Give Me Your Hand

Give Me Your Hand
Final Battle Part 3


__ADS_3

“Jika dalam satu jam kau tidak datang, maka aku akan membawa Ivy pergi jauh meninggalkan Istanbul! Kau yang merebutnya dariku, maka sekarang aku akan mengambil milikku kembali!”


Ancaman Ferit yang akan membawa Ivy pergi jauh dari Istanbul, membuat Kenan semakin mempercepat laju kendaraannya. Tak peduli dengan peraturan rambu lalu lintas, mobil putih  itu menerobos setiap lampu merah yang ada. Ferit hanya memberinya waktu satu jam untuk menemukan tempat persembunyiannya.


Sementara jauh di belakang, Mehmet dan anak buahnya berusaha menyusul Kenan. Jarum merah mobil Jeep itu terus bergerak ke kanan dan semakin ke kanan, tubuh besinya mulai bergetar seiring dengan semakin bertambah kecepatan kendaraannya. Menurut perkiraannya Kenan pasti kembali lagi ke Kota Istanbul.


Dari kejauhan mobil sedan putih itu seakan terbang ke angkasa, begitu kendaraan roda empat itu menghantam jalanan yang naik turun tanpa menginjak rem ataupun mengubah persneling mobilnya ketika memasuki Jembatan Martir. Jembatan panjang yang menjadi pintu gerbang Istanbul. Kenan melihat peta digitalnya, tinggal satu kilometer lagi maka ia akan segera sampai ke sarang Ferit.


Senja sudah mulai nampak ketika mobil putih itu memasuki daerah pinggiran kota Istanbul yang dipenuhi dengan bangunan tinggi yang sudah tua. Masih tersisa sepuluh menit lagi untuk memenuhi ancaman Ferit. Kenan mengitari daerah itu hingga sampailah ia berada di depan sebuah bangunan tua yang menjulang tinggi.


Sebuah senyuman muncul dari wajahnya yang dingin. Manik mata abu-abu itu tampak bersinar ketika ia melihat kata KOZAN tertulis pada pintu besi berlipat. Ia datang lima menit lebih awal dari permainan yang akan segera dimulai. Dari jarak lima puluh meter, suara knalpot mobilnya meraung-raung di udara. Asap kendaraan roda empat itu membumbung tinggi ke angkasa. Saat jarum panjang itu berpindah tempat ke angka dua belas, Kenan langsung memasukkan perseneling mobilnya dan melajukan kendaraannya secepat mungkin.


Dalam hitungan kurang dari satu menit, mobil putih itu langsung menghantam pintu besi yang ada di depannya. Menghancurkan pintu itu hingga roboh. Roda hitam itu melindas lembaran besi yang terlepas dari engselnya dan membuat semua orang yang ada di dalam langsung bersiaga mengambil senjata api mereka. Belasan hingga puluhan peluru di tembakkan ke badan mobil yang terus berputar di tengah ruangan.


Serbuan ***** berhasil melubangi beberapa bagian tubuh besi itu dan menghancurkan kaca jendela di setiap sisinya. Serpihan itu jatuh tercecer di dalam dan di luar mobil. Setelah menurunkan lengannya yang sejak tadi ia gunakan untuk melindungi wajahnya, kini ia  mengambil pistolnya dan mengarahkan tembakannya ke anak buah Ferit, namun kakinya masih menekan pedal gas membuat mobil putih itu terus berputar.


Kenan terus memutar setir kemudinya kemudian roda hitam itu pun mundur beberapa sentimeter. Kini moncong depan mobil itu mengarah kepada orang-orang yang masih terus memberondongnya dengan hujan peluru. Tubuh belakang mobil itu menghantam tiga orang sekaligus yang akan bersiap menembaknya. Orang-orang itu terpelanting dan jatuh di atas kap mesin mobil, dengan satu tangannya Kenan langsung menembak mati orang tersebut.


Kenan memajukan kendaraannya dan menghantam dua orang yang sedang menghindari amukannya. Dua orang itu terseret dan terjepit di antara dinding dan bagian depan mobilnya. Ia memundurkan mobilnya mengenai satu orang yang akan menarik pelatuk senapannya. Mobil itu kembali maju, untuk menjepit kembali dua orang tadi yang masih berdiri di dinding. Kenan menekan pedal gasnya hingga roda mobilnya terus berputar di tempat. Kedua korban Kenan itu langsung roboh setelah mobil putih itu menjauh dari mereka.


Suara tembakan dan bunyi mesin mobil itu membuat Ivy mengarahkan pandangannya kepada sebuah pintu kayu yang membatasi dirinya dengan ruangan depan. Ia berusaha mengeluarkan suaranya di balik mulutnya yang tertutup.


Kenan? Dia datang?

__ADS_1


Suara keributan itu, juga membuat Ferit menyeringai di balik jendela tak bertirai. Sejak mobil putih itu masuk ke gudangnya, ia terus memperhatikan aksi Kenan. “Permainan akan segera dimulai, bagaimana reaksi montir sialan itu jika aku membunuh calon anaknya?”


