
Beberapa jam setelah malam kejadian penyerbuan di rumahnya, Ferit yang berhasil melarikan diri memilih bersembunyi di sebuah gudang miliknya yang berada di pinggiran kota Istanbul. Kini pria berambut panjang itu seorang diri di bangunan tua yang di penuhi dengan besi-besi berkarat. Hasan—orang kepercayaannya meninggal akibat terkena tembakan darinya. Beberapa anak buahnya ditangkap polisi dan hilang entah kemana.
Suara dering ponselnya membangunkan Ferit. Sebuah nama Mandellion membuatnya langsung keluar dari mobilnya. Perusahaan Perancis itu hampir membuat perusahaan miliknya berada di ujung tanduk. Dirinya seakan dikejar oleh penagih hutang.
“Halo,” sapa Ferit dalam bahasa Inggrisnya.
“Selamat pagi, Tuan Ferit. Saya mewakili pihak Mandellion hanya memberitahukan kepada Anda, bahwa sampai dengan kemarin hasil rancangan Perusahaan Kozan belum juga kami terima. Perlu Anda ketahui Tuan, batas akhir waktunya adalah hari ini,” ujar salah satu Manajer Mandellion yang bernama Aurora. Wanita itu juga menggunakan dialognya dalam bahasa Inggris.
“Beri aku waktu, aku akan mengirimnya hari ini.” Ferit memukul keningnya sendiri begitu ia mendengar perkataan Aurora.
“Sepertinya Anda lupa dengan perjanjian kita, Tuan Ferit. Jika seandainya barang itu dikirim hari ini, barang itu akan kami terima beberapa hari lagi. Itu sudah sangat terlambat, Tuan.”
“Aku yang sendiri yang akan mengirimnya hari ini!” seru Ferit dengan luapan emosinya.
Setelah berdiskusi sebentar dengan atasannya, Aurora pun berkata, “Baiklah, Tuan Ferit. Kami akan memberikan waktu hingga pukul enam sore waktu Paris."
“Apa? Pukul enam sore?” Kedua manik mata coklat itu langsung melotot menatap tumpukan besi tua yang ada di depannya.
“Ini sudah menjadi kesepakatan kita, Tuan. Selamat pagi dan sampai bertemu kembali nanti sore di Mandellion.” Panggilan itu pun langsung terputus.
“Mereka pikir aku ini seekor burung yang bisa langsung terbang ke Paris?” “Arrggghh…!” teriak Ferit.
Dengan luapan emosinya dia menendang tumpukan besi tua yang semula tersusun rapi, kini besi-besi itu secara bersamaan menggelinding jatuh ke lantai. Sepertinya masa sulit mulai menghimpitnya saat ini, keinginannya untuk mendapatkan Ivy belum juga terwujud ditambah lagi masalah Cansu dan masalah pekerjaannya. Keinginan mendapatkan Ivy pun semakin jauh dari jangkauannya.
Dengan membawa barang pesanan Mandellion, aku bisa keluar dari Istanbul.
Kegusarannya semakin bertambah ketika jarum pendek pada jam tangannya itu berada di angka sembilan. Ferit mulai memperkirakan waktu penerbangannya, paling lambat pukul dua siang, dirinya harus bisa terbang ke Paris.
Mobil sedan berwarna hitam kembali menjalankan keempat rodanya. Menggilas jalan raya Kota Istanbul yang sudah dipenuhi dengan ratusan hingga ribuan kendaraan bermotor. Pria berambut panjang itu memilih pergi ke kantor, untuk menyelesaikan pekerjaannya kemudian meninggalkan Istanbul.
Ferit menghentikan mobilnya agak jauh dari gedung Perusahaan Kozan. Sejauh matanya memandang, ia melihat beberapa mobil polisi berhenti di depan gedung perusahannya. Memorinya kembali teringat pada kejadian semalam, ketika dirinya sedang menghubungi anak buahnya yang ada di rumah sakit, ternyata Kapten Polisi yang menerima panggilannya.
“Sial! Pasti orang-orang bodoh itu yang telah memberitahu polisi tentang keterlibatan ku!” Ferit memukul setir kemudinya dengan keras.
“Bisa juga montir sialan dan pria hitam itu yang melaporkanku ke polisi.”
Setir kemudi itu kembali menjadi sasaran kemarahan Ferit, ketika pria berambut coklat itu mencoba untuk menemukan cara untuk masuk ke kantornya sendiri. Memaksa masuk ke dalam gedung, malah akan membuatnya bunuh diri. Hanya ada satu cara yang terpikirkan olehnya, ia mulai menghubungi salah satu manajernya untuk membantu mengeluarkan barang-barang pesanan Mandellion beserta dengan paspor miliknya.
