Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Kau Membuat Dua Kesalahan Lagi


__ADS_3

"Ivy." teriak Ferit yang sudah berada di lantai dua. Pria itu berusaha membuka pintu kamarnya, tetapi tidak berhasil karena Ivy menguncinya dari dalam.


"Ivy buka pintunya! Atau aku akan mendobraknya!" teriak Ferit dengan keras dari luar kamar.


Wanita berambut cokelat gelap itu telah selesai mengikat kain sepreinya di pagar balkon, ia mulai panik ketika ia mendengar suara Ferit.


"Ivy." Ferit tidak hanya berteriak tetapi pria itu juga menggedor pintu kamarnya. "Buka pintunya!"


Ivy melihat ke bawah dengan tatapan matanya yang gamang, betapa tingginya tempat dia berpijak saat ini. Tanpa berpikir panjang, Ivy duduk di atas pagar balkon dan mulai menggelantungkan dirinya di lilitan kain seprei.


Tepat di saat itu, Ferit berhasil mendobrak pintu kayu tersebut. Ia melihat ikatan kain seprei yang sudah menyatu dengan jeruji pagar balkon. Laki-laki itu segera keluar dan melihat Ivy sudah berada di bawah, kedua tangannya sedang memegang lilitan kain seprei tanpa alat bantu.


Ivy perlahan-lahan menuruni lilitan kain buatannya. Ia memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa takutnya melihat ke bawah.


"Sial!" umpat Ferit yang memukul pagar balkon kamarnya.


"Hasan!" teriaknya dari atas. "Cepat tangkap Ivy!"


Teriakan Ferit sontak membuat Ivy membuka kelopak matanya, ia melihat ke atas. Calon suaminya itu sudah berdiri di atas balkon, dengan wajahnya yang menahan amarah dan menatap dirinya seakan ia akan menjadi santapan makan malam pria itu.


"Ya Tuhan, tolong aku. Keluarkan aku dari tempat terkutuk ini," gumam Ivy.


Putri Victor itu sekilas melihat seorang laki-laki sudah menunggunya di bawah. "Apa orang itu yang dipanggil Ferit? Oh... Ya Tuhan, aku terjebak di sini!"


"Ivy! Kau tidak bisa lari kemana-mana, sayang!" seru Ferit yang berusaha menarik kain seprei itu ke atas.


Tubuh Ivy terdiam, ia membiarkan dirinya bergelantungan di tengah-tengah. Di atas sudah ada Ferit yang menunggunya, sedangkan di bawah Hasan sudah bersiap-siap untuk menangkapnya.


"Apa yang harus aku lakukan?" Ivy mempererat pegangan tangannya di kain sepreinya.

__ADS_1


Akibat pegangan tangan Ivy yang terlalu kuat, membuat tarikan Ferit semakin berat. Kain itu menahan beban tubuh Ivy dan tarikan tangan Ferit. Ikatan kain seprei itu sedikit mengendur dan ada beberapa bagiannya mulai sobek.


"Nona Ivy, naiklah ke atas atau kau akan jatuh. Kain itu hampir sobek!" seru Hasan dari bawah.


"Aku tidak peduli, jika harus jatuh!" teriak Ivy. Ia hanya bisa memejamkan kedua matanya, tangannya mulai berkeringat dan gemetar. Suara sobekan kain itu terdengar kembali hingga ke telinganya.


"Dasar keras kepala!" seru Ferit dengan geramnya. Ia segera melepaskan tangannya dari kain itu, membuat lilitan kain itu meluncur ke bawah dan tubuh Ivy terguncang. Lilitan tali itu mengayunkan tubuh Ivy seperti seorang manusia hutan.


"Hentikan!" teriak Ivy. Kepalanya terasa pusing, perutnya mulai mual. Ia seperti sedang berada di taman hiburan dengan permainan mesin yang mengocok perutnya.


Sobekan kain itu makin lama makin banyak dan besar. Tangan Ivy sudah tak bertenaga lagi. Ia melihat kain diatasnya tinggal beberapa helai benang.


Dimana Ferit? Apa dia sedang bersembunyi di atas? Oh Tuhan... aku tidak ingin mati sekarang. Deniz bagaimana keadaanmu?


Ivy tidak tahu apakah ia harus kembali naik ke atas atau turun ke bawah, kedua laki-laki itu pasti akan menangkapnya. Manik mata hijau itu meleleh ketika ia mendengar suara sobekan kain yang kembali terdengar. Kini ia tinggal menunggu waktu lilitan kain ini akan terputus kemudian ia akan jatuh ke bawah dan akhirnya....