“Kau di mana?” tanya Ferit yang bertanya pada seseorang di ponselnya.


“Aku sudah di depan.”


“Masuklah! Ada pasien yang menunggumu di dalam!” titah Ferit sambil melirik wajah Ivy yang ada di dekatnya.


Sebuah gelengan kepala dan manik mata berkaca-kaca menjadi jawaban Ivy saat ini. Ia mencoba untuk berteriak di balik mulutnya yang tertutup, tetapi Ferit malah membuka kedua tali ikatan tangannya dan menarik tangannya untuk keluar ruangan.


“Wow…wow… kau berhasil menghancurkan tempatku! Jika kau tidak menghentikan mobilmu, aku akan menembak kepalanya!” teriak Ferit yang menodongkan senjata apinya di pelipis Ivy dan salah satu tangannya ia gunakan untuk membekap leher Ivy.


“Ivy….” Hati Kenan terasa hancur, melihat istrinya diperlakukan layaknya seorang budak oleh pria biadab itu. Rona keunguan di pipi Ivy akibat tamparan Ferit masih terlihat jelas.  Putra Harun itu langsung menghentikan mobilnya.


Dari dalam mobil, manik mata abu-abu gelap itu sedang mengamati keadaan yang ada di depannya. Mencari celah yang dapat ia gunakan untuk membebaskan Ivy. Ruangan besar itu di penuhi dengan mesin-mesin besar dan tumpukan besi yang sudah berkarat.


“Cepat keluar, Montir Sialan!” teriak Ferit untuk kedua kalinya.


Sebuah senyuman menyeringai keluar dari bibir Ferit begitu ia melihat Kenan menuruti perintahnya. Ia memberikan Ivy kepada anak buahnya. Dua orang tak bernama itu membaringkan Ivy ke atas meja kayu yang panjang. Memborgol kedua tangannya pada dua buah tiang di kanan kiri meja dan melepas penutup mulutnya.


“Apa yang kau lakukan padanya?” teriak Kenan yang hendak berlari ke tempat Ivy.


Sebuah tembakan tepat jatuh di depan sepatu Kenan, membuat pria berambut hitam itu menghentikan langkahnya. Manik mata abu-abu gelap itu menatap Ferit kemudian beralih kepada seorang pria yang baru saja masuk. Pria itu mengenakan jas putih dan membawa sebuah tas perlengkapan medis.

__ADS_1


“Dokter, itu pasienmu!” seru Ferit yang menunjukkan tempat Ivy berbaring dengan senjata apinya. Tanpa banyak bicara, dokter itu berjalan menuju tempat Ivy.


“Berhenti!” teriak Kenan yang mengarahkan senjata apinya pada sang Dokter.


“Jalan! Lakukan perintahku!” titah Ferit, anak buahnya menarik paksa dokter tersebut dan membawanya ke tempat Ivy. Dokter itu menatap Ivy dengan tatapan tak percaya, bahwa dirinya diminta untuk merenggut sebuah kehidupan di tempat seperti ini.


“Apa yang akan kau lakukan pada istriku?” teriak Kenan dengan wajahnya yang memerah menahan amarahnya.


“Memisahkan malaikat kecil itu dari ibunya,” balas Ferit dengan tawanya yang menakutkan.


“Keparat, Kau! Aku akan membunuhmu!” teriak Kenan yang langsung menembak Ferit, tetapi pria itu menarik salah satu anak buahnya untuk menjadi perisainya.


Timah panas yang yang berasal dari pistol Kenan itu menembus dada pria tak bernama itu. Ferit melempar tubuh tak bernyawa itu ke samping dan kembali tertawa mengejek kebodohan Kenan.


Dokter yang di bayar Ferit itu mengambil peralatan medis dari dalam tasnya. Sebuah jarum suntik, sudah ia siapkan untuk membius Ivy.


“Jangan… kumohon jangan ambil anakku.... Kau juga pasti punya anak’kan? Bagaimana jika, istrimu mengalami… hal seperti ini? Kumohon, Dokter… jangan bunuh anakku….” Deraian air mata itu mengalir membasahi wajah Ivy.


Dokter pria itu mengusap keningnya, di satu sisi hati nuraninya masih berbicara tetapi di sisi lain dirinya juga takut akan ancaman Ferit.


“Lakukan sekarang, Dokter! Atau aku akan membunuhmu di tempat ini!” teriak Ferit yang berada tidak jauh dari meja pembaringan Ivy. Di depannya Kenan sedang memperhatikan posisi dokter yang berdiri di samping Ivy.


“Jangan!” jerit Ivy yang melihat jarum suntik itu meneteskan sebutir cairan sebelum benda tajam itu menyentuh kulitnya. Ia menggelengkan kepalanya berulang kali dan mencoba untuk melepaskan borgol yang mengikat kedua tangannya. “Jangan bunuh anakku!”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2