Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Aku Menunggumu Pulang Pengantinku


__ADS_3

Sebuah samsak tinju berwarna hitam menggantung di sebuah ruangan. Karung pasir itu bergoyang-goyang setelah mendapat pukulan bertubi-tubi dari seorang pria. Peluh itu bercucuran dari kepala hingga ke tubuhnya. Otot perut dan lengannya membentuk benjolan di sana-sini terlihat sangat sempurna.


Manik mata coklat itu menatap dengan garang sasarannya yang berupa foto seorang pria. Sebuah tendangan ia layangkan ke foto yang menempel di samsak tersebut. Kertas berwarna itu melayang dan jatuh ke lantai, dengan gambarnya yang menghadap ke atas.


"Kau bukanlah tandinganku, montir bodoh! Jangan berharap kau bisa mengambil Ivy dariku!"


Pria itu melepaskan sarung tinjunya dan mengambil handuk yang menggantung di sebuah tangkai tiang kayu. Ia mengusap rambut dan wajahnya yang basah dan berjalan menuju kamar mandi.


Ferit mengambil sebuah kaos lengan pendek berwarna hijau, menyisir rambutnya yang panjang dan menguncirnya ke belakang. Hampir setiap hari ia mengambil sebuah anak panah kecil dan melemparkannya ke papan target sasaran yang berbentuk lingkaran. Papan itu tergantung di salah satu dinding kamarnya. Anak panah berwarna kuning itu melesat dan menancap di titik tengah papan tersebut.


Sebuah kamar dengan dindingnya yang berwarna abu-abu muda, dan lantai kayu yang berwarna coklat terlihat sangat luas apabila hanya di tinggali oleh satu orang pria lajang.


Di setiap dinding kamar itu terdapat berbagai foto Ivy dengan pose yang sama. Sebelum hari pernikahannya, Ferit telah menyuruh seorang pelukis untuk melukis wajah Ivy di sebuah kanvas. Lukisan itu telah selesai, sebuah senyum cantik dan menawan tergambar di goresan karya lukis tersebut.


"Cepat atau lambat, kau akan menjadi milikku Ivy Eleanor," gumam Ferit sambil memandang lukisan wajah Ivy yang tergantung di dinding, yang menempel dengan ranjangnya. Pria itu meminum segelas Brandy nya dengan sekali teguk.


"Seberapa kuat kau akan hidup di luar, Ivy. Setelah ayahmu meninggal dan semua harta kekayaanmu habis," ucapnya sambil memandang lukisan Ivy.


"Kau akan pulang dan merengek meminta bantuanku, sama seperti ayahmu!"


Ketika almarhum Victor Eleanor menunjukkan foto kedua putrinya kepada Ferit, pria itu telah memilih Ivy sebagai pengantinnya. Ia terobsesi untuk mendapatkan putri kandung Victor, karena wajah wanita itu sangat mirip dengan wajah mantan istrinya yang telah meninggal dunia beberapa tahun silam dalam sebuah kecelakaan kapal pesiar.


Pria itu keluar dari kamarnya dan menuruni beberapa anak tangga yang ada di sudut rumahnya. Di lantai bawah juga tak luput dari foto Ivy yang tersebar di setiap ruangan. Seakan putri Victor itu adalah nyonya rumah itu.


"Apa yang kau dapatkan?" tanya Ferit pada Hasan, orang kepercayaannya yang telah bekerja bertahun-tahun membantu pria itu.


"Ivy." Hasan mendadak menghentikan ucapannya ketika Ferit memelototinya.


"Sebut dia Nona Ivy! Apa kau lupa bahwa wanita itu adalah calon istriku?" Suara Ferit meninggi.

__ADS_1


Hasan, pria berusia tiga puluh dua tahun itu menundukkan kepalanya di hadapan Ferit.


"Nona Ivy telah berhasil membayar biaya kemoterapi adiknya. Sekarang mereka telah meninggalkan rumah sakit."


"Mereka tinggal dimana sekarang?" tanya Ferit yang berjalan menjauhi Hasan dan berdiri di belakang pria itu.


"Kedua kakak beradik itu tinggal di rumah pelayan mereka. Di distrik Fener. Mereka hanya tinggal bertiga. Montir kapal itu telah membantu Nona Ivy untuk membayar rumah sakit adiknya," jelas Hasan setelah memberikan informasinya.


