Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Bawa Montir Sialan Itu Ke Dermaga


__ADS_3

Di suatu lorong yang panjang, seorang wanita dengan pakaian seragamnya yang berwarna putih sedang mendorong sebuah kereta dorong. Terdengar suara roda kecil yang menggelinding di atas lantai keramik, suara dentingan peralatan besi yang saling bergesekkan satu sama lain, dan aroma obat-obatan yang selalu menjadi teman kerjanya.


Wanita berseragam itu menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kamar VVIP. Dengan cukup hati-hati ia membuka pegangan daun pintu berwarna kuning, agar pria di dalam tidak memelototinya seperti beberapa waktu yang lalu.


Ia melihat pria berambut panjang itu masih memejamkan kelopak matanya. Setidaknya hari ini dirinya tidak perlu mendengar ataupun melihat manik mata pria itu. Diambilnya sebuah kantung infus baru dari kereta dorongnya, kemudian ia mengganti kantung infus lama yang sudah terlihat tipis. Sebuah jarum suntik dengan jarumnya yang sangat kecil berada di tangannya, wanita berseragam itu memasukkan jarum suntik ke dalam ujung selang infus yang menempel di punggung tangan pria itu.


Setelah melakukan pekerjaannya pagi ini, ia melihat sekilas pria itu masih tertidur lelap. Wanita itu segera mendorong kembali kereta dorongnya menuju pintu. Saat dirinya membuka pintu kamar, seorang pria lain dengan potongan rambutnya yang cepak sudah berdiri di depannya.


"Apa dia masih tidur?" tanya pria itu yang selalu datang setiap pagi untuk menemui pria berambut panjang yang sedang dalam masa pemulihan.


"Iya, Tuan. Saya permisi dulu untuk melakukan pekerjaan saya di kamar lain," pamit perawat tersebut.


Pria itu menempelkan dirinya di depan pintu kamar untuk memberi ruang gerak kepada petugas medis dan kereta dorongnya. Selepas kepergian perawat tersebut, ia masuk ke dalam kamar dan mendaratkan tubuhnya di atas sofa yang panjangnya seukuran dengan tinggi badannya.


Embun pagi masih menyerang Kota Istanbul pagi ini. Uap air itu masuk melalui sela-sela jendela kaca, pria itu melipat kedua tangannya dan memasukkannya ke dalam lipatan sikunya. Ia mulai menutup kelopak matanya perlahan-lahan.


"'Hasan." Pria berambut cepak itu langsung membuka kelopak matanya saat namanya di sebut oleh tuannya yang sedang berbaring di atas ranjang.


"Ya, Tuan Ferit," jawabnya yang langsung berdiri di samping ranjang. Dengan cekatan Hasan menegakkan tempat tidur tuannya agar pria itu bisa berbicara dengannya lebih leluasa.


"Kenapa kau datang sendiri? Dimana Ivy?" tanya Ferit yang baru saja terbangun dari tidurnya.


Hasan terdiam mendengar pertanyaan Ferit, pertanyaan yang tidak bisa ia hindari ketika ia pulang kepada tuannya dengan tangan kosong.


"Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak berhasil?" Ferit mulai meninggikan nada suaranya dan menatap tajam orang kepercayaannya.


"Montir itu berhasil membawa pergi Nona Ivy. Mereka berdua berhasil lolos dari serangan polisi dan seranganku. Aku kehilangan jejak mereka setelah mereka keluar dari Jembatan Martir." Hasan hanya mampu menundukkan kepalanya dihadapan pemimpin perusahaan Kozan tersebut.


Ferit mengepalkan kedua telapak tangannya di bawah selimutnya, membuat cairan merah itu terlihat di dalam selang infusnya. "Bagaimana dengan uangku, hah?"


"Anak buahku tidak berhasil menemukan koper itu, kurasa montir itu telah mengambil uang taruhannya," tebak Hasan.


"Dasar bodoh! Untuk menjaga seorang wanita saja kau tidak becus! Sekarang montir sialan itu telah mengambil Ivy dan uangku!" teriak Ferit. Dadanya mulai bergerak naik turun seiring dengan napasnya yang berhembus di dalam kemarahan.

