
Langkah kaki Kenan berhenti di depan pintu ruang Dokter Husein. Pria itu tampak ragu saat mengulurkan tangannya untuk membuka pegangan pintu tersebut. Ia hanya menempelkan genggaman tangannya di depan daun pintu, hingga beberapa menit kemudian barulah ia memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam.
"Dokter Husein," sapa Kenan setelah ia masuk ke dalam. Dokter paruh baya itu mengangkat wajahnya ke
atas dan tersenyum simpul kepadanya.
"Duduklah." Dokter Husein mengarahkan tangannya ke arah kursi kayu yang ada di depannya. "Dimana Ivy?"
"Ivy... Dia sedang pergi ke luar kota untuk mencari saudara ibunya," jawab Kenan yang berusaha mencari alasan.
Dengan wajah yang serius dan tegang, Kenan berusaha duduk dengan tenang untuk mendengarkan penjelasan dokter senior tersebut.
Dokter Husein mengambil salah satu berkas yang ada di tumpukan sebelah kiri tangannya. Ia memberikan berkas tersebut kepada Kenan agar pria itu membacanya. "Kau bisa menyampaikan ini kepada Ivy. Dua hari yang lalu, aku mendapat informasi dari Yayasan Kanker Anak Istanbul. Ada seseorang yang ingin mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk Deniz. Orang tersebut sudah menjalani berbagai pemeriksaaan medis, dan kecocokkan mereka hampir mendekati 50 persen."
Mata Kenan tampak bersinar setelah ia mendengar perkataan sang dokter. "Berarti Deniz bisa disembuhkan, Dokter?"
"Sembilan puluh persen ya, tapi...." Dokter berkacamata itu tidak melanjutkan perkataannya.
"Tapi apa?" Kenan tak sabar mendengar kata selanjutnya. Ia mulai sependapat dengan Ivy, bahwa perkataan dokter yang duduk di hadapannya ini setengahnya berupa kebaikan dan setengahnya lagi adalah kejahatan yang akan mencengkik lehermu sampai kau tidak bisa bernapas.
"Pendonor itu tinggal di Texas, Amerika Serikat. Dia tidak sepenuhnya sukarela memberikan sum-sum tulang belakangnya. Setelah dia mengetahui tingkat kecocokkan dirinya dengan Deniz sangat besar, pendonor itu bermaksud menjual sum-sum tualng belakangnya," jelas Dokter Husein.
Putra Harun itu menengadahkan kepalanya menatap cahaya putih yang sedang menggantung, ia mengusap wajah dan seluruh rambutnya hingga ke belakang lehernya. Hembusan napasnya terdengar berat saat ini kemudian ia memalingkan wajahnya ke arah jendela yang ada di sampingnya. Bentangan langit di depannya terlihat semakin gelap dan tebal, kilatan petir saling menyambar.
Pikirannya terlempar ke masa beberapa waktu yang lalu ketika dirinya dan Ivy saling berjanji di taman Sultanahmet, semuanya demi Deniz, bocah laki-laki yang mirip dengan dirinya. Segala jerih payahnya dan segala bantuan yang ia berikan kepada Ivy semuanya untuk bocah itu. Jika dirinya tidak ada, Ivy pasti akan mencari cara untuk kesembuhan adiknya itu.
"Berapa yang dia mau?" tanya Kenan menatap tajam wajah sang dokter.
"USD 100.000," jawab Dokter Husein.
"Kau ingin memerasku!" teriak Kenan yang langsung menarik kerah jas putih itu.
Wajah Kenan sudah mulai memerah menahan amarahnya. Jika bukan karena pria di depannya ini adalah dokter yang menangani kesehatan Deniz, ia pasti akan menghajar Dokter Husein dan membuangnya ke luar jendela.
__ADS_1
Tangan keriput itu tampak gemetar memegang tangan Kenan. Bibirnya mulai sedikit terbuka. "Kau... bisa membaca email yang dia kirim ke rumah sakit ini."
Kenan melepaskan cengkeraman tangannya dari kerah jas putih tersebut. Ia kembali ke tempat duduknya, namun manik matanya yang tajam masih mengawasi gerak-gerik dokter paruh baya itu. Dibukanya berkas yang ada di depannya, ia mulai membaca setiap lampiran-lampiran kertas yang ada di sana.
Dalam beberapa detik, Kenan sudah selesai membaca isi berkas tersebut kemudian dilemparkannya berkas itu di hadapan Dokter Husein. "Aku akan menyetujui semua syaratnya! Aku akan membayar setelah ia selesai mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untuk Deniz!"
Setelah mengatakan hal tersebut, Kenan membanting pintu ruangan itu dengan keras. Saat ini ia sedang memikirkan bagaimana caranya mendapatkan uang sebanyak itu. Ivy juga belum ditemukan sampai saat ini. Dirinya tidak yakin, apakah polisi bisa membantunya untuk menemukan wanita itu.
Kenan mengayunkan langkahnya menuju ke kamar Deniz. Nur sudah menunggunya di depan kamar, wajah wanita itu terlihat cemas saat dia melihat putra Harun itu berjalan tanpa tenaga.
"Apa yang dikatakan oleh dokter?" tanya Nur yang menghentikan langkah Kenan sebelum pria itu sampai di depan kamar.
Kenan memejamkan kelopak matanya dan menghembuskan napasnya dalam-dalam di hadapan pengasuh Ivy kemudian ia menceritakan apa yang dikatakan oleh Dokter Husein kepadanya.
"Oh. Kita harus bagaimana?" Nur menutup hidungnya dan mengernyitkan dahinya.