Ferit menaikkan salah satu alis matanya dan bertepuk tangan beberapa kali. Sebuah tawa keluar dari mulut pria itu.


"Cerita yang sangat menarik. Darimana seorang montir kapal bisa membantu membayar biaya kemoterapi? Apa pria itu telah menemukan harta karun di salah satu kapalnya yang tenggelam?"


"Maaf, Tuan. Aku belum tahu darimana montir itu mendapatkan banyak uang." Hasan tampak sedang berpikir.


"Tak apa." Ferit memberikan sebuah kartu kecil kepada Hasan. "Kerjakan saja hal ini."


*****


Setelah dua hari menjalani perawatan di rumah sakit pasca kemoterapi, Nur dan kedua anak majikannya pulang kembali ke rumah. Ivy membuka jendela rumah itu lebar-lebar agar membuat udara luar masuk ke dalam.


Sudah beberapa hari, ia mencoba memasukkan berbagai surat lamaran kerjanya tapi tidak ada satupun yang memanggilnya.


"Ivy...," sapa Nur yang baru saja pulang dari pasar. Wanita itu membeli banyak sekali sayur dan daging. "Ini bagus untuk Deniz."


Putri Victor itu segera membantu Nur untuk membawakan keranjang belanjanya.


"Bagaimana tidur kalian semalam?" tanya Nur yang membersihkan sayurannya, sementara Ivy membantunya untuk memotong sayur yang sudah di cuci.


"Aku dan Deniz tertidur pulas, setelah beberapa malam aku tidur di kursi rumah sakit," jawab Ivy yang memasukkan potongan sayurannya ke dalam wadah.

__ADS_1


Suara ketukan pintu terdengar dari luar sebanyak tiga kali. Dari balik jendela, Deniz dapat melihat ada seorang pria yang berdiri di depan rumah.


"Biar aku yang buka!" seru Deniz yang berada di ruang tamu. Bocah laki-laki itu segera turun dari sofa dan membuka pintunya lebar-lebar.


Manik mata hijau itu memperhatikan wajah seorang pemuda. Pandangan matanya kemudian beralih pada buket bunga lili putih yang dipegang oleh pemuda itu.


"Siapa kau?" tanya Deniz yang tidak melepaskan pandangannya dari pemuda itu. Mata kecil itu melihat sepatu futsal berwarna hitam yang dikenakan oleh pembawa bunga tersebut.


"Apa Nona Ivy Eleanor tinggal di sini?" tanya pemuda yang memakai seragam dari toko bunga.


"Ya. Aku adiknya," jawab Deniz lantang. "Ada perlu apa kau mencari kakakku?"


Ivy segera keluar menghampiri Deniz dan pegawai toko bunga tersebut. "Kak, dia mencarimu."


Pemuda itu memberikan sebuket bunga lili putih kepada Ivy, dan meminta tanda tangan wanita itu sebagai tanda terima. Ivy segera mengucapkan terimakasih kepadanya.


Ivy mengambil kartu ucapan yang menempel di plastik pembungkusnya.


"Selamat atas kemoterapi yang telah dijalani oleh Deniz. Semoga dia sehat selalu. Aku akan selalu menunggumu pulang pengantinku. Dari Ferit Kozan," kata Ivy membaca tulisan yang ada di kartu ucapan itu.


Bunga lili dan kartu ucapan itu terlepas begitu saja dari tangan Ivy. Wajah wanita muda itu tampak pucat karena syok. Kedua tangannya berpegangan pada pinggiran sofa.


"Ada apa, Ivy?" Suara Nur muncul dari dalam. Wanita gembul itu mengambil buket bunga dan kartu kecil berwarna merah muda yang jatuh di lantai.


Sama seperti Ivy, pelayan keluarga Eleanor itu tampak terkejut setelah membaca tulisan itu.


"Pria itu tidak pernah melepaskanku, Nur. Dia masih menginginkan pernikahan ini!" seru Ivy dengan matanya yang memerah dan napasnya yang naik turun.


Nur hanya bisa menutup mulutnya lebar-lebar dengan telapak tangannya.

__ADS_1


* BERSAMBUNG *


Ferit sudah mulai bergerak nih. Kira-kira apa yang akan dilakukan pria tampan dengan rambutnya yang gondrong ini? Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2