__ADS_1


"Segera urus kepulanganku hari ini! Aku yang akan membereskan semuanya!" seru Ferit, akan tetapi Hasan masih diam berdiri di tempatnya. "Apa aku harus melemparmu keluar untuk membuatmu pergi, hah?"


"Tuan, mungkin sebaiknya tunggu satu atau dua hari lagi. Aku akan mencoba mencarinya di Rumah Sakit Istanbul tempat adiknya di rawat." Hasan mencoba mengulur waktu untuk membuat dirinya berprestasi di hadapan Ferit.


Terdengar suara pintu terbuka, seorang pria dengan jas putihnya masuk ke dalam kamar dan menghampiri pasiennya. "Itu benar, Tuan Ferit. Tunggulah sampai Anda benar-benar pulih."


Ferit mendengus kesal mendengar perkataan Hasan dan dokter yang merawatnya. Dokter tersebut mulai melakukan tugasnya untuk memeriksa kondisi Ferit yang terlihat semakin membaik. Sewaktu pria itu di bawa ke rumah sakit, kondisinya sangat buruk. Darah mengalir dari lubang hidung dan mulutnya. Paru-parunya mengalami cedera akibat pukulan Kenan.


Pria berambut panjang itu mengeraskan tulang rahangnya dan mengangkat telapak tangannya di depan dokter dan Hasan, seakan ia ingin kedua orang itu menutup mulut mereka.


"Lakukan perintahku! Aku ingin keluar sekarang!"


Kedua orang yang berdiri di samping ranjang tampak saling berpandangan setelah mendengar perintah Ferit. Akhirnya Hasan keluar untuk mengurus administrasi, sedangkan dokter memberikan resep obat untuk rawat jalan pria itu.


Sinar matahari sudah mulai meninggi menyinari gedung bertingkat dengan bangunannya yang berwarna putih. Di sebuah kamar, terlihat seorang anak kecil dan seorang pria sedang terbaring lemah di atas ranjang. Kelopak mata kecil itu mulai terbuka pelan-pelan, ia mulai menyesuaikan pandangannnya dengan sinar yang menerangi kamarnya.


"Aku masih hidup?" gumamnya pelan saat ia melihat jarum infus tertancap di punggung tangannya, akan tetapi ia mulai merasakan nyeri di bagian belakang punggungnya.


Bocah laki-laki itu melihat seorang pria yang tidak ia kenal terbaring di samping ranjangnya. Ia sedikit mengerutkan keningnya melihat keadaan pria itu yang sama seperti dirinya, tetapi pria itu masih memejamkan matanya. Tangan kecilnya mulai mencari sebuah tombol yang seharusnya berada di dekatnya, ia sudah terbiasa memanggil perawat di rumah sakit ini dengan cara seperti itu.


"Apa operasiku berhasil, suster?" tanya Deniz saat perawat itu memeriksa tekanan darahnya. "Siapa pria itu?"


"Ya, Deniz. Nanti Dokter Husein akan memeriksamu kembali," jawab suster tersebut ketika ia mengambil gelas berisi air mineral dan memberikannya kepada Deniz. "Pria ini adalah pendonormu. Dia yang telah mendonorkan sum-sum tulang belakangnya untukmu."


Setelah menghabiskan air minumnya, Deniz menatap pria berambut blonde itu dengan manik matanya yang berkaca-kaca. "Dimana kakakku?"


"Kakakmu dan yang lainnya sedang menunggu di luar. Aku akan memindahkanmu ke kamarmu yang lama. Kau bisa menemui kakakmu di sana." Deniz hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan sang perawat.


Setelah perawat memindahkan Deniz ke kamar lamanya, ia memberitahu Ivy bahwa adiknya sudah sadar dan pihak keluarga di persilahkan untuk menjenguknya. Raut wajah Ivy mulai berseri-seri setelah mendengar perkataan suster. Ia melemparkan senyuman manisnya kepada Kenan dan mengajak pria itu untuk masuk ke dalam kamar Deniz.


