Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Aku Ingin Merayakan Kemenangan Ini Bersama Denganmu


__ADS_3

Ivy membelalakkan matanya ketika ia melihat gaun rancangannya yang sudah sobek di beberapa bagian. Ada bekas sobekan yang teratur dan yang tidak teratur seperti bekas tarikan sebuah tangan. Ia melihat sebuah gunting terinjak di bawah sepatunya.


"A...apa yang terjadi? Kenapa bisa begini?" tanya Ivy pada dirinya sendiri ketika ia memegang gaun yang sudah tidak berbentuk itu.


Manik matanya itu mencari sosok orang yang harus bertanggung jawab atas semua ini. "Dimana Kara?"


Ivy keluar dari ruangannya dan tidak melihat Kara di depan. Ia berlari memasuki ruang pertunjukan yang sudah di penuhi oleh suara pembawa acara.


Acara sudah dimulai. Dimana Kara?


Cahaya ruang pertunjukan itu sedikit gelap di sisi kiri dan kanan panggung. Pandangannya hanya bisa melihat cahaya yang ada di atas panggung.


"Ivy." Tangan seseorang menepuk pundaknya. Ia pun menoleh ke belakang.


"Apa yang terjadi dengan gaunnya?" Raut wajah model itu terlihat kecewa. Wanita berambut ikal itu sudah melihat apa yang telah terjadi di ruang ganti.


Ivy melihat ke arah panggung, acara masih diisi dengan suara penyanyi pria. Ia kembali melangkahkan kakinya ke ruang ganti. Diamatinya gaun rancangannya yang lain. Dirinya berharap masih ada satu atau dua gaun yang selamat, tetapi harapannya sirna karena semuanya telah sobek.


Keempat gaun itu meluncur seketika tatkala tangan itu tidak sanggup untuk menggenggamnya. Manik matanya mulai memerah, cairan bening itu sudah berada di ujung. Ia membungkukkan badannya sambil berpegangan pada tiang besi tersebut.


"Ivy, apa aku tidak jadi tampil? Bagaimana ini? Percuma dong aku datang, kalau aku tidak bisa berjalan di panggung," cicit salah satu model yang berdiri di belakang Ivy.


"Tinggalkan aku sendiri, kalian bisa menungguku di luar," ucap Ivy yang masih memunggungi kedua model itu.


"Bagaimana dengan gaunnya? Aku tidak mau tampil dengan gaun compang-camping itu!" seru model yang berambut ikal.


"Sudah kubilang tinggalkan aku sendiri! Jika kalian tidak ingin memakai gaun ini, aku sendiri yang akan memakainya!" pekik Ivy dengan keras.


Kedua model itu saling berbisik dengan mengatakan bahwa mereka menyesal telah menerima pekerjaan ini. "Dia hanya amatiran. Desainer kelas teri!"


Air mata Ivy mengalir deras mendengar perkataan yang menusuk hatinya. Ia terduduk lemas di lantai. Dibenamkannya wajahnya di atas lututnya yang tertekuk. Karir yang dimulainya mendadak hancur malam ini.


Kenan... dimana kau saat ini?


Tiba-tiba suara hatinya berbicara mencari putra Harun.Tubuhnya dan hatinya seakan membutuhkan sebuah pelukan yang berasal dari lengan kekar tersebut.


Ivy bangkit berdiri dan mengambil ponselnya yang ada di dalam tas. Ia mencari nama Kenan di daftar panggilannya, suara nada sambung itu terus berbunyi berulang kali akan tetapi pria itu tak kunjung menjawab panggilannya.


Dalam kesendiriannya ia hanya mendengar detik-detik jam tangannya bergerak teratur. Manik matanya memandang ke arah gaun dan potongan-potongan kain yang berserakan.


Senar dawai yang putus masih bisa diperbaiki. Tak ada gunanya meratapi gaun-gaun yang sudah rusak. Aku harus mencari cara untuk memperbaiki gaun ini kembali.


