Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Kesan Pertama


__ADS_3

Suara kehidupan di distrik Balat mulai terdengar. Aroma daging asap mengalir dari jendela yang satu ke jendela yang lain. Teriakan khas ibu-ibu dan anak kecil membuatnya terbangun lebih awal. Ia sedang menguap dan meregangkan tubuhnya dengan nikmat ketika suara ketukan pintu berbunyi untuk yang kesekian kalinya.


"Aku tahu kau di dalam."


Suara yang begitu familiar di telinganya, membuatnya terpaksa bangkit berdiri dengan setengah kesadarannya dan menghampiri pintu kayu yang ada di depan. Pegangan pintu berwarna emas itu turun ke bawah. Ia hanya menguap ketika sepasang manik mata hitam itu sedang menatap dirinya.


"Kau tampak kacau hari ini. Sejak semalam aku menghubungimu. Kata Ivy, kau sudah kembali ke rumah."


Pria berkulit gelap itu menerobos masuk tanpa permisi dan menjatuhkan dirinya di atas sofa yang empuk meskipun terlihat sedikit usang. Ia merentangkan kedua tangannya ke samping dan meletakkannya di belakang kepalanya yang plontos.


"Ada apa kau kemari sepagi ini?" Kenan menatap sekilas tamunya yang sedang selonjoran.


"Hanya mengunjungimu, kebetulan aku lari pagi di daerah sini," jawab Mehmet yang mengibaskan kaos putihnya yang basah karena peluhnya.


Kenan masuk ke ruangan yang ia sebut sebagai dapur. Tidak mirip seperti dapur, karena itu hanya berupa meja panjang yang menempel di dinding depan kamarnya. Ia memasukkan bubuk kopi dan gula ke dalam sebuah pot Turki, menyeduhnya dengan air panas hingga mencapai setengah pot. Tangannya sibuk mengaduk dan menuang kembali air panas hingga mencapai bibir pot. Di letakkannya pot Turki yang terbuat dari tembikar itu ke atas kompor listrik, tidak sampai mendidih cukup untuk membuatnya sedikit berbusa.



Wangi aroma minuman hangat itu benar-benar menggoda indra penciumannya. Kenan menuang pot berisi kopi Turki itu ke dalam dua buah cangkir yang telah ia siapkan dan memberikannya kepada Mehmet.


"Sejak kapan kau pandai membuat kopi Turki?" tanya Mehmet setelah menyesap kopi buatan Kenan. Tidak kalah dibandingkan dengan buatan bartender yang ada di kafenya.


Kenan memandang kopi miliknya kemudian meneguknya sedikit demi sedikit. "Sejak aku menjadi pria kesepian."


Suara tawa Mehmet yang khas memenuhi ruangan tersebut. Manik mata hitamnya membulat dan alisnya sedikit terangkat ke atas. "Serius?"


Kenan hanya berdeham sambil meneruskan menikmati kopinya di pagi ini. "Setelah aku menyadari tidak ada wanita yang membuatkan kopi untukku."


Perkataan Kenan kembali membuat Mehmet tertawa terbahak-bahak dan menepuk lututnya sendiri. Mungkin sahabatnya itu sudah mulai membuka dirinya.


"Karena kau sudah di sini, jadwalkan pertandingan ku lagi," ucap Kenan setelah ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja. Ia menyandarkan dirinya di sandaran sofa di samping Mehmet.


"Yakin kau ingin bertanding lagi?" tanya Mehmet dengan mencondongkan tubuhnya ke depan dan memiringkan kepalanya menghadap Kenan.


Minggu lalu Kenan berhasil selamat, karena lawannya sedikit berbaik hati kepadanya. Jika tidak, mungkin pria itu akan mengalami kematian untuk yang kedua kalinya.


"Aku yakin!" seru Kenan sambil menatap tajam cangkir minumannya yang telah di penuhi oleh busa kopi.


Mehmet menepuk pundak sahabatnya itu, "Oke, jika itu mau mu. Minggu ini ada pemain baru, kau bisa bertanding melawannya."


Tak ada gunanya menahan keinginan pria yang sudah membulatkan tekadnya. Selama ini Mehmet hanya bisa membantu pria itu sesuai keinginannya, tapi dia tidak pernah berhasil untuk mengubah pendirian Kenan. Tidak dirinya maupun orang lain.


