
Lima orang laki-laki berperawakan tinggi besar mendekati Kenan, dua orang dari mereka memegangi tangan Kenan. Tiga orang lainnya menghajar Kenan hingga babak belur. Mereka melayangkan pukulannya ke wajah, perut dan dada Kenan. Manik mata abu-abu gelap itu menatap tajam Ivy yang berdiri di sudut ruangan. Seakan meminta penjelasan kepada wanita itu.
"Hentikan! Jangan pukul lagi!" teriak Ivy kepada orang-orang itu. Manik mata hijau itu meleleh melihat luka memar di wajah Kenan.
"Cukup!" seru Victor sambil mengangkat salah satu tangannya ke atas.Penjaga rumah itu segera menghentikan kegiatannya sesuai dengan perintah Victor.
"Masukkan pria itu ke dalam gudang!" seru Victor yang berdiri membelakangi Kenan. Ia tidak ingin melihat pemuda yang telah menghancurkan masa depan putrinya.
Napas Kenan terengah-engah setelah ia jatuh tersungkur ke lantai. Dua orang itu menarik tubuh Kenan, agar pria itu bangkit berdiri. Mereka mengapit lengan Kenan dan membawanya ke gudang belakang.
Kenan masih terus menatap tajam pemilik manik mata hijau itu ketika ia melintas di hadapannya. Sedangkan Ivy hanya mampu menatap punggung Kenan, hingga pria itu menghilang dari pandangannya.
"Siapa laki-laki itu?" tanya Sophia yang tiba-tiba muncul di ruang tamu. Wanita berambut merah itu menatap wajah Ivy dan Victor secara bergantian. Tapi ayah dan anak itu hanya terdiam.
"Ah ya... aku mengerti, pasti pria itu kekasihmu, Ivy?" Sophia memasukkan kedua tangannya ke dalam lipatan sikunya.
Ivy hanya terdiam dan menundukkan kepalanya.
"Apa pekerjaannya? Jika pria itu sehebat Ferit, mungkin saja dia bisa membantu masalah kita, Victor," ucap Sophia yang sedikit memberikan senyuman manisnya kepada suami dan anak tirinya.
Ivy membasahi bibir bawahnya, manik mata hijau itu bergerak ke arah Sophia dan Victor secara bergantian. "Dia hanyalah seorang montir kapal."
"Apa?" Sophia dan Victor terkejut mendengar perkataan Ivy. Tetapi yang paling membuat Victor terpukul, bagaimana bisa putrinya itu menyerahkan kehormatannya kepada seorang montir kapal.
"Kau menolak Ferit hanya demi seorang montir kapal yang tidak bisa memberimu masa depan?" teriak Sophia yang mengusap keningnya. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran Ivy.
"Setidaknya dia lebih baik dari Ferit," jawab Ivy asal. Padahal dirinya juga tidak mengenal siapa Kenan.
Victor menyeringai mendengar perkataan Ivy. "Lebih baik katamu! Jika dia pria baik, dia tidak akan mengambil kehormatan mu!"
Sophia terkejut mendengar perkataan suaminya, ia menarik dan memegang kedua lengan Ivy. "Apa betul yang dikatakan ayahmu, hah?"
Ivy hanya menganggukkan kepalanya pelan. Hampir saja tangan Sophia melayang ke wajah Ivy, jika Victor tidak mencegahnya.
"Jangan pernah kau memukul putriku!" pekik Victor yang membuang lengan istrinya.
"Kenapa kau membelanya? Putrimu itu telah mencoreng nama baik keluarga kita! Ferit pasti tidak akan mau menerima hal ini!" teriak Sophia dengan lantang. Wanita itu semakin berani, setelah melihat keuangan suaminya yang terpuruk.
__ADS_1
"Ferit sudah membatalkan semuanya. Tidak ada pernikahan dan tidak ada bantuan darinya," kata Victor lirih.
"Itu berarti...." Sophia tidak bisa melanjutkan perkataannya, ia terduduk lemas di atas sofa sambil memegang keningnya yang masih terlihat kencang.
Ivy terkejut mendengar perkataan ayahnya. Seandainya ayahnya memberitahu sebelumnya, bahwa pernikahannya telah batal. Ia tidak perlu memfitnah Kenan.
"Kau jangan ikut campur masalah Ivy dan pemuda itu! Aku yang akan mengurus semua ini!" ancam Victor kepada istrinya yang masih duduk di atas sofa. Pria paruh baya itu segera masuk ke dalam ruang kerjanya.
Begitu juga dengan Ivy yang meninggalkan Sophia sendirian di ruang tamu. Wanita muda itu masuk ke dalam kamarnya yang ada di lantai atas.
Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya yang berwarna merah muda. Pendengarannya hanya mendengar suara detik jarum jam yang terus berputar tanpa henti. Manik mata hijaunya menatap langit-langit kamarnya yang berwarna putih. Memikirkan apa yang barusan ia lakukan kepada Kenan.
Sebuah ketukan pintu terdengar dari luar, Ivy segera bangun dan berjalan ke arah pintu.
"Cansu," sapa Ivy dengan tersenyum.