Telapak tangannya menyapu butiran air yang membasahi wajahnya. Ia mengubah setelan ponselnya ke mode senyap, agar tidak ada yang menggangunya saat ini. Ivy mengambil gaun rancangannya dan menggantungnya kembali di tiang. Ia membuka seluruh perlengkapannya yang ada di dalam kardus dan menata benda-benda itu di atas lantai.

__ADS_1


Tanpa beralaskan sepatu, ia mulai berlutut di depan gaunnya. Jarum jahit itu menelisik masuk ke dalam pori-pori kecil berwarna putih kemudian keluar mencari jalan yang lain. Entah bagaimana hasilnya, ia mencoba untuk berusaha menyelesaikan ini semua sebelum namanya dipanggil.


*****


Di tempat yang berbeda terlihat seorang wanita yang memakai pakaian renang two pieces melenggang mengelilingi ring tinju. Wanita itu mengangkat kedua tangannya untuk memperlihatkan sebuah papan tulis berwarna putih yang bertuliskan ronde keenam. Lonceng emas itu berbunyi.


Kenan mulai melancarkan serangannya, ia memukul wajah samping lawannya. Kini pria bertubuh besar itu terkunci di salah satu sudut ring. Putra Harun itu melayangkan pukulan uppercut nya. Pukulan yang ia lontarkan dari bawah langsung mengenai dagu lawannya. Pukulan itu membuat lawannya jatuh tersungkur di atas ring tinju.


Wasit mulai menghitung waktu batas KO. Para penonton mulai bangkit berdiri melihat apa yang terjadi selanjutnya. Apakah jagoan mereka menang atau kalah? Mereka kemudian meneriaki nama masing-masing jagoan mereka.


Sampai hitungan kesepuluh, pria bertubuh besar itu tak kunjung bangkit berdiri. Wasit menutup waktu pertandingan dan menyatakan bahwa pertandingan tinju malam ini dimenangkan oleh Kenan Fallay.


Riuh tepuk tangan terdengar membahana memenuhi ruangan itu. Sebuah senyum kemenangan terukir di sudut bibirnya. Senyum itu dengan cepat memudar, ketika dilihatnya pria bertubuh besar itu tidak bergerak.


"Apa aku telah membunuhnya?" gumam Kenan pelan. Kegamangan menyelimuti dirinya saat ini.


Sepasang sepatu kets itu melangkah mendekati lawannya, ia menggoyang paha pria itu dengan salah satu kakinya.


Tidak... Dia tidak mungkin mati.


"Ayo, Kenan. Turunlah! Apa yang kau tunggu?" Serkan meneriakinya dari bawah ring.


"Apa... dia ma...mati?" tanya Kenan.


Kenan langsung memundurkan langkahnya setelah mengingat kejadian itu. Guratan bekas operasi itu kembali terasa setelah satu tahun berlalu.


"Kenan?" tanya Serkan setelah ia naik ke atas ring tinju.


Pelatih itu melihat wajah Kenan yang pucat bagaikan manusia tanpa aliran darah. Tanpa menunggu jawaban dari bibir coklat itu, Serkan meletakkan ujung jarinya ke leher lawan Kenan.


"Dia masih hidup!" seru Serkan yang berjongkok di samping tangan yang mulai bergerak pelan. Sarung tinju berwarna hitam itu mulai berpindah posisi.


"Oh syukurlah." Kenan menghembuskan napasnya dalam-dalam sambil memejamkan matanya. Ketakutannya tidak terjadi.


Putra Harun itu segera turun ke bawah menuju ke ruang ganti. Kain lembut berwarna putih itu menyentuh setiap pori-pori kulit yang terbuka. Ia mengguyur wajahnya di kamar mandi.


