
Mobil jenis SUV berwarna silver itu masuk ke dalam ruang basement gedung apartemen. Kendaraan roda empat itu langsung mengisi lahan parkir yang ada di dekat pintu masuk gedung.
Hati dan tangan Ivy penuh keraguan untuk membuka pintu mobilnya. Untuk beberapa menit ia hanya duduk diam dan sesekali dibenamkannya wajah oval itu di atas setir kemudinya.
Dengan setengah hati, Ivy keluar dari mobil dan masuk ke dalam gedung apartemen bertingkat tujuh. Sebuah lift kaca membawa Ivy menuju lantai lima, tempat tinggalnya saat ini. Menyusuri setiap lantai dan dinding kaca yang seakan-akan membuat tubuhnya terbang melayang.
Ivy menghentikan langkahnya di depan pintu apartemen yang bertuliskan nama FALEA. Ia mengambil napasnya dalam-dalam sebelum membuka pintu tersebut. Dengan mengumpulkan keberaniannya, wanita muda itu membuka pintu kayu berwarna coklat tua. Ia hanya berharap Kenan mendukung keputusannya.
Ketika pintu apartemen itu terbuka, Ivy tidak melihat seorang pun ada di sana. Tidak ada suara penggorengan dan aroma masakan Nur. Tidak ada suara Deniz yang sedang belajar atau menonton televisi. Tidak ada juga suara Kenan yang sedang melobi calon klien melalui ponsel atau memainkan jarinya di atas papan keyboard.
Kemana mereka semua?
Ivy melanjutkan langkahnya menuju ruang makan. Tidak ada sepiring makanan atau buah-buahan yang biasanya tersaji di atas meja. Biasanya Nur tidak pernah membiarkan meja makannya kosong tanpa makanan. Wanita paruh baya itu selalu membuat cemilan di sela-sela waktu kosong sebelum jam makan.
Kerongkongannya yang kering membuat Ivy langsung mengambil gelas kacanya dan mengisinya dengan air putih. Rasa dahaganya itu
perlahan-lahan sirna, berganti dengan sebuah kejutan tatkala ia mendengar suara Kenan berada tepat di belakang telinganya.
“Ke…Kenan.” Ivy membalikkan badannya.
Dilihatnya tubuh pria berotot dengan balutan kemejanya yang berwarna biru muda itu sudah berdiri di depannya. Pria itu menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Sebuah senyum tipis terlukis di bawah kumisnya.
“Kau darimana?” tanya Kenan yang sedikit memajukan langkahnya.
Sejak tadi pria itu menunggu kepulangan Ivy. Manik mata abu-abu gelap itu menyorot penampilan kekasihnya, tetapi pandangannya langsung tertuju pada sebuah map plastik berwarna biru yang ada di tangan kanan wanita itu.
Putri Victor itu hanya terdiam dan menatap wajah Kenan, untuk mencari tahu apakah pria itu marah atau tidak. Namun yang seharusnya marah adalah dirinya, karena pria itu telah menyembunyikan sesuatu darinya.
“Aku….”
Raut wajah yang gugup dan penuh keraguan. Ekspresi wajah itu yang di tangkap oleh Kenan ketika Ivy tak lagi mampu meneruskan perkataannya.
__ADS_1
"Kau tidak menemui temanmu’kan? Tapi kau pergi ke tempat lain?” Kenan menurunkan nada suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya.
Bukan penekanan, tetapi ia mencoba untuk menahan emosinya untuk tidak memarahi Ivy.
Ivy menganggukkan kepalanya pelan. Manik mata hijau itu menatap sepatu pantofel hitam yang membungkus kedua kaki Kenan.
Pandangannya naik menuju telapak tangan yang ada di depannya, Ivy mengambil salah satu telapak tangan Kenan kemudian membukanya. Beberapa garis tangan dengan teksturnya yang kasar terlihat ada di sana, seketika pandangan mereka saling bertemu.
“Apa ini?” tanya Kenan ketika Ivy meletakkan sebuah map biru di telapak tangannya.
“Aku….” Ivy membasahi bibirnya untuk menghapus segala keraguannya. “Pagi ini aku pergi ke Kantor Puzulla.”
“Puzulla?” Pria itu langsung memicingkan kedua matanya.
Perkataan Ivy membuat Kenan dengan cepat membuka map biru tersebut. Ia membuka lembaran kertas satu per satu hingga halaman terakhir. Sorot matanya yang semula teduh kini berubah bagaikan cahaya kilat tajam ketika ia melihat tanda tangan Ivy dan cap stempel Falea menghiasi kertas putih tersebut. Ditambah lagi selembar cek dengan nominal besar dari Puzulla.
“Tanpa sepengetahuanku, kau menandatangani perjanjian kerjasama dengan Puzulla!” pekik Kenan yang mulai meninggikan nada suaranya. Tangannya bergetar memegang dokumen perjanjian itu.
“Cukup Ivy!” seru Kenan yang memberikan tanda setop dengan gerakan tangannya. Meminta wanita itu untuk berhenti berbicara dan mendekatinya.
“Jangan jadikan Falea sebagai alasanmu!" geram Kenan.
"Apa dengan melakukan ini, kau pikir aku akan berterima kasih padamu? Apa menurutmu aku akan bahagia? Kau selalu bertindak sendiri tanpa sepengetahuanku! Tanpa kerjasama dengan Puzulla, perusahaan kita masih bisa tetap bertahan!” teriak Kenan yang langsung melempar map biru itu ke sembarang arah.