"Ternyata benar kau sudah kembali." Kedua saudara tanpa ikatan darah itu saling berpelukan.
"Aku tadi mendengar suaramu," ucap Cansu.
Ivy mengajak Cansu untuk masuk ke dalam kamarnya dan duduk di atas kursi kayu panjang di sudut kamar Ivy. Mereka duduk berdampingan dan memangku bantal kecil.
"Aku tidak ingin menikah dengan Ferit, Cansu." Ivy menyandarkan samping kepalanya di dinding. Bukan untuk pertama kalinya ia mengatakan bahwa ia tidak ingin menikah dengan Ferit. Tapi tidak ada yang mengerti dirinya.
"Kenapa kau menolaknya?" tanya Cansu sambil mengangkat kedua kakinya dan menaikkannya di atas kursi.
"Aku tidak mencintainya. Lagipula aku tidak ingin menikah secepat ini." Ivy menyilakan kedua kakinya di atas kursi.
"Aku dengar dari Nur, tadi kau di antar pulang oleh seorang pria. Apa dia kekasih mu?" Cansu tersenyum menggoda Ivy. Manik matanya berputar melihat mulut Ivy yang terbuka lebar.
"Bukan. Dia bukan kekasihku. Sebenarnya aku tidak mengenalnya. Waktu aku lari kemarin, aku hampir menabrak mobilnya. Aku langsung memintanya untuk membawaku pergi," jelas Ivy.
"Jadi, tidak ada apa-apa antara kau dan pria itu?" tanya Cansu yang mengetukkan dua jarinya di atas bantal kecil yang dipangkunya.
"Tidak ada yang terjadi diantara kami," jawab Ivy pelan. "Pernikahanku dengan Ferit juga batal."
Cansu hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Sebenarnya sayang juga, jika kau menolak Ferit. Dia laki-laki yang tampan dan kaya."
__ADS_1
"Jika kau mau, kau saja yang menikah dengannya. Aku tidak suka padanya. Meskipun aku baru bertemu dengannya dua kali, tapi dia seperti ingin memakanku hidup-hidup," ucap Ivy yang disambut tawa ceria dari dua wanita cantik itu.
"Aku senang kau sudah kembali, Ivy. Mandilah dan beristirahat lah," ucap Cansu yang segera berdiri dan melangkah pergi dari kamar Ivy.
Setelah kepergian Cansu, putri Victor itu teringat akan nasib Kenan yang ada di dalam gudang. Ia segera mengambil kotak obatnya dan segera bergegas turun ke bawah.
Tangannya sibuk mencari kunci gudang yang biasanya tergantung bersama anak kunci yang lain.
"Yang mana kunci gudangnya?" gumam Ivy sambil membolak-balikkan beberapa anak kunci yang tergantung di dinding dapur.
"Apa yang kau cari, Ivy?" Nur segera mendekati putri majikannya itu.
"Yang mana kunci gudang belakang?" tanya Ivy dengan panik. Nur segera mengambil beberapa anak kunci dari tangan Ivy kemudian memberikan satu anak kunci yang berbentuk panjang dengan warna emas.
Manik mata hijau itu tampak bersinar begitu melihat kunci itu. "Nur, apa kau punya makanan?"
"Ehem... apa itu untuk laki-laki tadi?" tebak Nur sambil membuka lemari penyimpanan makanan.
Ivy menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya, agar Nur memelankan suaranya.
"Oke... oke, aku mengerti." Nur mulai memelankan suaranya. Ia memberikan sepiring makanan lengkap dengan lauknya kepada Ivy dan memberikan botol minuman kepada wanita itu.
"Pergilah, aku akan berjaga-jaga di sini," bisik Nur.
Ivy meletakkan semua barang-barang itu di atas nampan dan membawanya ke gudang belakang rumahnya. Hari sudah mulai gelap ketika Ivy berhenti di depan sebuah pintu kayu yang sudah hampir lapuk.
Ia meletakkan nampannya di dekat kakinya dan mulai membuka kunci gudang tersebut. Dalam hitungan detik, pintu kayu itu terbuka. Ivy mengambil nampannya dan melangkah masuk ke dalam.
Aroma lembab dan jamur menyambut kedatangan Ivy. Ruangan itu hanya berisi satu sel yang terbuat dari besi yang sudah berkarat, selama ini ia tidak tahu untuk apa kegunaan sel itu di bangun. Tidak ada barang-barang apapun di sana. Dengan bantuan lampu gantung yang berwarna putih, ia melihat Kenan sedang terduduk di atas lantai semen. Pria itu membenamkan wajahnya di atas lututnya.
Apa ia tertidur?
Ivy membuka sel besi itu tanpa suara, ia memberanikan dirinya untuk masuk ke dalam. Semakin lama langkahnya semakin mendekat ke tempat Kenan berada.
Tiba-tiba manik mata abu-abu gelap itu terangkat dan menyorot tajam ke arahnya. Sorot mata itu bagaikan mata seekor serigala yang sedang mengepung mangsanya.
* Bersambung *
__ADS_1
Jangan lupa kasih Like, Komentar, Rate bintang lima dan Vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