“Aku menunggumu di pintu belakang gedung. Ingat jangan sampai polisi mencurigai mu.” Ferit berkata kepada manajernya.
“Baik, Tuan.”
Sang Manajer yang setiap harinya hanya bertanggung jawab mengawasi gudang, kali ini dirinya harus naik ke lantai delapan untuk mengambil paspor Ferit. Pria berkacamata itu melangkahkan kakinya seperti biasa. Melewati setiap petugas polisi yang keluar masuk membawa beberapa dokumen dari ruangan atasannya. Pria itu memilih untuk bersembunyi di toilet pria sambil menunggu polisi itu meninggalkan ruangan Ferit.
Menit demi menit pun berlalu, kesempatan itu akhirnya datang. Tidak terdengar suara orang sedang mengobrol, tidak terdengar suara handie talkie milik petugas polisi, bahkan manajer itu tidak mendengar suara langkah kaki selain miliknya sendiri. Perlahan-lahan sepasang sepatu pantofel itu melangkah masuk ke dalam ruangan milik atasannya.
Mulutnya mendadak terbuka ketika dilihatnya laci meja dan isi lemari di ruangan itu telah kosong, bahkan laptop milik perusahaan juga di sita oleh pihak berwajib. Pria berkacamata itu membetulkan letak kacamatanya, sembari ia mencari paspor Ferit di setiap sudut ruangan.
“Dimana... paspor itu?” gumamnya dengan nada suaranya yang gugup.
Getaran ponsel yang ada di saku kemejanya membuat pria berkacamata ini terkejut. Dugaannya ternyata benar, Ferit menghubunginya kembali. Dengan jari tangannya yang bergetar pria itu menekan tombol hijau pada layar ponselnya.
“Kenapa kau lama sekali? Aku sudah menunggumu sejak tadi!"
__ADS_1
“Paspor itu tidak ada di sini, Tuan.”
“Kau yang tidak becus mencarinya! Paspor itu ada di laci sebelah kanan meja kerjaku!”
“Polisi telah menggeledah ruangan Anda, Tuan. Mereka membawa semua isi laci, isi lemari dan laptop yang ada di ruangan Anda.”
“Apa mereka juga menyita paspor ku?”
“Sepertinya begitu, Tuan. Mereka hanya meninggalkan perabot di ruangan Anda.”
Ferit kembali mengumpat di dalam mobil. Beberapa pihak mulai menghimpitnya, tanpa memberikannya kesempatan untuk bernapas. Tanpa paspor mustahil dirinya bisa memesan tiket penerbangan ke Paris. Mustahil juga baginya untuk memenuhi perjanjian kerjasamanya dengan Perusahaan Mandellion. Dia mulai menghitung berapa jumlah uang yang harus ia bayarkan untuk membayar kerugian Mandellion.
“Oh shit! Mereka benar-benar akan merampok perusahaan ku!” geram Ferit sambil mengepalkan telapak tangannya.
Dia benar-benar semakin terjepit saat ini. Satu-satunya harapannya saat ini hanyalah mengambil uang tabungannya untuk bertahan hidup, sebelum pihak berwajib membekukan rekening tabungannya.
......................
Pukul sembilan pagi, sepasang suami istri yang telah menikmati malam pengantin mereka mulai membuka kelopak matanya. Ivy mulai menggeliat di pelukan Kenan. Rasa sakit dan ngilu mulai menjalar di sekujur tubuhnya. Ia masih belum terjaga sepenuhnya. Rupanya suaminya itu telah bangun beberapa menit yang lalu, pria itu sengaja tidak membangunkannya, karena dia ingin memandang wajah istrinya yang sedang tertidur.
“Selamat pagi, Istriku tersayang,” ucap Kenan yang langsung memberikan kecupan ringan di puncak kepala dan kening Ivy.
“Hmmm…. Selamat pagi juga, Suamiku tersayang,” balas Ivy yang masih enggan untuk melepaskan dirinya dari pelukan Kenan, “sepertinya sekarang sudah siang.”
“Entahlah.” Kenan mengulurkan tangan kanannya untuk mengambil ponselnya, tetapi dia tidak mendapati benda tipis berwarna hitam itu di atas nakasnya. “Dimana ponselku?”
Sebuah kerutan muncul pada keningnya ketika ia melihat ponsel itu telah berada di lantai dengan baterai yang terlepas dari tubuhnya. Sepertinya pria itu telah melupakan bunyi ponsel yang mengganggu tidurnya satu jam yang lalu.
“O…o…, kenapa dia bisa jatuh ke lantai?” Kenan menegakkan tubuhnya dan memungut ponselnya.
