Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Keluar Dari Rumah


__ADS_3

Waktu yang tersisa bagi keluarga Eleanor hanya tinggal satu hari. Besok mereka sudah harus meninggalkan rumah mewah itu, entah bagaimana hidup mereka selanjutnya. Sementara itu, Sophia sudah menyuruh Nur dan semua penjaga rumahnya untuk keluar dari rumah itu. Kini tinggal dirinya, Cansu dan Ivy yang masih tinggal.


Wanita berambut merah itu sedang menunggu kabar dari seseorang yang mengurus asuransi almarhum suaminya. Dilihatnya Ivy yang baru saja keluar dari dapur dan hendak naik ke kamarnya.


"Ivy, kemarilah. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu," panggil Sophia. Putri Victor itu segera mendatangi ibu tirinya yang sedang berdiri di ruang keluarga.


Sophia segera menggandeng tangan Ivy dan membawanya duduk di atas sofa panjang.


"Ada apa?" tanya Ivy sambil meletakkan kedua tangannya di pangkuannya.


"Ivy, kau sudah tahu apa yang terjadi di rumah kita. Tanpa ayahmu, keadaan kita akan sangat sulit. Umurku sudah tidak muda lagi, kau dan Cansu baru saja lulus kuliah, sementara Deniz memerlukan biaya yang besar untuk pengobatannya," jelas Sophia dengan nada bicaranya setenang mungkin.


Manik mata Ivy menatap wajah Sophia. Ia berusaha memahami arah pembicaraan wanita itu.


"Kurasa mulai dari sekarang kita harus menentukan jalan hidup kita masing-masing, Ivy. Kau bisa fokus menjaga adikmu, dan aku akan fokus menjaga Cansu." Sophia memegang punggung tangan Ivy.


"A...apa maksudmu dengan menentukan jalan hidup kita masing-masing? A... apa kau akan meninggalkanku dan Deniz?" Manik mata Ivy tampak berkaca-kaca.


"Ivy, kau tahu ayahmu tidak meninggalkan apa-apa untuk kita. Sangat berat jika kita harus hidup bersama. Kau sangat menyayangi Deniz lebih dari siapapun. Ia juga sudah terbiasa tinggal di rumah sakit," jawab Sophia yang langsung membuat Ivy melepaskan tangannya dari pegangan tangan wanita itu.


"Kau boleh saja meninggalkanku, aku bisa menghidupi diriku sendiri. Tapi bagaimana dengan Deniz? Dia membutuhkan kita saat ini, dia sudah menganggapmu seperti ibunya!" seru Ivy sambil menahan air matanya.


"Kau bisa menjaganya, sayang. Aku tahu kau gadis yang kuat. Kau pasti bisa." Sophia berusaha meyakinkan Ivy dengan menyentuh dagu anak tirinya itu.


Ivy menepis tangan Sophia dengan kasar dan segera berlari menuju kamarnya. Tak ada lagi gunanya bertahan di rumah ini dan di hadapan wanita itu.


Ia mengambil tas kopernya dan mengisinya dengan beberapa pakaian. Ia tak menyangka ibu tirinya tega melakukan hal ini padanya, di saat ayahnya baru saja meninggal.


Ternyata perkataan Nur memang benar. Wanita itu seperti ular berbisa. Sekarang wanita itu telah melepas topengnya.


Sophia berjalan mondar-mandir di ruang tengahnya, langkah kakinya berhenti ketika Ivy menuruni anak tangga sambil membawa tas kopernya.


"Jika kau butuh biaya untuk pengobatan Deniz, kau bisa mencari Ferit! Minta maaflah kepadanya, pasti laki-laki itu akan membantumu!" seru Sophia dengan tatapan mata culasnya dan senyumannya yang sinis.


Putri Victor itu menatap tajam wajah Sophia. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada pegangan kopernya. Perkataan ibu tirinya itu membuat telinganya merah.

__ADS_1


"Ivy, kau hendak kemana dengan koper ini?" tanya Cansu yang baru saja pulang untuk mencari pekerjaan.


"Tanyakan saja pada ibumu!" seru Ivy dengan kesal. Ia berjalan melewati Cansu sambil menyeret tas kopernya.


"Ivy, tunggu!" Cansu hendak berlari mengejar saudara tirinya, tetapi Sophia menarik tangan putrinya.


"Masuk, Cansu! Biarkan dia pergi!" teriak Sophia dengan tegas dan kelopak matanya yang melebar.


"Tidak ibu! Ini tidak benar!" teriak Cansu yang segera melepaskan tangannya dari genggaman Sophia. Wanita muda itu segera keluar mengejar Ivy yang masih berjalan tidak jauh dari rumah. Melihat hal itu, membuat Sophia mendengus dengan kesal.


"Ivy...!" teriak Cansu sambil berlari hingga ke tepi jalan raya.


"Cansu...!" Ivy membalikkan badannya ketika ia mendengar suara putri ibu tirinya. Ia ingin meneruskan langkahnya, tapi ketika dilihatnya Cansu tetap berlari ke arahnya, ia mengurungkan niatnya.


"Ivy, kumohon jangan pergi!" Cansu memegang kedua lengan Ivy, ketika ia sudah berada di depan wanita itu.


