai tampak bergerak-gerak.


"Kenan, kau lihat kelambu itu? Jangan-jangan ada seseorang di belakangnya?" Ivy menunjuk sebuah kelambu yang membentang di depan. Jarak kelambu itu sekitar enam meter dari tempat duduknya.


"Aku akan melihatnya," sahut Kenan yang langsung beranjak dari kursi panjang.


"Eh... tunggu aku!" seru Ivy yang langsung mengapit lengan Kenan. Pria itu tertawa dalam hatinya melihat tingkah laku Ivy.


Mereka berdua pun menghampiri kelambu putih tersebut. Kenan membuka kelambu yang terbelah di tengahnya, dengan cepat Ivy menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tidak ada siapapun di belakang kelambu itu. Kenan menaikkan salah satu alisnya dan melirik ke arah Ivy yang masih menutupi wajahnya.

__ADS_1


Putra Harun itu perlahan-lahan meninggalkan Ivy. Wanita itu masih berdiri tegak dengan wajahnya yang tertutup menghadap kelambu. Setelah cukup lama terjadi keheningan, Ivy membuka telapak tangannya. Ia tidak melihat Kenan berdiri di dekatnya.


Ivy mencari keberadaan Kenan, dilihatnya pria itu sedang duduk manis dengan menyilakan salah satu kakinya ke atas kaki yang lain. Putri Victor segera berjalan ke arah pria itu, ingin rasanya ia menjewer telinga gajah tersebut.


Setelah sampai di kursinya kembali, ia mendapati pria itu sedang mendengkur dengan posisi duduk. Ivy melambaikan tangannya di depan wajah Kenan, setengah tak percaya bahwa putra Harun itu telah masuk dalam mimpinya.


Kenan tak bereaksi bahkan membuka kelopak matanya pun tidak. Ivy hanya bisa menghembuskan napasnya dalam-dalam, ia kembali ke tempat duduknya di samping Kenan. Ia mencoba untuk memejamkan kedua matanya.


*****


Rembulan telah menunaikan tugasnya, kini saatnya wajah bulat nan cantik bersinar itu kembali ke peraduannya. Sang syamsu telah menunggunya pulang ke rumah.


Gelindingan meja beroda terdengar di sepanjang lorong, membuat peralatan kesehatan yang terbuat dari stainless steel itu saling beradu di atas papan besi. Suara pintu kayu terbuka dan beberapa pasang langkah kaki menderap dengan pelan.


Kedua insan itu masih berada di alam mimpi mereka. Kenan menyandarkan kepalanya di pundak Ivy, beberapa menit kemudian Kenan terbangun ia memberikan pundaknya untuk menjadi sandaran Ivy. Begitu seterusnya hingga Nur memanggil mereka.


"Ivy... Kenan! Dokter Husein ingin bicara!" seru Nur yang datang sambil berlari. Ia sedikit menyesal telah membangunkan mereka.


Mereka mulai membuka kelopak matanya dengan perlahan. Diregangkannya seluruh otot-otot tubuh mereka yang terasa kaku.


"Apa Dokter Husein sudah datang?" tanya Ivy sambil menutup mulutnya yang menguap lebar.


"Ya. Barusan dokter telah selesai memeriksa Deniz. Dokter Husein menunggumu di ruangannya," jawab Nur.


Manik mata Ivy menatap selembar kertas berwarna putih yang ada di atas meja Dokter Husein. Ruangan ini bagaikan tempat jagal untuk Ivy. Bagaimana tidak, setiap kali dirinya keluar dari tempat ini, sebuah palu besar terasa menindihnya. Kali ini Ivy mempersiapkan hatinya untuk mendengarkan penjelasan dokter.


"Duduklah," ucap Dokter Husein kepada Ivy dan Kenan. Kedua orang itu menarik dua kursi kayu secara bersamaan.


"Ivy...." Dokter Husein menatap kakak Deniz kemudian beralih ke kertas putih yang ia pegang.


"Ya. Katakan saja, Dokter," ujar Ivy yang menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi, ia ingin duduk senyaman mungkin ketika tukang jagal itu mengeluarkan pisaunya.


Dokter Husein melepas kacamatanya kemudian berkata kepada Ivy dan Kenan, "Kanker darah Deniz sudah memasuki stadium tiga."


Tepat seperti dugaannya, tak ada berita baik yang meluncur dari bibir setengah keriput itu. Stadium tiga... stadium empat... tinggal menunggu waktu, kapan Deniz pergi meninggalkannya. Ia merasa ngilu membayangkan semua itu akan terjadi... cepat atau lambat.


"Bukankah beberapa waktu yang lalu, Deniz baru saja melakukan kemoterapi?" Kenan mencondongkan tubuhnya ke depan.


