Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Ikutlah Bersamaku Ke Paris


__ADS_3

Pagi ini terdengar suara teriakan Nur yang berasal dari ruang tamu. Ia terkejut melihat seorang pria berbaring di atas sofa dengan wajahnya yang tertutup dengan sebuah bantal berwarna abu-abu. Seketika membuat tangannya yang sedang menggenggam gagang sapu itu tampak gemetar. Ia berjalan perlahan-lahan dan mendekati seonggok tubuh yang tidak bergerak.


“Pencuri kau! Aku akan menghajar mu!” teriak Nur yang langsung memukulkan pegangan sapunya ke tubuh pria tersebut. Rupanya wanita gembul itu tidak mengetahui bahwa semalam Mehmet menginap di apartemen.


Teriakan Nur yang memekikkan telinga dan pukulannya yang bertubi-tubi, sontak membuat Mehmet membuang bantal yang menutupi wajahnya itu ke lantai. Kegaduhan itu membuat seluruh penghuni ruangan terbangun di kala mereka masih merajut mimpi indahnya. Tanpa meregangkan otot-otot tubuhnya, pria berkulit gelap itu langsung membuka kedua kelopak matanya dan menangkis serangan pagi dari Nur.


“Ini aku!” balas Mehmet dengan suara teriakannya yang parau. Raut wajahnya seperti sedang menahan rasa sakit akibat pukulan gagang sapu yang menyentuh tangan, perut dan kakinya.


“Astaga! Ini kau, Mehmet!” pekik Nur dengan suaranya yang melengking. Raut wajahnya mendadak berubah menjadi sebuah penyesalan.


“Dimana pencurinya?” tanya Kenan dan Ivy serentak.


Kedua orang itu baru saja keluar dari kamar yang berbeda dengan piyama yang masih melekat di tubuh mereka. Sementara Deniz yang masih terlihat mengucek-ngucek kedua matanya langsung bersembunyi di balik punggung Kenan. Bocah kecil itu menarik sedikit ujung piyama pria itu yang berwarna biru tua. Sedetik kemudian terdengar suara gelak tawa yang keluar dari mulut mereka karena melihat ekspresi wajah Nur dan Mehmet yang sama-sama terkejut.


“Kenapa tidak ada yang memberitahuku kalau Mehmet menginap semalam di sini?”


Suara tawa itu mendadak berhenti setelah mendengar suara Nur dan tatapan mata wanita gembul itu yang membidik mereka satu persatu.


Tak ada jawaban yang terdengar dari mulut mereka semua. Hanya terlihat Kenan yang menyenggol siku Ivy. Sepasang langkah kaki pendek itu berjalan melewati mereka.


Beberapa detik kemudian, sebuah kotak obat dan sebuah baskom berwarna merah muda berada di dalam tangannya. Tangan gembul itu dengan cekatan mengoleskan cairan kental dengan warnanya yang bening dan terasa menyejukkan di kulit Mehmet.


Dari balik tubuh yang besar itu, Mehmet tersenyum dan menertawakan Kenan dan Ivy yang hanya berdiri mematung melihat perbuatan Nur yang dengan telaten merawat dirinya.


Begitu juga saat makan pagi, Nur hanya memasakkan seporsi Menemen hanya untuk Mehmet dan Deniz. Makanan olahan telur yang digoreng kemudian dicampur dengan potongan sosis, mentimun, paprika segar, tomat dan cabai. Sementara untuk Kenan dan Ivy, wanita itu hanya memberikan sepotong roti tanpa isi dan segelas susu segar. Hati Mehmet bersorak kegirangan tatkala melihat perlakuan Nur yang begitu memanjakan dirinya.


“Sejak kapan pemilik apartemen ini berubah?” sindir Kenan yang mengambil segelas susu segarnya dan meneguknya. Ia menyobek sepotong rotinya dengan kedua tangannya.


“Tunggu sebentar..., aku akan memasak Menemen untukmu,” kata Ivy yang akan beranjak dari kursi makannya, tetapi tangan Kenan membuatnya duduk kembali.


Pria itu kemudian membisikkan sesuatu ke telinga kekasihnya yang membuat Ivy


mengembangkan senyumannya.


“Nur, jika setiap hari kau memasak makanan yang lezat seperti ini, aku akan datang kemari setiap hari,” balas Mehmet dengan gelak tawanya. Dimasukkannya sepotong paprika merah ke dalam mulutnya.


“Datanglah kemari jika kau lapar, aku akan membuatkan mu masakan yang lain.” Nur berkata sambil memunggungi Mehmet, wanita itu masih sibuk membuat sesuatu. Menuangkan sedikit minyak goreng ke dalam wajan penggorengan.


Deniz yang melihat Mehmet tampak menyukai buah manis dan sedikit pedas berwarna merah tersebut, langsung memasukkan paprika miliknya ke dalam piring Mehmet.