Manik mata Ivy menatap haru melihat sikap Cansu yang sangat berbeda dengan ibunya. "Tidak Cansu, aku harus pergi. Ibumu benar, jika kita hidup bersama, pengeluaran kita akan semakin bertambah."


"Tidak Ivy, kita bisa menanggung semuanya bersama. Kita pasti bisa membiayai pengobatan Deniz," ujar Cansu dengan tatapan wajahnya yang serius.


Ivy menggelengkan kepalanya dan memasukkan rambutnya di belakang telinganya. "Pulanglah, Cansu. Deniz bukanlah tanggung jawab mu."


"Kau bisa menghubungiku, jika kau mengalami kesulitan."


Ivy hanya menganggukkan kepalanya dan menggigit bibir bawahnya. Manik mata mereka berdua sama-sama memerah. "Aku senang bisa mengenalmu dan menjadi saudaramu, Cansu."


"Aku juga, Ivy." Cansu mengeluarkan semua uang yang ada di dalam dompetnya dan memberikannya kepada Ivy.


"Tidak, Cansu! Kau juga memerlukannya," tolak Ivy dengan tangannya.


"Hanya ini yang bisa aku berikan, Ivy. Tapi begitu banyak kasih sayangmu dan ayahmu yang kalian berikan untukku." Dengan sedikit memaksa, Cansu memasukkan lembaran uang kertas itu ke dalam tas Ivy.


Ivy mengusap air matanya sendiri, ia benar-benar terharu melihat perkataan saudaranya. "Jaga dirimu, Cansu. Kelak jika kita bertemu kembali, aku akan membalas kebaikanmu."


"Jaga dirimu juga, Ivy. Sampaikan salam ku untuk Deniz," balas Cansu. Pegangan tangan mereka terlepas secara pelan-pelan, hingga punggung Ivy sudah menghilang di persimpangan jalan.

__ADS_1


Ivy terus berjalan di sepanjang jalan raya sampai akhirnya ia menemukan sebuah taksi.


"Rumah Sakit Istanbul," kata Ivy kepada pengemudi taksi itu.


Aku harus menemui Deniz. Cepat atau lambat, ia akan mengetahui semuanya. Deniz aku sangat merindukanmu.


Taksi berwarna kuning itu berhenti di depan lobi rumah sakit milik pemerintah kota Istanbul. Sudah delapan bulan lebih, Deniz tinggal di rumah sakit. Terakhir kali Ivy bertemu dengannya ketika hari pertama ia pulang ke Turki, setelah ia menyelesaikan studinya.


Ivy mengayunkan langkahnya menuju kamar anak khusus penderita penyakit kanker. Ia menyandarkan kopernya di sudut ruangan. Dari balik jendela kaca, ia melihat adik laki-lakinya itu sedang duduk membaca buku.


"Bagaimana aku bisa memberitahu Deniz yang sebenarnya?" gumam Ivy pelan. Ia tidak tega mengatakan kepada adiknya bahwa ayahnya telah meninggal dunia.


Putri Victor itu menempelkan keningnya di jendela kaca tersebut. Ia mengepalkan telapak tangannya dengan erat, ketika air matanya mengalir deras. Ia belum siap bertemu dengan adiknya saat ini.


Di waktu yang sama, Kenan mendatangi rumah Ivy. Pria itu berniat untuk mengembalikan baju pengantin Ivy yang tertinggal di tempatnya.


"Kau...?" tanya Cansu ketika ia membuka pintu rumahnya dan melihat Kenan yang berdiri di depannya. Ia mencoba mengingat pria itu.


"Apa Ivy ada di rumah?" tanya Kenan dengan sikapnya yang dingin. Tanpa basa-basi atau sapaan.


"Dia sudah pergi. Dia tidak tinggal di sini," jawab Cansu sambil melihat sebuah tas kertas bermotif warna-warni yang di bawa oleh Kenan.


"Dia pergi kemana? Dimana dia tinggal?" tanya Kenan dengan sedikit memaksa.


"Aku tidak tahu. Tapi kemungkinan dia pergi menemui adiknya di rumah sakit," jawab Cansu sambil mengangkat kedua pundaknya.


"Rumah Sakit?" Kenan mengernyitkan dahinya. Wajar jika ia sedikit terkejut, karena ia sama sekali tidak mengetahui masalah Ivy.


"Tunggulah di sini." Cansu segera masuk ke dalam. Tak lama kemudian ia keluar dan memberikan sebuah kertas kecil kepada Kenan.


"Ruang inap khusus anak-anak penderita kanker. Rumah Sakit Istanbul," kata Kenan setelah ia membaca tulisan Cansu.


"Itu tempat adiknya di rawat. Mungkin kau bisa bertemu dengannya di sana." Cansu segera menutup pintu rumahnya, ketika mendengar suara Sophia yang memanggil namanya.


Kenan segera memasukkan kertas pemberian Cansu ke dalam saku jaket kulitnya. Ia segera melajukan mobil pinjamannya menuju Rumah Sakit Istanbul untuk mencari Ivy.

__ADS_1


* Bersambung *


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2