"Akhhhh...." Ivy berteriak saat lilitan kain itu benar-benar terpisah menjadi dua bagian. Tubuhnya terjun bebas ke bawah tanpa pengaman dan tanpa bantuan kasur.


Dia... dia yang menolongku? Kenapa dia tidak membiarkanku mati?


Wajah Ivy dibuat tercengang dengan tindakan Ferit. Pria berambut cokelat itu langsung menggendong Ivy masuk kembali ke rumah dan membawanya ke kamar.


"Kenapa kau menolongku? Kenapa kau tidak membiarkanku mati? Lepaskan aku!" Ivy melolong dengan keras saat Ferit mendudukkan tubuhnya di atas kursi tunggal yang terbuat dari besi.


"Diam!" teriak Ferit.


Pria itu menempelkan masing-masing tangan Ivy ke pinggiran kursi kemudian memborgolnya. Ia juga mengikat kedua kaki Ivy dengan seutas tali.


"Kau takkan bisa lari kemana-mana!" seru Ferit.

__ADS_1


"Bunuh saja aku! Untuk apa kau mengurungku?" Ivy menghentakkan tangannya tapi pergerakan tangannya di batasi oleh borgol besi yang menempel di pinggiran kursi.


Ferit menempatkan Ivy di depan ranjangnya. Pria itu mengambil posisi duduknya. Ia membelai wajah Ivy, tetapi wanita itu bersikeras menghindari belaian tangannya.


"Aku tidak akan pernah membunuhmu, sayang. Karena apa? Karena aku mencintaimu." Ferit terus memainkan jarinya di wajah Ivy kemudian berjalan ke daun telinga wanita itu, mengusapnya dengan lembut.


Sedetik kemudian pria itu menempelkan bibirnya di cuping telinga Ivy, menghirup aroma tubuh calon istrinya. Bulu wajahnya itu menyentuh setiap urat nadi yang terlihat. Hampir saja Ivy terbuai dengan setiap sentuhan Ferit, wanita itu segera tersentak ketika jari tangan kekar itu menarik rambutnya dengan keras.


"Tapi aku akan membunuh montir sialan itu!" seru Ivy yang langsung menelan salivanya. Pancaran mata Ferit mendadak berubah dari yang tadinya penuh dengan kehangatan berubah menjadi seseorang yang sangat buas dan menakutkan.


Melihat ketakutan yang terpancar dari wajah calon istrinya, membuat pria itu tertawa terbahak-bahak.


"Ivy Eleanor..., kau seperti ayahmu. Tikus tua yang bisa aku permainkan sesuka hatiku."


"Kumohon jangan bunuh Kenan...," mohon Ivy dengan manik matanya yang berkaca-kaca.


"Kau membuat dua kesalahan lagi, sayang. Jangan pernah memohon untuk montir itu! Apalagi kau menyebut nama pria sialan itu di depan wajahku!" teriak Ferit yang langsung melempar sebuah hiasan meja ke lantai kayu yang ada di kamarnya.


Wajah Ivy semakin pucat, napasnya mulai naik turun. Manik mata hijau itu mulai mencair karena rasa takutnya pada Ferit dan rasa takutnya kehilangan Kenan.


Setelah melempar hiasan meja yang terbuat dari akrilik, tatapan mata Ferit mulai berubah menjadi teduh. Ia mengusap lelehan air mata yang membasahi wajah Ivy.


"Tidurlah," ucap pria itu dengan lembut. Seakan beberapa detik yang lalu tidak terjadi apa-apa.


Ferit melepas kemejanya di depan Ivy. Selembar kain kasa berwarna putih melilit dan membungkus bekas luka tusukan yang telah Ivy buat di lengan kekarnya. Sebuah rajahan tato berbentuk burung terbang dengan sebuah anak panah di atasnya menghiasi dada kirinya. Ada sebuah tulisan kecil yang kurang begitu jelas di mata Ivy. Entah sebuah nama atau apa.


Pria itu langsung naik ke atas ranjang dan membiarkan Ivy tidur di atas kursi dengan tangannya yang terborgol.


* Bersambung *

__ADS_1


Jangan lupa kasih like, komentar, rate bintang lima dan vote kalian ya 🤗 Terimakasih 🙏


__ADS_2