
Di malam yang sama setelah kepulangan mereka dari Paris. Manik mata hijau itu masih terbuka dan bergerak mengelilingi seisi kamar. Dilihatnya Nur yang sudah terlelap di ranjangnya dengan dengkuran yang kadang berbunyi bak sebuah kereta api sedang melintas di rel panjangnya.
Ivy mulai menghitung bunyi detik jam dinding di kamarnya. Hitungan ke satu hingga enam puluh, kemudian ia mengulanginya hingga tiga kali namun pikirannya terus melayang-layang entah kemana. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya.
“Kau belum tidur?” tanyanya kepada Kenan, saat dilihatnya pria itu baru saja keluar dari ruang kerjanya.
Sebuah piyama berwarna hitam membungkus tubuhnya yang berotot. Masih terlihat butiran-butiran air membasahi bulu tipis yang menghiasi dagunya.
“Aku baru saja mengecek email yang masuk,” jawab Kenan yang langsung menutup pintu ruang kerjanya, kemudian menghampiri Ivy yang berdiri di depan kamarnya.
“Apa kau sudah membaca surat untuk Falea? Dari siapa? Apa isinya?” cecar Ivy dengan berbagai pertanyaannya.
Sejak tadi pikirannya melayang memikirkan surat itu. Ia berharap surat tersebut berasal dari sebuah perusahaan yang menerima desain rancangannya.
“Hanya sebuah penawaran kredit usaha.” Pria itu berkata dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat ke bawah.
“Oh….” Hanya satu kata itu yang keluar dari mulut Ivy.
Harapannya kabur bersamaan dengan Kenan yang mengucapkan selamat tidur kepadanya, kemudian pria itu masuk ke dalam kamar.
Ivy hanya berdiri mematung dan menatap punggung Kenan yang makin lama makin menghilang tertutup pintu kamar.
Mungkin dia juga kecewa setelah mengetahui surat itu hanya berisi tentang penawaran kredit, itu sebabnya dia melupakan janjinya padaku untuk menceritakan tentang temannya….
Wanita muda itu melipat kedua tangannya di dada dan menghembuskan napasnya ke arah pintu kamar Kenan.
Baiklah, aku tidak akan memaksamu…. Selamat tidur, Sayang.
Keesokan harinya ketika sang fajar telah memenuhi langit Istanbul, para wanita mulai menyibukkan diri mereka di dapur dan membersihkan tempat tinggalnya. Sementara Nur sedang mengolah makanannya di dapur, Ivy membantunya untuk membersihkan setiap ruangan yang ada di dalam apartemen. Hanya ada satu ruangan yang belum tersentuh oleh Ivy, yaitu kamar Kenan. Kedua lelaki dalam apartemen ini masih berkelana di alam mimpi mereka.
Suara nada dering ponselnya berbunyi ketika Ivy memasuki ruang kerjanya. Sambil berjalan mendekati meja tempat ponselnya berada, ia membetulkan ikatan rambutnya yang berantakan di sana-sini. Dicabutnya kabel pengisi baterai ponsel dari sakelarnya, ketika ia melihat nama Cansu tertera pada layar.
“Ya, halo.” Ivy menjawab panggilan saudara tirinya.
“Apa kau sudah pulang dari Paris?”
“Ya. Kami baru pulang kemarin. Ada apa, Cansu?” Ivy mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya.
“Apa kau sibuk waktu jam makan siang?”
“Tidak. Apa kau ingin bertemu denganku? Datanglah ke apartemenku.”
“Oke, aku akan ke sana nanti siang.”
Ivy langsung menutup ponselnya setelah Cansu mengakhiri pembicaraannya. Diletakkannya kembali ponsel hitamnya itu di atas meja. Ia kembali melanjutkan acara bersih-bersihnya. Merapikan setiap barang-barang yang ada di meja, mengelap setiap perabotan serta barisan patung manekin yang berdiri di belakang kursi kerjanya dan membuang sampah-sampah yang ia temukan di lantai.
Namun tiba-tiba ia berhenti membuang sampah dan meletakkan kembali cikrak berwarna hijau itu ke lantai. Kini pandangannya tertuju pada sobekan-sobekan kertas yang ia temukan di dalam keranjang berbentuk tabung tersebut. Sampah kertas itu sudah ada sebelum dirinya masuk ke dalam ruangan. Sobekan kertas itu hanya terdiri dari dua warna, yaitu warna putih dan warna coklat.
Apa ini sampah milik Deniz? Tapi sepertinya kertas ini berisi ketikan huruf. Biasanya Deniz selalu menggambar dan membuang sobekan kertasnya di kamar. Dia tidak pernah mengotori ruangan orang lain, atau jangan-jangan ini milik Nur?