Butiran-butiran air itu menetes membasahi tubuhnya yang polos. Guyuran air dingin itu menelisik masuk hingga menembus tulang rusuknya. Ia mengusap wajahnya berulangkali, hampir tak percaya bahwa malam ini dirinya telah menjadi juara. Ia mengenakan pakaiannya kembali dan menatap wajahnya di depan cermin. Tetesan air itu jatuh dari sudut alisnya yang tebal.


Ivy, malam ini aku telah memenangkan pertandingan. Aku ingin merayakan kemenangan ini bersamamu. Tapi...


Sosok laki-laki yang kemarin bersama Ivy membayangi pikirannya.


Apakah aku bisa memenangkan hatimu?

__ADS_1


Pergulatan dalam diri Kenan terhenti ketika dari pantulan cermin, ia melihat Mehmet menghampirinya dengan membawa beberapa tumpukan uang kertas.


"Wow... selamat saudaraku," ucap Mehmet yang memberikan uang hasil taruhan itu kepada Kenan. Kedua orang itu saling menempelkan kepalan tangan mereka dengan tawanya.


"Uang itu milikmu. Aku bertanding untuk membayar hutang-hutangku," sahut Kenan sambil membetulkan tali sepatunya.


"Uang ini sudah cukup untuk membayar lunas hutangmu." Mehmet mengangkat uang kertas itu hingga sebatas telinganya.


"Berhentilah! Jangan bertanding lagi! Sebelum sesuatu yang buruk terjadi padamu!" lanjut Mehmet dengan ekspresi wajahnya yang serius.


"Kau menyumpahi ku?" Kenan bangkit berdiri dan menatap tajam manik mata hitam yang ada di depannya.


Manik mata hitam itu menatap pipa besi yang ada di atas kepalanya. Ia menghembuskan napasnya dengan keras. "Seharusnya aku tahu, kau takkan pernah berhenti sebelum mendapatkan sesuatu yang kau inginkan."


"Kau sudah tahu itu! Atur jadwalku selanjutnya," ucap Kenan yang menepuk pundak Mehmet, kemudian ia berjalan mendahului sahabatnya itu.


"Semoga kali ini dewa keberuntungan ada di pihak mu!" seru Mehmet yang hanya dibalas lambaian tangan oleh Kenan.


Kenan memasukkan tasnya ke dalam mobil dan mengambil ponselnya. Ia membuka kotak pesan masuk dan panggilan tak terjawab untuknya.


"Ivy?"


Manik mata abu-abu gelap itu terbelalak ketika wanita yang mempunyai nama tiga huruf itu menghiasi daftar panggilan tak terjawab di ponselnya. Pikirannya mulai berspekulasi tentang wanita itu.


Ibu jarinya menekan tombol berwarna hijau pada layar ponselnya. Nada panggilan itu terus berbunyi berulangkali.


Apa aku berhak untuk mengkhawatirkan keadaannya? Bukan aku yang dia butuhkan saat ini... Ada pria itu... pria yang mengendarai mobil biru metalik...


Kenan berkutat dengan dirinya sendiri. Ia melampiaskan kekesalannya dengan menendang ban mobilnya.


Persetan dengan semua ini! Aku tidak peduli! Jika sudah ada pria lain di sampingnya, untuk apa dia mencariku? Dia pasti membutuhkanku saat ini**.


"Nur! Dia pasti tahu keberadaan Ivy," gumam Kenan yang mulai mencari nama wanita gembul itu di daftar kontak ponselnya.


"Ivy ada di rumah?" Tanpa basa-basi Kenan langsung mengajukan pertanyaannya kepada Nur.


"Dia belum pulang dari acara kantornya."


"Katakan dimana acara kantornya? Di perusahaan Sarte?" tanya Kenan dengan nada bicaranya seakan Nur adalah karyawan perusahaannya.


Beruntung Nur sudah menanggap Kenan adalah laki-laki baik yang bisa melindungi Ivy dan Deniz. Wanita itu tidak tersinggung mendengar perkataan Kenan. Nur memberitahu Kenan nama hotel yang ada di tepi Selat Bosphorus.


* BERSAMBUNG *

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2