Bocah laki-laki itu memalingkan wajahnya ke arah pintu setelah ia mendengar suara ketukan dari luar. Ia melihat kakak perempuannya berdiri di depannya. "Ivy," panggilnya.


"Deniz," panggil Ivy yang langsung memeluk adiknya itu dengan erat. Ia bisa melihat kembali saudara laki-lakinya. Manik mata hijau itu meleleh di belakang punggung kecil bocah itu.

__ADS_1


"Kau jangan menangis lagi. Aku sudah sembuh. Aku akan kembali ke sekolah seperti keinginanmu," ucap Deniz dengan lirih. Tangan kecil itu mengusap wajah cantik kakaknya.


"Aku senang... aku senang bisa melihatmu lagi." Ivy tak mampu membendung air matanya. Ia mencium wajah adiknya berulang-ulang.


Deniz melihat Kenan yang berdiri di belakang kakaknya kemudian berkata, "Kakak tua, terimakasih kau sudah membawa pulang kakakku. Bisakah kau menghapus air mata Ivy, aku tidak bisa membuatnya berhenti menangis."


Perkataan Deniz sontak membuat Ivy membalikkan badannya menghadap Kenan. Pria itu berjalan mendekati Ivy. Belum sempat ia melakukan perintah Deniz, putri Victor itu lebih dulu bangkit berdiri dan memeluknya dengan erat.


"Terimakasih, Kenan. Kau telah membahayakan dirimu hanya untuk menolongku dan Deniz," isak Ivy. Tangan kekar itu mengusap rambut dan punggung Ivy dengan lembut. Ia memejamkan kelopak matanya saat ia mencium puncak kepala Ivy.


"Berhentilah menangis, mulai hari ini semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada yang perlu kau takutkan lagi," bisik Kenan, perlahan-lahan ia mengusap air mata yang menggenang di wajah wanita itu.


"Kakak tua... jika aku pergi ke surga, apa kau akan menjaga kakakku?" celoteh Deniz yang membuat Ivy melepaskan pelukannya dari Kenan.


"Apa yang kau katakan? Kau tidak akan kemana-mana, kita akan selalu bersama." Ivy berjalan dan duduk di samping ranjang adiknya.


Berbeda dengan Kenan, pria itu berjalan dan duduk di sisi ranjang yang berbeda. "Entah kau pergi atau tidak, aku akan tetap menjaga dirimu dan kakakmu."


Ucapan Kenan membuat Ivy mengangkat manik matanya menatap wajah pria itu. Jantungnya berdetak kencang dan kedua pipinya tiba-tiba bersemu merah. Pikirannya berkecamuk tentang perkataan Kenan, apa pria itu menganggap dirinya adalah orang yang sangat spesial atau ini hanya perasaannya sendiri.


Mendekati pukul delapan malam, langit Istanbul mulai masuk ke dalam kegelapan. Sebuah senyuman terukir dari wajah Hasan. Pria yang mempunyai hidung melengkung itu baru saja keluar dari Rumah Sakit Istanbul. Dugaannya ternyata benar, calon istri tuannya dan montir sialan itu ternyata ada di rumah sakit. Ia segera melajukan kendarannya menuju rumah Ferit.


"Jadi operasi transplantasi itu sudah berhasil?" tanya Ferit yang berbaring di atas ranjang kamarnya setelah ia mendengar berita yang dibawa oleh Hasan.


"Sudah, Tuan. Mereka juga sudah membayar pendonornya. Kulihat mereka sedang berkumpul bahagia di dalam kamar bocah itu." Perkataan Hasan membuat darah Ferit langsung mendidih.


"Aku tidak akan pernah membiarkan Ivy bersama dengan montir itu! Urusanku dengan montir sialan itu belum selesai!" Pria berambut panjang itu bangkit berdiri dan berjalan mendekati Hasan.


"Apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Hasan yang sedang menunggu perintah tuannya.


Ferit mencengkeram kerah kemeja Hasan kemudian berkata, "Bawa montir sialan itu ke dermaga. Kerahkan semua anak buahmu, kita akan menyelesaikannya malam ini!"


* BERSAMBUNG *

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya. Terimakasih


__ADS_2