
Malam ini menjadi malam yang indah bagi Kenan dan Ivy. Setelah mereka mengakui perasaan masing-masing, pria itu memilih untuk menceritakan masa lalunya kepada Ivy. Ia ingin kekasihnya itu mengetahui kebenarannya dari mulutnya sendiri bukan dari orang lain. Mereka duduk di atas jembatan dengan kedua kaki mereka menggantung di udara, bercerita dan menikmati indahnya cahaya rembulan bersama.
“Yang kau dengar di kamar rumah sakit itu adalah sebuah kesalahan. Aku tidak ingat dan tidak tahu dengan apa yang aku katakan waktu itu. Kebenarannya adalah kini kau yang ada di dalam hatiku,” ucap Kenan.
Ia menatap manik mata hijau itu dengan lembut dan memasukkan beberapa helai rambut Ivy ke belakang telinganya.
Tangan lembut itu menggenggam erat tangan Kenan, bibir tipis itu seakan hendak mengatakan sesuatu, dengan sedikit kekuatan ia berusaha mengeluarkan isi hatinya, “Setelah aku mendengar dari mulutmu sendiri, kini aku percaya padamu.”
Kenan menarik tubuh Ivy untuk masuk ke dalam pelukannya, ia mencium puncak kepala wanita itu. “Aku mencintaimu, Ivy. Sangat mencintaimu. Tetaplah seperti ini, yang selalu membutuhkanku dan selalu menganggapku penting di hidupmu, karena aku akan selalu ada untukmu.”
Ivy menegakkan tubuhnya di dalam pelukan Kenan kemudian mencium pipi pria itu. “Aku juga sangat mencintaimu, Kenan.”
Mereka menikmati indahnya cahaya lampu mercusuar yang menyapu kegelapan Selat Bosphorus. Tiga buah kapal mulai berlayar meninggalkan dermaga, memecah gemuruh ombak yang semula tenang. Suara klakson kapal memecah kesunyian di sekeliling mereka. Kerlipan cahaya lampu yang berasal dari tubuh terapung itu bagaikan beberapa pasang manik mata yang indah, yang bersinar di kelamnya malam. Beberapa pasang mata itu seakan bergerak seiring dengan perjalanan kapal tersebut.
“Kenan…,” bisik Ivy saat dirinya bersandar di dada bidang pria itu.
Putra Harun itu hanya bergumam dan mencium rambut kekasihnya. Menikmati keharuman yang berasal dari tubuh dan rambut Ivy. Seakan ia tidak ingin kembali ke rumah sakit, ia juga tidak ingin sang surya datang dengan cepat mengetuk pintu langit. Ia hanya ingin duduk bersama Ivy menikmati malam ini. Malam yang sangat sederhana walaupun hanya ditemani dengan sinar bulan dan kemilau bintang, itu sudah lebih dari cukup untuknya.
“Kenan, sekarang Deniz sudah sembuh. Bisakah kau berhenti bertarung di arena tinju? Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu.” Manik mata hijau itu melihat di atas perairan, ada dua buah kapal yang hampir saja bertabrakan. Pemandangan itu membuatnya seketika menggenggam erat lengan Kenan.
Putra Harun itu menempelkan kepalanya di samping kepala Ivy. “Aku sudah memikirkannya… aku akan berhenti dari pertandingan itu.”
“Benarkah?” Ivy membalikkan badannya menatap wajah Kenan. Ia melihat ada suatu penegasan di dalam mata abu-abu gelap itu. Biji mata pria itu tidak bergerak tetapi menatap lembut ke arahnya.
Pria berambut hitam itu menempelkan keningnya di kening Ivy. Diletakkannya kedua tangannya di belakang leher jenjang tersebut. Membuat hidung mancung mereka saling bersentuhan, kemudian ia berkata, “Kita akan menggunakan sisa uang pengobatan Deniz untuk membangun dunia kita yang telah hancur. Dunia yang hanya ada kau, aku dan Deniz.”
“Dunia kita?” Ivy mengernyitkan keningnya. Ia tidak mengerti maksud Kenan. Dunia seperti apa yang diinginkan pria itu. Bukankah kita sudah hidup di dalam dunia ini?
Tangan sang montir itu memegang kedua tangannya dan membantunya bangkit berdiri.
“Tidak selamanya kita akan berada di atas dan tidak selamanya kita akan berada di bawah. Kau lihat, kapal besar itu,” ucap Kenan sambil menunjuk sebuah kapal yang bergerak ke tengah perairan.
Ivy mengarahkan pandangannya pada kapal yang dimaksud oleh Kenan.
