Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Sebuah Dilema


__ADS_3

Sebenarnya buat Ivy, ini adalah dilema. Sepanjang malam ia hanya membolak-balikkan badannya saja di atas kasur. Memikirkan perkataan Mehmet, perasaan Kenan dan penawaran yang diberikan oleh Perusahaan Puzulla.


Apakah ia akan mundur atau tetap menerima satu-satunya perusahaan yang mau bekerjasama dengan Falea? Sulit baginya untuk memilih, tapi dirinya harus memilih, karena hari ini adalah hari terakhir ia memberikan jawaban kepada perusahaan besar tersebut.


Pukul tujuh pagi, Ivy benar-benar terjaga. Seberkas cahaya kecil dari sang baskara mulai terlihat. Diarahkannya pandangannya ke arah samping, mencari sosok wanita gembul yang sepanjang malam selalu membunyikan suara lokomotifnya. Ranjang di sampingnya sudah terlihat kosong dan tertata rapi.


Dengan posisi terduduk di atas tempat tidur, Ivy mengambil surat dari Puzulla yang semalam ia letakkan di bawah bantal. Beberapa kalimat yang tercetak di kertas itu kembali terukir di dalam pikirannya, ia tidak melihat tanda tangan dan nama Hazal Aksal ada di bagian bawah surat itu.


Mungkin wanita itu juga tidak tahu, kalau Falea adalah perusahaan milikku dan Kenan. Waktu itu aku hanya mendaftarkan namaku dan Falea. Mungkin dengan mengambil kerjasama ini, aku bisa menyelamatkan Falea dari kebangkrutan.


Ivy menapakkan sepasang kakinya di atas lantai keramik. Dengan cepat aura dingin itu berganti dengan kehangatan setelah ia menyalakan air hangat yang mengalir dari pancuran lubang shower-nya.


Setelah membersihkan dirinya dan merapikan kamarnya, Ivy mengambil sebuah mini dress berwarna hitam dari dalam lemari pakaiannya. Membungkus kedua kakinya dengan sepasang sepatu bot bertumit tinggi sebatas lutut berwarna senada.


Diambilnya mantel panjangnya yang berwarna krem dan tas tangannya. Ketika ia melangkah keluar, yang dilihat pertama kali adalah pintu kamar Kenan. Pintu kayu yang ada di sebelah kamarnya itu masih tertutup.


Ivy langsung bergerak masuk ke dalam ruang kerja. Ia membuka sebuah laci yang ada di bawah meja Kenan. Diambilnya cap stempel Perusahaan Falea.


“Kau akan pergi kemana sepagi ini?” tanya Nur yang melihat Ivy sudah berpakaian rapi lengkap dengan tas dan sepatunya.


Setalah menghabiskan segelas susunya, baru kemudian Ivy menjawab pertanyaan Nur. “Aku ada janji dengan temanku.”


“Tapi..., apa kau tidak ingin menunggu Kenan? Dia bisa mengantarmu.”


“Aku tidak ingin membangunkannya. Aku pergi dulu, Nur.”


Ivy langsung mengambil kunci mobil yang tergantung di antara pintu kamarnya dan kamar Kenan. Bergegas masuk ke dalam lift yang akan membawanya ke lantai basement, tempat mobil SUV itu berada.


Ivy mengeluarkan mobilnya dari apartemen. Dari balik kaca spionnya, ia melihat tidak ada kendaraan lain yang mengikutinya. Dengan kecepatan normal dan bantuan peta digitalnya, ia membawa kendaraan roda empat itu menuju Gedung Perusahaan Puzulla.


Lalu lintas kota yang masih lengang mengiringi perjalanan Ivy. Ini masih terlalu pagi untuk berangkat ke kantor. Namun lebih baik baginya untuk berangkat sebelum Kenan bangun dari tidurnya. Ia memantapkan hatinya untuk menerima tawaran kerjasama itu meskipun setelah ini ia harus menghadapi kemarahan Kenan.


Pukul sembilan pagi, Ivy telah sampai di kantor Puzulla yang terletak di pusat kota. Ia memarkirkan mobilnya di bawah pohon rindang yang tumbuh di pelataran gedung tinggi tersebut.