__ADS_1
Karena rasa ingin tahunya, Ivy mengambil salah satu sobekan kertas yang berukuran kira-kira setengah dari telapak tangannya.
“Desain rancangan Ivy.” Manik mata hijau itu langsung terbelalak setelah ia selesai membaca tiga kata yang tertulis pada kertas kecil tersebut.
Siapa yang berani merobek desain rancangan ku?
Disaat pikirannya dipenuhi dengan tanda tanya, terdengar suara Nur yang memanggil namanya. Dengan cepat Ivy mengambil sobekan kertas itu, memasukkannya ke dalam kantong plastik dan menyimpannya di dalam laci mejanya. Wanita muda itu langsung keluar menemui Nur sambil membawa peralatan kebersihannya.
“Ada apa kau memanggilku, Nur?” tanya Ivy yang berdiri di belakang wanita gembul tersebut. Ia melihat tangan wanita itu masih memegang alat penggorengannya.
"Oh, untunglah kau sudah datang. Bisakah kau membantuku menggoreng kentang ini? Aku ingin ke kamar mandi.” Suara Nur terdengar seperti sedang menahan sesuatu yang akan keluar dari tubuhnya.
“Pergilah. Aku akan melakukannya,” jawab Ivy yang menerima alat penggorengan itu dari tangan Nur. Wanita paruh baya itu langsung bergegas menuju kamar mandi yang ada di dalam kamar.
Untuk beberapa menit, Ivy membolak-balik irisan kentang yang telah terendam di dalam minyak goreng. Pikirannya dan tangannya tidak bekerja dengan seirama.
Apa mungkin Nur yang melakukannya?Tapi untuk alasan apa dia merobek desain rancangan ku? Wanita itu tidak pernah bertanya tentang pekerjaanku. Apa mungkin Kenan? Sepertinya juga tidak mungkin....
Kedatangan Cansu dan Mehmet membuat Ivy melupakan kejadian yang terjadi tadi pagi. Wanita ini memang tidak berbakat untuk menyelidiki sesuatu. Ia melupakan tapi bukan berarti menghapus semua memorinya.
“Karena semua orang sudah berkumpul di sini, aku ingin mengatakan sesuatu kepada kalian semua,” ucap Mehmet ketika semua penghuni apartemen telah duduk memenuhi ruang makan.
Pria gundul berkulit gelap itu mengajak Cansu untuk bangkit berdiri. Pria itu mengeluarkan sebuah kartu berwarna biru dan memberikannya kepada Kenan yang duduk di sampingnya. Sementara Cansu terlihat malu-malu berdiri di samping kekasihnya.
Saat Kenan menunjukkan kartu itu kepada Ivy dan membukanya, kemudian Mehmet berkata, “Itu adalah kartu undangan pernikahanku dengan Cansu. Kami akan menikah dua minggu lagi.”
“Ka…kalian akan menikah?” Kenan mengernyitkan dahinya menatap dua orang yang berdiri di sampingnya. Tiga detik kemudian pandangannya pun beralih kepada Ivy. “Kami juga akan menikah.”
“Minggu depan….”
Mehmet langsung tertawa mendengar perkataan Kenan. “Kau dan Ivy baru bepergian dua hari, tapi sudah langsung mengajaknya menikah.”
“Setidaknya hubunganku dan Ivy lebih lama. Kau sendiri, baru pacaran beberapa bulan sudah berani mengajak kekasihmu menikah. Apa kau sudah berhasil menaklukan hati induk semangnya?” sindir Kenan yang langsung membuat semua orang tertawa.
Ia masih ingat bagaimana lusuhnya wajah sahabatnya itu ketika mereka bertemu terakhir kalinya di apartemen.
“Siapa induk semang ku?” tanya Cansu kepada Mehmet.
“Dia adalah….” Kenan langsung menghentikan perkataannya setelah Mehmet menyenggol sikunya.
Namun putra Harun itu tidak dapat menyembunyikan tawanya, melihat wajah Cansu dan Mehmet, bak seorang petugas polisi sedang menginterogasi seorang pencuri.
“Ibu Sophia,” celetuk Deniz tiba-tiba, yang langsung disambut tatapan mata melotot dari Kenan dan Mehmet. Kini wajah bocah itu terlihat salah tingkah. “Kenapa kalian semua memandangiku? Bukankah induk itu artinya ibu?"
Kini wajah Cansu menengok ke arah Mehmet. Wanita itu langsung menjewer telinga kekasihnya sambil tertawa. “Tak ku sangka kau mengatai ibuku dengan julukan seperti itu.”