Kenan hanya mengangkat kedua sudut bibirnya setelah mendengar penjelasan dari Ivy. Diletakkannya kembali baterai itu pada ponselnya kemudian layar berbentuk persegi panjang itu kembali menyala.
“Aku akan mandi dulu.” Ivy langsung bangkit berdiri sambil menahan rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya.
“Tunggu, aku ikut!” seru Kenan yang melihat tubuh polos Ivy berjalan di depannya. Tubuh polos itu kembali membangkitkan hasratnya.
Selepas bermain busa sabun dan membersihkan dirinya, mereka saling membantu mengenakan pakaian masing-masing. Ivy membantu memasang kancing kemeja Kenan begitu juga dengan suaminya, pria itu membantu menaikkan retsliting baju Ivy. Putra Harun itu mendudukkan Ivy di kursi dan mulai mengeringkan rambut istrinya menggunakan alat pengering rambut. Ivy menatap wajah suaminya dari pantulan cermin, ia pun mulai tertawa kecil dan tersenyum.
Pria dingin sepertimu ternyata sangat pandai memanjakan ku, Mungkin aku yang beruntung bisa mendapatkan cintamu….
“Ada apa? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?” tanya Kenan setelah dirinya selesai mengeringkan rambut panjang yang berwarna coklat gelap.
Ivy langsung membalikkan badannya dan mendaratkan bibirnya di bibir coklat Kenan. Sentuhan tak terduga itu membuat Kenan langsung menangkap bibir tipis itu dengan lembut. Namun, sebuah ketukan pintu membuyarkan semuanya. Mereka pun tertawa terkekeh.
“Kakak!” panggil Deniz dibalik pintu.
"Deniz?” Keduanya menyebut nama bocah laki-laki itu.
Ivy langsung membuka pintu kamarnya dan melihat adiknya berada di depan. Sebelum ia bertanya, bocah laki-laki itu langsung memberikan ponsel warna hitam seperti miliknya.
“Aku menunggumu bangun, tapi kakak tidur lama sekali. Tadi ada yang menghubungimu, tapi aku tidak menjawabnya. Sekarang guru privat ku sudah datang, aku mau belajar dulu," ucap Deniz.
"Selamat pagi, Kakak Tua.” Deniz menjulurkan lidahnya ketika ia melihat Kenan berdiri di belakang kakaknya, begitu juga dengan Kenan yang membalasnya dengan perilaku yang sama.
__ADS_1
“Pergilah,” balas Ivy sambil mengacak-ngacak rambut adiknya. Bocah laki-laki itu langsung beranjak pergi meninggalkan kedua kakaknya.
“Siapa yang menghubungimu?” tanya Kenan ketika Ivy sedang membuka layar ponselnya. Dari raut wajah istrinya, sepertinya ada sesuatu yang serius.
Belum sempat Ivy menjawab pertanyaan Kenan, suara dering ponsel yang ada di dalam kamar berbunyi. Sepasang suami istri itu pun kembali masuk dan menutup pintu kamar mereka. Kedua alis hitam milik Kenan saling bertautan ketika ia melihat deretan nomor asing yang muncul pada layar ponselnya. Nomor asing itu seperti nomor yang menghubunginya ketika dirinya masih tertidur.
“Halo,” jawab Kenan.
“Selamat pagi, Tuan Kenan. Saya Aurora Nechez dari Perusahaan Mandellion.” Kerutan di dahi Kenan langsung muncul ketika ia mendengar nama Mandellion.
“Ya. Selamat pagi juga Nona Aurora,” balas Kenan dengan dialog bahasa Inggrisnya.
“Saya ditugaskan untuk memberikan informasi kepada Anda bahwa Perusahaan Mandellion memberikan kesempatan kepada pemenang tender kedua yaitu Perusahaan Falea untuk bekerjasama dengan kami.” Di ruangan itu Aurora sedang memberikan kode kepada atasannya—Tuan Curtiz bahwa ia berhasil menghubungi Kenan.
“Kalian memberikan kesempatan kepada kami? Bukankah kalian sudah memutuskan pemenang tender Musim Semi tahun ini?” Kenan membuka pintu kamarnya dan berjalan memasuki ruang kerjanya.
“Itu benar, Tuan Kenan. Perusahaan Falea adalah penawar kedua tertinggi pada tender waktu itu. Jika Anda masih berminat, mungkin kita bisa membicarakan kesepakatan kita,” jelas Aurora.
Tanpa disadari Kenan, Tuan Curtiz menekan tombol pengeras suara pada pesawat telepon yang digunakan oleh manajernya, sehingga membuatnya bisa mendengar perkataan Kenan.