__ADS_1


“Ivy, mungkin sebentar lagi tempat ini akan menjadi Istanbul Cafe,” canda Kenan tawa kecilnya. Ia meletakkan salah satu kakinya di atas kaki yang lain dan menyeka mulutnya dengan selembar kain putih yang ada di pangkuannya.


Mehmet hanya menaikkan kedua alisnya menanggapi perkataan temannya itu. Seolah-olah dirinya tak peduli dengan candaan dan sindiran Kenan. Ia lebih memilih untuk menikmati makanannya.


“Sudahlah kau jangan menggodanya lagi,” bisik Ivy yang meletakkan telapak tangannya di atas paha Kenan. Pria itu menggenggam erat tangan Ivy dengan mesra.


Suara dering bunyi ponsel berbunyi menyela aktivitas makan pagi mereka. Ivy segera bangkit berdiri kemudian dengan cepat ia melesat masuk ke dalam kamar untuk mengambil ponselnya. Sebuah nomor asing yang tidak ia kenal. Ia sedikit ragu untuk menjawab panggilan tersebut, tetapi mungkin saja penelepon itu adalah orang yang sedang membutuhkan jasa Falea. Hatinya mulai sedikit berharap.


“Halo,” jawab Ivy. Raut wajahnya mendadak berubah ketika ia hanya mendengar suara panggilan terputus dari ujung ponselnya.


“Siapa yang menelepon?” Terdengar suara Kenan yang berada tepat di belakang Ivy.


Wanita muda itu membalikkan badannya menghadap Kenan kemudian ia mengangkat kedua pundaknya. Ia hanya menurunkan kedua sudut bibirnya sambil menatap wajah kekasihnya.


Hampir satu bulan perusahaan Falea berdiri, tetapi tak satupun klien yang berhasil mereka dapatkan. Tak satupun perusahaan yang mau bekerjasama dengan mereka. Sementara tagihan-tagihan terus berjalan. Mereka tidak bisa hanya mengandalkan sisa uang taruhan.


“Kau tenang saja. Perusahaan Falea masih baru, banyak orang yang belum mengenalnya,” bisik Kenan yang memegang kedua lengan Ivy. Ia mencoba menghibur kekasihnya, seakan ia mencoba mengetahui kegelisahan yang dialami wanita itu.


“Kenan, keuangan kita semakin menipis. Mungkin kita hanya bisa bertahan hidup satu atau dua bulan lagi. Apa sebaiknya aku mencari pekerjaan lain di luar?”


“Ssst….” Kenan meletakkan jari telunjuknya di depan bibir tipis Ivy. Pria itu menggelengkan kepalanya dan mempersempit jarak diantara mereka.


“Tapi….” Ivy menggigit bibir bawahnya menahan perkataan yang akan keluar dari mulutnya. Manik mata hijau itu tampak berputar-putar menatap kaos putih yang membungkus tubuh Kenan.


“Ivy....”


Putri Victor itu langsung menganggukkan kepalanya dengan pelan selepas ia mendengar Kenan mengucapkan namanya dengan penuh penekanan. Ia membasahi bibirnya kemudian berkata, “Baiklah, aku akan selalu mendukungmu.”


Ditariknya tubuh ramping Ivy untuk masuk ke dalam dekapannya. Ia mencium puncak rambut berwarna gelap itu dan membelainya dengan lembut. Diletakkannya dagunya di atas kepala Ivy. Sementara wanita itu membenamkan wajahnya di pundak Kenan, menghirup aroma mint yang menyeruak masuk di dalam indera penciumannya.


Bukan maksudku untuk membatasi hidupmu, Sayang. Aku tidak khawatir dengan masalah keuangan kita, yang aku khawatirkan adalah jika Ferit menemukanmu dan membawamu pergi jauh dariku. Tetaplah tinggal di sini bersamaku hingga aku memintamu untuk menjadi pendamping hidupku.


Waktu pun berlalu dengan sangat cepat. Satu minggu telah terlewati. Mehmet telah kembali ke apartemennya dan tetap melanjutkan hubungannya dengan Cansu. Genap sudah satu bulan Perusahaan Falea berdiri.


Sementara Hasan masih disibukkan ke sana kemari mencari jejak Ivy, tetapi pria itu belum juga berhasil. Hampir  setiap hari dirinya menerima telepon Ferit hanya sekedar untuk menanyakan keberadaan calon istrinya. Hal itu terjadi, karena Kenan tidak membiarkan Ivy dan Nur keluar dari apartemen. Termasuk juga Deniz yang


mengambil home schooling untuk meneruskan pendidikannya. Untuk urusan dapur pun, Kenan meminta Ivy membeli kebutuhan mereka secara online.


Matahari telah terbit beberapa jam yang lalu, semua penduduk Istanbul telah memulai aktivitas mereka di luar rumah. Namun Ivy masih berkutat dengan aktivitasnya saat ini, membuat desain pakaian untuk musim semi yang akan berlangsung sekitar satu bulan lagi.