“Sepertinya kemarin, aku tidak mengatakan jam kedatanganku kepada Huri. Baiklah, aku akan menunggu beberapa menit di dalam mobil. Ini masih terlalu pagi,” gumamnya sambil membuka kaca jendela mobil dan ponselnya.


Tidak ada pesan atau panggilan masuk dari Kenan. Ia hanya menyandarkan kepalanya menatap langit-langit mobilnya yang berwarna coklat susu dan mengubah mode ponselnya menjadi silent.

__ADS_1


Setelah menunggu sekitar lima belas menit, sepasang sepatu bot bertumit tinggi itu melangkah masuk ke dalam gedung. Sebuah pintu kaca terbuka di bagian tengahnya menyambut kedatangan Ivy. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang yang bisa membantunya menemui wanita yang kemarin menghubunginya.


Pandangannya jatuh pada sebuah meja berwarna coklat yang panjangnya hampir menyentuh kedua dinding. Di belakang meja panjang itu terdapat hiasan dinding yang terbuat dari kain tenun khas Turki. Wanita berpakaian hitam itu mengayunkan langkahnya menuju meja tersebut.


“Selamat pagi,” sapa Ivy kepada petugas resepsionis wanita yang baru saja meletakkan gagang pesawat teleponnya.


“Selamat pagi, Nona. Ada yang bisa saya bantu?” sahut sang petugas yang langsung berdiri untuk menjawab sapaan Ivy. Membuat Ivy dapat melihat dengan jelas seragam yang digunakan oleh wanita yang menarik semua rambutnya ke belakang.


“Saya ada janji dengan Huri. Dimana saya bisa menemuinya?”


“Anda bisa naik ke lantai empat kemudian jalan lurus dan belok kanan.”


“Baiklah, terimakasih.” Ivy menganggukkan kepalanya dan melemparkan senyumannya kepada petugas wanita tersebut.


Di saat Ivy sedang mencari ruangan Huri, pria yang berusia tiga puluh dua tahun itu baru saja keluar dari kamar mandi. Dengan balutan handuk yang menutupi bagian bawah tubuhnya, ia membuka lemari dan mengambil kemeja dan celana denimnya. Hari ini dia bangun sedikit lebih siang dari biasanya.


Dilihatnya ranjang Deniz sudah tidak berpenghuni, kain seprei berwarna biru dengan gambar anime itu berserakan di setiap tepinya. Selimut warna-warni itu sudah terlempar di lantai bagaikan sebuah keset. Keadaan ranjangnya juga tak jauh beda dengan kondisi ranjang Deniz.


Pria berkumis itu tersenyum di dalam kamarnya, membayangkan raut wajah Ivy yang memarahinya sewaktu mereka berada di sebuah kamar hotel di Paris. Ia mengingat betapa manisnya wajah wanita itu, sedangkan dirinya bagaikan seorang anak kecil yang dimarahi oleh ibunya.


“Lebih baik aku mengajak Ivy ke suatu tempat untuk membicarakan tentang surat dari Puzulla. Mungkin di kafe atau tempat yang disukai Ivy," gumam Kenan setelah ia merapikan rambut hitamnya yang terlihat masih basah.


Putra Harun itu melangkah membuka pintu kamarnya. Ia melihat pintu kamar Ivy yang masih tertutup. Tangannya mengetuk pintu kayu itu perlahan-lahan. Satu kali tidak ada jawaban, dua kali tidak ada jawaban, hingga ketukan itu berbunyi untuk yang ketiga kalinya. Papan kayu itu masih tetap berdiri pada tempatnya.


“Ivy....” Kenan membuka pintu kayu polos tanpa ukiran dan mengedarkan pandangannya pada kamar kosong tanpa penghuni.


Melalui ekor matanya, Kenan menangkap sesuatu yang ada di atas ranjang Ivy. Sebuah benda tipis berwarna putih. Seakan napasnya tercekat di tenggorokannya tatkala ia melihat surat penawaran dari Puzulla ada di sana. Lembaran kertas yang dipenuhi dengan selotip itu kini berada di tangannya.


Surat ini… Ivy telah menemukan surat ini….


“Ivy!” teriak Kenan yang langsung keluar dari kamar kekasihnya.


Ia mencari wanita itu di setiap ruangan. Bagi Kenan, mungkin ini adalah waktunya untuk menjelaskan semuanya kepada kekasihnya, tetapi sepertinya semuanya terlambat....