Manik mata hijau itu bergerak seiring jatuhnya map tersebut di dekat tempat cuci piring. Ivy menggerakkan kakinya untuk mengambil dokumen dan cek pemberian Puzulla, akan tetapi gerakan tangan Kenan lebih cepat. Pria itu menahan tangan Ivy, membuat wanita muda itu tidak bisa melangkah.
“Kau ingin mengambil dokumen dan cek itu? Aku malah berharap cek itu jatuh ke dalam lubang air! Sekali lagi aku katakan, jangan jadikan Falea alasan kesalahanmu!” pekik Kenan yang semakin mempererat pegangan tangannya ke tangan Ivy.
Manik mata hijau itu menatap tajam membalas tatapan mata Kenan. “Hanya alasan katamu? Oke…, aku akui. Aku memang salah, karena aku tidak memberitahumu. Tapi aku melakukannya, karena kau yang lebih dulu membohongiku. Kau menutupi semuanya dariku. Kau menganggap ku apa, Kenan? Orang yang tidak tahu apa-apa?”
Kedua rahang pria tampan itu terkatup rapat begitu mendengar pembelaan Ivy. Tangan kanannya yang semula erat memegang pergelangan tangan Ivy, bahkan cenderung mencengkeramnya, kini terlepas.
__ADS_1
“Sekarang aku bertanya padamu. Kenapa kau menghapus email dan merobek surat penawaran yang dikirim oleh Puzulla? Padahal kau juga tahu, bahwa hanya perusahaan itu yang tertarik untuk bekerjasama dengan Falea, tetapi kau menolaknya! Kenapa?”
Pria berkumis dan berambut hitam itu hanya diam mematung tanpa mengeluarkan suaranya. Amarah Ivy seakan telah memuncak ketika melihat kekasihnya itu bagaikan patung manekin yang tidak bisa bicara.
“Kenapa kau diam saja? Kau tak punya jawabannya? Apa karena perusahaan itu milik mantan istrimu? Apa karena kau masih menyimpan kenangan mu bersamanya? Selalu mengingatnya di dalam pikiranmu dan di dalam hatimu. Katakan saja bahwa KAU masih mencintainya!” teriak Ivy dengan keras. Cairan kristal bening itu merembes keluar membasahi wajahnya yang berbentuk oval.
“Ivy!” hardik Kenan.
Urat saraf hijau itu tampak menonjol keluar dari leher pria itu, begitu juga dengan Ivy.
“Semua hal yang aku katakan itu benar’kan?” Ivy langsung mendorong dada bidang itu agar menjauh darinya. Dorongannya hanya bisa memundurkan tubuh Kenan satu langkah tapi tidak bisa membuat pria itu jatuh.
Kenan hanya menggelengkan kepalanya sesaat. Wajah dan manik matanya memerah setelah mendengar tuduhan-tuduhan Ivy yang tak beralasan.
“Itukah yang ada di dalam pikiranmu saat ini? Sekian lama kita bersama, kau bahkan tidak mengenalku dan memahami ku sedikitpun! Kau ingin tahu alasanku kenapa aku membuang semua hal tentang Puzulla? Aku menolaknya, karena aku ingin menjaga perasaanmu!"
Ivy tersentak begitu mendengar perkataan Kenan.
“Tapi KAU!” tunjuk Kenan tepat di depan hidung kekasihnya. “Calon istriku sendiri malah mendorongku jatuh ke dalam jurang yang sama dengan menjalin kerjasama dengan orang-orang yang ingin aku hindari!”
Kali ini ganti Ivy yang terdiam mendengar hardikan Kenan. Ia ingin mendekati pria itu, tetapi Kenan memundurkan langkahnya. Manik mata abu-bau gelap itu melotot tajam bagaikan sebuah pisau yang akan membelah jantung Ivy.
“Jika sampai detik ini aku masih mencintai Hazal, aku tidak akan pernah mengajakmu menikah! Lebih baik kita memikirkan kembali tentang rencana pernikahan kita. AKU sangat KECEWA padamu!” seru Kenan sambil menjatuhkan salah satu kursi makan yang ada di dekatnya kemudian pergi meninggalkan Ivy dengan sejuta penyesalan.
Kedua kelopak mata Ivy langsung terpejam begitu mendengar pintu apartemennya dibanting oleh Kenan dengan keras. Cairan bening itu mengalir bagaikan tetesan air hujan di wajah Ivy. Tubuh ramping itu perlahan-lahan jatuh terduduk, memegang kaki kursi yang jatuh tepat di depannya.
Sementara Kenan keluar dengan membawa mobilnya. Ia tidak punya tujuan saat ini. Ia membawa kendaraannya hanya mengikuti arus jalan raya. Hatinya masih berkecamuk tak karuan. Dipukulnya setir kemudi itu berulang kali, benda mati itu hanya bisa pasrah menghadapi kemurkaan tuannya. Setetes air matanya tiba-tiba keluar.
Apa gunanya hubungan ini, Ivy? Jika kau tak mempercayaiku sedikitpun! Bukan wanita pintar dan cantik yang aku inginkan. Aku hanya menginginkan seorang wanita yang bisa mengerti dan memahami ku!
...****************...
__ADS_1