__ADS_1


Ditorehkannya beberapa buah garis di atas selembar kertas dengan mata pensilnya. Bermula dari hanya sebuah bentuk lingkaran kemudian berkembang menjadi seorang wanita yang mengenakan sebuah dress di atas lutut.


Diambilnya sebuah kuas dan ia mencelupkan bulu-bulu berwarna hitam itu ke dalam botol tinta berwarna merah, hijau, kuning dan ungu secara bergantian. Jari tangannya mulai mengisi sketsa desain tersebut dengan detail-detail yang ia inginkan. Detail berbentuk floral mengisi seluruh gambar pakaian itu. Ia memberikan sentuhan warna merah polos pada bagian tepi bawah dress dan bagian bawah lengannya yang hanya sepanjang siku.


Sesaat konsentrasi Ivy terganggu setelah ia mendengar suara notifikasi dari laptop milik Kenan. Putri Victor itu meletakkan kuasnya yang masih terlihat basah dan berjalan menghampiri meja kerja kekasihnya yang hanya berjarak tiga langkah dari tempat duduknya.


Ia melihat sebuah pemberitahuan email masuk ke email Perusahaan Falea. Manik matanya dan kedua bibirnya tampak bergerak membaca deretan-deretan kalimat yang tertulis di sana.


“Kenan!” teriak Ivy yang tidak mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Kenan yang sejak tadi ada di dalam ruang sebelah yang difungsikan sebagai gudang penyimpanan bahan-bahan kain langsung berlari masuk ke dalam ruang kerjanya. Putra Harun itu melihat Ivy yang sedang berdiri mencondongkan tubuhnya di depan meja menatap sebuah layar berbentuk persegi panjang.


“Oh…, kau membuatku terkejut. Ku pikir kau jatuh terpeleset atau kau mengalami sesuatu,” sesal Kenan yang datang dengan terburu-buru dan penuh dengan kecemasan, tetapi nyatanya ia melihat Ivy dalam keadaan baik-baik saja.


Ivy langsung mengalihkan tatapannya setelah ia mendengar suara Kenan. Sebuah senyum manis mengembang dari kedua bibirnya yang tipis, membuat pria berkumis tipis itu terlihat penasaran dengan apa yang terjadi. Wanita itu langsung menarik tangan Kenan dan membawa pria itu untuk berdiri menatap laptopnya.


Hal yang sama terjadi, manik mata berwarna abu-abu gelap itu bergerak dari kiri ke kanan membaca deretan-deretan kalimat berbahasa Inggris yang tertulis di dalam surat email perusahaannya.


“Ini sungguhan terjadi?” tanya Kenan yang menatap wajah Ivy dan layar laptopnya secara bergantian. Bibir coklat itu terbuka membentuk huruf O. Seakan dirinya tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca.


“Benar, Sayang. Itu benar! Mereka memanggilmu untuk datang ke Paris!” seru Ivy dengan wajahnya yang terlihat sumringah. “Mereka menerima Falea!”


Raut wajah Kenan langsung berubah penuh dengan kegirangan. Pria itu langsung mengangkat tubuh Ivy hingga melebihi kepalanya dan memutarkan diri mereka sebesar 360 derajat. Seakan wanita itu adalah piala kemenangannya hari ini dan selamanya. Sepasang kekasih itu saling berpelukan dengan bahagia.


Kenan mendaratkan ciumannya ke bibir Ivy. Menyesap lembut bibir tipis yang terasa manis di lidahnya. Ia ingin mengungkapkan rasa bahagia dan rasa terimakasihnya kepada wanita itu.


Tanpa kekasihnya, dirinya tidak akan mempunyai semangat untuk bangkit kembali. Ia menata kembali masa depannya hanya untuk dirinya dan Ivy, agar mereka mempunyai kehidupan yang lebih baik.


Ternyata usaha mereka tidak sia-sia. Siang malam mereka mengirimkan rancangan desain Ivy ke beberapa perusahaan baik yang ada di dalam maupun di luar negeri. Genap satu bulan kerja keras mereka membuahkan hasil.


“Aku akan menyiapkan keperluanmu,” ujar Ivy setelah ciuman bibir mereka terlepas.


Kenan yang masih mengalungkan kedua lengannya di pinggang Ivy menatap sendu manik mata hijau yang tepat berada di depannya. “Ikutlah bersamaku ke Paris.”


“Tapi…, bagaimana dengan perusahaan jika kita berdua pergi?”


Putra Harun itu memejamkan kedua kelopak matanya. Sebuah hembusan napas menyapu wajah Ivy. Seakan ia ingin memohon dan mengatakan kepada wanita itu, tolong jangan tolak permintaanku.


Bersambung

__ADS_1


......................


__ADS_2