“Dia sudah pergi.” Nur berkata setelah pria itu mendatanginya di ruang makan.


“Per… pergi?”

__ADS_1


Langit-langit ruang makan itu seakan jatuh satu per satu menimpa kepala Kenan setelah ia mendengar perkataan Nur.


Surat penawaran itu terlepas begitu saja dari tangannya. Wajah Kenan terlihat pucat pasi begitu ia mengetahui bahwa kekasihnya telah pergi.


“Kenan, kau tak apa?” Wanita gembul itu langsung memegang salah satu tangan Kenan, ketika pria itu tiba-tiba memundurkan langkahnya dan berusaha menggapai dinding kaca es yang ada di belakangnya.


Putra Harun itu hanya menunjukkan telapak tangannya seolah-olah ia hendak mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


“Apa kau tahu Ivy pergi kemana? Dia pergi dengan siapa? Apa dia membawa tas kopernya? Apa dia membawa semua baju-bajunya?” Pertanyaan Kenan bagaikan sebuah senjata api yang membombardir markas pertahanan musuh.


Nur sedikit tertawa mendengar kepanikan Kenan. Sepertinya pria itu benar-benar takut kehilangan kekasihnya.


“Apa maksudmu dia membawa tas koper dan baju-bajunya? Ivy hanya membawa tas kecilnya dan mengambil kunci mobil. Dia hanya mengatakan ingin menemui temannya.”


“Temannya? Temannya siapa? Kemana Ivy pergi?” Kenan mengguncang lengan gembul itu dengan keras. Tubuh gembul itu bagaikan sarung samsak yang bergoyang ke arah depan dan belakang bergantian.


Wajah bulat dengan garis kerutan di sudut matanya itu tampak ketakutan mendengar suara Kenan yang meninggi dan mata pria itu yang melotot ke arahnya. “A… aku tidak tahu.”


Kenan segera menyadari bahwa emosinya telah membuat wanita paruh baya itu ketakutan. Beruntung Nur tidak mengalami serangan jantung akibat ulahnya.


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud membuatmu takut. Aku....” Kenan tidak melanjutkan perkataannya.


Pria itu memundurkan langkahnya menjauhi Nur kemudian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia mengambil kembali surat penawaran Puzulla yang ada di dekat kakinya.


Kau pergi kemana, Ivy? Seandainya saja aku tidak menyembunyikan hal ini…. Seandainya aku punya keberanian untuk berterus terang kepada mu....


Diayunkannya langkahnya memasuki ruang kerjanya. Sembari menunggu kedatangan Ivy, ia mencoba menghubungi ponsel kekasihnya, tetapi wanita itu tak kunjung menjawab panggilannya. Berulang kali Kenan menghubunginya, tetapi selalu saja gagal dan berakhir dengan suara operator.


“Makanlah dulu. Mungkin sebentar lagi Ivy pulang,” ujar Nur yang membuka sedikit pintu ruang kerja Kenan.


Wanita paruh baya itu melihat wajah Kenan yang murung, pria itu menopang keningnya dengan kedua tangannya yang terlipat di atas meja. Ia jadi merasa iba melihat kekasih Ivy.


Aku belum pernah melihatnya semarah dan sekhawatir ini kepada Ivy. Apa mereka sedang bertengkar? Dalam hitungan hari lagi mereka akan menikah, semoga masalah mereka cepat selesai sebelum hari pernikahan. Aku jadi ingat perkataan orang-orang bahwa pasangan yang akan menikah pasti akan menghadapi pertengkaran dan pertengkaran. Apa benar seperti itu? Oh..., entahlah aku belum pernah mengalaminya.


Kenan mendongakkan kepalanya begitu melihat sosok Nur yang masih berdiri di ambang pintu. Ia mendengar perkataan Nur yang memintanya untuk makan, tetapi pikirannya saat ini sedang memikirkan kepergian Ivy.


Tak ada salahnya mengikuti nasihat orang yang lebih tua, meskipun mereka bukan orang tua kita. Perutnya sudah mulai meminta jatah. Kelaparan hanya akan menyulut emosinya. Ia pun beranjak dari kursi kerjanya dan berjalan mengikuti Nur menuju ruang makan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2