“Bukan aku yang memberi julukan itu. Tapi dia….” Mehmet menunjuk Kenan. Putra Harun itu semakin tertawa melihat penindasan Cansu kepada sahabatnya.
“Cansu, jangan hiraukan dua pria ini! Mereka akan semakin gila jika mereka berkumpul bersama.” Perkataan Ivy membuat Cansu melepaskan tangannya dari telinga Mehmet.
__ADS_1
“Justru karena itu kami perlu wanita,” sahut Kenan.
Dengan cepat Ivy langsung menjitak kepala Kenan. Pria itu pun berteriak dan mengusap kepalanya. Suasana ruang makan itu terdengar hiruk pikuk penuh dengan canda tawa.
“Tapi aku juga ingin tahu apa Ibumu sudah merestui hubungan kalian?” Ivy membulatkan manik matanya dan menopang dagunya bersiap-siap untuk mendengarkan cerita Cansu.
“Cansu! Jika Ibumu tidak merestui, panggil saja aku!” seru Nur dengan ayunan spatula di tangannya.
Suasana ruang makan itu mendadak hening, ketika Cansu mulai mengeluarkan suaranya.
“Kau memang benar, Kenan. Ibuku memberikan restunya, tapi dengan syarat Mehmet harus memberikan beberapa persen saham Istanbul Cafe kepada ibu. Seakan-akan ibuku telah menjual ku.”
“Sophia, dasar kau wanita ular! Untuk putri kandungmu sendiri kau perhitungan!” geram Nur yang memukul spatulanya di meja, membuat alat masak yang terbuat dari kayu itu patah menjadi dua bagian.
Deniz yang duduk di samping wanita gembul itu langsung menutup kedua daun telinganya. Suara pukulan Nur membuatnya terkejut.
“Dan kau menyetujui permintaan Sophia?” Kenan membidikkan matanya menatap biji mata Mehmet. Tepat seperti dugaannya, pria gundul itu menganggukkan kepalanya.
“Oh shit!” umpat Kenan sambil mengusap wajahnya. "Tak bisa ku percaya!"
“Mau bagaimana lagi? Aku mencintai putrinya. Jika kau jadi aku…, pasti kau juga akan melakukan hal yang sama,” pungkas Mehmet menanggapi sikap Kenan.
“Betapa malangnya nasib kedua putri Eleanor,” gumam Kenan dengan gelengan kepalanya.
Ivy hanya terdiam menanggapi cerita saudara tirinya, ia tidak terkejut kalau ibu tirinya akan melakukan hal itu. Mungkin jika dirinya menikah dengan Ferit, Sophia juga akan meminta bagiannya di perusahaan Kozan. Setidaknya nasib Cansu lebih beruntung, Sophia tidak memaksa putri kandungnya untuk menikahi duda kaya atau pria kaya yang kejam seperti Ferit.
“Kenapa kita tidak melakukan pernikahan kita di tanggal yang sama?” tanya Kenan kepada semua orang.
“Kurasa itu ide yang bagus, lagipula aku juga belum melakukan persiapan apapun.” Ivy menganggukkan kepalanya.
“Kau tak masalah?” Mehmet memalingkan wajahnya kepada Cansu.
“Aku juga setuju. Aku kemari juga ingin meminta Ivy untuk menjahitkan gaun pengantinku.”
“Apa kau serius ingin memakai gaun rancangan ku?” Perkataan Cansu barusan membuat rasa percaya diri Ivy meningkat.
“Tentu saja. Aku tidak ingin menyewa, agar aku bisa menyimpan gaun pengantinku dan mengingat setiap kenangan pernikahanku. Aku juga bisa membantu mempromosikan rancangan desain mu kepada teman-teman kantorku,” jawab Cansu dengan gestur tubuhnya.
“Terima kasih, Cansu.” Ivy langsung mengajak saudara tirinya masuk ke dalam ruang kerjanya untuk mengukur tubuh wanita itu.
“Biarkan kedua pria itu melakukan kegilaan mereka.”
"Kami tidak gila, Sayang. Kami hanya butuh cinta," balas Kenan setelah Ivy pergi meninggalkannya.
Semua orang menertawakan perkataan Kenan, tetapi tidak dengan Deniz. Bocah laki-laki itu hanya menepuk keningnya sendiri dan menggelengkan kepalanya.
Jika aku sudah besar nanti, aku tidak ingin menjadi salah satu dari mereka....
...****************...
__ADS_1
Semoga kalian menyukai cerita ku. Jangan lupa di tunggu like, komentar, rate bintang lima dan vote nya. Terimakasih.