"Nanti malam datanglah ke tempat latihan, aku akan mengirim seorang pelatih untukmu," kata Mehmet setelah ia selesai menghubungi seseorang di ponselnya.


Setelah selesai mandi, Kenan mengambil pisau cukurnya dan membersihkan kumis dan jenggotnya yang mulai lebat. Tidak benar-benar bersih. Ia hanya menyisakan bulu-bulu tipis yang pendek dan berwarna hitam.

__ADS_1


Dari pantulan cermin yang ada di kamarnya, Kenan menyentuh sudut matanya. Di sana ada bekas jari tangan Ivy yang telah mengobati luka lebamnya. Rona merah keunguan itu sudah mulai memudar, tapi sentuhan dan senyuman wanita itu masih membekas di wajah Kenan. Pria itu tersenyum mengingat kejadian di malam ketika ia selesai bertanding.


Bagaimana kabar Ivy dan Deniz?


"Kau masih disini?" tanya Kenan setelah ia keluar dari kamarnya. Ia melihat Mehmet masih duduk bersantai di sofa ruang depannya.


Mehmet hanya berdeham sambil mengutak-atik layar ponselnya. Kemudian ia mengangkat kepalanya dan menatap Kenan dari ujung rambut hingga sepatu kulit berwarna coklat yang ada dikenakan pria itu.


"Ini masih pagi. Kafe juga belum buka. Kau ada janji dengan seseorang?"


Kenan hanya mengangkat kedua bahunya dan menurunkan kedua sudut bibirnya menanggapi perkataan Mehmet.


*****


Kedua pria itu kini sedang berada di lobi sebuah perusahaan makanan. Mehmet selalu memesan bahan makanan untuk kafenya di perusahaan tersebut.


"Maaf, kalian sudah menunggu lama. Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan menggantikan temanku yang mengundurkan diri," ucap seorang wanita berambut panjang yang berdiri di depan Mehmet dan Kenan. Kedua pria itu mengangkat wajahnya untuk melihat siapa wanita yang bersuara lembut itu.


"Kau? Saudara tiri Ivy kan?" tanya Kenan yang langsung berdiri dari tempat duduknya dan diikuti oleh Mehmet.


Cansu menganggukkan kepalanya, ia tak menyangka akan bertemu dengan Kenan di tempat kerjanya. Dengan kemeja lengan pendek berbahan jeans membungkus lekukan otot lengannya dan celana denimnya yang menempel di pinggang dan pahanya. Kumis yang menghiasi atas bibirnya yang berwarna coklat dan cambang tipisnya yang di cukur pendek. Tampan dan menarik, dua kata yang diberikan Cansu untuk Kenan.


Putri Sophia itu teringat candaannya dengan Ivy ketika mereka masih remaja. Kedua gadis itu mengintip dari balik jendela kamarnya hanya untuk melihat tetangga mereka, seorang mahasiswa.


"Cansu, lihat... dia baru saja keluar dari rumahnya."


"Itu... laki-laki yang memakai baju kotak-kotak. Dia sangat tampan bukan?"


"Apa kau suka pria yang berkumis?"


"Tidak juga. Tapi aku ingin tahu rasanya dicium oleh pria berkumis."


Cansu segera kembali tersenyum dan tertawa kecil mengingat ocehan Ivy waktu itu. "Apa dia sudah mencium Ivy?" pertanyaan konyol itu muncul di pikiran Cansu.


Wanita berambut hitam itu menatap mata abu-abu gelap yang terkesan misterius kemudian berkata, "Waktu itu kita belum sempat berkenalan, ketika kau datang ke rumah mencari Ivy. Nama ku Cansu."


"Mehmet Gunez," ucap pria berkepala plontos itu langsung mengulurkan tangannya ke arah Cansu. Manik mata hitamnya tak henti-hentinya memandangi manik mata biru yang ada di depannya. Warna pakaian yang dikenakan pun sangat cocok dengan warna kulitnya.


Cansu segera membalas perkenalan Mehmet dan tersenyum kepada pria itu. Tatapan matanya beralih kepada Kenan. Putra Harun itu tidak mengulurkan tangannya, bahkan tersenyum pun tidak.