“Kapal itu akan berlayar sesuai dengan tujuan sang nakhoda, setelah sang nakhoda berhasil mencapai tujuannya dia akan menghentikan kapalnya dan menambatkannya di tepi dermaga,” lanjut Kenan dengan tatapannya yang masih memandang kapal besar yang makin lama makin menghilang di telan lautan yang luas.
Setelah mengatakan hal itu, Kenan mengubah posisi berdirinya menghadap tubuh samping Ivy. Ia memegang kedua lengan wanita itu, membuat posisi mereka saling berhadapan.
“Ivy, kita akan membangun kembali Perusahaan Fallay dan Perusahaan Eleanor dengan sisa uang pengobatan Deniz. Kau bisa mewujudkan mimpimu untuk menjadi perancang busana di perusahaan yang akan kita bangun bersama. Apa kau sudah berhenti dari Perusahaan Sarte?”
__ADS_1
Ivy menganggukkan kepalanya. “Ternyata Ferit ada dibelakang semua ini, ia meminta Pemimpin Sarte untuk menerimaku. Aku tidak ingin punya hutang budi dengan pria itu!”
“Baguslah. Kini hanya ada kita. Kau dan aku. Kita akan menjalani kehidupan kita yang baru,” ucap Kenan yang membuka telapak tangannya di depan Ivy.
“Semuanya tentang kita dan untuk kita,” balas Ivy yang mengulurkan tangannya untuk menutup telapak tangan Kenan.
Menjelang subuh mereka kembali ke rumah sakit. Jika Ivy tidak memaksa pria itu untuk kembali, kemungkinan besar mereka akan menghabiskan malam ini di atas jembatan hingga fajar bersinar terang. Di dalam kamar, mereka melihat Mehmet sudah tertidur di atas sofa. Mendengar dengkuran Mehmet, membuat mereka menahan tawanya.
Kala sang baskara telah mengeluarkan rambut kuningnya, menyuar menembus ceruk kelambu hijau dan membuat kamar itu menjadi sedikit berwarna. Baskara itu mewujudkan sumringah yang muncul dari lipatan-lipatan kain yang menutupi jendela.
Kedua pelupuk mata itu mulai terbuka dengan lambat. Berusaha beradaptasi dengan kemilau cahayanya. Pupil hitam itu bergerak-gerak mengelilingi sudut kamar, kini ia mulai menyadari bahwa hari baru sudah datang. Ia menegakkan batang tubuhnya kemudian ia mengarahkan pandangannya ke atas ranjang. Dilihatnya kawan baiknya itu telah kembali dengan membawa wanitanya. Kegembiraan seakan memuncak di dalam lubuk hatinya tatkala ia melihat mereka tidur dengan berbagi ranjang rumah sakit.
“Oh… kalian membuatku iri,” gumamnya.
Ia teringat akan Cansu, wanita yang kini dekat dengannya. Sejak kejadian Kenan tenggelam, dirinya belum menghubungi wanita itu.
“Mehmet,” sapa Kenan dengan suaranya yang sedikit serak. Ia baru saja terbangun dan mendapati pria gundul itu akan keluar kamar.
“Oh kau sudah bangun. Bagaimana keadaanmu?” Mehmet membalikkan badannya dan berjalan mendekati ranjang. Ia melihat Ivy masih tertidur pulas di atas lengan Kenan.
“Tidak terlalu buruk,” jawab Kenan yang menurunkan kedua sudut bibirnya kemudian mencium puncak kepala wanita yang ada di sampingnya.
“Pergilah, nikmati harimu juga,” balas Kenan yang melambaikan tangannya kepada pria berkulit gelap itu kemudia ia meletakkan telapak tangannya untuk membelai rambut Ivy.
Saat sang surya sudah beranjak tinggi ke angkasa, burung laut berwarna putih keabu-abuan itu beterbangan mencari makanannya. Sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan Rumah Sakit Istanbul.
Sepasang sepatu pantofel hitam berjalan seorang diri sambil bersiul dengan riang. Hatinya diliputi kegembiraan karena ia telah berhasil menyingkirkan laki-laki yang selalu membantu Ivy.
Derap langkah kakinya membawanya menuju kamar khusus pasien anak-anak. Ia berhenti di depan pintu kamar nomor 1505
“Halo Deniz,” sapanya saat ia membuka pintu kamar, didapatinya bocah laki-laki itu sedang asyik menggambar di atas ranjangnya. Hanya ada satu pasien di dalam ruangan tersebut. Bocah itu tidak menengok ke arahnya ataupun menjawab sapaannya.
“Oh, ternyata di sini juga ada putri Sophia,” celotehnya saat melihat Cansu yang duduk di samping ranjang, sementara ia hanya melihat Nur sekilas pandang tanpa menyapa wanita gembul itu.