"Kemoterapi itu hanya mencegah agar sel kankernya tidak menyebar, tetapi tidak bisa menjamin kesembuhan pasien. Kelelahan, istirahat yang kurang, pola makan juga mempengaruhi," jelas Dokter tersebut.


Ivy teringat semalam betapa bahagianya Deniz ketika bocah itu menceritakan bahwa dirinya bisa bermain sepak bola dan bola basket di lapangan sekolah bersama dengan teman-temannya.

__ADS_1


"Lalu pengobatan apa yang bisa menyembuhkan Deniz?" Kenan memberi sedikit penekanan pada setiap perkataannya.


Manik mata Ivy menatap Dokter Husein dan Kenan secara bergantian, ia menunggu senjata apa yang akan di keluarkan oleh pria paruh baya itu. Pisau pertama sudah pria itu tusukkan di salah satu anggota tubuhnya. Kini apalagi?


"Dengan tali pusat saudara kandungnya," jawab Dokter tersebut. "Itu pengobatan yang paling murah saat ini."


"Itu tidak mungkin, Dok!" tolak Ivy dengan cepat.


"Aku tidak menyimpan tali pusatku, sementara ayah dan ibuku sudah meninggal. Andaikata mereka masih hidup, apa mungkin ibuku yang sudah berumur bisa melahirkan lagi?" Ivy menggelengkan kepalanya.


Manik mata dan hidungnya mulai memerah. Tusukan kedua telah pria itu berikan dan tepat mengenai tangannya.


Kenan memegang pelipisnya yang mulai berdenyut-denyut. Ia melirik ke arah Dokter Husein, dokter itu menyandarkan dirinya di sandarkan kursinya yang tinggi.


"Jika tali pusat tidak bisa. Maka hanya transplantasi sumsum tulang belakang yang bisa mengobati Deniz," ucap Dokter Husein yang memandang Ivy dan Kenan.


"Hanya itu satu-satunya cara, Ivy. Sumsum tulang belakang Deniz sudah mulai rusak, kemungkinan ia tidak akan bisa berdiri ataupun berjalan," lanjut Dokter Husein.


Perkataan barusan bagaikan tusukan ketiga yang langsung menembus ulu hati Ivy. Ia hampir tidak bisa bernapas mendengar Deniz akan lumpuh. Penyakit jahanam itu akan merenggut segala impian adik kesayangannya.


"Ivy, sebaiknya kau periksakan dirimu. Jika sumsum tulang belakang kalian cocok, kemungkinan besar kau bisa mendonorkan sumsum tulang belakangmu. Ini lebih hemat biaya." Pria ini sedikit memberi bantuan pernapasan buat Ivy.


Tanpa menunggu lama, Ivy melakukan pemeriksaan. Setelah dinyatakan sehat oleh dokter, Ivy masuk ke dalam sebuah ruangan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Ia diminta mengganti pakaiannya dengan pakaian rumah sakit. Setelah dokter memberikan obat bius di daerah pinggul bawahnya, dokter memasukkan jarum berlubang melalui kulitnya dan masuk ke dalam tulang. Jarum suntik itu menarik cairan yang keluar dari sumsumnya.


Dokter membalut luka pada bekas suntikan yang ada di kulit Ivy. Dua orang perawat membawa Ivy ke ruang lain untuk beristirahat sejenak. Manik mata hijau itu mulai memancarkan warnanya, setelah beberapa saat lamanya organ lunak itu bersembunyi di dalam kelopak mata.


Ivy melihat rambut hitam tebal itu tenggelam di samping tubuhnya. Telapak tangannya sedikit terangkat dan penuh keraguan untuk mengusap kepala Kenan. Sebelum tangannya menempel di atas puncak rambut Kenan, pria itu telah mengangkat wajahnya.


"Kau sudah bangun?" Kenan melihat bulu mata panjang itu berkedip.


"Beberapa menit yang lalu," jawab Ivy. Ia sedikit mengerang ketika dirinya mencoba untuk bangun.


"Apa ada yang sakit?" tanya Kenan yang berdiri dan membantu Ivy untuk kembali berbaring. Rasa sakit bekas suntikan itu menjalar di seluruh pinggul hingga ke punggungnya.


"Kenan...." Suara Ivy terdengar lirih. "Apa hasilnya sudah keluar?"


Suara ketukan pintu membuat Kenan mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Ivy. Seorang suster masuk dan memberikan sebuah amplop putih kepada Kenan.


"Ini adalah hasil pemeriksaan atas nama Ivy Eleanor," kata suster tersebut yang kemudian pergi meninggalkan mereka.


Kenan melihat nama Ivy yang terketik di sampul amplop. Ia menatap manik mata hijau itu yang membulat di tengah.

__ADS_1


* BERSAMBUNG *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2