"Aku sudah menyetujui persyaratannya. Aku akan mengusahakan uangnya, bagaimanapun caranya Deniz harus segera dioperasi," jawab Kenan. Dalam hatinya ia juga tidak tahu darimana ia mendapatkan uang sebanyak itu.
"Tapi...." Manik mata Kenan tampak berkaca-kaca melihat pengorbanan Nur. Wanita yang bukan keluarga Eleanor, wanita yang hanya pelayan di keluarga itu rela mengorbankan miliknya yang berharga hanya untuk anak majukannya yang sudah bangkrut.
"Baiklah, aku terima. Tolong jaga Deniz, aku akan keluar," ucap Kenan yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Nur.
Kipas mobil SUV itu masih bergerak ke kanan dan ke kiri untuk menepis setiap deraian air hujan yang menghalangi pandangan Kenan. Kendaraan roda empat itu melaju ke Kafe Istanbul. Hari masih sore ketika mobilnya berhenti tepat di depan kafe tersebut. Suasana masih terlihat sepi, dari luar ia melihat Mehmet sedang berbicara dengan seseorang. Di tengah guyuran air hujan, pria itu berlari kecil untuk mencapai pintu masuk kafe. Melihat temannya datang, Mehmet memberikan isyarat kepada Kenan untuk menunggunya. Selang beberapa menit kemudian, pembicaraan Mehmet dengan tamunya telah usai. Pria gundul berkulit gelap itu datang menghampiri meja Kenan yang ada di dekat piano besar.
"Kau ingin main piano?" tanya Mehmet dengan sedikit candanya. Kenan hanya memandanginya dengan wajahnya yang ditekuk.
"Apa disaat seperti ini, aku ingin memainkan alat musik itu?" Kenan membidikkan tatapan sinisnya kepada Mehmet,
"Santai, sobat. Aku hanya bercanda, kau tahu aku bukanlah orang yang serius." Mehmet mendudukkan dirinya di samping Kenan.
"Dan kau tahu juga, aku bukan orang yang suka bercanda! Deniz sudah mendapatkan donor sum-sum tulang belakangnya." Manik mata Kenan mengarah ke tempat piano itu berdiri.
"Itu berita yang bagus!" seru Mehmet dengan tawanya yang memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Siapa orang yang baik hati itu?"
__ADS_1
Kenan mendengus kesal mendengar perkataan sahabatnya itu. "Jangan sebut dia orang baik! Dia tidak mendonorkan sum-sum tulang belakangnya dengan sukarela, tapi dia menjualnya. Aku tidak kenal, dia tinggal di Texas," jelas Kenan sambil menyeruput kopi Turki pemberian Mehmet.
"Apa?" Mehmet mengusap wajahnya kemudian ia menepuk pundak Kenan. "Berapa yang dia mau?"
Kenan menepis tangan Mehmet yang berada di pundak kanannya. "Aku ke sini bukan untuk meminjam uangmu atau mengemis kepadamu!"
Mehmet tersentak mendengar perkataan Kenan dan menggelengkan kepalanya. "Oke. Apa maumu?"
"Aku ingin bertanding lagi. Aku membutuhkan 100.000 sampai 200.000 USD saat ini!" seru Kenan yang membuat mata Mehmet terbelalak.
"Kau tak bisa menyelesaikannya dengan satu kali pertandingan!" bisik Mehmet sambil mencondongkan tubuhnya ke depan Kenan.
"Kau bisa menaikkan harga taruhanku!" bisik Kenan kemudian ia bangkit berdiri meninggalkan Mehmet.
Pria gundul itu hanya bisa mengusap kepala plontosnya. Tidak mudah menaikkan jumlah taruhan, apalagi Kenan masih tergolong baru. Sahabatnya itu baru memenangkan beberapa kali pertandingan, pamornya masih kurang. "Kenapa dia suka menggantungkan nasibnya di ring tinju? Bagaimana jika dia tidak menang dan malah mati mengenaskan di sana?" gumam Mehmet.
Dua hari kemudian, kondisi Deniz semakin menurun. Bocah laki-laki itu terus menanyakan keberadaan Ivy yang tidak nampak batang hidungnya. Berbagai cara sudah dilakukan Kenan dan Nur untuk membujuk bocah itu untuk menyentuh makanannya, tetapi ia tidak ingin makan sebelum ia bertemu dengan kakaknya. Dokter Husein memberitahu Kenan bahwa hari ini pendonor Deniz akan terbang dari Texas menuju Istanbul. Jika kondisi Deniz membaik, kemungkinan operasi transplantasi sum-sum tulang belakang akan segera dilakukan.
Hasan berjalan tergesa-gesa memasuki gedung tinggi yang berbentuk piramida tersebut. Pintu lift itu terbuka di lantai lima. Ia mengetuk perlahan pintu kayu yang ada di depannya.
"Masuk!" seru Ferit di balik layar laptopnya.
"Tuan, ada berita baik yang aku bawa dari rumah sakit," ucap Hasan yang membuat Ferit mendongakkan wajahnya dan menaikkan salah satu alisnya ke arah Hasan. "Deniz Eleanor telah mendapatkan pendonor."
"Oh ya?" Ferit menyeringai setelah mendengar berita yang disampaikan oleh Hasan. "Lalu?"
"Kudengar pendonor itu tidak meberikan sum-sumnya dengan sukarela. Ia menjualnya. Montir itu saat ini sedang mencari uang untuk membayar pendonor itu," jelas Hasan.
Ferit tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Hasan. "Si montir miskin itu ingin berlagak menjadi pahlawan! Ivy akan melihat siapa yang akan menolong adiknya!"
* BERSAMBUNG *
Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih
__ADS_1