Kedua wanita itu tampak saling berpandangan melihat kedatangan Ferit. Mereka mengira pemimpin perusahaan Kozan itu telah meninggal di atas ring tinju.
“Kenapa kalian memandangku seakan-akan aku ini seorang hantu?” Ferit tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah mereka yang diliputi dengan tanda tanya besar. Ia sangat terhibur melihat lawan bicaranya menatapnya dengan rasa ketidakberdayaanya.
Ferit mengeluarkan sebuah kotak hadiah yang sejak tadi ia sembunyikan di belakang punggungnya. Ia memberikan kotak hadiah itu kepada Deniz dan mengusap puncak kepalanya setelah bocah itu menerima pemberiannya. “Dimana kakakmu?”
__ADS_1
“Jika kau ke sini hanya ingin menyogokku dengan hadiah ini, maka ambillah! Aku tidak tahu di mana kakakku!” seru Deniz dengan nada suaranya yang ketus tanpa melihat wajah Ferit. Tangan kanannya masih sibuk menorehkan ujung pensilnya di atas kertas gambar.
Setelah tidak berhasil membujuk Deniz, kini Ferit beralih kepada Nur. Ia menatap tajam wanita paruh baya itu. “Kau pasti tahu jawabannya. Dimana Ivy?”
“Aku tidak tahu,” jawab Nur yang berani membalas tatapan mata Ferit.
Pria itu melihat sebuah ponsel ada di dalam genggaman tangan Nur. Ia mengambil paksa ponsel tersebut dan mencari nomor Ivy di daftar panggilan. Nada sambung pun berbunyi untuk beberapa kali.
“Halo, Nur. Ada apa?” Suara sapaan Ivy langsung membuat Ferit mengembangkan senyumnya.
“Tidak terjadi apa-apa disini. Aku hanya mengunjungi calon adik iparku dan mencari calon istriku,” ucap Ferit sambil mengusap puncak kepala Deniz.
“Ferit?” Suara Ivy tercekat di tenggorokannya. “Apa yang kau lakukan dengan adikku?”
Suara tawa Ferit terdengar menggelegar di dalam ruangan. “Semuanya tergantung padamu, sayang. Aku mencarimu… tapi kau tidak ada. Aku tidak ingin menungggu lama. Jika dalam waktu sepuluh menit kau tidak datang, aku akan membawa Deniz pergi.”
“Apa? Aku tidak akan pernah memaafkanmu, jika sesuatu terjadi pada Deniz!” teriak Ivy dari ujung ponselnya.
Seseorang muncul dari pintu kamar dan langsung merebut ponsel yang ada di tangan Ferit. Seketika membuat pria berambut coklat itu terkejut dan mengalihkan pandangannya ke arah orang yang telah mengganggu kesenangannya.
“Itu tidak akan terjadi, Ivy!” seru Mehmet yang langsung berbicara pada wanita yang ada di balik ponsel kemudian ia langsung mengakhiri pembicaraan mereka.
“Oh… bertambah lagi pelindung Ivy,” ejek Ferit. “Apa urusanmu denganku pria gundul?” Pria itu maju dan mencengkeram kerah kemeja Mehmet.
Mehmet langsung melepaskan jari-jemari Ferit yang menempel di pakaiannya kemudian mengkibaskan bekas cengkeram pria itu ke udara. Raut wajah pria gundul itu mendadak berubah.
“Urusan kita adalah….” Mehmet langsung melayangkan tinjunya ke wajah Ferit membuat pria berkuncir itu jatuh tersungkur di belakang ranjang.
Melihat pertengakaran akan terjadi, kedua wanita yang sejak tadi diam di dalam kamar memilih untuk berada di samping Deniz.
Ferit berusaha bangkit berdiri, ia mengusap bibirnya yang telah mengeluarkan cairan merah. “Oh shit!” umpatnya.
Kali ini giliran Mehmet yang mencengkeram kerah kemeja pria itu. “Ternyata kau yang menyuruh anak buahmu untuk menghubungi polisi di malam pertarungan itu! Membuat polisi menggerebek tempat sasana tinjuku hingga membuatku rugi! Dan satu hal lagi…, kau telah menenggelamkan seseorang di dermaga!” seru Mehmet yang langsung melempar Ferit keluar dari kamar.
Pria berambut panjang itu kembali jatuh tersungkur di depan pintu kamar. Ia berusaha untuk bangkit berdiri dan membetulkan kancing jasnya. Wajahnya mendadak tegang menatap pria gundul yang ada di depannya. Bagaimana
orang ini tahu kejadian malam itu?
* BERSAMBUNG *
__ADS_1
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