"Kurasa kau sudah tahu namaku. Aku kesini hanya menemani temanku, dia yang akan berurusan denganmu," ucap Kenan sambil menyilakan tangan kanannya ke arah Mehmet. Pria itu segera menjauhi mereka berdua dan memilih duduk di kursi yang lain.


Cansu hanya menatap dalam diam punggung tegap yang telah menjauh darinya.


"Nona Cansu." Suara Mehmet membuatnya kembali tersadar, bahwa ia harus kembali bekerja.

__ADS_1


"Panggil aku Cansu saja. Senang berkenalan denganmu. Oh iya, bagaimana jika kita membahas pekerjaan di ruanganku."


"Dengan senang hati." Cansu mengajak Mehmet untuk naik ke lantai tiga meninggalkan Kenan yang masih menunggu di lobby.


Kedua insan berbeda jenis itu melangkah masuk ke dalam ruangan besar yang di penuhi oleh sekat-sekat setinggi dada orang dewasa. Cansu membuka pintu sebuah ruangan lain yang hanya berisi meja panjang dan beberapa kursi.


"Ini daftar pesanan kafe ku," ucap Mehmet setelah ia menarik salah satu kursi berwarna hitam dan mendudukinya.


Cansu mengambil kertas yang berisi tulisan Mehmet dan duduk di depan pria itu. "Kenapa kau tidak menghubungi perusahaan seperti biasanya?"


"Kebetulan aku ada waktu pagi ini, sekalian aku ingin mengunjungi dirimu," ucap Mehmet yang menatap rok pendek Cansu yang sedikit terangkat ke atas memperlihatkan sebagian kulit paha dan lututnya yang mulus.


"Oh maaf... maksudku aku ingin mengunjungi perusahaan ini." Mehmet segera meralat perkataannya ketika melihat wajah Cansu yang terkejut.


"Baiklah, aku akan segera memberikan ini ke bagian produksi. Kau mau membawa sendiri pesananmu?"


"Jika kau tak keberatan menyiapkannya sekarang," jawab Mehmet dengan senyumannya. Ia melihat wanita itu berdiri dan segera pergi meninggalkannya.


Mehmet bangkit berdiri kemudian berjalan ke arah jendela besar yang tertutup oleh sebuah tirai yang menggulung ke atas. Ia membuka salah satu sisi tirai itu dan melihat ke arah bawah, pemandangan pusat kota Istanbul.


"Mehmet."


Suara Cansu membuatnya membalikkan badannya. Ia melihat saudara tiri Ivy itu sedang membawa satu buah kardus berukuran kecil kemudian di belakangnya dua orang pria masuk dengan membawa dua buah kardus berukuran besar.


"Coba kau periksa barang-barangnya. Apa sudah sesuai?" Cansu memberikan kertas pesanan Mehmet dan lembar pemesanan yang sudah tercetak.


Cansu mengeluarkan satu persatu bahan-bahan makanan ke atas meja sesuai dengan perkataan Mehmet. Setelah semua dirasa lengkap, Mehmet segera memasukkan kembali ke dalam kardus.


"Terimakasih atas bantuanmu, Cansu," ucap Mehmet sambil mengulurkan tangannya. Kedua tangan saling bersentuhan. Pria itu dapat merasakan kulit tangan Cansu yang lembut, selembut suaranya.


"Lain kali kau tinggal menghubungiku jika kau ingin memesan sesuatu." Cansu memberikan kartu namanya kepada Mehmet.


Teman Kenan itu membaca deretan angka-angka yang tercetak di kartu nama yang ada di tangannya. "Apa nomor ini juga menerima pesan pribadi?"


"Ya. Tapi aku tidak akan segera membalasnya jika aku sedang bekerja."


"Aku mengerti. Kau bisa mampir ke kafe ku."


Mehmet segera keluar meninggalkan Cansu dan membawa ketiga kardus itu seorang diri. Ia tersenyum sepanjang perjalanannya menuju ke lobi.


"Kenapa kau tidak mengatakan bahwa Ivy mempunyai saudara yang cantik seperti dirinya?" tanya Mehmet setelah ia meletakkan ketiga kardus itu di depan kaki Kenan.


"Kau tidak bertanya padaku." Kenan segera membantu mengangkat salah satu kardus besar menuju ke mobil. Mehmet segera mengikuti langkah Kenan sambil mendengus kesal.


* BERSAMBUNG *

__ADS_1


Jangan lupa setelah baca kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2