Sebuah jawaban melintas di pikiran Kenan, kenapa perusahaan itu menghubunginya dan memberikan kesempatan kepada Falea. Sebuah senyuman terlukis dari bibir coklatnya, ia tidak akan pernah melewatkan kesempatan yang ada di depan matanya.
“Baiklah. Kita bisa membicarakannya sekarang.” Kenan melihat Ivy masuk ke dalam ruangan. Wanita muda itu hanya menyilangkan kedua lengannya di depan dada dan menyandarkan dirinya di depan daun pintu yang terbuka.
Aurora meminta Kenan untuk mengubah harga penawarannya seperti harga yang diberikan oleh Ferit, yaitu empat puluh persen untuk Mandellion dan enam puluh persen untuk Kozan. Pihak Mandellion lebih memilih Perusahaan Kozan karena mereka mendapatkan bagian lebih banyak daripada yang diberikan oleh Kenan. Manajer wanita itu berusaha untuk mengubah pendirian Kenan.
“Aku tetap pada pendirian ku, Nona Aurora. Tiga puluh persen Mandellion dan tujuh puluh persen Falea.” Kenan bersikeras mempertahankan harganya, karena dirinya juga ingin membuat perusahaannya berkembang.
Curtiz yang mendengarkan perkataan Kenan, langsung mengambil alih pembicaraan. “Tuan Kenan, ini aku Curtiz. Kurasa harga enam puluh persen itu sudah lebih dari cukup untuk perusahaan baru seperti Falea.”
“Menurut Anda cukup, tetapi menurutku itu masih kurang, Tuan Curtiz. Jika di antara kita tidak terjadi kesepakatan, lebih baik Anda kembali bekerjasama dengan Perusahaan Kozan,” ucap Kenan yang menekankan perkataannya pada kata Kozan.
Petinggi Mandellion itu menggaruk salah satu alisnya sebelum ia mengambil keputusan. Dengan maksud untuk mendapatkan keuntungan lebih banyak lagi, Curtiz memberikan syarat kepada Kenan.
“Baiklah. Kita sepakati perjanjian kita, tiga puluh banding tujuh puluh. Tetapi pakaian itu harus sudah kami terima dua minggu dari sekarang.”
Kenan sedikit tertawa mendengar perkataan Curtiz. Hal ini bukan pertama kalinya, sebuah perusahaan besar menekannya. Jika dirinya tidak mendapatkan kontrak dengan Mandellion, tak masalah baginya. Falea bisa hidup dari perusahaan kecil yang mau bekerjasama dengannya.
“Tandatangani dulu surat perjanjiannya, maka perusahaan ku akan mulai mengerjakannya. Dua minggu setelah kita sama-sama menerima surat perjanjian.”
Curtiz telah salah menilai Kenan. Ia mengira putra Harun itu pasti berambisi untuk mendapatkan kontrak dengan Mandellion. Dirinya ingin membodohi perusahaan kecil itu, tetapi perusahaannya yang justru tunduk di bawah Falea. Perusahaannya juga tidak memungkinkan untuk menyelenggarakan tender ulang, karena masalah waktu yang semakin mendesak—Musim Semi sedang berlangsung.
“Aurora akan mengirim surat perjanjiannya melalui email.”
“Aku akan menunggunya dengan senang hati, Tuan Curtiz.” Pembicaraan dua petinggi perusahaan itu telah berakhir.
Namun, masih ada sesuatu yang mengganjal di hati Ivy setelah ia mendengar pembicaraan suaminya. Ia membuyarkan lipatan tangannya kemudian bertanya kepada Kenan, “Apa Mandellion mau menerima penawaran kita?"
Kenan terdiam untuk beberapa detik, ia memandangi Ivy yang masih berdiri di depan daun pintu. Kemudian pria itu merentangkan kedua telapak tangannya di depan Ivy dan melemparkan senyumnya yang menawan. Tanpa perlu dijelaskan, Ivy langsung mengerti maksud suaminya. Wanita muda itu segera menghamburkan dirinya masuk ke dalam pelukan Kenan.
“Mereka menerima Falea, Sayang!” teriak Kenan dengan tawanya. Pria itu langsung mengangkat tubuh ramping Ivy melebihi tinggi kepalanya dan membuatnya berputar di tengah ruangan. Suara penuh canda tawa itu terdengar di seluruh ruangan.
“Kau benar-benar hebat, Sayang,” puji Ivy, ketika Kenan menurunkan dirinya.
__ADS_1
Kenan mencubit hidung mancung Ivy dengan lembut. “Bukan aku, tapi kau yang hebat. Mereka menilai hasil rancangan mu. Aku hanya memberikan harga yang pantas untuk karyamu.”
...****************...